NovelToon NovelToon
PUSAKA TAMBUN TULANG

PUSAKA TAMBUN TULANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:39.3k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Pusaka Tambun Tulang: Bangkitnya Pendekar Terbuang
Arya Wiguna, seorang yatim piatu yang difitnah mencuri Kitab Pusaka Jurus Pedang Penggetar Langit, diusir dari padepokan oleh pamannya sendiri, Bujang Larang. Dibuang ke Bukit Tambun Tulang yang menyeramkan, Arya diselamatkan oleh Panglima Hijau, seorang pertapa sakti. Di sana, Arya ditempa untuk menguasai Pedang Pusaka Tambun Tulang yang memberinya kekuatan kebal dan tenaga dahsyat, menjadikannya pendekar tak terkalahkan.
Kembali untuk membalas dendam, Arya harus menghadapi Bujang Larang yang kini bersekutu dengan komplotan bandit Bajing Bukit Tiga Puluh. Di tengah perjuangannya, ia bertemu dan jatuh cinta pada Anggun Sari, pendekar cantik dari Bukit Sanggar Puyuh, yang menjadi sekutu setia dan kekasihnya. Namun, pesona Arya menarik banyak gadis lain, memicu intrik romansa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Lelucon Maut Dan Kemarahan Arya Wiguna

Seorang perampok lain, yang paling dekat dengan Arya, mencoba menerkam. Arya menghindar, kemudian dengan cepat mencengkeram rambut gimbal perampok itu dengan tangan kanannya.

Arya menariknya dengan kuat, membuat kepala perampok itu mendongak, lalu Arya melepaskan cengkeraman secara tiba-tiba.

Topi merah perampok itu terlepas dan terbang ke udara, mendarat tepat di kepala perampok lain yang sedang berputar-putar.

Anggun Sari, yang awalnya serius dan waspada, kini melihat Arya yang mempermainkan para perampok itu dengan gaya yang unik, bahkan konyol.

Anggun Sari melihat kekonyolan itu, tingkah laku Arya yang begitu tak terduga di tengah pertarungan sengit.

Ini adalah Arya yang berbeda dari yang ia lihat di Desa Lingkar Naga, ada sisi nakal, jenaka, namun mematikan dalam kemarahannya.

"Ha ha ha..." Anggun Sari tidak bisa menahan tawa. Tawa kecil itu bermula, kemudian berubah menjadi tawa cekikikan yang nyaring, melihat betapa konyolnya para perampok itu dipermainkan oleh Arya.

Ada semburat geli di antara kekaguman dan ketegangan, membuat wajah cantiknya berseri.

Tawa Anggun Sari itu, nyaring dan mengejek, menarik perhatian Iblis Mata Merah yang tadinya hanya menonton dengan kekesalan.

Iblis Mata Merah melihat anak buahnya diobok-obok, dipermainkan, dan sekarang... wanita incarannya itu malah tertawa cekikikan di tengah bahaya.

Kemarahan Iblis Mata Merah membara, matanya yang merah semakin pekat, hampir hitam, memancarkan aura dendam yang murni.

"Diam kau, jalang!" teriak Iblis Mata Merah, murka, suaranya menggelegar di antara pepohonan, bagai raungan binatang buas.

Iblis Mata Merah tidak bisa menerima penghinaan ini.

"Kau, bocah keparat! Jangan bermain-main! Serang dia bersama-sama! Jangan biarkan dia mempermainkan kita!"

Melihat kemarahan Iblis Mata Merah yang memuncak, Arya tersenyum tipis, kepuasan melintas di wajahnya.

 "Sepertinya dia tidak suka kita bersenang-senang, Anggun," bisiknya pada Anggun Sari, yang masih tersenyum geli.

"Dasar payah!" teriak Anggun Sari kepada para perampok sambil terkekeh, menambah bensin pada api kemarahan Iblis Mata Merah.

"Kalian bahkan tidak bisa menyentuh Arya!"

Kemarahan Iblis Mata Merah mencapai puncaknya.

Wajahnya memerah pasi, urat-urat di lehernya menonjol, seolah siap meledak. Iblis Mata Merah melihat Anggun Sari dan Arya berani-beraninya mengolok-oloknya, seolah nyawa mereka tak berharga.

Iblis Mata Merah melesat maju dengan kekuatan penuh, tubuhnya menembus udara bagai peluru, matanya memancarkan niat membunuh yang murni.

Pukulan tangan kanan Iblis Mata Merah di isi tenaga dalam pekat, udara di sekitarnya bergetar, mengincar Arya dengan fatal.

"Mati kau, bocah!" teriak Iblis Mata Merah, raungan kemarahan yang menggema.

Arya tidak lagi bermain-main. Permainan telah berakhir. Kemarahan yang sempat tersembunyi kini terpancar jelas di matanya, seperti badai yang baru saja dilepaskan, dahsyat dan tak terbendung.

Arya Wiguna melancarkan pukulan balasan dengan tangan kanannya, sebuah pukulan lurus yang diperkuat tenaga gajah purba dan ditambah dengan kemarahan Harimau Putih yang baru saja tersulut karena mendengar Anggunnya diumpat.

"BLAAAAARRRR!"

Pukulan Arya menghantam dada Iblis Mata Merah dengan kekuatan yang luar biasa, tak terbayangkan.

Sebuah suara seperti ledakan kecil, memekakkan telinga, terdengar.

Bukan suara daging, melainkan suara udara yang terkoyak oleh kekuatan dahsyat. Iblis Mata Merah tidak sempat menjerit atau bahkan bereaksi.

Tubuh kepala perampok itu terlempar ke belakang dengan kecepatan yang menakutkan, bagai boneka kain yang dilambungkan badai, menabrak dua perampok lain di belakangnya yang sedang kebingungan, membuat ketiganya ambruk tak berdaya.

Darah segar menyembur dari mulut Iblis Mata Merah, matanya yang merah kini membelalak kosong, napasnya terputus seketika.

Iblis Mata Merah memang tidak mati, namun organ dalamnya hancur seketika, membuatnya tak lebih dari sekadar mayat hidup yang takkan pernah bisa bergerak lagi.

Para perampok Setan Darah yang lain terkesiap, ketakutan luar biasa memenuhi mata mereka.

Mereka melihat pemimpin mereka yang kejam, yang selama ini mereka takuti dan hormati, dilumpuhkan dengan satu pukulan tanpa perlawanan sama sekali. Ketakutan itu menjalar dengan cepat.

"Serbu dia!" teriak salah satu perampok, mencoba memberanikan diri, namun suaranya bergetar, penuh kegentaran.

"Jangan takut!"

Anggun Sari, yang sudah sadar bahwa Arya tidak lagi bermain-main, kini ikut beraksi dengan serius.

Pedang Anggun Sari berkelebat cepat, melukis kilatan perak di udara, dengan ketepatan yang mematikan, ia melumpuhkan para perampok.

Sebuah tebasan menyamping menghantam lutut seorang perampok, membuatnya roboh dengan jeritan tertahan.

Ayunan pedang lain menghantam pergelangan tangan perampok yang memegang golok, membuat senjata itu terlepas dan jatuh.

Anggun Sari tidak membunuh, hanya melukai dan membuat mereka tak berdaya, namun setiap gerakannya tegas dan tanpa keraguan. Anggun Sari bertarung dengan serius, namun ia tahu Arya akan membereskan sisanya.

Arya adalah amukan dewa kemarahan. Ia adalah harimau putih yang telah terbangun dari tidurnya, tak terbendung.

Arya bergerak di antara mereka, setiap gerakannya adalah keadilan yang mematikan, cepat, dan tanpa ampun.

Seorang perampok mencoba mengayunkan pedang ke kepala Arya. Arya hanya mengangkat tangan kirinya, menangkap pedang itu dengan telapak tangan kosong.

Suara berderit logam terdengar. Dengan jentikan pergelangan tangan yang kuat, ia mematahkan pedang itu menjadi dua. Lalu, tangan kanannya melesat bagai ular, menghantam ulu hati perampok itu dengan pukulan secepat kilat. "DUAGH!" Perampok itu terkapar, kejang, tak bernapas.

Perampok lain, panik, mencoba melarikan diri. Arya bergerak lebih cepat. Pendekar Harimau Putih itu melancarkan tendangan memutar yang rendah, menyapu kaki perampok.

WHUSSS!

Perampok itu ambruk. Sebelum ia sempat bangkit, Arya menghantam bagian belakang lehernya dengan pukulan keras, membuat perampok itu langsung pingsan dan tak sadarkan diri, tulang lehernya mungkin remuk.

KRTAK!

Terdengar suara tulang retak saat Arya memelintir lengan seorang perampok hingga patah setelah perampok itu mencoba menusuknya dari belakang.

Tanpa jeda, Arya mengayunkan kaki kirinya ke samping, menghantam rahang perampok lain dengan telak. Perampok itu terlempar ke samping, gigi-giginya patah dan darah memercik.

"Ampun! Ampun, Tuan! Jangan bunuh aku!" teriak seorang perampok itu memohon , iya melemparkan goloknya dan berlutut, wajahnya pucat pasi, menunduk memohon ampun. Air mata mengalir di pipinya.

Arya tidak berhenti. Ia menatap perampok itu dengan mata dingin, tanpa belas kasihan.

"Kalian yang suka memperkosa dan menyakiti wanita? Kalian tidak pantas hidup!" satu tendangan kilat yang menghantam perut perampok itu, Arya membuat perampok itu terlempar jauh, tak sadarkan diri, kemungkinan dengan organ dalam yang remuk parah.

Dalam waktu kurang dari dua menit, lima belas perampok Setan Darah itu telah terkapar.

Beberapa di antaranya tak bernyawa, tergeletak kaku, dengan genangan darah di sekitar mereka. Anak buah Iblis Mata Merah yang lain meringis kesakitan dengan tulang remuk, dan sebagian besar sudah pingsan, takkan pernah lagi bisa melakukan kejahatan.

Darah mulai membasahi tanah, menciptakan genangan merah di bawah pepohonan, pemandangan mengerikan dan memilukan.

Arya berdiri di tengah-tengah kekacauan itu, napasnya teratur, namun auranya masih memancar kuat, dingin, dan menekan.

Amarah di mata Arya Wiguna perlahan mereda, digantikan oleh ketenangan yang menakutkan, seperti badai yang baru saja reda namun masih menyisakan jejak kehancuran.

Arya menoleh ke arah Anggun Sari, tatapannya melembut seketika.

Anggun Sari terkesiap, mundur selangkah. "Arya..." bisiknya, suaranya sedikit gemetar, campuran kekaguman dan sedikit ketakutan.

Anggun Sari kagum dengan kekuatan Arya, namun juga sedikit takut dengan sisi lain Arya yang baru ia lihat, sisi yang begitu mematikan.

Anggun Sari tahu Arya melakukan ini karena amarah terhadap kekejaman perampok, namun tetap saja, kekuatan yang Arya perlihatkan benar-benar mengerikan.

Arya melangkah mendekati Anggun Sari, meraih tangannya dengan lembut.

"Kau baik-baik saja, Anggun?" tanyanya, suaranya kembali lembut dan penuh perhatian, seolah kekacauan barusan tak pernah terjadi.

"Maaf aku. Aku tidak bisa menahan diri."

Anggun Sari menatap mata Arya. Ia melihat ketenangan yang kembali di sana, namun juga bekas kemarahan yang masih samar, kilatan yang tersisa. Ia mengangguk pelan.

"Aku... aku baik-baik saja, Arya. Hanya... aku belum pernah melihatmu semarah itu, dan... Aku tidak menyangka kau bisa melucu di tengah pertarungan."

Anggun Sari tersenyum tipis, mengingat lelucon Arya.

"Tapi... aku tahu kau marah karena mereka ingin... menyakitiku dan memperkosa orang lain. Kau sungguh luar biasa." ucap Anggun Sari, gadis itu memeluk Arya erat, mencari perlindungan dan ketenangan dalam dekapan pemuda itu.

Arya membalas pelukan Anggun Sari, mengusap lembut punggungnya.

"Lain kali, jika ada penjahat keji seperti itu, jangan ragu untuk melawan. Mereka tidak pantas mendapatkan belas kasihan." kata Arya sambil menarik napas dalam-dalam.

"Sudahlah. Mari kita lanjutkan perjalanan. Kita tidak punya banyak waktu."

Anggun Sari mengangguk, ia melepaskan pelukannya, namun ia meraih tangan Arya. Jemari mereka bertaut erat, genggaman yang menguatkan.

Dalam diam, mereka meninggalkan pemandangan mengerikan itu, melanjutkan perjalanan menuju kediaman Adipati Rengas Sembilan.

Anggun Sari tahu, Arya Wiguna adalah seorang pendekar yang unik, tak hanya kuat dan polos, tapi juga memiliki sisi kemarahan yang mampu menghancurkan kejahatan dengan tanpa ampun.

Anggun Sari merasa semakin aman dan terlindungi di sisi Arya, dan janji mereka pun semakin kokoh terukir di hati keduanya.

Bersambung...

1
Was pray
baru nyadar kalau kekuatan manusia ada batasnya Arya? selama ini kemana aja?
Was pray
dibalik kerendahan hatimu terselip percik meremehkan orang ang lain dan terlalu mengagungkan kekuatan diri, dan itu bisa menjadi akar kesombongan ,dan itu terkadang tidak kau sadari arya
Sugeng Toboali
keren
Was pray
terlalu lemot alur ceritanya...
Was pray
orang memberi nasehat bukan karena menganggap kita bodoh , tapi karena memiliki rasa peduli dan empati, menerima nasehat tidak membuat kita jadi bodoh Arya, walaupun nasehat datang dari orang yg dipandang lemah sekalipun, paling tidak diterima walau itu tidak selaras dengan hati, itu suatu penghormatan bagi orang lain
Was pray
kau terlalu bangga dengan jekuatanmy Arya. sehingga meremehkan lawan2mu, dan itulah yg jadi kelenahanmu sehingga kewaspadaan hilang. .seharusnya kamu pakai ilmu padi arya
Was pray
orang yg mengaku salah setelah kalah itu udah hal umum, terlalu mudah memaafkan pengkhianat maka akan mudah dimanfaatkan oleh orang lain dan itu suatu kelemahan fatal, orang yg lemah pendirian dan pengkhianat maka suatu saat kemungkinan mengulangi lagi dengan cara yg lebih terorganisir dan itu lebih berbahaya
Zamo: makasih bang
total 3 replies
Sugeng Toboali
💪
Rafly Rafly
lanjutkan Thor..
makin seru kisahnya
Idwan Syahdani: oke tunggu aja ya...
total 1 replies
Arsi Oke
cerita yang bagus 👍🌟
Pandeka Garang
jurus kitab pedang tanpa tanding, gajah purba dan harimau seribu jg tidak pernah muncul lg, agak aneh aja, malah yg lebih sering muncul penggetar langit yg sama sekali blm dipelajari
Idwan Syahdani: sabar gan, bakal muncul kok di pertarungan yang lain nanti sabar ya... 🤣🤣🤣
total 1 replies
Pandeka Garang
tiba2 sdh tau kalau yg datang dewi racun dan si bisu, dewi racun jg tidak kaget arya tau namanya, lucu jg alurnya
Yatin Sahmuri
hi
Slow ego
👍👌jos..,,
wan.trado
lho ada 2 ya pedang harimau putih nyaa, tapi ditancapkan di kuburan.. kapan diambilnya.. 🤣🤣
wan.trado
meninggalkan pedang pusaka harimau putih di kuburan..??? sungguh perbuatan aneh dan sia-sia juga kesombongan
wan.trado
tau darimana itu Arya wiguna? bertemu juga baru kali ini..
wan.trado
bujang larang, sebagai seorang yang menguasai ilmu tinggi, rasanya mustahil tidak mengetahui adanya penyusup yg mencari bukti disamping tempat tidurnya
wan.trado
seharusnya adalah sedikit perlawanan dari Arya mengingat lawannya adalah pendekar tua golongan putih,kalau seperti ini seperti melawan golongan pendekar rendahan🙏
wan.trado
seharusnya jangan dulu menggunakan kekebalan untuk menghadapi gerombolan ini, cukup dg menghindar saja dari serangan sehingga tidak terkesan membanggakan kekuatannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!