NovelToon NovelToon
Kisah Tanpa Dirimu

Kisah Tanpa Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.

Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.

Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.

Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?

Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?

yuk simak....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kejutan yang menyakiti

Mobil melaju pelan membelah jalanan aspal yang mulai licin karena tetes hujan yang turun dari langit.

Tidak lebat tapi cukup membuat hawa dingin didalam mobil.

Kenan menatap sisi jalan dengan pikiran melayang entah kemana.

Mulutnya yang tadi sempat begitu saja mengutarakan isi otak kini mulai terkatup rapat.

Sejenak, dia kembali memikirkan perasaan asing yang entah sejak kapan merayapi hatinya dan menggerogoti jiwanya.

Satu nama terlintas begitu saja.

Maara Hayuning.

Sebuah nama dari gadis yang baru beberapa kali dia lihat namun senyum teduh diwajahnya mampu membuat Kenan bagai cacing yang kesiram air garam.

Perasaan itu menggeliat indah dalam sanubari.

Membuat jantung berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya meski hanya dengan mengingat namanya saja.

Kenan meraba dadanya.

Rasanya ada seekor burung yang terperangkap disana yang sedang mengepakkan sayapnya.

Rasa ini begitu nyata. Debaran ini juga.

Ini pertama kali dia mengalaminya.

Dulu, saat bersama Gayatri, dirinya tak pernah merasakan hal ini.

Meski dia menyayangi Gayatri, namun debaran aneh ini tak pernah sekalipun dia rasakan bahkan sampai dua tahun pernikahan mereka dan menghadirkan Lolita meski maut telah lebih dulu merenggut Gayatri darinya.

"Haaahhh...."

Sebuah helaan panjang dan berat begitu saja keluar dari mulutnya.

Pak Dadan kembali melirik majikannya lewat kaca spion tengah.

Pria berusia 52 tahun itu sempat senang karena Kenan ada niat ingin menikah lagi meskipun pria itu meralat kembali ucapannya dan meminta pak Dadan untuk tak menanggapinya.

Tapi sebagai orang yang telah lama mengenal Kenan, pak Dadan berharap suatu hari majikannya ini mau kembali membuka hati.

Entah kapan pun itu.

Sejak Kenan kehilangan istrinya, dia tak pernah terlihat jalan atau berkencan dengan perempuan manapun meskipun banyak perempuan diluar sana yang bahkan rela berlutut dihadapan Kenan. Namun semua selalu berakhir dengan sikap cuek, dingin dan mulut tajam Kenan.

Mobil yang dikemudikan pak Dadan tiba basemen sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan biji sawit.

"Kalau pak Dadan mau pulang, silahkan... Mungkin saya agak lama... Nanti saya naik taksi saja kekantor atau ojek online sekalian... Nggak pa-pa..." ujar Kenan sebelum turun.

"Pak Dadan tunggu pak bos saja.. Lagipula, diluar masih hujan bos, nggak baik naik ojol... Pak Dadan tunggu disini" sahut pak Dadan dengan logat Jawanya yang masih kental.

"Oh gitu... Ya sudah deh... Saya hanya takut pak Dadan bosan.. Kan pak Dadan nggak ada ponsel buat main..."

"Nggak pa-pa bos... Saya masih bisa tidur sebentar selagi pak bos meeting..."

"Okey... Gitu saja..."

Kenan akhirnya turun dan memasuki lift yang akan membawanya ke lantai 10 dimana ruang meeting berada.

Pak Dadan masih menatap punggung Kenan yang menghilang dibalik pintu besi yang menutup rapat.

"Semoga pak Kenan dan non Loli selalu dilimpahi kebahagian. Dan semoga suatu hari nanti akan ada seorang perempuan yang tulus menyayangi pak bos dan nona Lolita...." gumam pak Dadan berdoa tulus.

...****************...

Kediaman Revan.

"Kamu ngajar hari ini?" suara Revan mengejutkan Maara yang sedang menyiapkan bekal makan siangnya.

"Iya mas... Kenapa memangnya?" kernyit Maara.

"Kamu bisa langsung kerumah mama nanti siang..? Mama ajak kita makan malam bersama dan beliau minta untuk kamu hadir disana... Tapi kalau nggak bisa, nanti aku kabarin mama..."

"Bisa mas... Aku bisa kok... Nanti sehabis ngajar, aku langsung kerumah mama" ujar Maara cepat.

"Hmmm..." gumam Revan.

Baru saja Revan akan pergi, dia kembali berbalik.

"Kamu masih naik motor butut itu?" tanyanya lagi.

"Masih..." sahut Maara.

"Naik taksi kerumah mama... Perjalanannya cukup jauh, nanti kamu bau matahari...!" ujar Revan yang sedikit ketus diakhir kalimat.

"Aku biasa kemana-mana naik motor... Kalau naik taksi, sering kena macet... Lagipula, jarak sekolah dan rumah bu Mira nggak terlalu jauh, masih aman pakai motor..." balas Maara.

"Ck.. Terserahlah....!" ketus Revan tak senang dibantah.

Usai mengatakan hal itu, Revan bergegas meninggalkan rumah.

Seperti kebiasaan selama ini, tak ada yang namanya ritual cium tangan atau sarapan pagi bersama layaknya pasangan.

Revan sering membeli sarapan dijalan atau dikantin tempat kerjanya.

Entah dia jijik atau alergi dengan masakan Maara, perempuan itu bahkan tidak lagi ambil pusing.

Seiring bertambahnya bulan pernikahan mereka, Maara telah membiasakan dirinya untuk tak terlalu over dengan Revan.

Apalagi sejak dia tahu alasan pria itu menikahinya.

"Aku menikahimu hanya sebatas tanggung jawab" Kalimat itu terus terngiang dalam kepala Maara.

...****************...

Pukul 2 siang, Maara melajukan motor maticnya, membelah jalanan kota Bandung yang lumayan terik siang ini.

Hiruk-pikuk suasana jalanan menyambutnya.

Maara sengaja membuka kaca helm yang dikenakannya.

Menikmati semilir angin yang menerpa wajah dan menghirup semua aroma yang bergabung di udara.

Mulai dari aroma kopi dari cafe-cafe, aroma knalpot kendaraan atau aroma dari setiap orang-orang yang lewat.

Motornya tiba di rumah besar keluarga Adiyasa.

"Non.... Tidak sama den Revan?" tanya pak Ujang, satpam keluarga Revan.

"Mas Revan lagi sibuk mang... Aku datang duluan, nanti mas Revan nyusul" tutur Maara bohong.

"Ohh... Ibu didalam, non Maara langsung masuk saja..." ujar mang Ujang lagi.

"Hatur nuhun mang..." ucap Maara pamit.

Keluarga Adiyasa adalah asli orang Sumatra, tapi sejak Revan usia balita, kedua orangtuanya yang merupakan pebisnis memilih merantau ke kota Bandung dan mendirikan usahanya di kota kembang ini.

Maara membuka pintu samping.

Sayup-sayup terdengar olehnya suara bu Mira yang sedang berbincang dengan ART di dapur.

"Assalamualaikum bu..." sapa Maara.

"Eh... Waalaikum salam Ra... Kamu udah sampai? Sama Revan atau sendiri?" sambut Mira.

Maara mencium punggung tangan Mira.

"Aku sendiri bu... mas Revan nyusul"

"Oh gitu... kamu udah makan siang? Kalau belum, makan dulu ya... Mama ada buat ayam kecap sama sambal terasi..." Mira membawa Maara untuk duduk di kursi meja makan.

"Maara udah makan siang tadi disekolah..."

"Ya udah... kamu istirahat dulu dikamar Revan... Acara makan malamnya masih lama jadi kamu bisa rehat sejenak lepas penat..." usul Mira.

Maara meringis.

"Maara istirahat di kamar tamu aja boleh bu?" tanyanya takut-takut.

Meski Mira sempat heran, namun akhirnya dia membolehkan.

Siapapun dirumah itu tahu bagaimana kondisi rumah tangga Maara dan Revan.

Tapi setiap kali Mira maupun Rendra menegur putranya itu, Revan selalu berkilah dan enggan membicarakannya.

Tepat pukul tujuh, mobil Revan berhenti di carport kediaman orangtuanya.

Pakaiannya sudah rapi dengan kemeja hitam yang lengannya dilipat hingga sebatas siku.

Disusul kemudian oleh rombongan para sepupunya yang datang barengan.

Maara yang malam ini berbalut abaya hitam juga begitu manis yang dipadu dengan hijab krem.

Riasannya merujuk pada natural look ala cewek Korea.

Tipis dan tak terlalu mencolok.

Revan sempat terpaku sejenak namun berusaha kembali cuek.

"Ra.. Kamu cantik banget malam ini... Mau kasih surprise buat misua ya..." tutur Gian yang langsung mendapat tatapan tajam dari Revan.

"Surprise?" beo Maara tak mengerti.

"Hmmm.... hari ini kan makan malam ulangtahun Revan... kamu nggak tahu?" ucap Gian lagi memandang bergantian pasangan tersebut.

"Ck.. Rese bener tuh mulut...!" ketus Revan yang memilih melimpir ke ruang keluarga.

Maara melipat bibirnya.

Dia bagai orang b*doh karena tak tahu alasan dibalik acara makan malam ini. Dipikirannya hanya sebuah makan malam keluarga di hari long weekend.

"Udah nggak pa-pa... Lagipula, suami mu itu emang nggak mau dirayain segala... Kamu kasih hadiah secara privat aja nanti dirumah..." hibur Gian.

Maara masih terdiam dan sedikit melirik Revan yang tengah asik berbincang dengan papanya.

"Surprise.... Kejutan...."

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!