NovelToon NovelToon
SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Balas Dendam / Summon
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:

[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]

Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!

Siapa bilang dia salah kontrak?

#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Pagi yang Tidak Ada di Dalam Kalkulasi Manapun

Subuh di gang sempit itu datang dengan cara yang sama setiap harinya.

Pertama, suara motor roda tiga tukang sayur yang lewat pukul lima kurang seperempat — roda belakangnya yang tidak rata menciptakan irama tidak beraturan di atas aspal yang juga tidak rata, kombinasi yang entah kenapa lebih efektif membangunkan Rio dari tidur dibanding alarm manapun yang pernah ia coba. Kemudian suara pintu besi warung Bu Heni yang dibuka dengan cara yang selalu terlalu keras untuk jam sesunyi itu. Kemudian cahaya — bukan sekaligus, tapi bertahap, seperti seseorang yang sedang menyalakan lampu ruangan satu per satu dari ujung ke ujung, hingga langit di atas gang yang sempit itu berubah dari hitam ke biru tua ke biru muda yang dingin.

Rio berbaring di kasurnya dengan mata yang sudah terbuka sejak suara motor roda tiga itu lewat, menatap langit-langit yang sama yang sudah ia hafal setiap retakannya.

Ada satu retakan baru di sudut kiri atas yang kemarin belum ada.

Atau mungkin sudah ada tapi baru ia perhatikan sekarang.

Rio tidak memutuskan mana yang benar karena itu tidak penting, dan ia punya kebiasaan yang sangat disiplin untuk tidak menghabiskan energi mental pada hal-hal yang tidak penting — kebiasaan yang terbentuk bukan dari filosofi hidup yang ia baca di buku, melainkan dari bertahun-tahun mengelola sumber daya yang selalu tidak cukup dan belajar dengan sangat keras tentang apa yang layak dipikirkan dan apa yang tidak.

Ia duduk di tepi kasur.

---

Yang pertama ia perhatikan adalah serigalanya.

Bukan karena suara, bukan karena gerakan — justru sebaliknya. Serigala abu-abu itu sudah berdiri di depan pintu kamar sejak entah kapan, dalam postur yang Rio tidak pernah lihat sebelumnya selama empat hari terakhir. Bukan postur tidur yang santai, bukan postur waspada yang tegang. Sesuatu di antaranya — tubuh yang rileks tapi siap, kepala yang sedikit terangkat, dan keempat kaki yang menapak tanah dengan distribusi berat yang merata dan stabil.

Postur seekor makhluk yang sudah sembuh.

Rio menatap kaki kiri belakang si serigala secara khusus. Empat hari lalu kaki itu tidak bisa menopang berat tubuhnya sendiri. Tiga hari lalu bisa menopang tapi dengan kompensasi yang jelas. Dua hari lalu pincangnya sudah berkurang jadi sedikit tersendat.

Sekarang tidak ada kompensasi sama sekali. Tidak ada sentakan halus di persendian saat berat badan berpindah, tidak ada penyesuaian postur yang dipaksakan. Empat kaki itu berdiri dengan proporsi yang sama persis, menanggung beban yang sama persis.

Pulih sempurna.

---

**[Update Status: Void Shadow Wolf]**

**[HP: 100% — Pemulihan Selesai]**

**[Skill Terkunci Mulai Terbuka: Shadow Step (Aktif 15%) — Dalam Proses]**

---

Rio menutup panel itu, berdiri dari kasur, dan berjalan ke arah pintu. Serigala itu tidak mundur saat Rio mendekatinya — hanya berpaling sedikit ke samping, memberi ruang tanpa meninggalkan posisinya di depan pintu.

Pengawal yang memberi jalan tanpa berhenti berjaga.

"Kamu sembuh," kata Rio.

Bukan pertanyaan. Serigala itu tidak memperlakukannya sebagai pertanyaan — tidak ada anggukan, tidak ada respons. Hanya tatapan kuning pucat yang sekarang jauh lebih terang dari malam pertama di rawa itu, seperti dua lampu yang sudah lama redup dan baru saja mendapat arus listrik yang benar.

Rio membuka pintu.

Udara pagi masuk seketika — dingin, membawa bau tanah basah dan aroma gorengan dari warung Bu Heni yang sudah mulai bekerja di bawah sana. Serigala mengendus udara itu dengan gerakan kecil di hidungnya, lalu melangkah keluar ke teras sempit di depan pintu dan berdiri di sana, memandang ke bawah ke arah gang yang masih sepi.

Rio berdiri di sampingnya, juga memandang ke bawah.

Mereka berdiri begitu selama mungkin tiga menit — manusia dan serigala, di teras sempit kontrakan lantai dua, menyaksikan gang sempit itu pelan-pelan bangun dari tidur malamnya.

Tidak ada yang perlu diucapkan di tiga menit itu.

Itu bukan keheningan yang kosong dan tidak itu juga bukan keheningan yang penuh tekanan. Itu adalah jenis keheningan ketiga yang jarang orang temukan dan lebih jarang lagi mereka kenali saat mengalaminya — keheningan yang terjadi di antara dua makhluk yang sudah tidak perlu lagi membuktikan apapun kepada satu sama lain.

---

Wukong muncul dari balik pintu dengan ranting kayu di tangan dan bulu di satu sisi kepalanya yang masih berantakan karena tidur. Ia berdiri di antara Rio dan serigala, memandang ke gang yang sama, kemudian menguap dengan sangat lebar dan sangat tidak sopan.

Serigala melirik ke arah Wukong.

Wukong melirik balik.

Keduanya kembali memandang ke depan secara bersamaan dengan sikap yang persis sama — dua makhluk yang secara tak terucap sudah menetapkan hierarki dan batas wilayah masing-masing tanpa perlu satu kali pun saling menggeram.

Rio mengamati interaksi dua detik itu dengan sudut matanya dan menyimpulkan bahwa squad-nya rupanya sudah beres mengurus dinamika internal mereka sendiri tanpa perlu ia fasilitasi.

Bagus.

---

Sarapan pagi itu lebih ramai dari biasanya dalam artian yang sangat spesifik.

Bukan ramai karena suara — tiga penghuni kamar itu masing-masing makan dalam keheningan yang sudah menjadi ritme nyaman mereka. Wukong dengan pisang dan kacang di meja belajar, serigala dengan potongan daging sapi di pojok jendela, Rio dengan nasi bungkus yang ia beli dari Bu Heni di tepi kasur.

Ramai karena penuh. Karena tiga kehadiran di dalam ruangan kecil itu sekarang menempati ruang dengan cara yang berbeda dari kemarin — serigala yang kemarin masih bergerak dengan hati-hati karena kakinya sekarang bergerak dengan bebas, mengeksplorasi sudut-sudut kamar yang belum sempat ia jangkau, menciumi setiap objek dengan rasa ingin tahu yang tertahan dan sangat terkendali.

Rio mengamati ini sambil menyuap nasinya.

Ada sesuatu yang hampir menyerupai kegembiraan di dalam gerak-gerik serigala itu — bukan kegembiraan yang ekspresif dan mudah terbaca, bukan ekor yang dikibas-kibaskan atau telinga yang tegak penuh antusias. Kegembirannya sangat halus, hanya terlihat di detail-detail kecil yang akan terlewat oleh mata yang tidak menontonnya dengan cukup seksama.

Seperti cara hidungnya bergerak sedikit lebih aktif dari biasanya. Cara ia berdiri satu detik lebih lama di depan jendela sebelum berpindah ke sudut berikutnya. Cara kakinya yang sudah pulih menapak tanah dengan tekanan penuh di setiap langkah seolah sedang menikmati fakta bahwa ia bisa melakukannya lagi.

Makhluk yang baru sembuh dari luka yang cukup dalam, merayakan kesembuhannya dengan sangat diam dan sangat sendiri, dengan cara yang hanya bisa dirayakan oleh makhluk yang sudah belajar bahwa tidak semua hal layak untuk ditunjukkan kepada dunia.

Rio menelan suapannya pelan.

Ia tahu sedikit tentang perayaan yang seperti itu.

Pukul tujuh kurang sepuluh, Rio memasukkan buku-buku ke dalam tasnya, memastikan kotak biola tua tersimpan dengan aman di lapisan terdalam tas diantara dua buku tebal sebagai bantalan, dan bersiap berangkat.

Serigala berdiri di posisi yang sudah Rio kenali sebagai posisi *apakah kita pergi?* — dekat pintu, kepala sedikit terangkat, memandang ke Rio dengan pertanyaan yang tidak diucapkan.

"Kamu tinggal di sini," kata Rio. Bukan dengan nada melarang — lebih ke nada informatif, seperti memberitahu rekan kerja tentang jadwal hari ini. "Masih terlalu awal untuk kamu keluyuran keluar. Nanti malam kita bisa ke dungeon lagi."

Serigala menatapnya dua detik.

Kemudian berbalik, berjalan ke pojok jendela, dan berbaring di sana dengan kepala di atas cakar depannya — posisi yang sudah menjadi posisi defaultnya di siang hari, tapi kali ini tanpa kegelisahan yang kemarin masih sesekali muncul di cara ia menyesuaikan posisi tubuhnya.

Ia berbaring dengan tenang.

Karena ia tahu Rio akan kembali.

Itu perbedaan kecil yang hanya terlihat jika kamu memperhatikan dengan benar, tapi bagi Rio yang sudah mengamati empat hari ini — perbedaan itu bukan kecil sama sekali.

Rio turun tangga dengan Wukong di pundak kanannya, melangkah keluar ke gang, dan berjalan tiga langkah sebelum berhenti.

Di ujung gang, bersandar ke dinding dengan sangat santai untuk seseorang yang jelas bukan penduduk gang ini, berdiri seorang perempuan.

Usia mungkin awal empat puluhan. Rambut hitam pendek yang tidak terlalu diurus tapi juga tidak terlihat berantakan — jenis potongan rambut yang dipilih bukan demi penampilan melainkan demi kepraktisan. Jaket lapangan abu-abu gelap yang sudah jelas bukan jaket baru. Tidak ada tablet, tidak ada peralatan deteksi energi, tidak ada atribut resmi apapun yang kemarin Rio lihat melekat pada perempuan yang sama saat ia melintas di koridor sekolah.

Arinda Kusuma.

Berdiri di ujung gang kontrakannya pukul tujuh pagi, sendirian, tanpa peralatan resmi, dengan secangkir kopi takeaway di tangan kirinya dan ekspresi seseorang yang sedang menikmati udara pagi sambil menunggu sesuatu yang ia sudah sangat sabar menunggunya.

Rio berdiri diam di tengah gang selama dua detik penuh.

Dua detik yang ia gunakan untuk mengkalkulasi tiga hal sekaligus — seberapa banyak yang sudah Arinda ketahui, apa tujuan kedatangan pagi ini yang jelas bukan kunjungan resmi, dan berapa banyak ruang manuver yang tersisa di antara apa yang ia ketahui dan apa yang bisa ia buktikan.

Kemudian Rio melanjutkan langkahnya.

Berjalan ke arah ujung gang. Ke arah Arinda.

Karena berhenti atau membelok arah sekarang akan memberikan lebih banyak informasi kepada perempuan itu daripada apapun yang bisa Rio kendalikan setelahnya.

Mereka berdiri berhadapan di ujung gang dengan jarak dua meter diantaranya. Arinda tidak bergerak dari sandarannya di dinding, tidak menegakkan badannya menjadi postur resmi, tidak mengeluarkan atribut apapun.

"Rio Albert," katanya. Bukan pertanyaan. Konfirmasi.

"Iya," jawab Rio dengan nada yang persis sama seperti saat ia menjawab pertanyaan guru di kelas — hadir, tapi tidak memberikan apapun lebih dari yang diminta.

Arinda menatap Wukong di pundak Rio selama dua detik dengan cara yang berbeda dari cara orang biasa menatap hewan peliharaan — cara seorang investigator menatap subjek yang sudah masuk dalam daftar perhatiannya.

"Monyet yang bagus," katanya akhirnya, dengan nada yang tidak mengandung komplimen sama sekali meskipun kata-katanya adalah komplimen.

Wukong menatap balik. Tidak mencicit. Tidak bergerak. Hanya menatap dengan ekspresi yang Rio terjemahkan sebagai *aku tahu kamu tahu dan kamu tahu aku tahu kamu tahu* — komunikasi yang terlalu banyak lapisannya untuk terjadi antara manusia dan monyet, kecuali jika yang satu bukan monyet biasa dan yang satunya lagi bukan investigator yang mudah dibohongi.

"Ada yang bisa dibantu?" tanya Rio.

Arinda mengangkat cangkir kopinya, meminumnya sekali, sebelum menjawab. "Tidak ada, sebenarnya. Saya hanya kebetulan lewat gang ini."

"Gang ini buntu di ujungnya."

"Oh." Arinda menatap ke arah ujung gang yang memang berakhir di tembok dengan sangat tidak tergesa-gesa. "Memang ya."

Keheningan yang spesifik terjadi di antara mereka — keheningan dua orang yang sama-sama tahu bahwa percakapan ini bukan tentang apa yang diucapkan, tapi tentang apa yang tidak diucapkan, dan keduanya sama-sama tahu bahwa pihak yang pertama mengisi keheningan itu dengan sesuatu yang substantif adalah pihak yang kalah dalam putaran ini.

Rio tidak mengisi keheningan itu.

Arinda menatapnya beberapa detik lagi dengan ekspresi yang membaca dengan sangat teliti tanpa memperlihatkan bahwa ia sedang membaca.

Kemudian perempuan itu tersenyum — bukan senyum yang hangat dan tidak pula senyum yang dingin. Senyum seorang profesional yang menemukan sesuatu yang menarik di tempat yang tidak ia perkirakan, dan cukup jujur pada dirinya sendiri untuk mengakui bahwa itu menarik.

"Hati-hati di jalan, Rio." Arinda mendorong badannya dari sandaran dinding, membalikkan badannya, dan berjalan meninggalkan ujung gang dengan langkah yang sama santainya seperti saat ia berdiri di sana.

Tidak terburu-buru. Tidak juga berlama-lama.

Rio menontonnya berjalan pergi sampai sosok berjaket abu-abu itu menghilang di tikungan jalan raya di ujung gang.

Wukong baru mencicit setelah Arinda benar-benar tidak terlihat lagi.

"Iya," kata Rio pelan, melanjutkan langkahnya ke arah yang berlawanan menuju jalan utama untuk naik angkot ke sekolah. "Dia bukan tim investigasi biasa."

Wukong mencicit lagi dengan nada yang berbeda.

"Gue tahu dia sudah tahu alamat ini." Rio menyandang tas ranselnya lebih ke atas. "Yang belum dia tahu adalah *kenapa* dia harus tahu alamat ini."

Ada perbedaan besar antara dua hal itu. Perbedaan yang selama ini menjadi satu-satunya jarak yang memisahkan Rio dari masalah yang tidak bisa ia selesaikan dengan kekuatan atau kecepatan evolusi hewan kontraknya.

Arinda tahu ia ada di sini.

Tapi belum tahu mengapa ini penting.

Dan selama Rio bisa menjaga jarak antara dua hal itu tetap lebar — *keberadaan* dan *kepentingan* — ia masih punya ruang untuk bergerak.

Angkot pukul tujuh pagi selalu penuh sampai tidak nyaman.

Rio berdiri di dalam angkot yang bergoyang-goyang mengikuti jalan yang tidak mulus, satu tangan memegang pegangan langit-langit, Wukong yang sudah berubah ke mode *monyet peliharaan biasa* duduk di bahunya dengan sangat kasual. Tiga penumpang lain di dalam angkot tidak memperhatikan mereka lebih dari satu detik.

Panel sistem menyala di sudut penglihatan Rio.

**[Abyssal Goddess Weaver — Status Dormansi: 9.1%]**

Naik lagi semalam.

Rio menatap angka itu di dalam angkot yang bergoyang, di antara suara mesin tua dan radio yang memainkan lagu dangdut dengan volume terlalu keras, dan merasakan sesuatu yang tidak sering ia rasakan — rasa ingin tahu yang murni tentang apa yang sedang terjadi di dalam kotak biola tua di dalam tasnya.

Apakah ada sesuatu di dalam sana yang sedang memproses pagi ini. Apakah ada sesuatu yang sedang pelan-pelan mengumpulkan cukup keberanian untuk membuka mata, melihat ke sekitarnya, dan memutuskan bahwa dunia di luar delapan dekade kegelapan yang aman itu mungkin layak untuk dicoba lagi.

Atau mungkin belum.

Mungkin 9.1% itu masih terlalu kecil untuk disebut keberanian. Mungkin itu hanya reflek. Mungkin makhluk itu bahkan tidak sadar bahwa angka itu bergerak.

Tapi Rio sudah cukup lama hidup dengan cara yang tidak mudah untuk tahu bahwa reflek dan keberanian sering kali mulai dari tempat yang sama.

Angkot berbelok tajam ke kanan, penumpang bergeser bersamaan, dan sekolah muncul di luar jendela dengan warna catnya yang mulai kusam tapi pagarnya yang selalu terbuka tepat pukul tujuh.

Hari baru.

Arinda Kusuma di satu sisi. Raymond Pratama yang belum terlihat tapi sudah bergerak di sisi lain. Kevin yang sedang menunggu instruksi di tengah-tengah. Dan di dalam tasnya, seekor makhluk yang sudah delapan puluh tahun belajar bahwa dunia tidak aman, perlahan-lahan mempertimbangkan kemungkinan bahwa mungkin kali ini berbeda.

Rio turun dari angkot, melangkah masuk ke gerbang sekolah, dan menatap ke depan dengan mata yang datar dan tenang.

Hari yang panjang sedang menunggu.

Ia sudah siap.

1
SANG
Lanjut cek....
SANG
Iklan untukmu brooooo👍💪💪💪👍👍👍👍
SANG
Hadiah bunga untukmu thor👍💪👍💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Semangat ya💪💪💪💪💪
SANG
Aku datang sebagai tamu baru👍👍👍👍
,
lanjut
the misterius author 🐐: nanti malam kita lanjut kan ua bg
total 1 replies
Benni Yong
mantab
Jacky Hong
jadi gk sabar pengen liat si MC jadi kuat thor
semangat upnya thor
Benni Yong: dah tak kasih vote hari ini thor
akun baru soalnya yang akun Jacky kena hapus😁
total 2 replies
Jacky Hong
gas trus up thor
semangat dah tak krim kopinya👍
the misterius author 🐐: setiap hari minggu update 3 bab bg kalau hari biasa update 2 bab bg nanti kan jadwal nya ya bg jangan lupa ajak teman teman abg baca juga
total 1 replies
SANG
Beken deh, sip deh, tenar deh, mantap deh, keren deh, pokonya top mar ko top deh. Bintang sepuluh untukmu Thor.
SANG
Namanya mulai beken💪👍
the misterius author 🐐: udah mulai tenar kah bg 🤣
total 1 replies
SANG
Namamu pasti ku ingat💪👍
the misterius author 🐐: jangan di ingat thor 🤣
total 2 replies
SANG
Semangat. Lanjut💪👍
the misterius author 🐐: parah parah emang wkwk
total 9 replies
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/Sembilan belas
SANG: Haha🤣🤣🤣👍👍👍
total 2 replies
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Pokonya keren deh💪👍
SANG
Keren deh💪👍
the misterius author 🐐: ok thor😍
total 3 replies
SANG
Wah novel baru lagi ya Thor💪👍
the misterius author 🐐: pokok nya fresh trus thor
total 6 replies
Jacky Hong
buat chpter 6 tak kasi kopi biar semungut upnya Thor
klo bsa up besok 2 chpter🤣
the misterius author 🐐: novel kita ogah main tingal bg
total 4 replies
Jacky Hong
lanjut up thor👍
the misterius author 🐐: sudah up bg 🤣
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!