Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11 Bangkrut
Firman berusaha menahan daun pintu kamarnya yang setengah tertutup. Dahinya berkerut dalam menatap ibunya yang tampak salah tingkah dan tiba-tiba bertingkah protektif.
"Kenapa sih, Ma, nyuruh Firman buru-buru masuk kamar begini?" protes pria itu sembari melongokkan kepalanya ke luar pintu, berusaha mencari sosok istrinya di lantai bawah.
"Firman kan baru pulang, belum sempat menyapa istri Firman. Kania lagi apa di bawah sana jongkok-jongkok basah begitu?"
Tuti buru-buru menarik lengan putranya ke dalam dan berdiri menghalangi ambang pintu.
"Sudah, sudah! Kamu tetap di sini saja!" potong Tuti dengan nada yang sengaja dibuat selembut mungkin. "Kania itu cuma sedang bantu Mama beberes sedikit di bawah. Tadi ada es sirup tumpah. Biarkan saja dia selesaikan kerjanya, jangan diganggu."
"Tapi kasihan Kania, Ma. Dari jauh saja dia kelihatan pucat dan kelelahan. Biar Firman bantu dia ya?" Firman kembali melangkah maju. "Lagipula, ada sesuatu yang penting yang mau Firman sampaikan pada Mama dan Kania sekarang."
Mendengar itu, Tuti semakin panik. Ia tidak mau Firman turun dan melihat betapa hancurnya keadaan Kania, apalagi sampai teman-teman arisannya melihat putranya menolong perempuan yang baru saja ia perkenalkan sebagai pembantu.
"Aduh, Firman, sesuatu apanya sih? Segala urusan penting itu dipikirkan nanti saja!" omel Tuti sambil mendorong dada putranya menjauh dari pintu. "Kamu itu baru pulang kerja, pasti bau keringat dan capek. Sekarang kamu mandi yang bersih, istirahat sebentar! Kania itu sudah terbiasa beres-beres, masa ngepel sebentar saja ngeluh capek? Kamu jangan terlalu memanjakan istri!"
"Bukan memanjakan, Ma, tapi Kania kan kakinya—"
"Sudah! Turuti kata Mama!" potong Tuti cepat, matanya sedikit melotot. "Sekarang kamu mandi! Nanti Mama yang siapkan makan malam paling enak untuk anak Mama yang tampan ini, ya?"
Tanpa menunggu persetujuan Firman, Tuti mendorong putranya itu masuk lebih dalam ke kamar, lalu buru-buru menutup pintu.
Setibanya di ruang tamu, Tuti langsung kembali memasang topeng ramah andalannya. Belasan temannya tampak sudah merapikan tas dan dandanan mereka.
"Aduh, Jeng Tuti, karena waktu sudah menjelang sore, kami semua pamit pulang dulu ya," ucap Rina mewakili yang lain. "Maaf lho merepotkan, masakannya enak-enak semua."
"Eh, iya Jeng. Nggak merepotkan sama sekali kok. Hati-hati di jalan, ya. Dan maaf ya tadi ada sedikit insiden, maklumlah pembantu saya yang satu itu memang suka bikin emosi," kekeh Tuti dengan senyum palsu yang begitu lebar.
Setelah cipika-cipiki yang panjang dan penuh basa-basi, rombongan ibu-ibu sosialita itu akhirnya meninggalkan rumah. Begitu mobil terakhir keluar dari halaman, senyum manis di wajah Tuti langsung luntur tak berbekas.
Wajahnya berubah garang. Ia melangkah cepat menuju dapur dengan hak sepatunya yang berbunyi nyaring.
Di dapur, Kania baru saja selesai membuang pecahan beling dan sedang membasuh telapak tangannya yang sedikit berdarah di bawah kran wastafel. Tubuhnya gemetar menahan lelah dan rasa nyeri di pergelangan kakinya.
"Heh, perempuan pembawa sial!" bentak Tuti menggelegar, membuat bahu Kania melonjak kaget.
Tuti menghampiri Kania dan menudingkan kasar jari telunjuknya tepat di depan hidung menantunya itu.
"Sakit Ma..."
"Sakit kamu bilang?! Belum seberapa dibandingkan rasa maluku gara-gara kecerobohanmu tadi!" desis Tuti tajam, matanya menyalang penuh kebencian. "Kamu sengaja kan mau bikin Mama malu di depan teman-teman Mama?! Kamu sengaja jatuh biar dikasihani, iya?!"
"E-enggak, Ma... Sumpah, Kania nggak sengaja. Kaki Kania tadi kram dan tersandung karpet—"
"Alasan!" potong Tuti bengis. "Mulai sekarang kamu jangan banyak tingkah! Untung tadi Mama berhasil menahan Firman di kamar. Kalau sampai teman-teman Mama tahu kamu itu istrinya, mau ditaruh di mana muka Mama, hah?! Punya menantu kok pincang, cacat, nggak berguna lagi!"
Kania hanya bisa menunduk, menangis dalam diam. Tak ada satu pun kata yang bisa ia ucapkan untuk melawan wanita yang sangat dihormati suaminya itu.
"Dengar baik-baik!" ancam Tuti seraya berkacak pinggang.
"Sekarang kamu siapkan makan malam untuk Firman! Masak makanan yang paling enak. Jangan sampai anakku kelaparan gara-gara istri yang kerjanya cuma bisa bikin susah! Dan ingat, jangan berani-berani kamu mengadu soal kejadian hari ini pada Firman. Kalau sampai Firman tahu, Mama pastikan kamu akan angkat kaki dari rumah ini malam ini juga! Paham?!"
Kania mengangguk patah-patah dengan dada sesak. "Ppaham, Ma..."
Tuti mendengus sinis, menatap Kania dari atas ke bawah.
"Dasar benalu!" umpatnya kasar, meninggalkan Kania yang menangis tersedu-sedu sambil menahan perih di sekujur tubuh dan hatinya yang telah hancur tak bersisa.
*****
Firman tiba-tiba meletakkan alat makannya. Napasnya terdengar berat. Pria itu menatap lurus ke depan dengan raut wajah frustrasi yang tak lagi bisa disembunyikan.
"Aku mau bicara," ucap Firman memecah keheningan.
Kania yang baru saja hendak menyuapkan nasi menghentikan gerakannya. "Iya, Mas? Ada apa?"
Tuti yang duduk di ujung meja ikut meletakkan gelasnya dan menatap putranya penasaran.
"Ada apa, Firman? Makanan buatan istri kesayanganmu ini kurang enak? Padahal Mama sudah suruh dia masak yang benar lho."
Firman mengusap wajahnya kasar, tak memedulikan sindiran ibunya. "Perusahaan Firman... kolaps, Ma."
Mata Tuti seketika melebar. Garpu di tangannya terlepas hingga menimbulkan bunyi nyaring.
"Apa kamu bilang?! Kolaps bagaimana maksudmu?!"
"Bangkrut, Ma," jelas Firman dengan suara bergetar menahan putus asa. "Semua supplier bahan baku tiba-tiba memutus kontrak sepihak. Tidak ada satu pun pasokan yang masuk, produksi pabrik berhenti total, dan investor menarik dana mereka secara bersamaan. Firman hancur, Ma. Kita kehilangan semuanya."
Prang! Sendok di tangan Kania terjatuh membentur piring. Wajah Kania pucat pasi saking terkejutnya.
"Astaghfirullah, Mas... kok bisa tiba-tiba begini?"
Sementara itu, dada Tuti mendadak naik turun dengan cepat. Ia mencengkeram dada kirinya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Napasnya tersengal dan wajahnya pias tak berdarah.
"Ya Tuhan... bangkrut?! Lalu bagaimana nasib arisan Mama? Liburan ke Eropa? Tas branded Mama?! Uang belanja Mama?!"
"Ma, tolong tenang dulu..." Firman berusaha meraih tangan ibunya, namun Tuti langsung menepisnya dengan kasar.
Mata Tuti yang tadinya terbelalak syok kini menatap nyalang ke arah Kania.
"Ini semua pasti gara-gara kamu, perempuan pembawa sial!" bentak Tuti menggelegar, urat lehernya sampai menonjol keluar.
"Ma! Apa-apaan sih?!" tegur Firman kaget melihat reaksi ibunya.
"Diam kamu, Firman!" potong Tuti tak kalah keras. Ia menggebrak meja makan dengan sisa tenaganya, mengabaikan rasa sakit di dadanya.
"Mama sudah curiga dari awal! Uangmu itu habis, perusahaanmu hancur pasti karena kamu terus-terusan membiayai keluarga miskinnya ini! Perusahaanmu disedot habis-habisan oleh lintah darat berkedok istri ini, kan?! Iya kan, Kania?! Mengaku kamu! Gara-gara kamu dan keluargamu yang melarat itu, anakku sekarang jatuh miskin!"
Air mata Kania langsung luruh seketika. Hatinya seperti ditusuk belati. "Demi Allah, Ma, Kania tidak pernah melakukan apa yang Mama tuduhkan. Mas Firman sendiri yang bersedia membiayai keluarga Kania."
"Halah, pembohong! Dasar menantu cacat tak tahu diuntung!" teriak Tuti semakin histeris.
TPI dia bilang adik satu satunya
dari awal fillingku itu menggunakan firman pasti ingin merebut sesuatu dari sang Abang
hemm
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...