NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Tantangan dari Pendekar Muda Lokal.

Belum sempat langkah kaki Erlang dan Sekar Arum masuk terlalu dalam ke rimbunnya hutan jati perbukitan selatan, suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah belakang kembali memecah keheningan. Tanah berpasir yang mulai bercampur kerikil itu bergetar halus di bawah entakan kaki seseorang yang memiliki meringankan tubuh cukup matang.

Sret! Brak!

Sesosok pemuda berusia sekitar dua puluhan mendadak melompati semak pandan duri dan langsung mendarat dengan kokoh tepat di tengah jalur setapak, menghadang langkah Erlang dan Sekar. Pemuda itu memakai pakaian pendekar ringkas berwarna hitam khas pesisir, lengkap dengan ikat kepala batik wulung. Di pinggangnya terselip sebilah keris bertuah berhulu gading yang menandakan dirinya bukan pendekar sembarangan, melainkan pendekar muda lokal berbakat yang memiliki nama di wilayah Parangtritis.

Wajah pemuda lokal itu tampak merah padam penuh amarah, napasnya memburu memandangi Erlang dari atas sampai bawah dengan tatapan mata yang sarat akan rasa hina dan kebencian yang mendalam.

"Heh, Musafir Lusuh! Berhenti kau!" teriak pendekar muda lokal itu sembari menunjuk hidung Erlang menggunakan jari telunjuknya yang bergetar. "Aku, Bagas Suroto, murid utama dari Padepokan Karang Bolong, tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah kau mengacaukan hati perawan di desa ini!"

Erlang menghentikan langkahnya secara otomatis, menurunkan kembali pikulan bambu tuanya ke atas tanah dengan gerakan yang sangat santai dan tenang. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, lalu melirik ke arah Sekar Arum yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang sudah kembali ditekuk ketus.

"Waduh, Paman Bagas... maaf, maksud saya Kangmas Bagas," sapa Erlang ramah sembari melempar senyuman polosnya. "Ada urusan apa nggih kok menghadang kami di tengah jalan sambil berteriak-teriak begitu? Apa ada barang saya yang tertinggal di pondok Kepala Desa tadi?"

"Jangan pura-pura bodoh, Keparat!" bentak Bagas Suroto kian gusar melihat wajah polos Erlang yang dianggapnya sebagai ejekan meremehkan. "Kau tahu siapa Mirah, kan? Gadis nelayan yang baru saja kau sentuh tangannya dengan kedok mengobati racun itu! Aku sudah tiga tahun mengejar cintanya, membawakannya ikan terbaik, bahkan mengusir setiap pemuda yang berani mendekatinya! Tapi tadi... tadi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dari balik pohon, si Mirah menangis tersedu-sedu meratapi kepergianmu seolah-olah hatinya sudah kau bawa kabur!"

Sekar Arum yang mendengar penjelasan itu langsung melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ia mendengus sangat keras, melirik Erlang dengan tatapan mata yang kian dingin seolah berkata, 'Nah, lihat kan? Apa yang kukatakan baru saja!'

"Tuh, Erlang. Benalu amis guritamu yang super genit itu ternyata sudah punya peliharaan macan pelacak," sindir Sekar Arum dengan nada suara yang sangat ketus dan kaku. "Selesaikan sendiri urusan asmara pasarmu ini. Aku tidak mau jubah biruku terkena debu perkelahian konyol berebut perempuan desa."

"Lho, Gusti... Nimas Sekar, tolong jangan ikut memanaskan suasana toh," bisik Erlang canggung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Erlang kemudian kembali menatap Bagas Suroto dengan pandangan melas. "Kangmas Bagas, beneran ini salah paham. Saya kemarin malam dan tadi subuh cuma membantu mengusir bajak laut, lalu tadi pagi kebetulan melihat Nimas Mirah sekarat terkena racun gurita batu. Saya cuma mengeluarkan racunnya agar dia tidak mati, Kangmas. Tidak ada niat mengambil hatinya atau membawa kabur cintanya sama sekali. Sumpah, saya ini cuma pengembara mlarat yang mau ke selatan."

"Halah! B4cotmu manis sekali, Bocah Gembel!" raung Bagas Suroto, harga dirinya sebagai pendekar muda terbaik di pesisir Parangtritis benar-benar merasa terhina melihat Mirah begitu memuja Erlang yang penampilannya lusuh seperti pengemis jalanan. "Orang-orang desa mungkin menganggapmu sakti karena bisa mengalahkan kecoa-kecoa bajak laut kemarin, tapi di mataku, kau cuma dukun tiban yang beruntung! Aku tidak terima dihina oleh musafir sekere kamu! Kalau kau beneran laki-laki, ikut aku kembali ke tepi pantai sekarang juga! Kita selesaikan ini lewat duel satu lawan satu di atas pasir!"

Erlang menghela napas panjang, merapikan ikat pinggang kainnya yang agak kendur. "Aduh, Kangmas Bagas. Bertarung di tepi pantai siang-siang begini rasanya kurang kerjaan sekali toh. Pasirnya panas, silau lagi terkena matahari. Bagaimana kalau kita selesaikan dengan mengobrol baik-baik saja sambil minum wedang sereh di warung depan sana? Saya yang bayar, pakai sisa koin tembaga saya."

"Cih! Penakut! Ternyata kau cuma modal tampang rupawan dan mulut besar untuk merayu perawan!" cibir Bagas Suroto, tangan kanannya perlahan bergerak ke samping, memegang hulu gading keris tuanya yang mulai mengeluarkan energi merah tipis. "Kalau kau tidak mau jalan sendiri ke pantai, jangan salahkan keris Kyai Setro ini kalau harus menyeret mayatmu ke gulungan ombak laut selatan!"

Melihat binar membunuh yang mulai pekat di sepasang mata Bagas Suroto, Erlang menyadari bahwa pendekar muda lokal yang sedang buta karena cemburu ini tidak akan bisa diajak bicara menggunakan kepala dingin lagi.

Erlang menoleh ke arah Sekar Arum, tersenyum canggung sembari menunjuk ke arah jalan kembali ke pantai. "Nimas Sekar... sepertinya kita harus menunda masuk ke hutan jati sebentar. Pelindungmu ini harus meladeni pangeran pantai yang sedang patah hati dulu, agar jalurnya bersih."

Sekar Arum memalingkan wajahnya ke samping, bertingkah cuek namun matanya tetap melirik tajam penuh rasa penasaran. "Terserah kau saja, Erlang. Tapi ingat aturan jarak tiga jengkal tadi ya! Jangan sampai kau sengaja berlama-lama memeluk pendekar hitam ini saat bertarung nanti karena alasan kasihan!"

"Nggih, Nimas. Jaraknya akan saya jaga sejauh mungkin," sahut Erlang santai sembari tertawa renyah.

Mereka bertiga akhirnya berjalan kembali menuju hamparan pasir pantai Parangtritis yang luas, tepat di sebuah area gumuk pasir yang sepi dari pemukiman warga namun menghadap langsung ke arah deburan ombak laut selatan yang bergulung-gulung menderu kasar.

Bagas Suroto langsung mengambil jarak sepuluh langkah di depan Erlang. Ia mencabut keris berhulu gadingnya dengan gerakan yang sangat mantap dan teatrikal. Bilah besi keris yang berkelok-kelok itu tampak berkilat tajam di bawah terikan sinar matahari, memancarkan hawa panas yang membuktikan bahwa pemiliknya telah melatih ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam tingkat tinggi dari padepokan sepuh lokal.

"Ayo, Musafir Gembel! Keluarkan senjatamu!" tantang Bagas Suroto sembari memasang kuda-kuda rendah yang sangat kokoh di atas pasir pantai. "Aku tidak mau dibilang licik karena menghajar orang yang bertangan kosong!"

Erlang berdiri dengan sangat santai, kedua tangannya terkulai lemas di samping paha, dan kaki kirinya digeser sedikit ke depan membentuk posisi dasar Tapak Angin Sepoi. "Saya tidak punya senjata besi seperti itu, Kangmas Bagas. Paman Suro cuma memberi saya pikulan bambu tua di belakang itu. Jadi, mari silakan Kangmas maju duluan."

"Kurang ajar! Kau beneran meremehkanku ya! Rasakan ini! Jurus Karang Menerjang Ombak!"

Bagas Suroto melesat maju dengan kecepatan penuh. Gerakan kakinya di atas pasir sangat luar biasa, ia tidak amblas ke dalam pasir melainkan meluncur mulus bagai burung camar laut. Ujung kerisnya bergerak memutar, menciptakan puluhan bayangan merah yang menusuk lurus ke arah lima titik mematikan di dada dan leher Erlang secara bersamaan.

Wusss! Wusss! Wusss!

Serangan itu sangat cepat dan presisi untuk ukuran pendekar muda lokal, membuktikan bahwa gelar murid utama Padepokan Karang Bolong bukan sekadar bualan belaka.

Namun, di mata Erlang yang batinnya telah disempurnakan oleh pusaran inti energi dari kitab tanpa nama, semua bayangan keris itu terlihat sangat kasatmata. Erlang melihat bahwa dari puluhan bayangan merah itu, hanya ada satu jalur tusukan asli yang membawa hawa membunuh, sementara sisanya hanyalah tipuan angin yang memanfaatkan kilatan cahaya matahari.

“Ah... polanya terlalu lurus dan kaku. Mirip dengan pola nomor tiga di lembar pertama kitab itu,” batin Erlang menganalisis dengan sangat tenang dan logis di sela-sela desingan angin senjata lawan.

Tepat saat ujung keris Bagas Suroto berjarak dua jengkal dari kain baju lusuhnya, Erlang memutar tumit kaki kanannya ke arah belakang, membiarkan tubuh rupawannya meliuk miring dengan kelenturan yang luar biasa, mengombinasikan kelenturan gerakan tarian sutra milik Sekar Arum yang ia contek kemarin dengan langkah dasar Tapak Angin Sepoi.

Srettt!

Bilah keris tajam itu menusuk tempat kosong, hanya memotong sehelai rambut halus di pundak Erlang.

"Gebrakan pertama, Kangmas," ujar Erlang santai dengan senyuman tulusnya yang polos tepat di samping wajah Bagas Suroto yang mendadak membelalak syok karena serangannya yang paling membanggakan bisa dihindari semudah membalikkan telapak tangan.

"Bajingan! Jangan senang dulu!" teriak Bagas Suroto panik.

Ia langsung memutar tubuhnya di udara, mengubah arah tusukan kerisnya menjadi tebasan mendatar yang sangat kuat mengincar leher Erlang, dibarengi dengan sebuah tendangan kaki kiri yang mengarah ke lutut Erlang guna mengunci pergerakan langkah pemuda itu.

Erlang tidak panik. Ia menarik napas pendek, mengaktifkan segumpal kecil hawa hangat di telapak tangan kanannya. Dengan gerakan yang sangat santai seperti orang yang hendak menepis debu di baju, Erlang memajukan lengannya, mengetuk pergelangan tangan Bagas Suroto menggunakan bagian luar telapak tangannya, sementara kaki kirinya digeser melingkar membentuk pelindung jarak.

Plak!

Sentuhan kecil itu membawa dorongan energi murni tak terbatas yang dibalikkan secara mekanis. Akibatnya, seluruh tenaga tebasan keris Bagas Suroto mendadak mentok membentur dinding udara tak kasatmata, dan tendangan kaki kirinya melosong menghantam pasir pantai hingga membuat dirinya sendiri kehilangan keseimbangan.

"Gebrakan kedua, Kangmas Bagas," kata Erlang ramah sembari memegangi pundak pendekar muda itu agar tidak jatuh tersungkur ke pasir basah, sekaligus menjaga jarak tiga jengkal sesuai perintah Sekar Arum tadi.

Bagas Suroto mundur lima langkah dengan wajah yang kini sudah berubah total menjadi pucat pasi bak mayat. Seluruh lengan kanannya terasa mati rasa, bergetar hebat hingga keris berhulu gading miliknya hampir terlepas dari genggaman. Ia menatap Erlang dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa ngeri dan syok yang amat sangat. Pendekar muda lokal itu akhirnya menyadari kenyataan pahit bahwa pemuda lusuh di hadapannya ini bukan berada di tingkatannya, Erlang adalah sosok raksasa yang menyamar menjadi manusia desa biasa.

"K-kau... ilmu apa yang kau pakai ini?!" gagap Bagas Suroto, napasnya memburu tidak keruan.

Erlang tersenyum simpul, menggelengkan kepalanya dengan santai. "Cuma ilmu pengusir pegal-pegal hasil memikul kayu di lereng Lawu kok, Kangmas. Nah, sekarang tinggal gebrakan ketiga. Mari kita selesaikan agar Nimas Sekar tidak makin marah di bawah pohon sana."

Erlang bergerak maju satu tindak secara perlahan, namun di mata Bagas Suroto, pergerakan Erlang itu seolah-olah membuat seluruh pemandangan pantai Parangtritis ikut bergeser maju menekannya. Erlang mengangkat dua jarinya, mematuk pelan bagian luar pundak kanan Bagas Suroto, sebuah totokan ringan yang bertujuan mengunci aliran darah merah penyerang tanpa menimbulkan luka dalam sedikit pun.

Tuk!

Gebrakan ketiga menyudahi duel sepihak tersebut. Tubuh Bagas Suroto seketika kaku seperti patung batu karang, kerisnya jatuh berhamburan di atas pasir, dan sedetik kemudian ia jatuh terduduk lemas dengan napas terengah-engah, kalah telak tanpa bisa menyentuh ujung baju Erlang seujung rambut pun.

Di tepi pantai, Sekar Arum yang sejak tadi menonton dengan melipat tangan hanya bisa mendengus kecil, sedangkan sudut matanya tetap memancarkan rasa takjub dan bangga yang amat sangat atas dominasi mutlak yang diperlihatkan oleh pelindung polosnya itu.

"Nah, Kangmas Bagas. Duelnya sudah tiga gebrakan ya," kata Erlang santai sembari memungut keris berhulu gading milik Bagas dan meletakkannya kembali dengan sopan di pangkuan pendekar muda yang masih syok itu. "Saran saya, lebih baik Kangmas pulang dan obrolkan baik-baik dengan Nimas Mirah. Hati perempuan itu tidak bisa dipaksa pakai keris atau kepungan pendekar, Kangmas. Harus didekati dengan kelembutan hati yang tulus. Mari, nggih!"

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!