Bagaimana jadinya jika kita sebagai ibu susu pengganti dari anak mantan kekasih yang dulu. Casandra tidak pernah tahu siapa orang tua dari bayi mungil yang di asuhnya selama ini. Sepenuh hati dia merawat dan memberinya asi.
Bayi mungil itu sudah di anggapnya seperti anak sendiri karena anaknya telah lama pergi. Sejak kejadian kecelakaan waktu itu, hidupnya berubah drastis.
Dengan susah payah dia menyambung hidup, mencari pekerjaan kesana kemari hasilnya nihil. suami yang dulu menyayanginya, kini menyia-nyiakannya. Akankah Sandra bisa bertahan? Bagaimana perasaannya setelah tahu ayah dari anak yang dia asuhnya ternyata laki-laki di masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mas Bri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sandra membawa dua gelas kosong dari dapur untuk tempat minum. "Mas, ini minumnya," ucap Sandra ramah.
Haris menerimanya dengan senyuman. Dia masih belum sadar dengan ucapan Sandra.
"Mau lauk apa, Mas? Sini piringnya biar aku ambilkan lauk," lanjut Sandra mengambil alih piring laki-laki dengan setelan jas hitam.
Saat piring itu akan berpindah tangan, Haris menahannya. "Mas?" cicit Haris mengulangi kata wanita di hadapannya.
"Ehem, Mas. Memangnya kenapa? Apa ada yang salah calon suamiku?" balas Sandra. Suaranya terdengar begitu centil. "Saat jam istirahat akan aku bawakan makan siang dari rumah," lanjutnya lagi.
Wajah Haris semakin terlihat terkejut. Entah mimpi apa dia semalam hingga kini dia mendapatkan jawaban yang sangat dia harapkan.
"Ca-calon su-suami? Aku? Suami kamu? Kita?" ucap Haris sambil memperagakan kedua tangannya seperti orang yang berci*man.
Sandra hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Setelah memikirkannya semalam, akhirnya dia memutuskan untuk menerima lamaran mendadak itu. Mungkin ini jalan yang terbaik untuknya memulai hidup baru. Dia pasrahkan semuanya kepada Tuhan atas jalan hidupnya.
"Apa ini artinya kamu menerimaku?" tanya Haris memastikan.
Sandra menganggukkan kepalanya lagi.
Melihat hal itu, Haris bersorak senang. Dia menghampiri wanita itu dan menggendongnya seperti karung beras sambil berputar-putar. Suasana semakin riuh ketika Varel menangis dengan suara keras papanya.
"Mas, Varel nangis," ucap Sandra meminta berhenti.
Haris pun menurunkannya. Dia menghampiri sang anak dan menggendongnya. "Varel anak papa, akhirnya kamu punya mama, Nak," ucapnya begitu bahagia.
"Sudah, Mas. Ayo cepat makan, nanti keburu dingin." Sandra mengambil alih Varel dan menaruhnya kembali di tempat khusus.
"Jangan pergi sendiri, nanti Pak Joko yang akan jemput kalian."
"Iya, Mas."
Mendengar jawaban kekasihnya, hati Haris menghangat seakan ada sesuatu yang terasa indah. Senyum bahagia tak luntur dari sudut bibirnya. Kini, hatinya sudah tak sabar ingin segera meresmikan hubungannya dan memberitahu ke semua orang bahwa Sandra adalah miliknya.
***
"Aku berangkat dulu."
"Iya, Mas. Hati-hati," jawab Sandra sambil menggendong Varel.
Saat berjalan menuju mobil yang terparkir, langkahnya terhenti begitu saja. Mengingat ada yang masih tertinggal dia pun berbalik badan.
"Ada yang tertinggal?" tanya Sandra polos.
"Sepertinya ada yang kurang," balas Haris sambil sedikit mencondongkan wajahnya.
Sandra yang melihatnya merasa kebingungan. "Apa? Biar aku ambilkan."
Haris terus saja mencondongkan wajahnya dengan pipi yang di tonjolkan. Sandra pun akhirnya mengerti. Kakinya maju selangkah dan melayangkan salam tempel di pipi putih Haris. Sudut bibirnya pun terangkat lebih tinggi seakan tak bisa kembali lagi.
Merasa ada kesempatan emas, papa muda itu kembali menci*m kening Sandra mesra. Begitu lepas, keduanya saling senyum malu-malu.
"Cepat berangkat sudah siang." Sandra mengusir tuan manjanya.
"Kamu mengusirku? Padahal ini rumah ku sendiri, tapi aku sudah di suruh pergi." Haris merajuk, bahkan wajahnya di buat-buat seperti anak kecil.
Karena terlalu banyak drama, Sandra akhirnya mendorong sang kekasih hingga memasuki mobil. Sebenarnya Haris sendiri enggan untuk berangkat kerja hari ini. Rasanya dia hanya ingin bertiga di rumah menikmati hari bahagia. Tapi karena adanya janji makan siang dan dorongan Sandra, dengan berat hati Haris berangkat.
"Hati-hati di rumah," ucapnya begitu khawatir.
"Mas, harusnya Mas yang hati-hati karena di jalan."
"Hanya ingin mengucapkannya saja."
"Kalau seperti ini, kamu tidak akan pernah berangkat kerja," sarkas Sandra.