Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17 Obrolan di ruangan
Kembali dari ruang rapat membuat ruangan kerja Fela berdengung oleh bisik-bisik ketegangan yang tersisa. Atmosfer ruang kubikel tim kreatif langsung menghangat begitu mereka lolos dari pintu ruang rapat utama.
"Direktur baru itu belagu banget," kata Siska yang pertama kali duduk di kursinya sambil melemparkan map berkas ke atas meja dengan kesal.
"Namanya juga baru," kata Bimo mencoba memaklumi situasi, meskipun ia juga merasa tidak nyaman selama rapat tadi. "Lagian membawa Kenzo ke dalam rapat pleno penting sedikit berisiko."
"Maksudnya kamu nyalahin manajer Fela?" tanya Mirin yang langsung menoleh dari balik monitornya, merasa perlu membela keputusan sang manajer.
"Bukan nyalahin. Lagi berpendapat aja," Bimo menanggapi santai seraya menyandarkan punggungnya ke kursi, tidak ingin opininya memicu perdebatan baru di divisi mereka.
"Iya juga. Agak keliru manajer ngajak Kenzo," imbuh Siska, menyetujui pendapat Bimo setelah mengingat kembali bagaimana Dion menyerang tim mereka habis-habisan tadi.
"Tapi dia oke sih. Untuk anak SMA dia oke kerjaannya. Presentasi kemarin itu..." Mirin mengakui bahwa kemampuan bocah itu sebenarnya lumayan dan berada di atas rata-rata anak seusianya.
"Bener, tapi kalau statusnya anak magang, masih SMA... orang akan pandang sebelah mata," Bimo bicara lagi, menekankan realitas dunia kerja yang sering kali lebih melihat status daripada kemampuan nyata.
"Sst, Kenzo datang," Siska memberikan kode dengan gerakan tangan agar mereka semua segera diam begitu melihat siluet cowok jangkung itu melangkah mendekat.
"Senior lagi ngomongin aku ya?" tanya Kenzo tepat sasaran, langsung menembak mereka dengan pertanyaan retoris saat dia berdiri di dekat kubikel.
"Enggak, kenapa?" Siska langsung mengelak dengan ekspresi wajah yang dibuat senatural mungkin.
"Enggak apa-apa. Kalau diomongin ya enggak apa-apa," Kenzo malah menanggapi dengan sangat santai.
Melihat dirinya baru saja dijadikan bahan oleh Dion untuk mengkonfrontasi Fela di ruang rapat tadi, Kenzo tahu dengan pasti bahwa dia akan menjadi bahan obrolan hangat satu kantor. Karena hal itu memang riskan; proyek besar ini bisa saja gugur hanya karena keberadaannya di dalam tim. Namun, tidak ada riak panik sedikit pun di wajahnya.
"Heh, kamu ini anaknya siapa sih kok tenang sekali?" tegur Siska, gemas melihat ketenangan Kenzo yang tidak masuk akal.
Bimo yang sejak di ruang rapat sudah penasaran setengah mati, ikut mencondongkan badannya ke depan untuk mendengarkan jawaban si anak magang.
"Anak orangtuaku lah..." Kenzo menjawab dengan candaan seperti biasa, memasang senyum lempeng yang membuat para seniornya itu hanya bisa menghela napas pasrah.
"Main rahasia-rahasiaan kayak mata-mata aja," ujar Siska ngedumel. Bibirnya mencibir pelan karena merasa tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari si anak magang.
Kenzo tergelak mendengar gerutuannya. "Kalau aku emang mata-mata, gimana?"
Siska langsung melirik tajam, menghentikan aktivitas jemarinya di atas kibor. "Kamu mata-matanya atasan? Siapa?" Siska seketika termakan omongan Kenzo. Karena gosip kalau Kenzo itu anak titipan sudah menyebar di kantor, jadi kemungkinan kalau dia adalah mata-mata suruhan petinggi perusahaan memang ada.
Bimo yang duduk tidak jauh dari mereka ikut memasang telinga dan mendengarkan dengan baik percakapan tersebut.
"Kak Siska penasaran?" goda Kenzo, sengaja memancing seniornya itu.
"Ya iyalah. Kalau kamu emang mata-mata, kita harus tampak baik terus di depanmu. Ya, kan, Bim?"
"Benar, tapi aneh juga. Kalau kamu mata-matanya atasan, kenapa malah ngaku?" Bimo menimpali dengan logis. Dia tidak langsung percaya begitu saja pada ucapan Kenzo.
"Bener juga. Konyol sekali kamu. Ngerjain aku ya!" ujar Siska baru sadar kalau sedang dikerjai. Bibirnya mengerucut manyun.
Kenzo kembali tergelak melihat respons senior-seniornya. Ia melirik jam dinding sekilas. "Sebentar lagi jam istirahat, kakak-kakak mau titip aku beli sesuatu?" tawar Kenzo, mencoba mencairkan suasana.
"Kamu mau ke mana?" tanya Siska.
Belum sempat Kenzo menjawab, Bimo langsung menyela. "Jangan. Aku kena tegur Manajer Fela saat dia bikin kopi waktu itu," ujar Bimo, mengingat kembali bagaimana ketatnya Fela menasihatinya agar tidak menyuruh-nyuruh anak magang.
"Aku sudah bilang kalau itu bukan kamu yang nyuruh. Kenzo sendiri yang nawarin kalian waktu itu," ujar Mirin mencoba meluruskan ingatan Bimo.
Kenzo menunjukkan deretan giginya yang rapi, merasa kalimat pembelaan dari Mirin barusan memang benar.
"Kamu mau ke mana?" tanya Siska mengulang pertanyaannya yang sempat terpotong.
"Ke kantin. Kalau enggak, ya keluar. Cari makan di luar," jawab Kenzo santai.
"Aku mau makan chicken kranz, sih," celetuk Siska, wajahnya sudah tampak membayangkan makanan ringan yang gurih itu.
"Gimana kalau pesen online aja? Jadi enggak ngerepotin Kenzo juga," usul Mirin memberi solusi jalan tengah agar mereka tidak kembali kena tegur Fela.
"Iya deh, pesen online aja," Siska akhirnya setuju, langsung meraih ponselnya di atas meja.
"Aku enggak," Bimo mengangkat sebelah tangannya, menolak ikut memesan.
"Kenapa?" Siska bertanya sambil mulai menggulir menu di aplikasi makanan.
"Dia lagi menghemat untuk biaya nikah," goda Mirin dengan senyum meledek.
"Benar," ujar Bimo membenarkan tanpa rasa malu. Memang itu kenyataannya.
Siska mendengus geli. "Halah. Cuma dua puluh ribu aja sok menghemat. Lagipula kan enggak setiap hari kamu jajan ginian."
"Mau aku belikan, Bang?" tawar Kenzo tiba-tiba, mengejutkan orang-orang di kubikel itu.
Bimo menatap Kenzo dari atas ke bawah, merasa tidak enak hati. "Bocah, emangnya kamu dapat uang saku banyak dari orang tuamu?" tanya Bimo.
"Aku dapat komisi dari kerja sambilanku," ujar Kenzo datar.
"Kamu kerja sambilan?" tanya Siska, raut wajahnya seketika langsung berubah menjadi iba. Pikirannya langsung melayang membayangkan anak SMA yang harus pontang-panting kerja demi mencari uang tambahan, padahal statusnya di kantor ini adalah anak titipan.
Kepala Kenzo mengangguk. Mengiyakan pertanyaan Siska dengan ekspresi wajahnya yang tetap tenang tanpa beban.
Mendengar itu, seisi ruangan menjadi iba. Bimo yang tadinya sempat senang karena mau ditraktir, seketika langsung merasa sungkan dan tidak enak hati pada anak magang di depannya.
Mirin mengerjap. Dia yang tadinya hanya sesekali menoleh, kini memutar tubuhnya dan menoleh penuh pada Kenzo. Pikirannya mendadak berputar cepat, mengingat kembali soal hotel tempat Kenzo menginap yang sempat diceritakan Fela.
Enggak mungkin ah dia anak orang susah, batin Mirin sangsi. Buktinya jelas, cowok itu bisa berada di hotel mewah. Belum lagi rumor di kantor yang mengatakan kalau dia adalah anak titipan orang penting. Rahasia apa sebenarnya yang disembunyikan bocah ini?