NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Tiga hari setelah kemenangan atas Sekte Harimau Ganas, Sekte Pedang Taixuan kembali ke ritme normalnya.

Perayaan sudah selesai. Lampu-lampu festival sudah diturunkan. Murid-murid kembali ke jadwal latihan mereka dengan semangat yang sedikit lebih tinggi dari biasanya—efek kemenangan yang biasanya bertahan dua minggu sebelum rutinitas menelannya kembali.

Dan Lin Chen kembali menyapu.

Pagi itu, gilirannya membersihkan Makam Pedang Leluhur.

Dia suka jadwal ini. Bukan karena tempat itu indah—lembah berkabut dengan ribuan pedang berkarat yang ditancapkan ke tanah tidak bisa disebut indah dengan cara apapun. Tapi karena sepi. Tidak ada murid yang lewat, tidak ada sesepuh yang perlu dia beri hormat, tidak ada Zhao Kang yang bisa menginjak sapunya.

Hanya dia, ribuan pedang tua, dan kabut yang tidak pernah benar-benar pergi.

Srak... srak...

Lin Chen menyapu daun-daun kering yang menumpuk di antara pedang-pedang itu dengan ritme yang sudah sangat familiar. Mata Dewa Kekacauan-nya aktif setengah—bukan untuk mencari sesuatu secara khusus, hanya kebiasaan. Melihat aliran energi di sekitarnya seperti orang lain melihat pemandangan.

Ribuan pedang di makam ini memancarkan aura yang berbeda-beda. Ada yang lemah hampir padam, milik kultivator rendah yang sudah ratusan tahun tiada. Ada yang masih cukup kuat, memancarkan niat pedang yang samar seperti gema suara yang memantul dari dinding gua. Ada beberapa yang sangat tua sampai energinya sudah menyatu dengan tanah di sekitarnya, tidak bisa dibedakan lagi mana pedang mana bumi.

Lin Chen sudah hafal semuanya.

Sampai matanya berhenti.

'...Itu baru ada.'

Di tengah makam, di sebuah titik yang Lin Chen yakin kemarin masih kosong, sebuah pedang berdiri sendirian.

Tidak bersama kelompok pedang lainnya. Tidak di baris manapun. Tepat di tengah-tengah jalan setapak utama makam, seolah-olah ditancapkan oleh seseorang yang tidak peduli dengan tata letak apapun—atau oleh sesuatu yang tidak butuh izin dari siapapun untuk muncul.

Pedangnya sendiri tidak istimewa secara penampilan. Bilahnya gelap, hampir hitam, tanpa ukiran, tanpa nama, tanpa hiasan apapun. Gagangnya sederhana sampai terkesan kasar. Sarungnya sudah tidak ada—atau mungkin tidak pernah ada.

Tapi di bawah Mata Dewa Kekacauan Lin Chen—

'...'

Lin Chen berdiri diam selama beberapa detik.

Energi yang memancar dari pedang itu tidak wajar. Bukan tidak wajar dalam artian berbahaya atau gelap—tapi tidak wajar dalam artian dalam. Sangat dalam. Seperti sumur yang kamu lempar batu ke dalamnya dan tidak pernah mendengar suara benturan di bawah.

Lin Chen membandingkannya secara refleks dengan referensi terkuatnya saat ini.

Sesepuh Mo—ahli misterius yang menyembunyikan kekuatan yang melampaui Nascent Soul di balik tubuh tua bungkuknya—energinya seperti matahari yang terkurung. Besar, agung, menyilaukan.

Pedang ini berbeda.

Bukan matahari. Lebih seperti... kegelapan sebelum matahari pertama lahir. Bukan absen cahaya—tapi sesuatu yang mendahului cahaya itu sendiri.

'Apa ini?'

Lin Chen melangkah mendekatinya dengan hati-hati.

Sapu bambunya dia letakkan ke tanah—pertama kalinya dia meninggalkan sapunya secara sukarela sejak enam bulan terakhir. Dia berjongkok di depan pedang itu, memperhatikannya dari jarak dekat tanpa menyentuhnya.

Mata Dewa Kekacauan-nya dia aktifkan penuh.

Sesuatu yang jarang dia lakukan karena biasanya tidak perlu.

Penglihatannya menembus lapisan demi lapisan energi pedang itu, menggali semakin dalam—setiap lapisan menyimpan sesuatu yang lebih tua, lebih berat, lebih tak terdefinisi dari lapisan sebelumnya. Lin Chen terus menggali. Terus mendalami.

Dan tidak menemukan dasarnya.

Untuk pertama kalinya sejak Mata Dewa itu terbangun, Lin Chen tidak bisa mengukur sesuatu sampai tuntas. Seperti mencoba melihat dasar samudra dengan lampu kecil—cahayanya kuat, tapi samudra itu lebih dalam dari cahaya manapun yang bisa menjangkaunya.

'...Dalam sekali.'

Lin Chen menarik Mata Dewanya perlahan, memejamkan matanya sebentar untuk menstabilkan penglihatannya kembali.

'Ini bukan peninggalan biasa. Ini bukan milik kultivator Taixuan manapun yang pernah ada.'

'Lalu milik siapa? Dan kenapa muncul sekarang?'

Lin Chen mengulurkan tangannya, jarinya hampir menyentuh gagang pedang itu—

Terdengar suara pintu kayu berderit.

Lin Chen menarik tangannya kembali dalam waktu kurang dari satu detik.

Dalam gerakan yang sama, dia memungut sapunya dari tanah, berdiri, dan kembali menyapu dengan ritme yang sempurna seolah-olah dia tidak pernah berhenti sama sekali.

Srak... srak...

Dari pondok kayu di ujung makam, sesosok tua bungkuk berjalan keluar dengan langkah yang sangat pelan. Sesepuh Mo. Jubah abu-abunya lusuh dan agak kotor di bagian bawah—pakaian orang yang sudah lama tidak peduli dengan penampilan, atau orang yang ingin terlihat seperti itu.

Rutinitas hariannya. Lin Chen sudah mengamatinya cukup lama untuk tahu—setiap pagi, Sesepuh Mo keluar dari pondoknya, berjalan mengelilingi makam satu putaran penuh, lalu kembali masuk. Tidak berbicara dengan siapapun. Tidak melakukan apapun yang terlihat bermakna.

Hari ini tidak berbeda.

Sesepuh Mo berjalan pelan melewati baris-baris pedang kuno, tangannya sesekali menyentuh gagang beberapa pedang yang dilewatinya—bukan memeriksa, lebih seperti menyapa. Matanya yang keriput menatap ke depan tanpa fokus khusus.

Lin Chen terus menyapu.

Dua orang di makam yang sama. Masing-masing tidak mengakui keberadaan yang lain secara bermakna. Sesepuh Mo tidak pernah benar-benar memperhatikan pelayan yang menyapu di sini—sama seperti orang tidak memperhatikan furnitur di ruangan yang sudah terlalu lama mereka tempati.

'Bagus. Tetap begitu,' pikir Lin Chen.

Tapi kemudian langkah Sesepuh Mo berhenti.

Orang tua itu berdiri diam di depan pedang hitam yang muncul tiba-tiba itu. Punggungnya menghadap ke Lin Chen, jadi Lin Chen tidak bisa melihat ekspresinya. Tapi dari perubahan cara dia berdiri—punggung yang biasanya sengaja dibungkukkan kini sedikit lebih tegak, hampir tidak terdeteksi—Lin Chen tahu.

Orang tua ini mengenali pedang itu.

Sesepuh Mo diam selama waktu yang terasa sangat panjang.

Lalu, dengan suara yang sangat rendah—begitu rendah sampai Lin Chen hampir tidak yakin dia benar-benar mendengarnya—orang tua itu berbicara.

Bukan ke Lin Chen.

Ke pedang itu.

"Sudah lama kau tidak muncul." Suaranya tidak seperti suara orang tua yang lemah. Di balik nadanya yang tenang, ada sesuatu yang sangat berat—bukan kesedihan, bukan kerinduan, tapi sesuatu yang lebih tua dari keduanya. "Ada tamu yang menarik?"

Makam itu sunyi.

Angin bertiup pelan di antara ribuan pedang, menghasilkan dengungan rendah yang samar—tapi itu hanya angin. Pedang hitam itu tidak bergerak. Tidak ada suara. Tidak ada respons yang bisa ditangkap telinga biasa.

Sesepuh Mo mengangguk pelan seolah mendapat jawaban, lalu melanjutkan langkahnya.

Lin Chen terus menyapu.

Srak... srak...

'Bicara ke pedang,' batinnya dengan sangat tenang. 'Baik. Tidak ada yang mengejutkan di sini sama sekali.'

Tapi kemudian Mata Dewa Kekacauan-nya menangkap sesuatu.

Di dalam bilah hitam pedang itu—energi yang tadi berputar sangat lambat seperti sesuatu yang tidur panjang—bergerak.

Bukan banyak. Bukan dramatis. Hanya pergeseran sangat kecil, seperti seseorang yang tidur nyenyak lalu mengubah posisinya sedikit sebelum tidur kembali. Tapi cukup untuk memastikan satu hal dengan sangat jelas.

Pedang itu merespons.

Bukan ke Sesepuh Mo.

Lin Chen mempersempit fokus Mata Dewa-nya, memastikan arah pergeseran energi itu dengan presisi—

Ke dirinya.

'...'

'Ke aku?'

Selama beberapa detik, Lin Chen berdiri mematung di balik gerakan sapu yang tetap bergerak secara mekanis. Pikirannya yang biasanya sangat tenang dan kalkulatif tiba-tiba penuh dengan pertanyaan yang tidak punya jawaban.

Pedang tanpa nama yang energinya melampaui segalanya yang pernah dia ukur. Yang muncul tiba-tiba tanpa penjelasan. Yang dikenal oleh ahli misterius paling berbahaya di sekte ini. Yang sekarang—entah kenapa, entah bagaimana—seolah-olah menyadari keberadaan seorang pelayan yang sedang menyapu daun kering di dekatnya.

Lin Chen mengembuskan napas sangat pelan.

'Aku tidak akan menyentuhnya hari ini,' simpulnya akhirnya. 'Tidak sebelum aku tahu lebih banyak.'

Sapunya bergerak terus.

'Tapi kau tidak akan kemana-mana, bukan?'

Seolah menjawab pertanyaan itu, energi di dalam pedang hitam bergeser lagi—sangat kecil, sangat samar.

Tapi Lin Chen melihatnya.

Di pondok kayu di ujung makam, Sesepuh Mo duduk kembali di posisi meditasinya.

Matanya tertutup.

Tapi bibirnya bergerak sangat pelan, mengucapkan kalimat yang tidak ada yang mendengarnya.

"Jadi kau memilih sendiri."

"Seperti biasanya."

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!