NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Ketika pilihan bukan lagi pilihan

Aktivitas sekolah hari itu akhirnya berakhir. Suara bel pulang berbunyi nyaring, disusul riuh murid-murid yang keluar dari kelas masing-masing.

Langit sore tampak sedikit mendung. Angin berhembus pelan, menggerakkan daun-daun di halaman sekolah.

Tya melangkah keluar dari gerbang sekolah dengan langkah pelan. Di sekelilingnya, beberapa murid dijemput oleh orang tua mereka, sebagian lainnya pulang bersama teman-temannya.

Sementara Tya, kali ini ia pulang sendirian. Pak Rahmat tidak datang menjemput seperti biasanya. Pagi tadi ayahnya sudah menghubunginya dan mengatakan bahwa ada urusan mendadak di kantor, sehingga Tya diminta pulang lebih dulu.

Tya berjalan menuju tepi jalan dan menghentikan sebuah angkot yang melintas. Lalu, ia naik dan memilih duduk di dekat jendela. Tidak terlalu banyak penumpang di dalam, hanya beberapa orang yang duduk berjauhan.

Tak lama kemudian, angkot itu kembali melaju. Pandangan Tya mengarah keluar jendela, entah mengapa semuanya terasa asing.

Tanpa sadar, Tya menghembuskan nafas pelan. Hari ini berhasil ia lalui, meski belum sepenuhnya kembali seperti dulu, setidaknya ia sudah mencoba.

Ting!

Suara notifikasi memecah lamunan Tya. Gadis itu mengalihkan pandangannya dari jendela. Ia merogoh saku roknya, mengambil ponsel. Sebuah pesan dari Megan muncul di layar.

"Ty, gue tau lo masih sedih. Dan gue tau, kehilangan orang yang kita sayang itu gak gampang. Tapi jangan dipendam sendiri, ya. Gue sama Starla ada buat lo. Pelan-pelan aja, gak usah maksa diri buat cepat baik-baik aja. Tapi jangan terlalu lama sendirian juga. Semangat, Tya!"

Tya terdiam beberapa saat setelah membaca pesan itu. Jemarinya berhenti di atas layar ponsel, dadanya terasa sedikit menghangat.

Perlahan, sudut bibir Tya terangkat membentuk senyum tipis. Ia mengetik balasan singkat. "Thanks ya, Megan."

Tak lama, balasan pesan langsung masuk. "Iya. Dan ingat, kalau Starla mulai bikin ulah buat menghibur lo, mohon dimaklumi."

Tanpa sadar, Tya terkekeh pelan. Suara tawanya kecil, nyaris tenggelam oleh deru mesin angkot. Ia kembali menatap keluar jendela, sementara ponselnya masih berada dalam genggaman.

Beberapa menit kemudian, angkot itu memasuki kawasan perumahan yang sudah sangat dikenali Tya. Tya mengalihkan pandangannya dari jendela, lalu sedikit membungkukkan badan ke arah depan.

"Kiri bang," ujar Tya pelan.

"Siap, dek," sahut supir angkot.

Angkot itu melambat dan berhenti di pinggir jalan. Lalu, ia membayar tarif dan turun dari angkot.

"Terima kasih, bang."

Angkot itu kembali melaju, meninggalkan Tya yang kini berdiri di tepi jalan. Sesaat, gadis itu hanya diam. Di hadapannya, gerbang rumahnya berdiri seperti biasa, tidak ada yang berubah.

Tetapi sosok yang biasanya menyambutnya dengan senyum hangat dan menanyakan harinya di sekolah, kini sudah tidak ada.

Tya menghela nafas pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah halaman rumah. Mobil ayahnya belum ada di sana. Mungkin benar, ayahnya masih berada di kantor.

Tanpa berpikir lebih jauh, Tya akhirnya melangkah, memasuki gerbang rumahnya. Baru beberapa langkah, suara ramah menyambutnya.

"Non Tya, sudah pulang?"

Tya menoleh dan mendapati Pak Juna, satpam yang berjaga di pos depan, sedang berdiri sambil tersenyum hangat.

"Iya Pak," jawab Tya lembut.

"Pulangnya sendiri hari ini?" Tanya Pak Juna.

Tya mengangguk kecil, "Iya, Pak. Papa masih di kantor."

Sang satpam mengangguk paham, "Oh, pantesan mobil bapak belum masuk."

"Tya masuk dulu ya, Pak," ucap Tya.

"Silahkan non."

Setelah perbincangan singkat itu, Tya melangkah masuk ke dalam rumah. Tya berhenti beberapa saat di ruang tengah yang sepi.

Setelah seharian berada di sekolah, tubuhnya terasa sedikit lengket dan lelah. Ia pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.

Tiba di kamarnya, Tya langsung meletakkan tasnya di atas meja, lalu mengambil pakaian ganti.

Beberapa menit berlalu, Tya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk yang dipegangnya.

Rasa lelah ditubuhnya sedikit berkurang. Setelah merapikan rambutnya, Tya menuruni tangga dan berjalan menuju dapur. Niatnya sederhana, ia ingin membuat makan malam untuk ayahnya.

Tya membuka kulkas dan memperhatikan isinya, masih ada beberapa bahan makanan yang cukup untuk dimasak.

Perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia memang tidak sehebat ibunya dalam hal memasak. Tapi setidaknya beberapa masakan sederhana sudah cukup sering ia buat, dan hasilnya lumayan.

Tanpa membuang waktu lagi, Tya mulai mengeluarkan beberapa bahan makanan dan meletakkannya di atas meja dapur. Baru saja ia mengambil pisau dan hendak memotong sayuran, sebuah suara terdengar dari belakang.

"Tya, sedang apa nak?"

Tya sedikit terkejut, lalu ia menoleh. Di ambang pintu dapur, ayahnya berdiri dengan setelan jas kerja yang masih rapi, meski raut wajahnya tampak lelah. Satu tangannya sedang melonggarkan dasi di leher, sementara tangan lainnya masih memegang tas kerja.

"Papa?" Ujar Tya pelan.

Ayahnya tersenyum kecil, "Iya, lagi ngapain?"

Pandangan ayahnya beralih ke meja dapur. Ekspresinya seketika melunak. "Tya mau masak?"

Tya mengangguk kecil. "Iya, Pa. Tadi Tya pikir Papa pulangnya masih lama, jadi Tya mau buat makan malam."

Sesaat, ayahnya terdiam. Tatapannya tertuju pada putrinya yang berdiri di dapur dengan celemek sederhana. Entah mengapa pemandangan itu membuat hatinya hangat sekaligus sesak.

Perlahan, senyum tipis muncul di wajah ayahnya. "Anak Papa udah besar, ya."

Tya tersenyum kecil, "Papa udah makan?"

"Belum," ayahnya menggeleng. "Tadi rapatnya panjang, jadi belum sempat."

"Papa bersih-bersih aja." Ujar Tya lembut. "Biar Tya yang masak."

Ayahnya masih berdiri di sana, lalu mengangkat sedikit alisnya. "Mau Papa bantu?"

"Enggak usah, Pa," jawab Tya lembut dengan gelengan kecil. "Papa kan baru pulang kerja, pasti capek. Papa istirahat aja, biar Tya yang urus makan malam."

Ayahnya terdiam beberapa saat. Tatapannya masih tertuju pada putrinya. Tya yang sebelumnya lebih banyak diam setelah kepergian ibunya, kini ia berdiri di dapur dan melakukan hal-hal kecil seperti biasanya.

Meski sederhana, hal itu cukup membuat hati ayahnya sedikit lega. Akhirnya, ayahnya mengangguk pelan. "Ya sudah. Tapi jangan terlalu capek, ya."

Tya tersenyum kecil, "Iya Pa."

Langkah ayahnya kemudian menjauh meninggalkan dapur, menuju kamarnya. Suasana kembali tenang. Tya mengalihkan pandangannya ke meja dapur.

Mungkin semuanya memang tidak akan kembali seperti dulu. Tapi setidaknya, malam ini ia melakukan sesuatu yang sederhana, memasak makan malam untuk ayahnya.

...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...

Malam semakin larut. Di meja makan, Tya dan ayahnya duduk berhadapan sembari menikmati makan malam bersama.

Suasana terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Meski hanya menu sederhana, ayah Tya tampak menikmati setiap suapan.

"Enak," ujar ayahnya sembari mengambil sayur lagi di piringnya.

Tya yang sejak tadi memperhatikan langsung tersenyum kecil, "Serius, Pa?"

Ayahnya mengangguk mantap. "Iya. Memang belum bisa menyaingi masakan Mama. Tapi ini udah enak."

"Terima kasih, Pa," ujar Tya.

Di sela makan malam itu, mereka mengobrol ringan tentang hari ini. Namun tiba-tiba, suasana mendadak serius.

Ayah Tya meletakkan sendoknya perlahan di atas piring. Ekspresinya berubah sedikit serius. "Tya," panggilnya pelan.

Tya yang sedang minum langsung mengangkat pandangannya. "Iya, Pa?"

Ayahnya terdiam beberapa saat, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat. "Ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan."

Tya meletakkan kembali gelasnya di atas meja, "Tentang apa, Pa?"

Ayahnya menarik nafas pelan. "Mulai besok, kamu harus tinggal di rumah Faris."

Deggg!

Kalimat itu membuat Tya membeku. Tatapan Tya tertuju pada ayahnya, seolah memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.

"Apa, Pa?" Suara Tya terdengar pelan.

Ayahnya menatap putrinya dengan lembut, tetapi tetap serius. "Kamu akan tinggal di rumah Faris mulai besok."

Seketika, suasana hangat di meja makan terasa berubah. Tya langsung menggelengkan kepalanya.

"Enggak, Pa." Jawab Tya cepat. "Tya enggak mau."

Tya menundukkan pandangannya sesaat sebelum kembali menatap ayahnya. "Tya belum siap, Pa," ujarnya dengan suara yang bergetar.

Ayahnya menarik nafas panjang. "Tya, dengerin Papa."

Gadis itu tidak terlihat marah, tetapi matanya mulai memancarkan kegelisahan. "Baru beberapa hari..." Suara Tya mengecil. "Baru beberapa hari Mama gak ada."

"Tya masih belum terbiasa," jemari Tya tanpa sadar menggenggam ujung bajunya di atas meja. "Rumah ini aja masih terasa asing buat Tya, Pa."

Ayahnya terdiam, membiarkan Tya mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya. Pandangannya tertuju pada Tya dengan tatapan melembut.

"Tya pasti gak bakal nyaman di sana," ujarnya dengan gelengan kepala, lalu ia menunduk. "Lagipula, Tya sama Faris gak pernah akur."

Ayahnya kembali menghela nafas panjang. Ia memang sudah menduga putrinya akan menolak. Bagaimanapun juga, pernikahan itu terjadi begitu mendadak.

"Tapi, nak," ujar ayahnya pelan. "Kalian sudah menikah."

Tya langsung mengangkat pandangannya. "Menikah karena terpaksa, Pa."

Kalimat itu keluar begitu saja, membuat keduanya sama-sama terdiam. Malam itu, Tya terlihat benar-benar kebingungan. Ibunya baru saja pergi, hatinya masih berantakan. Dan sekarang, ia kembali dihadapkan pada kenyataan lain yang belum siap ia jalani.

"Tya gak mau pindah, Pa," ujar Tya nyaris memohon. "Apa enggak bisa tetap di sini aja?"

Tya akhirnya berhenti berbicara. Ia menunduk, seolah sudah mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya.

"Papa ngerti, nak," ujar ayahnya pada akhirnya. "Papa tau semuanya terasa mendadak. Papa juga tau kamu belum siap."

Tya tidak mengangkat wajahnya. Ia hanya menunduk sembari menggigit bibir bawahnya, berusaha meredam emosi yang tertahan.

"Tapi pernikahan kalian sudah terjadi," lanjut ayahnya. "Cepat atau lambat, kalian memang harus belajar menjalani itu."

"Tapi Tya gak mau," tolak Tya lagi.

Ayahnya tersenyum tipis, meski ada kesedihan di matanya. "Coba dulu, nak." Ujarnya lembut. "Papa gak minta kamu langsung akrab dengan Faris. Papa cuma minta kamu belajar menerima kenyataan sedikit demi sedikit."

"Tya tetap gak mau, Pa," jawab Tya lirih.

Ayahnya tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Lalu, ia mengulurkan tangan dan mengusap lembut pucuk kepala putrinya.

"Papa cuma ingin semuanya berjalan sebagaimana mestinya," ujar ayahnya pelan. "Papa ingin Mama di sana juga tenang, karena putrinya tetap melangkah ke depan. Bukan berhenti di satu tempat."

"Papa tau kamu kuat," lanjut ayahnya. "Tinggal di sana bukan berarti kamu kehilangan rumah ini. Rumah ini tetap rumah Tya, kamu bisa datang kapan saja."

Beberapa saat berlalu dalam diam. Hingga akhirnya, Tya menghela nafas panjang. Perlahan, ia mengangkat pandangannya lagi.

"Kalau Tya pindah," ujar Tya pelan. "Nanti siapa yang masakin Papa?"

Ayahnya sedikit tertegun. Ia tidak menyangka, di tengah penolakan putrinya, hal yang dipikirkan Tya justru ayahnya. Perlahan, senyum hangat muncul di wajahnya. "Papa bisa cari ART lagi."

"Tapi belum tentu dapat yang cocok," sahut Tya cepat.

Ayahnya terkekeh pelan. "Nanti Papa cari pelan-pelan."

Tya masih terlihat ragu. "Kalau belum dapat?"

"Papa bisa beli makan di luar," jawab ayahnya.

"Kalau lupa makan?" Tanya Tya lagi.

Ayahnya tertawa kecil, "Tya, Papa ini orang dewasa."

Tya kembali menghela nafas, pandangannya sedikit menunduk. "Tapi Papa suka lupa kalau lagi banyak kerjaan."

Kalimat itu membuat ayahnya terdiam sesaat, lalu kembali tersenyum hangat. Putrinya benar-benar mirip ibunya, bahkan cara mengkhawatirkannya pun sama. Ayahnya mengusap kepala Tya sekali lagi.

"Papa janji akan jaga diri."

Tya terdiam lama. Ia tahu, cepat atau lambat, percakapan ini akan datang. Ia juga tahu, secara status dirinya memang sudah menjadi istri Faris, meskipun semua itu terjadi karena keadaan.

"Ada satu hal lagi yang ingin Papa sampaikan," ujar ayahnya. "Pernikahan ini terjadi karena permintaan Mama kamu."

Mendengar itu, Tya membeku. Tangannya di bawah meja perlahan mengepal.

Ayahnya melanjutkan dengan suara lembut. "Papa tau kamu tidak menginginkan pernikahan ini. Papa juga tau semuanya terjadi begitu cepat."

"Tapi sebelum pergi," suara ayahnya sedikit melemah. "Mama sangat berharap kamu dan Faris tetap menjalani pernikahan ini."

Tya menunduk, nama ibunya selalu berhasil membuat pertahannya melemah. Tya merasakan dadanya hangat sekaligus sesak.

Ayahnya menatap Tya dengan lembut. "Papa tidak meminta kamu langsung menerima semuanya. Karena Papa tau, itu tidak mungkin terjadi dalam semalam."

"Tapi setidaknya, cobalah jalani apa yang menjadi harapan terakhir Mama," lanjut ayahnya. "Lagipula, kalau kalian tinggal terpisah seperti ini... Kapan kalian akan belajar saling mengenal?"

Tya tidak menjawab. Jujur saja, ia bahkan tidak pernah berpikir untuk mengenal Faris lebih jauh.

"Papa tidak bilang semuanya akan mudah," ujar ayahnya sembari mengusap kepala Tya. "Kadang ada hal yang harus kita jalani, meskipun kita belum siap."

Tya kembali mengangkat pandangannya, tatapannya tampak bimbang.

"Anggap saja, ini salah satu cara untuk menghormati keinginan terakhir Mama," suara ayahnya melembut.

Tya kembali menunduk. "Aku masih gak mau pindah, Pa," ujarnya. "Tapi kalau itu memang permintaan Mama, Tya akan coba."

"Terima kasih, nak."

Tya hanya menunduk, pikirannya sudah melayang ke tempat lain. Ke kehidupan baru yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.

Tetapi kali ini, pilihan bukan lagi tentang ingin atau tidak. Karena ada permintaan terakhir ibunya yang tak sanggup ia abaikan.

"Mama... Semoga keputusan ini yang terbaik," batin Tya.

^^^Bersambung...^^^

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 🤭🤭
Enz99
bagus banget
xuer jinghao
dan sehat selalu 💪💪
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih kak, semoga kakaknya juga sehat selalu😄
total 1 replies
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 😍😍
Shintara
Faris : Dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa harus lo?
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Hehehe bener banget kak🤭
total 1 replies
Shintara
❤️❤️❤️
Shintara
lanjut kak..
jangan lupa mampir juga ya. ❤️
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Siap kak, terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!