Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 2
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah gorden kamar, membangunkan Adista dari tidur yang tidak nyenyak. Sepanjang malam, ia terus merasa diawasi oleh sepasang mata yang tak kasat mata. Aroma amis samar yang ia cium semalam sudah hilang, digantikan oleh segarnya udara pagi. Adista menghela napas lega, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ketakutan semalam hanyalah akibat dari rasa lelah yang memuncak.
Setelah mandi dan menyeduh secangkir kopi hitam hangat, Adista melangkah ke ruang tengah. Pandangannya langsung tertuju pada dinding tempat lukisan itu tergantung. Di bawah terang cahaya siang, lukisan wanita menangis darah itu tampak seperti karya seni biasa—sangat indah, detail, dan bernilai tinggi. Tidak ada kesan mistis atau senyuman misterius seperti yang ia bayangkan semalam.
Adista tersenyum tipis. "Benar kan, itu cuma halusinasiku saja," gumamnya sambil menyesap kopinya.
Namun, ketenangan pagi itu tidak bertahan lama. Keheningan rumahnya mendadak pecah oleh suara gedoran pintu depan yang sangat keras dan tidak sabaran.
BRAK! BRAK! BRAK!
"Adista! Buka pintunya! Adista!"
Suara teriakan berat dan serak itu sangat familier di telinga Adista. Seketika, rasa damai yang baru saja ia rasakan menguap begitu saja, digantikan oleh rasa sesak di dada. Adista tahu persis siapa yang datang.
Ronald. Kakak laki-laki kandungnya.
Adista berjalan menuju pintu depan dengan langkah berat. Begitu pintu dibuka, aroma menyengat kombinasi dari alkohol murahan, asap rokok, dan parfum wanita langsung menusuk hidungnya. Di hadapannya berdiri Ronald dengan penampilan yang sangat berantakan. Kemejanya kusut, kancing bagian atasnya terbuka, rambutnya acak-acakan, dan ada bekas lipstik merah yang samar di kerah bajunya. Matanya merah dan sayu—ciri khas seseorang yang baru saja menghabiskan malam panjang di klub malam dengan mabuk-mabukan.
Tanpa permisi, Ronald mendorong bahu Adista pelan dan melangkah masuk ke dalam rumah, langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu.
"Mau apa lagi kamu ke sini, Ronald?" tanya Adista dingin. Ia sengaja tidak memanggilnya 'Kakak', karena Ronald sudah lama kehilangan kehormatan untuk mendapatkan panggilan itu.
Mereka berdua adalah anak yatim piatu. Kedua orang tua mereka meninggal akibat kecelakaan tragis beberapa tahun yang lalu. Kehilangan itu menjadi titik balik yang memisahkan jalan hidup mereka berdua. Adista, sebagai anak perempuan yang gigih dan bertanggung jawab, memilih untuk bangkit. Ia beruntung memiliki kecerdasan dan kedewasaan untuk melanjutkan dan mengelola perusahaan garmen milik mendiang papa mereka. Di bawah kendali Adista, perusahaan itu tetap stabil dan bahkan berkembang.
Berbanding terbalik dengan Adista, Ronald justru memilih jalan kehancuran. Sebagai anak sulung, ia sama sekali tidak bisa diandalkan. Ronald menolak ikut campur urusan perusahaan karena menganggapnya terlalu melelahkan. Hidupnya dihabiskan hanya untuk berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan, dan bergonta-ganti perempuan. Baginya, wanita hanyalah mainan yang bisa dibeli dengan uang. Ketika warisan bagiannya habis tak bersisa karena gaya hidupnya yang glamor, Ronald mulai menjadikan Adista sebagai mesin uang pribadinya.
Ronald mendongak, menatap Adista dengan pandangan meremehkan. "Adikku yang cantik, kenapa menyambut kakakmu dengan ketus begitu? Aku ke sini cuma mau minta hakku."
"Hak apa?" Adista melipat kedua tangannya di dada, menatap kakaknya dengan tatapan muak. "Semua warisan Papa untukmu sudah kamu habiskan dalam waktu satu tahun, Ronald! Kamu tidak punya hak apa-apa lagi di rumah ini, ataupun di perusahaan!"
Ronald terkekeh sinis, lalu bangkit berdiri dengan langkah yang sedikit sempoyongan. "Jangan pelit, Adista. Perusahaan Papa menghasilkan miliaran setiap bulannya. Aku ini anak laki-laki di keluarga ini. Harusnya aku yang memegang perusahaan itu, bukan wanita sepertimu. Aku cuma butuh lima puluh juta pagi ini. Cepat berikan!"
"Tidak akan," jawab Adista tegas. "Uang perusahaan itu untuk menggaji karyawan dan modal usaha, bukan untuk membiayai perempuan-perempuan sialanmu atau taruhan judimu!"
Wajah Ronald seketika berubah merah padam karena amarah. Ia melangkah mendekati Adista, mencoba mengintimidasi adiknya dengan tubuhnya yang lebih besar. "Kurang ajar kamu, ya! Kamu pikir kamu siapa? Kamu bisa hidup enak begini juga karena uang Papa!"
"Aku bekerja keras, Ronald! Sementara kamu? Kamu cuma tahu caranya menghabiskan uang!" bentak Adista, tidak mau kalah. Air matanya mulai menggenang karena rasa sedih dan kecewa yang mendalam atas kelakuan kakaknya yang tidak pernah berubah.
Ronald mendengus kasar. Ia memalingkan wajahnya ke sekeliling ruangan, mencoba mencari sesuatu yang berharga untuk ia ambil secara paksa. Saat itulah, matanya tertangkap oleh sebuah objek baru yang mencolok di dinding ruang tengah.
Ronald melangkah mendekati lukisan wanita yang menangis darah tersebut. "Wah, wah... apa ini?" Ronald mengamati lukisan itu dengan senyum mengejek. "Ternyata adiku yang sok suci ini juga suka menghamburkan uang untuk barang-barang sampah seperti ini?"
"Jangan sentuh lukisan itu!" seru Adista panik.
Ronald tidak memedulikan ucapan Adista. Ia maju selangkah lagi, menatap lekat-lekat wajah perempuan di dalam kanvas. Di mata Ronald yang dipengaruhi sisa-sisa alkohol, sosok perempuan di dalam lukisan itu tampak sangat sensual sekaligus aneh. Rambutnya yang panjang dan kulitnya yang pucat memberikan kesan mistis yang aneh.
"Perempuan yang aneh. Tapi... lumayan cantik juga," gumam Ronald dengan tawa menjijikkan. "Hei, manis, kenapa kamu menangis? Apa karena kamu melihat pria tampan di depanmu ini?" Ronald mengulurkan tangannya yang kasar, dengan lancang menyentuh permukaan kanvas, tepat di bagian pipi wanita yang berlumuran darah tersebut.
"Ronald, kubilang hentikan!" Adista berlari dan menarik lengan kakaknya menjauh dari lukisan.
Namun, tepat saat jemari Ronald menyentuh genangan darah di kanvas itu, sebuah sensasi aneh yang dingin luar biasa menyengat ujung jarinya, menjalar cepat hingga ke dadanya. Ronald tertegun sejenak. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat, dan untuk sesaat, pandangannya menjadi buram. Aroma amis darah yang sangat pekat kembali memenuhi ruangan, namun anehnya, hanya Ronald yang bisa merasakannya dengan begitu menusuk.
Ronald menggelengkan kepalanya yang pening, mencoba mengusir rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyerangnya. Ia melepaskan tangannya dari lukisan itu dengan kasar.
"Sudahlah! Hari ini aku pergi!" bentak Ronald tiba-tiba, suaranya terdengar agak panik, seolah-olah ia ingin segera keluar dari ruangan itu. Ia menunjuk wajah Adista dengan jari telunjuknya. "Besok aku akan datang lagi ke kantormu. Dan kamu harus sudah menyiapkan uangnya. Kalau tidak, aku akan buat keributan di sana!"
Tanpa menunggu jawaban dari Adista, Ronald berbalik dan berjalan cepat keluar dari rumah, membanting pintu depan dengan sangat keras.
Adista terduduk di sofa, menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya. Air matanya menetes. Ia merasa sangat lelah secara mental menghadapi satu-satunya keluarga yang ia miliki, namun justru bertingkah seperti parasit.
Setelah emosinya agak mereda, Adista mendongak dan kembali menatap ke arah lukisan di dinding.
Adista tertegun. Ia mengucek matanya berulang kali, memastikan apa yang dilihatnya. Bagian pipi lukisan yang tadi disentuh oleh jari Ronald yang kotor, kini terlihat mengilat. Cairan merah yang menggambarkan darah di pipi wanita itu tampak bergerak turun beberapa milimeter, seolah-olah darah itu mencair karena sentuhan tangan Ronald.
Suasana di dalam rumah itu kembali mendingin dengan cepat, membawa kembali rasa mencekam yang sempat hilang di pagi hari.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya