Prabu Jayabaya yang merasa bahwa tugasnya sebagai pemimpin yang dicintai oleh rakyat sudah usai, melakukan moksa untuk sampai di alam keabadian. Namun takdir berkata lain. Sang Maha Pencipta justru memasukkan roh nya ke dalam tubuh seorang lelaki culun dan miskin bernama Jay yang baru saja meninggal dunia karena sebuah kecelakaan aneh.
Sebagai Jay, Prabu Jayabaya merasa harus menemukan kebenaran atas kecelakaan yang direkayasa ini. Siapa dalang nya juga orang orang yang terlibat di dalamnya.
Di bantu Ratih yang menurut Prabu Jayabaya adalah titisan dari istri nya, Prabu Jayabaya yang kini menjadi Jay, satu persatu kebenaran akhirnya terungkap dengan jelas.
Bagaimana caranya Prabu Jayabaya yang kini menjadi Jay mengungkap misteri kecelakaan maut yang menewaskan Jay yang asli ini terjadi? Simak kisah selengkapnya dalam "New Journey of the Legendary King".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ki Singodijoyo
*****
"Semuanya, beri applaus untuk 2 pahlawan kantor kita..!! "
Plloookkkk plloookkkk plloookkkk!!!
Tepuk tangan meriah terdengar setelah Pak Warsito Sukoco, kepala kantor Balai Cagar Budaya Jawa Timur berbicara. Sementara yang di beri penghargaan hanya cengar cengir seperti orang yang kikuk.
Ya semua orang hari itu berkumpul di kantor pusat penelitian dan pemeliharaan situs-situs cagar budaya provinsi Jawa Timur ini atas permintaan sang kepala kantor. Ini karena Pak Warsito Sukoco baru saja mendapatkan penghargaan dari gubernur terkait keberhasilan kantor nya melakukan ekskavasi situs Kunjang. Tentu ini membuat lelaki tua yang 2 tahun lagi pensiun itu benar-benar merasa bangga.
"Sebagai penghargaan atas kerja keras Danang dan Jay, aku akan memberikan bonus. Semoga dengan bonus ini, kedepannya mereka akan semakin bekerja keras untuk menyelamatkan benda-benda cagar budaya yang lain agar warisan budaya Indonesia masa lalu semakin menjadi tembok kokoh bagi budaya mancanegara yang ingin menggerus budaya asli negara kita ", imbuh Pak Warsito Sukoco yang membuat tepuk tangan kembali terdengar di ruang kerja ini.
" Pak Danang silahkan berikan sepatah sambutannya ", lanjut Pak Warsito Sukoco yang membuat Danang menoleh ke arah Jay. Melihat Jay menganggukkan kepala, Danang tersenyum tipis sebelum berbicara.
" Mewakili Mas Jay, aku berterimakasih atas penghargaan nya Bos. Kami akan sepenuhnya bekerja keras untuk kedepannya agar apa yang menjadi cita-cita luhur kita untuk menyelamatkan peninggalan sejarah bisa terwujud sesuai dengan harapan. Sekali lagi kami berdua mengucapkan terimakasih atas penghargaan nya".
"Sungguh bijaksana, mari kita sama-sama bekerjasama dengan baik.
Dan penghargaan juga untuk para mahasiswa magang yang ikut berpartisipasi dalam ekskavasi situs Kunjang. Semoga kedepannya mereka mampu menjadi penerus kita untuk terus menjaga warisan budaya nenek moyang kita. Tepuk tangan untuk mereka", ucap Pak Warsito Sukoco sembari menoleh ke arah Marissa, Ardi, Zainal, Edo dan Shella. Kelima mahasiswa magang ini langsung tersenyum bahagia begitu tepuk tangan kembali terdengar.
"Sebagai tambahan, siang ini aku akan mentraktir kalian semua. Mohon semuanya bisa hadir ya.. ", lanjut Pak Warsito Sukoco segera.
" Siap Pak.... ", ujar semua orang yang ada di kantor ini bersamaan.
Siang itu benar-benar waktu yang membahagiakan untuk semua orang. Namun juga sedikit menyedihkan bagi para mahasiswa magang karena bulan depan waktu magang mereka telah habis dan mereka harus kembali ke kampus untuk melanjutkan pendidikan mereka.
Di perjamuan siang, Riyanti staff administrasi Kantor Balai Cagar Budaya berinisiatif duduk di sebelah kiri Jay. Sedangkan Marissa memilih untuk di sebelah kanan. Ini membuat Marissa sungguh-sungguh sebal melihatnya. Bisa dilihat oleh Marissa, Riyanti ingin mendekati Jay. Semeja dengan mereka, ada Shella, Edo dan Zainul.
"Bu Riyanti, aku lihat kau belakangan ini suka sekali duduk dekat Mas Jay. Ada rasa ya? ", celetuk Marissa langsung tanpa tedeng aling aling.
Seketika wajah Riyanti memerah menahan rasa malu. Dia yang sebelumnya dikenal sebagai Si Ratu Es karena selalu dingin terhadap lawan jenis di kantor, mendadak jadi ceria begitu jelas menimbulkan tanda tanya tersendiri bagi semua orang.
"Kau ini bicara apa, Anak kecil? Mana ada hal seperti itu? ", ucap Riyanti lirih sambil menunduk.
" Alah, jangan banyak alasan deh. Siapa yang tak kenal dengan Si Ratu Es? Kalau sekarang tiba-tiba jadi cair es nya, pasti karena ada sesuatu.
Betul gak teman teman? ", mendengar ucapan Marissa sontak semua orang yang semeja dengan merekal angsung menjawab, " Betuuulllll.... ".
" Hey, kalian ini jangan asal bicara betal betul. Jangan suka menghakimi orang tanpa mendengarkan penjelasan nya. Tidak baik.. ", nasehat Jay sebelum meneguk es cendolnya.
" Kalian jangan salah sangka. Aku hanya menghargai kerja keras Mas Jay saja, tidak lebih kok", Riyanti mencoba membela diri.
"Ya semoga saja begitu. Asal tahu saja ya Bu, Mas Jay ini sudah punya tunangan. Ya meskipun masih terbaring koma di rumah sakit, lebih baik tidak menggodanya. Daripada kena cap sebagai seorang pelakor.. ", sergah Marissa yang langsung membuat Riyanti diam tak berani bersuara.
Bagaimanapun juga, Riyanti sudah tahu bahwa Marissa adalah nona muda keluarga Wijaya. Ribut dengan nya, bisa membuatnya tidak punya tempat di seluruh pulau Jawa. Karena itu, meskipun merasa dipermalukan, Riyanti hanya bisa menahan dalam hati.
*****
Randy asisten Arnold Waseso terus menatap pepohonan yang tumbuh di sepanjang perjalanan. Sejak tadi pagi mobil yang ditumpangi nya dengan sopir bernama Agus bertolak dari Surabaya menuju ke arah Ponorogo. Meskipun terasa, penat menyerang seluruh tubuh, tetapi lelaki muda ini juga tidak menyerah begitu saja. Dia ingin secepatnya sampai di wilayah kabupaten yang ada di selatan Jawa Timur ini.
Usai patung Reog yang menjadi penanda batas wilayah antara Ponorogo dan Trenggalek terlihat, wajah Randy sumringah seketika. Itu berarti tak lama lagi ia akan sampai ditempat yang ia tuju.
Mobil tancap gas hingga memasuki kota Ponorogo. Sesampainya disana, mobil mampir ke Pom bensin sebelum melanjutkan perjalanan ke arah sebuah destinasi wisata populer yang juga menjadi tempat tinggal orang yang Randy cari, Telaga Ngebel.
Sebuah rumah bergaya kuno penuh dengan ukiran kayu jati dan gapura seperti pintu gerbang sebuah istana menjadi tempat mobil yang ditumpangi Randy. Meskipun terletak cukup menyendiri dari pemukiman sekitarnya, tak membuat Randy merasa lelah mencarinya.
Dengan langkah kaki mantap, Randy masuk ke dalam rumah ini dan seorang lelaki paruh baya dengan tatapan mata tajam pun segera menghampiri nya.
"Ah mimpi apa aku semalam hingga ada orang kota yang sudi berkunjung ke tempat ku.
Selamat datang Tuan Randy, kita bertemu lagi", sambut lelaki tua itu dengan ramah.
" Ki Singodijoyo terlalu sungkan. Maaf aku datang tanpa kabar lebih dulu. Saya tidak mengganggu bukan? "
"Tuan Randy ini terlalu sopan. Silahkan duduk dulu. Ayo, biar lebih enek ngobrol nya".
Keduanya segera duduk di kursi sudut yang terbuat dari kayu jati berukir indah. Setelah itu lelaki paruh baya itu menepuk tangannya sekali dan seorang perempuan pun segera mendekat.
"Nem, buatkan kopi untuk Tuan Randy.. "
"Baik Ndoro.. "
Usai sang pelayan pergi, Randy yang ingin bicara secepatnya langsung memulai obrolan.
"Ki Singodijoyo, langsung saja ya kedatangan ku kemari bukan tanpa tujuan. Majikan ku Tuan Arnold Waseso meminta aku mencarikan orang untuk mengatasi seseorang yang membuat nya malu. Tuan ku bersedia membayar berapapun yang Ki Singodijoyo minta untuk tugas ini "
Ki Singodijoyo terdiam sejenak mendengar omongan Randy. Dia tahu bahwa majikan yang disebut Randy adalah seorang kaya raya di Kota Surabaya, bahkan masuk 100 besar orang kaya se-Indonesia.
"Apa tak ada orang yang bisa melakukan hal ini, Tuan Randy? ", tatap mata penuh selidik Ki Singodijoyo tajam mengamati rona muka Randy sang asisten Arnold Waseso.
Hemmmmmm...
Randy menghela nafas berat beberapa saat lamanya.
" Andai ada yang bisa melakukannya, tentu aku tidak meminta bantuan mu, Ki... "
Perlahan Randy mulai menceritakan tentang upaya upaya Reynold dan Arnold Waseso melenyapkan Jay. Tak satupun ada yang terlewat termasuk mengundang pembunuh internasional sekelas Si Iblis Cantik dan Manusia Besi. Mendengar itu, Ki Singodijoyo pun menjadi tertarik dengan orang yang diincar oleh bos besar Grup Biru itu.
"Menarik sekali. Apakah orang itu benar benar sehebat itu? ", tanya Ki Singodijoyo penasaran.
Mendengar omongan Ki Singodijoyo, Randy paham bahwa orang ini pasti tertarik pada permintaan bos nya. Dia yang berhasil meretas file rekaman CCTV perjamuan di keluarga Wijaya lewat bantuan hacker profesional, langsung mengeluarkan ponsel pintar nya. Segera ia memutar video rekaman CCTV itu dan memberikan nya pada Ki Singodijoyo.
Mata Ki Singodijoyo melebar kala melihat gerak kilat Jay saat menundukkan Si Manusia Besi. Jelas hal ini hal yang sangat mengejutkan baginya.
"Ajian Sepi Angin..???!! Bukankah Ajian ini sudah menghilang ratusan tahun dari dunia kependekaran Tanah Jawa? Bagaimana mungkin ini muncul kembali dan pemuda ini menguasainya dengan sangat baik?
Hemmmm ini sungguh menarik, sungguh menarik hahahahaha... ", tawa Ki Singodijoyo terdengar menggelegar.
Sambil tersenyum lebar, Ki Singodijoyo menatap ke arah Randy sambil berkata,
" Katakan pada bos besar mu Tuan Randy,
Aku bersedia untuk melakukannya.. "
hanya saja sosok Jay yg sesungguhnya jangan dimatikan harusnya, sehingga ada kolaborasi antara Jay sebagai manusia dan Sukma Prabu sebagai titisan, apalagi seorang Jay benar-benar sosok pangeran penerus kerajaan.
kedepan kalau benar pangerannya naik tahta, itu bukan lagi Jay tapi Sang Prabu karena Jay hanya raga saja dengan jiwa Prabu.
alangkah baiknya Jay naik tahta sebagai Raja, dan Prabu menyelesaikan tugas titisan ditubuh Jay dengan cara moksa..
🙏 mohon maaf Kang Ebez, sekedar pandangan saja.. 🙏
selamat berkarya 🤝