NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Kecemburuan Sekar Memuncak.

Malam kian merayap tua di atas langit Kota Kadipaten, membawa embusan angin pegunungan yang sejuk menembus selasar Paviliun Timur. Namun, keheningan malam itu sama sekali tidak mampu mendinginkan suasana di dalam ruang tamu agung. Di atas meja jati besar yang berukir indah, tersaji belasan piring perak berisi hidangan mewah, mulai dari ayam panggang bumbu keraton, rusa jantan kuah santan, hingga gunungan tahu bacem bumbu madu yang aromanya manis gurih mengepul hangat.

Gusti Ayu Kenanga duduk sangat dekat di sebelah kanan Erlang, penampilannya malam ini kian menawan dengan kemben sutra ungu baru yang berhias sulaman benang emas. Jemari lentiknya yang dihiasi cincin permata merah delima perlahan menggeser sebuah mangkuk perak berisi wedang jahe sereh hangat ke hadapan Erlang.

"Ayo, Kangmas Erlang, diminum dulu wedang jahenya selagi hangat," ujar Kenanga dengan suara yang teramat sangat manja, sepasang matanya berbinar penuh pesona cinta saat menatap wajah rupawan Erlang. "Kalau Kangmas suka dengan semua kemewahan di paviliun ini, saya bisa meminta ayahanda untuk memberikan sebidang tanah luas di kaki bukit barat, lengkap dengan rumah panggung jati dan pelayan-pelayan yang siap memasakkan tahu bacem madu ini setiap hari untuk Kangmas. Kangmas tidak perlu lagi hidup mlarat menjadi musafir yang bajunya robek-robek seperti ini."

Erlang yang baru saja menelan sepotong tahu bacem bumbu madu langsung tersedak kecil. Ia mengusap mulutnya dengan ujung lengan baju lusuhnya yang baru selesai dicuci, menatap Kenanga dengan wajah yang kelewat polos dan canggung. "Waduh... waduh, Nimas Kenanga. Penawaran Nimas ini beneran luar biasa sekali toh, mirip rezeki nomplok dari langit. Tapi... tapi saya ini cuma anak desa yang jiwanya beraliran angin bebas, tidak biasa memimpin tanah luas apalagi punya pelayan banyak begitu. Malah nanti saya bingung sendiri mau disuruh apa pelayannya."

Di seberang meja, Sekar Arum duduk tegak dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Caping bambunya sudah dilepas, menampilkan wajah kusam buatannya yang kini ditekuk sedemikian rupa hingga dahinya berkerut dalam. Sepasang matanya menatap tajam ke arah mangkuk perak dan jemari Kenanga yang sesekali sengaja menyentuh ujung jari Erlang. Gejolak cemburu yang sejak sore tadi ditahannya kini telah memuncak hingga ke ubun-ubunnya.

"Gusti Ayu Kenanga," potong Sekar Arum, nadanya terdengar sangat dingin, kaku, dan ketus hingga membuat pelayan yang berdiri di sudut ruangan mendadak merinding. "Kau tidak perlu membuang-buang kemewahan kadipatenmu untuk merayu pelindungku ini. Erlang sudah punya janji yang sangat kuat bersamaku sejak di Goa Langse. Dia tidak akan bisa dibeli hanya dengan sebidang tanah atau sepiring tahu bacem madu buatan pelayanmu."

Kenanga menoleh ke arah Sekar, senyuman manisnya mendadak berubah menjadi senyuman tipis yang sarat akan tantangan kekuasaan. "Nimas Sekar, sebuah janji di tengah hutan atau gua itu kan sifatnya tidak mengikat secara hukum kadipaten. Lagipula, saya rasa Kangmas Erlang berhak mendapatkan kehidupan yang lebih layak dan mulia daripada terus-menerus menjadi pelindung gratisan yang jasanya tidak pernah dihargai dengan emas oleh Nimas. Betul kan, Kangmas Erlang?"

Erlang mengerjapkan matanya berkali-kali, merasa hawa di dalam ruangan itu mendadak kian menyesakkan dada melebihi pekatnya kabut beracun Hutan Larangan kemarin. "Waduh... waduh, Gusti... kenapa urusannya jadi menyerempet masalah emas dan harga diri toh? Nimas Sekar, beneran saya tidak bermaksud..."

Brak!

Sekar Arum mendadak berdiri dari kursi jatinya, memukul permukaan meja dengan entakan bertenaga murni ringan yang membuat piring-piring perak di atasnya bergetar nyaring. Sepasang matanya berkilat penuh amarah dan kekecewaan yang sangat mendalam, menatap lurus ke arah Erlang yang tampak kebingungan.

"Cukup, Erlang! Aku beneran sudah muak melihat ketidakpekaanmu malam ini!" seru Sekar Arum, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang hampir pecah. "Kau beneran lebih memilih duduk santai menikmati tahu bacem madu dan rayuan manis putri tumenggung ini daripada memikirkan nasib Mbah Wiro yang mungkin saat ini sedang terkepung di tebing kapur! Aku beneran menyesal telah percaya sama kamu!"

"Lho, Nimas Sekar! Tunggu dulu toh, Nimas, jangan salah paham!" bela Erlang panik, ikut bangkit berdiri dari kursinya.

"Tidak ada yang salah paham, Erlang! Mulai detik ini, hubungan kerja sama kita selesai!" ketus Sekar Arum, matanya mendadak berkaca-kaca menahan rasa perih yang aneh di dalam dadanya. "Kau tinggallah di sini dengan segala kemewahan sutra ungumu. Aku akan pergi melanjutkan pencarian Mbah Wiro sendirian malam ini juga. Selamat tinggal, Pendekar Bodoh!"

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Sekar Arum memutar tubuhnya dengan cepat, menyambar caping bambunya, lalu melangkah lebar-lebar meninggalkan ruang tamu Paviliun Timur, mengabaikan panggilan Erlang yang menggema di belakangnya.

"Nimas Sekar! Waduh, Nimas! Jangan pergi malam-malam begini toh, bahaya!" teriak Erlang panik.

Erlang hendak melompat mengejar, namun lengan kanannya mendadak ditahan dengan sangat erat oleh kedua tangan Kenanga. "Kangmas Erlang, biarkan saja gadis ketus itu pergi. Dia tidak tahu cara menghormati ketulusan keluarga kadipaten kita. Kangmas tetaplah di sini bersamaku..."

"Nuwun sewu, Nimas Kenanga. Saya beneran harus mengejar Nimas Sekar sekarang," kata Erlang dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat serius, dan tegas, kehilangan seluruh sifat jenaka dan polosnya sekejap saja.

Dengan satu sentuhan getaran energi murni lembut, Erlang melepaskan cengkeraman tangan Kenanga tanpa membuat kulit putri tumenggung itu lecet sedikit pun. Erlang menyambar pikulan bambu tuanya dengan gerakan secepat kilat, lalu melesat keluar dari ruangan menembus kegelapan malam, meninggalkan Kenanga yang berdiri mematung di dekat meja dengan wajah pucat dan rasa kecewa karena menyadari bahwa batin Erlang sepenuhnya telah terkunci oleh gadis berbaju biru itu.

Sementara itu, Sekar Arum sudah melangkah keluar dari gerbang Paviliun Timur, berjalan cepat melintasi taman beringin kembar menuju arah gerbang belakang istana. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya meleleh membasahi pipi kusamnya, melarutkan sebagian bedaknya. Dada di balik jubahnya terasa sangat sesak karena rasa cemburu dan marah pada kepolosan Erlang yang kelewat batas.

Set!

Sebuah deru angin sepoi yang sangat halus mendadak berputar di depan langkah kaki Sekar. Dalam sekejap mata, sosok Erlang dengan pikulan bambu tuanya sudah berdiri tegak menghalang jalan setapak di hadapannya.

"Nimas Sekar, nggih nyuwun sewu... Tolong berhenti dulu toh, Nimas," engah Erlang, napasnya agak memburu bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena rasa takut yang amat sangat kehilangan rekan perjalanannya itu.

"Minggir, Erlang!" bentak Sekar Arum ketus, menolak menatap wajah Erlang dan memalingkan pandangannya ke arah pohon beringin. "Kenapa kau mengejarku? Pergi sana kembali ke pelukan putri tumenggungmu yang kaya raya itu! Makan saja semua tahu bacem madu dan wedang jahenya sampai perutmu meletus!"

Erlang menurunkan pikulan bambunya ke atas rumput taman, lalu melangkah mendekat hingga jarak mereka kembali merapat di bawah tiga jengkal. "Waduh, Nimas Sekar... beneran, demi Gusti Allah, saya tidak punya niat seujung rambut pun untuk menerima penawaran sebidang tanah atau rayuan dari Nimas Kenanga tadi. Saya tadi diam saja karena canggung dan bingung bagaimana cara menolaknya agar tidak menyinggung perasaan tuan rumah yang sudah menolong kita masuk kota."

"Halah! Alasan saja kau, Pendekar Bodoh!" tukas Sekar, meskipun di dalam hatinya rasa perihnya mulai sedikit mereda mendengar penjelasan Erlang. "Kau tadi kelihatan sangat menikmati tahu bacem buatan pelayannya!"

"Ya kalau masalah tahu bacemnya beneran enak nggih, Nimas, tapi kan tidak ada hubungannya dengan hati saya," ujar Erlang polos sembari mengulas senyuman tulusnya yang paling menenangkan. Erlang menatap lekat ke dalam sepasang mata bulat Sekar yang masih basah oleh sisa air mata. "Nimas Sekar... semalam di dalam Goa Langse, kita kan sudah berjanji untuk saling menjaga dan berjalan bersama sampai akhir perjalanan ini. Hati saya ini sudah terikat pada janji itu, Nimas. Mau diberi seisi istana kadipaten ini pun, tidak akan bisa menggantikan posisi Nimas Sekar sebagai pengarah batin saya. Jadi, tolong jangan merajuk dan berniat pergi meninggalkan saya sendirian di tempat asing ini toh."

Mendengar kata-kata jujur yang keluar dari mulut polos Erlang, pertahanan merajuk Sekar Arum seketika runtuh total. Rasa hangat yang sangat pekat kembali menjalar di dalam dadanya, mengusir sisa-sisa amarah cemburu yang sempat membakar batinnya tadi. Sekar menghela napas panjang, mengusap sisa air mata di pipinya dengan ujung lengan jubahnya, lalu mendengus kecil demi menutupi rasa malunya yang amat sangat.

"Kau ini... beneran pandai sekali membuat hatiku naik turun seperti ombak Parangtritis ya, Erlang," bisik Sekar Arum, nadanya kini sudah kembali melembut dan manis, meskipun masih ada sisa-sisa ketus yang manja. "Awas saja ya kalau besok-besok kau berani duduk dekat-dekat lagi dengan perempuan ungu itu atau perempuan mana pun di kota ini. Pelindung itu tugasnya menempel pada orang yang dilindunginya, bukan malah melayani putri bangsawan lain!"

Erlang tertawa renyah, hatinya terasa sangat lega melihat senyuman tipis mulai kembali menghiasi wajah ayu Sekar di balik sisa bedak kusamnya. "Hahaha! Nggih, Nimas Sekar, siap laksanakan! Mulai besok saya akan pasang jarak lima jengkal dari Nimas Kenanga, dan akan selalu menempel di samping Nimas seperti lintah sawah."

"Nah, begitu dong! Itu baru pelindungku yang patuh," puji Sekar Arum sembari tersenyum manis, membuat debaran di dada Erlang kembali berdesir kencang malam itu.

Kedua pengembara muda itu akhirnya berjalan beriringan kembali menuju paviliun timur dengan rasa kedamaian yang kian utuh dan kuat, menutup babak ketegangan malam itu dengan ikatan cinta tersembunyi yang kian terkunci erat di antara mereka, siap menyongsong kelanjutan pencarian petunjuk tentang Mbah Wiro di pusat kota Kadipaten keesokan harinya.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!