Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 025: Kehadiran Baru di Tengah Keraguan
Aldara melangkah masuk ke kafe dan langsung menuju sudut kesukaannya seperti biasa. Laptopnya sudah terbuka lebar di atas meja, dan secangkir kopi hitam menemaninya, sama seperti suasana hatinya yang kelam. Sudah hampir satu minggu Aries tak memberi kabar, namun ia tetap berusaha menyibukkan diri dengan menulis.
“Hai, kok duduk sendirian saja?” sapa Randy tiba-tiba, lalu tanpa menunggu izin langsung duduk di hadapan Aldara sambil memesan kopi Americano.
“Aku tidak sendirian, aku ditemani laptopku,” jawab Aldara singkat, matanya tak beralih dari layar.
“Dar, kenapa tidak kamu pertimbangkan saja menerima aku jadi kekasihmu?” tanya Randy pelan sambil menyesap kopinya.
Aldara menghentikan ketikannya, lalu menatapnya tajam sejenak. “Maaf Rand, aku tidak bisa. Aku masih menunggu dia,” ucapnya tegas.
“Sampai kapan kamu menunggu orang yang tak tahu di mana? Selama dia hilang, akulah yang selalu ada di sisimu,” desak Randy lagi.
“Aku juga tidak pernah memintamu datang, Rand. Kamu sendiri yang selalu mampir tanpa aku undang,” balas Aldara tenang namun tegas.
Belum sempat Randy menjawab, suara lembut terdengar dari samping. “Kak Aldara.”
Randy tersentak kaget, itu Siska. “Sayang? Kamu kok ada di sini?” tanyanya panik sejenak sebelum berusaha tenang.
“Kebetulan lewat, lalu melihat Kak Aldara duduk sendirian. Jadi aku mampir sebentar,” tambah Randy cepat. Siska hanya mengangguk percaya lalu duduk di sampingnya.
“Ngomong-ngomong Kak, Aries masih belum ada kabar?” tanya Siska lembut.
Aldara tersenyum tipis namun sedih. “Belum, Dede. Mungkin dia sangat sibuk atau di tempat kerjanya memang tidak ada sinyal,” jawabnya berusaha tetap berpikir positif.
Tak lama kemudian, Hafizah dan Dede Ara datang hampir bersamaan. “Hai Kak Dara!” sapa Dede Ara ceria. “Hai Dar,” tambah Hafizah.
“Lihat deh mejanya, penuh sekali kertas dan catatan. Kakak tidak bosan menulis terus?” tanya Dede Ara.
“Ini cuma hobi dan cara mengisi waktu luang saja,” jawab Aldara santai.
“Tapi ingat ya Kak, jangan lupa istirahat dan jaga kesehatan. Jangan sampai lelah berlebihan,” pesan Dede Ara tulus.
“Benar kata Dede Ara, jangan lupa makan dan tidur,” timpal Hafizah.
Mata Siska tiba-tiba berbinar melihat seseorang yang baru masuk. “Itu Fearny!” serunya sambil melambaikan tangan. “Kak Aldara, boleh tidak teman saya gabung Di sini? Kursinya cukup kan?”
“Tentu saja boleh,” jawab mereka serempak.
“Ini Fearny, teman dekatku,” kenal Siska.
“Namaku Fearny, salam kenal semuanya,” ucap gadis itu sopan.
“Aku Ara yang paling cantik dan imut!” seru Dede Ara riang. “Yang sedang serius menulis itu Kak Aldara, jangan diganggu kalau sedang fokus nanti dia marah. Di sebelahku ada Kak Hafizah, dan itu satu-satunya laki-laki di sini adalah Randy, pasti kamu sudah kenal kan sebagai pacar temanmu?”
“Iya Ra, aku tahu,” jawab Fearny Singkat. “Terima kasih sudah menerima aku bergabung.”
“Anggap saja kita keluarga, di sini tidak ada yang membeda-bedakan siapa pun,” ucap Hafizah ramah.
Suasana makin ramai saat Hiken, Ikbal, dan Abang Chepot tiba satu persatu masuk kedalam Cafe. Hiken duduk di samping Dede Ara, Ikbal di sebelah Hafizah, sedangkan Abang Chepot menempati kursi kosong di samping Randy, hari ini Anha berhalangan hadir, jadi ia datang sendirian. Meski begitu, kebersamaan mereka tetap terasa hangat dan akrab.
FEARNY teman Siska dia berumur 20 tahun.