Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas Dendam 1
"Hahahaha ... teman-teman, anak ingusan ini berani mengancam akan membunuh kita? Apa mungkin karena dihajar penduduk desa setahun yang lalu sudah membuat otaknya bergeser dari tempatnya?" ejek penjaga tadi, yang langsung disambut tawa teman-temannya.
"Kencing saja masih belum lurus, sudah berani berlagak di depan kita! Dasar anak pencuri!" sahut temannya.
"Ternyata kalian tidak bisa diberi hati!" teriak Wira sebelum melesat cepat sambil melepaskan salah satu jurusnya — Pukulan Tapak Naga Suci — ke salah satu penjaga dan mengena dengan telak di dadanya.
Tanpa diduga siapapun yang ada di tempat itu, penjaga yang terkena serangan telapak tangan Wira langsung terhempas ke belakang hingga menabrak pintu rumah. Tubuhnya menggeliat hebat sebelum nyawanya melayang.
"Kau ... Berani sekali kau membunuh temanku!" teriak seorang penjaga lain dengan suara keras, seraya memandang Wira dengan tatapan tajam, namun terbersit juga sedikit ketakutan di hatinya. Sebab satu temannya mati hanya dalam satu serangan.
Tubuh pemuda itu sedikit bergetar setelah serangannya yang tak terduga mengenai sasaran. Dia merasakan sensasi aneh setelah melakukan pembunuhan pertamanya. Ada rasa takut sekaligus rasa puas karena telah menghukum orang yang berani menghina nama baik orang tuanya.
"Kau juga akan merasakan kematian yang sama karena telah berani menghina orang tuaku!" Setelah melakukan pembunuhan pertamanya, sifat buas Wira semakin meluap-luap.
Benar kata Arisuta, pemuda itu akan sangat menakutkan jika tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Seusai berucap, Wira langsung bergerak menyerang penjaga yang sudah menghina orang tuanya itu. Penjaga tersebut langsung meladeni serangan yang dilepaskan pemuda itu. Namun karena kemampuan Wira jauh di atasnya, dalam waktu singkat penjaga tersebut langsung menggelepar di tanah lalu meregang nyawa. Dada dan perutnya robek setelah terkena sambaran Cakar Naga Membelah Bumi.
Dua penjaga lainnya yang melihat kedua temannya sudah tewas, hanya bisa mematung ketakutan. Tidak sedikitpun mereka berani bergerak karena lebih sayang nyawanya sendiri.
Pratama yang baru saja keluar dari dalam rumahnya, dibuat terkejut melihat dua orang penjaga tergeletak tak bergerak di tanah. Dia bisa melihat jelas jika tubuh keduanya sudah tidak bernyawa lagi.
"Kenapa kau membuat kekacauan di rumahku!? Aku akan melaporkanmu kepada Kepala Desa!" Kemarahan jelas terlihat di mata lelaki bertubuh tinggi besar, dengan kumis melintang tebal di atas bibirnya itu.
Wira menatap Pratama dengan pandangan tajam. Di hadapannya kini sudah berdiri sosok yang menjadi salah satu penyebab utama orang tuanya difitnah keji dan akhirnya dihukum mati.
"Kau tidak perlu repot-repot mengadu kepada kepala desa biadab itu. Setelah nyawamu tercabut dari tubuhmu, giliran dia yang akan kuberi hukuman setimpal! Sudah waktunya bagi kalian untuk menebus kesalahan besar yang sudah kalian lakukan kepada orang tuaku!" bentak Wira, suaranya menggelegar. Dia semakin sulit mengendalikan emosinya yang meluap.
Pratama memandang Wira dengan seksama. Sekilas dia melihat rupa Arga dan Gayatri tergambar jelas di wajah pemuda itu.
"Kau ... Bukankah kau sudah tewas dihajar penduduk desa setahun yang lalu?" Pratama teringat ucapan Subadra tempo hari yang mengatakan jika anak dari Arga dan Gayatri itu sudah mati dikeroyok warga.
"Apa kau sudah buta? Yang kau lihat sekarang ini bukan hantu, tapi malaikat pembawa keadilan yang akan mencabut nyawamu!"
Pratama jelas tidak menduga jika anak dari dua orang yang sudah difitnahnya hingga berujung kematian itu, akan kembali datang untuk membalas dendam.
"Apa alasanmu hendak membunuhku? Aku tidak pernah melakukan apapun terhadap kedua orang tuamu!"
"Hhh ... Kau ini sama seperti para penguasa yang pandai memutarbalikkan fakta. Apa kau berlagak lupa telah turut memfitnah kedua orang tuaku, hingga mereka dihukum mati oleh penduduk desa?" cibir Wira dengan nada dingin.
"Aku adalah lelaki yang bermartabat. Aku tidak mungkin melakukan hal sekotor itu!" bantah Pratama tegas.
Wira menoleh ke arah Jaka dan Purbaya yang berdiri di belakangnya, memberi kode agar mereka maju berdiri di sampingnya.
"Paman Purbaya adalah saksi kuncinya. Apa kau sudah lupa dengannya? Dia dulu bekerja di rumah Kepala Desa Subadra." Wira mengalihkan pandangannya kembali ke arah Pratama.
Pratama berpura-pura mengerutkan dahi seolah sedang berpikir, padahal itu hanya cara untuk mengulur waktu mencari jalan keluar. "Aku tidak paham apa yang kau maksudkan," jawabnya pelan.
"Hahahaha ... sudah kuduga kau akan berpura-pura bodoh. Orang sepertimu pasti takut menghadapi kematian. Dan Paman Jaka ini adalah saksi lain yang mendengar langsung pembicaraanmu dengan Kepala Desa Subadra, tentang rencana memfitnah kedua orang tuaku!"
Tanpa terasa, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuh Pratama. Melihat betapa mudahnya Wira membunuh kedua penjaganya, dia yakin nyawanya pun bisa melayang dalam sekejap. Satu-satunya harapan adalah melarikan diri.
Pratama lalu menoleh kepada dua penjaga yang masih berdiri mematung. "Kalian berdua jangan diam saja seperti patung! Cepat bunuh dia!"
Namun kedua penjaga itu langsung menundukkan wajah saat Wira menatap mereka dengan senyum yang terasa mengerikan. Bagi mereka, senyuman itu bagaikan ancaman kematian. Mereka lebih memilih menyelamatkan diri daripada membela tuan yang sudah terjebak masalah besar.
"Maaf, Juragan. Kami tidak tahu-menahu soal ini. Kami baru satu tahun ini bekerja di sini, jadi masalah ini sepenuhnya urusan Juragan sendiri," kata salah satu penjaga, lalu langsung berlari pergi. Temannya segera menyusul tanpa menoleh ke belakang.
"Pengecuuut ...!" teriak Pratama marah melihat kedua pengawalnya kabur.
"Kau juga bukan pengecut yang hanya berani memakai tangan orang lain untuk memuluskan keinginan busukmu?" sindir Wira.
Pratama menelan ludah ketakutan. Dia segera berlari masuk ke dalam rumah, mengambil sebuah pedang yang tergantung di dinding, lalu kembali keluar dan langsung menyerang Wira dengan ganas.
Belum sempat serangannya menyentuh sasaran, Wira sudah melesat menghindar dan melayangkan pukulan tepat di ulu hati Pratama. Lelaki itu terjengkang ke belakang dan langsung memuntahkan darah segar. Nafasnya tersengal-sengal seolah ada beban berat yang menekan paru-parunya.
Pemuda itu sengaja tidak langsung membunuh Pratama, hanya membuatnya terluka berat. Dia punya rencana untuk membawanya menghadap Subadra sekaligus membongkar seluruh kebenaran di hadapan warga desa.
Sebuah tendangan keras dilepaskan Wira ke perut Pratama yang belum sempat bangkit. Lelaki itu mengerang kesakitan sambil memohon ampun.
"Ampuni aku ... Aku akan menyerahkan semua hartaku jika kau membiarkanku hidup!" pinta Pratama lirih.
Wira mengambil pedang yang terlepas dari genggaman Pratama.
"Memaafkanmu akan menjadi pengkhianatan terbesarku kepada kedua orang tuaku. Tapi tenang saja, aku tidak akan membunuhmu sekarang. Sekarang berdiri, atau aku akan memenggal kepalamu di tempat ini!"
Pratama sedikit bernapas lega. Setidaknya nyawanya masih tertunda untuk saat ini. Dia berdiri terhuyung-huyung sambil memegangi perut dan dadanya yang terasa perih luar biasa.
"Sekarang kita akan menuju rumah Kepala Desa! Jika kau berani melarikan diri, pedang ini akan langsung memenggal lehermu!"