[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[FOLLOW AKUN IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU!]
Kisah tentang;
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri mulai lelah dengan kesabaran ku."
@Annisa Az-Zahra
Bagaimana jika seandainya kalian adalah siswi berhijab satu-satunya di sekolah kalian? bagaimana jika seandainya kalian tidak sengaja melakukan tingkah konyol yang menjerumuskan kalian ke dalam masalah?
Hidup Zahra yang mulai di tumbuhi bunga-bunga berwarna-warni kini kembali terlihat hampa saat sebuah RAHASIA BESAR berhasil merubah segalanya.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29. Bu Siti
"Ma ... Verrel nggak bau kok," protes Verrel.
Widya menggelengkan kepalanya dan semakin menjauhkan wajahnya.
Verrel memasang ekspresi cemberut. "Maa ...," rengek Verrel.
Sikap kekanak-kanakannya muncul begitu saja. Verrel memang pemuda dingin, cuek, dan tidak peduli dengan urusan sekitarnya, kecuali berhubungan dengan orang-orang terdekatnya.
Ternyata, Sikap itu tidak berlaku ketika berhadapan dengan Widya. Sikapnya berubah 180°, sikap kekanak-kanakan dan manjanya yang tidak pernah di tunjukkan muncul begitu saja saat berhadapan dengan sang mama.
Verrel bangkit dari duduknya dan berjalan memasuki kamar mandi, meninggalkan Widya yang tertawa kecil melihat sikap menggemaskan anak bungsunya.
"Ma ... Verrel mana?" suara Farhan tiba-tiba terdengar membuat Widya hampir saja terpelonjak kaget.
Widya menunjuk kamar mandi yang tertutup itu dengan dagunya. Farhan mengerti, ia melangkah masuk dan berdiri di depan pintu yang tertutup itu.
"Verrel! Cepetan keluar gue mau ngomong sama lo!" Suara Farhan terdengar kesal.
Widya yang hampir saja melangkah keluar kamar mendadak berhenti, dan langsung menoleh ke arah Farhan.
"Farhan jangan buat ulah!" peringat Widya. Ia mengangkat telunjuknya dan menggerakkannya kekiri dan kekanan.
Farhan mengerti, ia hanya menampilkan deretan giginya yang berjejer rapi. Dan mengangkat jempolnya tinggi-tinggi.
"Verrel keluar nggak lo, lama amat sih ngapain lo di dalam?" Suara Farhan terdengar tak santai.
Bruggg!
Bruggg!
Farhan menggendor-gendor pintu yang tertutup rapat itu, di dalam Verrel yang sedang memakai shampo berdecak sebal.
Verrel tak menghiraukan Farhan yang mencak-mencak seperti orang kesetanan di depan pintu kamar mandinya.
"Terserah lo mau ngapain, palingan juga nanya tentang tuh bocah!" tukas Verrel.
Farhan yang mulai lelah sendiri, mulai memikirkan rencana agar Verrel segera keluar dari kamar mandi. Farhan tak sabar ingin menanyakan kabar Zahra, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Farhan tersenyum menyebalkan, ia kemudian menekan satu tombol yang mampu membuat Verrel keluar sesegera mungkin.
"FARHAN SIALAN, IDUPIN AIRNYA GUE MAKE' SAMPO WOY!!" Verrel mengucek-ngucek matanya yang terkena busa shampo. Shower di kamar mandinya tiba-tiba mati, sedangkan rambutnya masih penuh dengan busa.
"HAHAHAHA RASAIN MAKAN TUH BUSA!" Farhan tertawa terbahak-bahak. Saat pintu kamar mandi perlahan terbuka, Farhan malah lari terbirit-birit keluar dari kamar Verrel dan membanting pintunya sangat keras.
Verrel menggeram kesal, ia berjalan mencari tombol untuk menghidupkan kembali shower di kamar mandinya.
Hingga Verrel tak sengaja menginjak kunci motor yang ia buang asal tadi. Alhasil Verrel hampir terjungkal, untung dengan sigap Verrel memegang ujung meja. Kalo tidak! entah apa yang akan terjadi pada Verrel.
####
"Rel, kemarin gue ama bokap gue pengen ketemu bokap lo. Eh nggak jadi! Emang ada paansih?" tanya Deon, karena sahabat karib yang di maksud Martin adalah Reno Denandhra dan anak yang di maksudnya juga adalah Deon, sang pewaris tunggal keluarga Denandhra.
Verrel tidak menjawab pertanyaan Deon. Pemuda itu hanya fokus memakan semangkuk bakso di hadapannya, begitu pula dengan Daniel.
"Kacang mahal bro," sindir Daniel.
"Yeuyyy elu juga ngacangin gue," sahut Deon tidak terima.
"Ke rooftop yuk ngerokok," ajak Daniel.
"Wahhh parah lo Niel. Lo ngerokok?" kaget Deonn menggelengkan kepalanya.
"Hehehe ... se isep dua isep. Yah nggak lah gue mah pantang nyentuh gituan," ujar Daniel percaya diri.
Memang benar, mereka memang nakal tapi tak pernah kelewat batas. Ketiga pemuda itu pantang menyentuh rokok, alkohol, atau obat-obatan terlarang lainnya yang banyak di konsumsi oleh pemuda nakal pada umumnya.
Mereka bertiga memang nakal, tapi tetap ada Verrel yang mengontrol kedua sahabatnya. Bisa di bilang otak Verrel yang briliant takkan membiarkan masa depannya dan kedua sahabatnya hancur begitu saja.
"Kalo gitu ke lapangan yuk, basket. Udah lama nih nggak caper," ujar Daniel dengan jahilnya, mencoba mencari kegiatan untuk menikmati masa bolosnya.
"Caper-caper lapangan sepi Niel," sahut Deon malas.
"Atau keluar aja yok, ke cafe atau ke warung belakang sekolah gitu biasanya juga kita kesana," ajak Daniel mulai lelah.
Kalo tau begini lebih baik Daniel tinggal mengikuti mata pelajaran pak Seno, guru sejarah yang selalu mengenang masa lalu yang nyaris membuat penghuni kelas menguap dan akhirnya tertidur.
"Rel, gimana?" tanya Deon pada Verrel yang hanya sibuk menikmati semangkuk bakso di hadapannya.
Verrel meletakkan sendoknya dan beralih menatap kedua sahabatnya secara bergantian. "Nggak, " jawabnya sekenanya.
Daniel dan Deon berdecak sebal, mendengar satu kata itu.
"Lapangan aja, basket. Udah lama nggak main," lanjutnya lagi.
Deon dan Daniel mengangguk mantap.
Lagi pula lapangan sekarang tengah sepi karena proses belajar mengajar yang sedang berlangsung. Terkecuali oleh ketiga pemuda itu, memutuskan untuk bolos kesekian kalinya. Tidak peduli dengan guru-guru yang berkeliling mencarinya sambil meneriaki namanya, toh palingan juga surat panggilan orang tua yang mereka dapat. Sudah biasa!
"Mau caper ama siapa lo?" ejek Deon, setelah mendapati lapangan yang sepi.
"Tuh ..." Tunjuk Daniel dengan watados-nya. Menunjuk Bu Siti yang sedang keliling sambil memegang ranting di tangan kirinya.
Mereka bertiga tertawa memasuki lapangan, mengabaikan Bu Siti dengan tatapan membunuh nya. Lagi pula, mereka memutuskan bolos semua mapel hari ini dan tidak ada yang boleh menganggunya termasuk Bu siti sekalipun.
"Kalian ngapain di sini?" bentak Bu Siti berdiri sambil berkacak pinggang.
Daniel yang mendribble bola basket itu pun berhenti. Memandang Bu Siti dengan tatapan santainya.
"Udah deh Bu, kami kali ini nggak mood di hukum, mending ibu pergi aja deh. Hushh ...," usir Daniel. Mengabaikan tatapan Bu Siti yang menyala nyalang siap untuk menerkam mangsanya.
Bu Siti masih bingung bagaimana caranya agar membuat ketiga pemuda itu insaf. Hampir 3 tahun Verrel, Deon dan Daniel menjadi langganannya.
Verrel dan Deon hanya mengangguk pertanda setuju. Tentu, Bu Siti tidak akan menyerah begitu saja.
Bu Siti mengalihkan pandangannya menelusuri koridor yang sepi, mencari seseorang yang dapat membantunya membuat 3 pemuda itu jinak.
Kepalanya pusing saat ini, bisa-bisa ia terbaring di rumah sakit jika harus memaksakan diri menghukum 3 pemuda yang saling lempar tangkap bola basket di depannya.
"FARHAAAN!!" teriak Bu Siti menggema di sepanjang koridor yang sepi.
Farhan yang mendengar namanya di panggil pun berbalik menatap Bu Siti dengan tatapan tanda tanya.
Pasalnya pemuda itu tengah membawa beberapa dokumen ke ruang OSIS, dokumen penting tentang camping tahun ini.
Farhan melangkah memasuki lapangan, menghampiri Bu Siti dengan 3 pemuda yang menatapnya datar.
"Iya Bu?" tanya Farhan setelah berdiri di depan Bu Siti, beberapa dokumen di ada di tangannya.
"Ibu mohon sama kamu, bantu ibu urus 3 pentolan sekolah ini," pinta Bu Siti memohon. Melirik 3 pemuda yang hanya memutar bola matanya malas.
"Tapi Bu saya ada urusan di ruang OSIS," Tolak Farhan, pemuda itu hari ini sangat malas berurusan dengan adik durhaka-nya itu.
Apalagi sebelum ke ruang OSIS Farhan berniat ke kelas Zahra untuk meminta bantuan membuat proposal camping tahun ini, tapi langkahnya bertolak arah ke arah Bu Siti yang sedang memanggilnya.
"Farhan, ibu mohon sama kamu. Verrel adik kamu kan? Jika Verrel nurut, pasti kedua sahabatnya itu pun ikut," pinta Bu Siti memohon, seolah-olah hanya Farhan lah harapan Bu Siti satu-satunya.
Farhan mengangguk pelan pertanda setuju.
Walau pemuda itu sangat tidak ingin berurusan dengan Verrel hari ini.
"Baik, ibu ke ruang bk dulu," pamit Bu Siti.