The Moon is a friend for the lonesome to talk to. Artinya, Bulan adalah teman bagi yang kesepian untuk diajak bicara.
Bulan, menjadi saksi dan pendengar bagi kebanyakan orang. Sama seperti gadis kecil berusia 4 Tahun yang harus menjalani dan menafkahi kehidupannya sendiri semenjak kedua orangtua angkatnya meninggal. Yang awalnya adalah gadis manja kini berubah menjadi gadis yang kuat dalam segala hal. Dia rela mati-matian menghilangkan sifat manjanya demi bisa bertahan hidup.
Dia tak tahu, jika dia adalah permata keluarga besar, kaya, dan berpengaruh yang hilang diculik oleh musuh keluarga. Keluarganya selalu mencarinya tanpa rasa lelah.
Ibu kandung dari gadis itu mengalami depresi berat, sudah tak bisa hamil, anaknya pun hilang dicuri orang, bahkan tak ada yang bisa menyembuhkannya selain sang anak yang sudah lama hilang itu. Sedangkan ayah kandung dari gadis itu hanya bisa pasrah akan kondisi istrinya, dia bahkan tak pernah merasa lelah hanya untuk mencari keberadaan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AGK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B. 28
(Tandai Typo)
Bulan memanglah bersinar, namun tidak bagi Miranda. Malam ini, dibawah kegelapan langit malam dia berdiri di balkon kamar dengan pandangan yang kosong ke arah depan.
Pikirannya kalut, hanya Vania, Vania, Vania, Vania dan Vania. Hanya Vania yang ada pada pikiran, semuanya dipenuhi dengan Vania, tiada waktu, hari tanpa Vania seperti Miranda yang hidup dengan jiwa yang kosong.
Devian yang berada di belakang Miranda hanya bisa memandang sendu ke arah sang istri "Maafkan, Mas. Maaf sayang" ucapnya lirih.
"Sayang? Kenapa disitu? Dingin loh? Nanti kamu sakit gimana?" ucap Devian.
Miranda pun menoleh dan melemparkan senyuman tenangnya "Mas kenapa bangun? Apa aku mengganggu waktu tidur Mas?".
Devian membalas senyuman istrinya sambil menggeleng pelan "Gak sayang, sini sama Mas" sambil merentangkan tangannya.
Miranda pun masuk, menutup pintu balkon dan segera naik ke atas ranjang lalu masuk ke dalam pelukan hangat milik Devian.
"Tenang ya? Jangan putus asa, ingat, kita pasti akan memenangkan persidangannya" ucap Devian.
Jari telunjuk Miranda bermain diatas dada bidang Devian dengan kepalanya yang juga berada di atas dada bidang suaminya itu.
"Aku hanya takut, Mas. Aku tau siapa itu Alexis. Aku tau kekuasaannya berada jauh di atas kita. Dan aku takut jika dia yang akan memenangkan persidangannya. Aku gak mau kehilangan Vania, Mas. Vania itu hidup dan segalanya bagi aku" ucapnya lirih.
"Iya Mas tau, Mas juga sama kayak kamu kok. Tapi kita harus tetap mengikuti aturan hukum, sayang. Mas yakin kita pasti menang, Vania itu anak kandung kita sayang. Sah! Karena kamu yang mengandung dan melahirkan dia. Semua terbukti dari tes DNA dan banyak bukti lain yang bisa kita tunjukan" Devian menjelaskan agar Miranda tidak terlalu larut dalam kejadian ini.
"Aku harap apa yang Mas ucapkan itu adalah kebenaran dan aku juga berharap Mas berjanji untuk membawa Vania kembali ke pelukan ku" balas Miranda menatap Devian dengan tatapan penuh harap.
Devian tersenyum, lalu mengelus puncak kepala sang istri "Mas janji" balasnya. Walaupun sebenarnya Devian tak pernah yakin dengan persidangan ini dimenangkan olehnya.
Sementara disisi lain, Vania saat ini tengah asik menyusu pada Alexis. Wanita cantik bak seorang Dewi itu melakukan program ASI agar dia bisa menjadi ibu seutuhnya bagi Vania. Gadis kecil yang membuatnya terobsesi gila.
Vania tidur di atas tubuh Alexis dengan satu tangannya yang menjelajahi pahatan wajah Alexis yang begitu cantik sempurna. Alexis dan Miranda sama-sama cantik! Dua-duanya benar-benar sempurna! Bedanya kelakuan mereka sangat jauh berbeda.
Alexis tersenyum mengelus punggung Vania sambil sesekali dia mengecup puncak kepala Vania "Mommy sayang Gia".
Vania tersenyum "Gia juda cayan cama Mommy!" balasnya membuat Alexis tersenyum lebar.
"Tidur ya? Udah malam loh" ucap Alexis lembut.
Vania mengiyakan, dia menutup kedua matanya dan detik itu juga dia langsung terlelap, meninggalkan Alexis yang masih terjaga.
Alexis menatap dalam wajah damai milik Vania "Maaf, sayang. Mommy terpaksa melakukan ini karena Mommy tidak mau kehilangan kamu. Perlu kamu tau, disaat Bunda kamu memberikan hak asuh kamu pada Mommy, jujur Mommy sangat bahagia. Tapi kamu menghilang, Mommy tidak tau dimana keberadaan kamu. Hingga pada saatnya Mommy mendapatkan kabar bahwa kamu sudah kembali pada keluarga kandungmu. Maaf sayang, tapi Mommy tidak akan membiarkan kamu untuk bertemu dengan mereka" ucap Alexis panjang lebar.
***
"Brengsek! Gue harus balas Devian itu! Hiks dia yang udah membunuh adik gue, Fio! Lelaki sialan!! Hiks" tangis Clarissa meraung-raung.
Fio memeluk tubuh rapuh sahabatnya "Gue udah peringatin sama Lo kan, jangan usik kehidupan Devian lagi. Sekarang Lo percaya gak sama gue? Terbukti kan sekarang? Selanjutnya siapa lagi korbannya? Gue mungkin? Lo mau?!", balas Fiona.
Clarissa tak menjawab, dia hanya menangis dipelukan sahabatnya itu. Dendamnya semakin mendarah daging. Dia semakin ingin untuk menghancurkan keluarga Devian.
"Gue akan balas mereka! Gue akan bunuh wanita tua itu! Lihat aja!" Clarissa melepaskan pelukannya dan langsung berlalu dari sana.
Sedangkan Fiona terdiam akan ucapan Clarissa. Wanita tua? Itu artinya Melody? Memikirkan itu Fiona menggelengkan kepalanya "Gak-gak. Gue gak akan biarin Clarissa membunuh Aunty Melody. Gak akan" ucapnya penuh tekat.
Sementara Clarissa, dia langsung menghubungi seorang yang bekerja sama dengannya yang saat ini tengah bekerja sebagai pelayan di kediaman D'angelo.
📞Halo Bu bos.
"Gue mau kasih Lo tugas".
📞Apa Bu bos?.
"Bunuh wanita tua itu! Beri dia racun mematikan!".
📞Gampang itumah, tapi bayarannya ada kan?.
"Ck! Untuk apa gue menyuruhmu jika tidak untuk dibayar?! Gue transfer setelah pekerjaan Lo berhasil".
📞Ohh gak bisa gitu dong Bu bos. Gue maunya ada uang mukanya.
"Ck! Gue tranfser uang mukanya. Gue tunggu kabar baiknya".
📞Nah gini kan enak! Oke Bu bos! Tunggu kabar dia tewas ya!".
Tutt!.
Setelah mematikan sambungannya, Clarissa langsung tersenyum smirk "Lihat aja Devian, Lo akan rasain apa yang gue rasain! Lo udah bunuh adik gue, maka gue juga bisa".
To be continued...
(Hai! Segini dulu yak! Nanti sebentar up lagi kok. Seperti biasa, tinggalkan jejak kalian! Timakacih udah baca! Dadah!).