RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
"Hahaha, tidak kok Kek! Sara benar-benar baik-baik saja! Ponselku tadi cuma lupa diisi daya saja. Lagian siapa yang berani mengganggu cucu kesayangan Kakek sih!" jawab Sara berusaha tenang, menyembunyikan kegugupannya di balik nada bercandanya.
"Kau yakin, Queen? Kau tidak lagi menyembunyikan sesuatu, Kan?!" suara Don Vincenzo masih terdengar menyelidik dari seberang sana.
"Yakin, yakin banget malah! Kakek sendiri bagaimana kabarnya?" Sara segera memutar topik pembicaraan dengan cekatan.
"Kakek baik-baik saja. Bagaimana di sana? Apakah kau betah di Indonesia?"
"Alhamdulillah... sepertinya Kakek belum tahu soal pernikahan mendadak ini!" batin Sara menghela napas lega sejenak.
"Betah kok! Ternyata orang-orang di sini sangat ramah, bahkan di hari pertama sekolah saja Sara sudah mendapatkan teman-teman yang baik," jawabnya ceria mencoba menyakinkan sang Kakek.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu, Kakek senang mendengarnya. Oh ya, minggu ini Kakek akan terbang ke Indonesia. Ada proyek kerja sama dengan perusahaan Grup Krisnawardhana."
Mendengar itu, Seketika jantung Sara seakan berhenti berdetak. Wajahnya ikut berubah pucat pasi.
"Gawat! Kalau Kakek datang ke sini, rahasia pernikahan ini pasti akan terbongkar! Dan apa tadi, katanya dia ada kerja sama dengan grup keluarga Krisnawardhana? Berarti perusahaan keluarga Raven dong! Benar-benar tamatlah aku! Aku tidak bisa biarkan ini terjadi, aku harus bicara serius dengan Raven sebelum Kakek menginjakkan kaki di sini!" gumamnya dalam hati dengan panik.
"Kenapa diam begitu? Kau tidak senang Kakek datang berkunjung?" tanya Don Vincenzo mulai curiga.
"Eh, bukan begitu Kek! mana mungkin Sara gak suka, Sara cuma sedang berpikir, kira-kira kejutan apa yang pantas untuk menyambut Kakek nanti!" jawab Sara cepat beralasan.
"Dasar kamu ini ya! Tidak perlu menyambut secara berlebihan, Kakek tidak lama di sana. Hanya urusan bisnis beberapa hari saja lalu langsung pulang, karena masih banyak kerjaan di sini!" ucapnya santai.
"Gak bisa gitu dong! Pokoknya nanti waktu Kakek sudah sampai di Indonesia, kabarin Sara. Sara akan jemput Kakek di Bandara nanti ya!"
"Baiklah kalau kau bersikeras. Ini sudah malam kan! Baiknya kamu segera istirahat, jangan bergadang dan belajarlah dengan benar. Ingat, jangan cari masalah di sana!" pesan Don Vincenzo mengingatkan.
"Siap Kakek! Kakek juga harus jaga kesehatan, jangan kerja terus! Satu lagi jangan lupa minum vitamin!"
"Hm! Baik-baik!" sahutnya singkat sebelum sambungan terputus.
Sara segera menyimpan ponselnya, lalu bergegas melangkah menuju balkon tempat Raven berada.
"Raven! Bisa kita bicara sebentar?!" panggilnya dengan napas sedikit terengah, wajahnya tampak sangat serius begitu berada di hadapan Raven.
Raven yang sedang memetik senar gitar langsung berhenti saat melihat raut wajah istri dadakannya. Ia meletakkan alat musiknya perlahan di atas meja, lalu menatap Sara lekat-lekat.
"Tentang apa?"
"Tentang pernikahan kita!" jawab Sara tegas tanpa ragu sedikit pun.
Raven mengangguk pelan, lalu menepuk kursi di sebelahnya. "Duduklah dulu. Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
"Aku mau kita akhiri pernikahan ini," ucap Sara lugas begitu ia duduk. "Aku tahu kau juga pasti terpaksa menerima pernikahan ini. Jadi, lebih baik kita cerai saja!"
Raven terdiam sejenak, matanya menatap lurus ke arah taman di bawah sana. Ia mengakui pernikahan ini memang terjadi begitu saja karena keadaan, namun ia juga tahu betul watak kedua orang tuanya.
"Ternyata dia memang berbeda dari kebanyakan wanita yang selama ini aku kenal. Di saat wanita lain menggunakan segala cara untuk bisa masuk ke keluarga Krisnawardhana, dia malah ingin segera lepas dariku!" gumamnya dalam hati.
"Hmm! Kalau aku sih sebenarnya tidak keberatan," ucap Raven pelan. "Tapi apa kau yakin Mommy dan Daddy akan semudah itu menyetujuinya?"
"Itu tugas kita berdua," jawab Sara mantap. "Kamu bujuk orang tuamu, bilang ini semua hanya kesalahpahaman dan kita berdua belum siap menikah karena masih ingin fokus sekolah. Gampang kan?"
"Tidak segampang itu, Sara!" Raven menoleh menatapnya lekat. "Mereka sudah lama menantikan aku segera menikah. Bahkan mereka setuju begitu saja saat rekan bisnis mereka menjodohkan aku dengan Chelsea, dan untung beberapa hari lalu aku masih bisa menolaknya. Sekarang kau sudah resmi menjadi istriku, aku yakin seratus persen mereka tak akan melepaskanmu begitu saja. Apalagi Mommy terlihat sangat menyukaimu."
"Hah? Jadi kau memang sudah dijodohkan dengan Chelsea? Pantas saja gadis itu ngotot sekali mengaku-ngaku kau sebagai miliknya!" seru Sara seolah baru memahami semuanya.
"Bukan hanya itu, kami memang tumbuh bersama sejak kecil. Mungkin karena itulah dia merasa berhak. Tapi aku sama sekali tidak memiliki perasaan padanya, aku hanya menganggapnya sahabat, tak lebih!" jelas Raven datar.
"Kenapa tidak?" tanya Sara polos.
"Karena aku masih menunggu seseorang! Meskipun aku sendiri tak tahu ia masih hidup atau tidak saat ini!" jawab Raven dalam hati.
"Karena perasaan tidak bisa dipaksakan, bukan?" lanjut Raven singkat.
Sara terdiam sejenak, lalu menghela napas berat. "Kau benar... tapi kita juga dipaksa keadaan untuk menjadi suami istri. Jujur saja, aku sama sekali tidak punya rencana menikah muda, apalagi secepat kilat seperti ini!"
Raven terdiam sejenak berpikir keras. "Kalau begitu, bagaimana kalau kau mengaku pada Mommy dan Daddy kalau kau sudah punya kekasih sendiri? Dan keberatan dengan pernikahan ini!" usul Raven.
Sara memutar bola matanya malas. "Aku baru pindah ke negara ini dua hari yang lalu! Mana aku punya pacar!" ketus Sara.
"Kenapa nggak kau saja yang mengaku jika kau sebenarnya sudah punya wanita pilihan sendiri!" timpal Sara.
"Mereka jelas tak percaya aku punya pacar, dari dulu aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun!"
"Terus bagaimana ini? Gak mungkin kan kita benar-benar menikah di usia muda begini? Aku masih mau menikmati masa muda tanpa harus terikat sama siapapun! Belum lagi jika pernikahan ini sampai tersebar, pasti kita akan dikeluarkan dari sekolah!" protes Sara kesal sekaligus khawatir akan nasibnya.
Bersambung....