Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUAPULUHENAM
Perjalanan Arun dan Akbar memerlukan waktu sekitar hampir dua puluh menitan karena jalanan sore ini yang lumayan macet. Mereka menggunakan kendaraan masing-masing. Sepeda motor Arun melaju lebih dulu dan diikuti oleh Akbar dari belakangnya.
Saat sampai di Cafe, Arun sengaja memarkirkan motornya didepan Cafe karena berpikir akan mampir sebentar saja. Arun menurunkan standar motornya lalu melepas helm dan menempatkannya di kaca spion motor.
Hal pertama Arun bisa lihat adalah hanya ada dua orang cewek yang sedang duduk berdampingan namun didepannya terdapat laptop. Sepertinya mereka sedang mengerjakan sesuatu karena terlihat sangat fokus dan tidak mengobrol.
Arun langsung menengok saat pundaknya ditepuk oleh Akbar, "Run? Ayok masuk" ajak Akbar.
Arun menoleh lalu menatap Akbar, "iya" balas Arun sekenanya.
Arun berjalan perlahan, kali ini dia berada di belakang Akbar. Namun didalam hati Arun, dia sangat merasa iba melihat keadaan Cafe yang dulu dijadikan sebagai tempatnya mencari rezeki harus berada di titik ini kembali.
Namun berbeda kali ini, Arun lebih merasa sesak karena ini berkaitan dengan Bio. Dimana itu merupakan masalah suaminya, berarti menjadi masalah Arun juga.
"Bang" Akbar memanggil Dimas dan Erik yang tengah duduk tidak jauh darin mereka saat ini.
"Udah balik lo?" tanya Dimas sambil berdiri meletakan sebuah map berwarna biru diatas meja kasir.
"Liat aku sama siapa" ujar Akbar sambil menyingkir dari posisinya saat ini.
Arun yang bertatapan langsung dengan Dimas dan Erik langsung tersenyum getir. Karena entah perasaan apa yang tiba-tiba muncul saat menatap mata Dimas dan Erik secara bergantian.
"Arun?" panggil Dimas sambil melangkah menghampirinya.
"Bang" sapa Arun lalu memeluk Dimas.
"Lo kemana aja? Kenapa lo jarang ke Cafe?" tanya Dimas sambil memeluk Arun.
Belum sempat Arun menjawab setelah melepas pelukan mereka tiba-tiba Erik datang dengan tatapan jahilnya pada Arun, "jatuh miskin lo?" ucap Erik.
Dug!
Arun memukul lengan Erik, "lo mah gak ada romantis-romantisnya bang!" kesal Arun.
"Ya lagian lo baru muncul sekarang. Lo juga dulu gitu kalo lagi banyak uang jarang banget di Cafe, giliran udah abis, bokek muncul terus lo di Cafe" jelas Erik.
"Enggak ya! Gue kalo gak di Cafe emang karena tugas kuliah" bela Arun.
"Ya udah sini, masa lo cuma peluk Dimas aja" ucap Erik sambil merentangkan kedua tangannya.
Arun yang melihat itu langsung berhambur dalam pelukan Erik sambil tersenyum bahagia. Bagaimana pun Erik tetap abangnya yang terbaik.
"Perasaan sama aku gak ada acara peluk-pelukan?" gumam Akbar.
"Kenapa Bar?" tanya Dimas.
Sedangkan Arun yang masih bisa mendengar gumaman Akbar hanya bisa mencuri pandang sambil sesekali menunduk setelah melepaskan pelukannya dari Erik.
"Gak papa bang, jadi kita mau ngobrol dimana?" tanya Akbar.
"Disana aja" tunjuk Dimas pada temat duduk yang memiliki bangku panjang.
Mereka semua berjalan menuju meja yang berada di bagian belakang Cafe.
Arun duduk bersebelahan dengan Akbar sedangkan Dimas dan Erik duduk didepannya, "sebelum kalian ngomong, gue mau ngomong dulu" ucap Arun.
Mereka bertiga langsung menatap penuh atensi pada Arun, "kayaknya kalian salah orang, kalau harus libatin gue dalam masalah ini" ucap Arun.
"Kita bukan mau melibatkan lo, kita disini mau minta tolong sama lo. Lo penolong kita Ru" balas Dimas.
"Gue gak bisa ngelakuin apa-apa" Arun mulai meyakinkan teman-temannya.
"Kita pernah satu kerjaan Run" ujar Akbar.
"Tapi ini bukan masalah yang mudah. Dan gue juga udah bukan bagian dari Cafe ini lagi, gue gak ada hak" jelas Arun.
"Makanya lo kerja lagi disini" ucap Erik.
Arun menyugarkan rambut depannya ke belakang. Pertanda dirinya mulai frustasi akan situasinya, "gue gak bisa bang" ucap Arun dengan pelan.
"Kenapa? Lo gak mau bantuin kita semua. Lo gak liat tadi didepan, Cafe sepi Run. Ini udah terlalu lama" ujar Dimas.
"Hidup kita semua tergantung Cafe Run" ujar Erik yang kini terlihat sisi murung dalam dirinya.
"Tolong Run" ucap Akbar.
Arun menghela napas, "kehadiran gue juga gak bisa menjamin Cafe bakal rame. Gue bukan hoki nya Cafe ini bang" Arun mencoba memberi penjelasan.
Sebenarnya Arun ingin kembali bergabung bersama yang lain, namun disisi lain Arun merasa ini akan menjadi masalah yang rumit nantinya.
Lama saling diam, semua larut dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga tiba-tiba suara membuat mereka semua menatap ke arah sumber suara.
"Kalian meeting tanpa saya?"
Arun yang mendengar suara itu langsung mengangkat kepalanya namun dengan ragu menatap kearah sumber suara, "pak Bio" ujar Akbar.
Dimas dan Erik langsung bangun dari duduknya lalu berdiri menghadap Bio, "pak, itu ..." ucapan Dimas terpotong saat melihat Bio mengambil duduk di tepat di hadapan Arun yang masih duduk sambil melihatnya.
"Gimanapun juga saya harus ikut andil, lanjutin" ucap Bio.
Erik langsung menyenggol Dimas, "apa?" tanya Dimas pada Erik.
"Itu kok gitu?" bisik Erik sambil menunjuk bosnya.
Mereka menyaksikan Bio menatap Arun dengan intens, sedangkan Arun sudah sejak tadi memutuskan pandangannya pada Bio. Sangat terlihat Arun tidak nyaman dengan suasana saat ini.
Erik yang akan duduk kembali harus rela menahan bokongnya untuk menempel pada kursi karena Bio kembali bersuara, "buatin minuman dulu buat semuanya, masa ada meeting gak ada air minum sama sekali" ujar Bio.
Akbar bisa merasakan Arun yang duduk dengan tidak nyaman. Akbar ikut menatap Bio yang masih menatap Arun meski kini Arun sudah menundukan kepalanya.
"Kenapa kamu jadi pendiam?" tanya Bio.
Arun langsung mengangkat kepalanya dan menatap Bio dengan ekspresi bingung, "maksud bapak apa ya?" bukan Arun melainkan Akbar yang mengatakan itu.
Bio langsung mengalihkan pandangannya pada Akbar begitupun dengan Arun yang ikut menatap Akbar dari samping.
"Arun. Waktu pertama kali ketemu saya, dia begitu penuh keberanian tapi kenapa sekarang seperti orang ketakutan" jelas Bio.
"Maaf pak Bio kalo saya meninggalkan kesan buruk terhadap bapak. Tapi sepertinya bapak salah, saya tidak pernah takut pada siapapun" balas Arun penuh penekanan.
Bio tersenyum penuh arti pada Arun. Ini lah percakapan mereka semenjak mereka berdua saling diam.
"Ini minumannya" ucap Erik sambil menyodorkan minuman tersebut pada masing-masing mereka.
Erik dan Dimas kembali duduk dan saat ini seperti pertemuan yang sangat resmi begitu tegang dan tiba-tiba semuanya sungkan untuk memulai percakapan lebih dulu.
"Jadi?" tanya Bio setelah menyedot minumannya.
"Cafe ini harus terima Arun lagi sebagai karyawan pak" ucap Dimas.
"Bang!" tegur Arun sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, yang saya mau cuma satu hal. Itu akan membawa perubahan pada Cafe" ujar Bio.
"Maaf pak, ada yang harus saya luruskan. Saya tidak bisa menjadi karyawan Cafe lagi dan masalah ini gak akan terselesaikan meskipun saya kembali bekerja disini" jelas Arun mencoba keluar dari permasalahan ini.
"Kenapa mereka bertiga yakin kalo kamu bisa?" tanya Bio.
Arun menggelengkan kepala, "mereka salah paham".
Arun bangun dari duduknya, "saya kira cukup, saya permisi" pamit Arun.
"Tunggu" Bio mencegah Arun untuk meninggalkan tempat ini.
Arun memejamkan matanya sambil mengepalkan kedua jari-jari tangannya sambil terus coba untuk sabar dan tidak membuat kecurigaan yang terlalu menonjol karena itu akan membuat mereka semua mengetahui keadaan yang sebenarnya.
"Saya percaya pada karyawan saya. Saya yakin kamu bisa, Arun" ucap Bio dengan penuh keyakinan.
"Pak! Saya mohon jangan mempersulit hidup saya. Mau bapak yakin seratus persen pun, saya tetap gak bisa!" Arun mulai terpancing emosinya.
"Saya akan memberikan apapun yang kamu mau, dengan syarat kamu mau kembali ke Cafe ini dan membuat Cafe seperti dulu lagi" ucap Bio memberikan tawaran.
"Apapun?" tanya Arun sambil membalikan tubuhnya menghadap Bio.
Bio menganggukan kepala, "saya bisa pegang ucapan bapak?" tanya Arun menyakinkan.
"Mereka bertiga saksinya" ucap Bio sambil melihat kearah Akbar, Erik, serta Dimas secara bersamaan.
Akbar meraih pergelangan tangan Arun, "kalo kamu merasa gak nyaman, gak usah Run" ucap Akbar.
Bio yang melihat hal itu hanya bisa membuang pandangannya ke arah lain, "gue mau" ucap Arun dengan penuh keyakinan.
Mendengar hal itu, Bio langsung menatap Arun yang juga kini tengah menatapnya.
Tbc.
Ingetin janjinya Bio gaisss!