NovelToon NovelToon
Hamil Anak Mantan Dinikahi Musuh Bebuyutan

Hamil Anak Mantan Dinikahi Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayamgoreng

Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.

Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.

Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.

Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.

"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Devan kecewa!

Suasana di ruang tamu mansion Alister mendadak mencekam, suhunya seolah merosot drastis akibat aura intimidasi yang dipancarkan oleh Devan.

Melihat ketegangan antara Devan dan Nadia, Ghea tidak akan menyia nyiakan waktu untuk selalu memohon karena dia tau jika Nadia adalah orang yang pemaaf.

Ghea kembali bersujud, menangis dengan histeris. "Nadia... aku mohon, Nadia... tolong aku..." tangis Ghea pecah, suaranya parau penuh keputusasaan yang menyedihkan. "Aku tahu aku jahat, aku wanita menjijikkan yang sudah merusak kebahagiaanmu dulu. Kamu boleh hukum aku, kamu boleh meludahi wajahku sesukamu, Nadia! Tapi aku mohon... tolong bantu aku sekali ini saja..."

Devan mengabaikan suara tangis Ghea yang menyedihkan di depannya, di dalam otaknya hanya terbesit tak habis pikir dengan tingkah Nadia.

Nadia menahan lengan Devan pelan, menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. "Devan... Apakah tidak ada cara untuk meringankan hukuman Arkan? Maksudnya A-aku ingin melupakan masa lalu dan memulai hidup baru dengan mu tanpa menyimpan dendam" jelas Nadia gugup.

Devan berbalik dengan gerakan lambat, menatap Nadia dengan rahang yang mengeras sempurna. Ada kilat kekecewaan dan amarah yang amat jelas di matanya. la sama sekali tidak suka dengan apa yang didengarnya sekarang.

"Nadia, sadar!" bentak Devan dengan suara bariton yang berat, membuat Nadia terjengkang kaget. "Saya sama sekali tidak suka dengan keputusanmu kali ini. Jangan biarkan hatimu yang terlalu luas itu berubah menjadi kenaifan yang menjijikkan! Kamu lupa bagaimana kedua orang ini membuang mu seperti sampah di masa lalu? Kamu lupa bagaimana mereka menginjak-injak harga dirimu dulu?!"

Kata-kata Devan terasa begitu menusuk dan menghujam langsung ke ulu hati Nadia, mengingatkannya pada luka lama. Ghea di bawah sana semakin menangis histeris, meratapi nasibnya yang begitu malang dan patut dikasihani.

"Aku tidak lupa, Devan! Aku ingat setiap detiknya!" balas Nadia dengan suara yang ikut meninggi, air matanya kini mengalir deras. "Tapi aku tidak mau mengotori tangan dan hati kita dengan kebencian saat anak ini lahir! Aku tidak membela kejahatan Arkan, dia tetap harus dipenjara. Tapi tolong... ringankan dendanya agar wanita di depan kita ini tidak hancur seperti ini. Aku mohon, Devan... kali ini saja, dengarkan aku..."

Mendengar kata 'anak kita' dan melihat air mata Nadia yang tumpah karena rasa iba yang teramat luas, kepalan tangan Devan di sisi tubuhnya mengeras hingga memutih. la sangat membenci situasi ini. Logika bisnis dan ego prianya menolak keras untuk memberi ampun pada musuh, namun ia harus dihadapkan pada kerapuhan istrinya.

Setelah perdebatan yang mencekam dan penuh ketegangan, Devan akhirnya membuang napas kasar dengan rahang yang bergemeletuk. la berbalik kasar menghadap Ghea, menatap wanita itu dengan pandangan membunuh yang luar biasa pekat.

"Dengar, Ghea Clarissa. Sumpah demi apa pun, saya sangat membenci keputusan yang diambil istri saya hari ini!" ucap Devan dengan nada suara yang teramat dingin, tajam, dan mengancam hingga membuat bulu kuduk berdiri. "Jika bukan karena memikirkan ketenangan pikiran Nadia yang sedang hamil, saya pastikan kamu dan Arkan membusuk di sel paling gelap sampai tulang kalian hancur tanpa sisa!"

Ghea gemetar hebat, memeluk lututnya di atas lantai, tampak begitu kecil dan tak berdaya di hadapan kemurkaan sang penguasa Alister Group.

"Tim legal Alister Group akan memotong tuntutan denda Arkan hingga batas maksimal yang masuk akal, hanya agar kamu tidak menjadi gelandangan di jalanan. Tapi jangan pernah bermimpi Arkan bisa keluar dari penjara lebih cepat!" gertak Devan mutlak, suaranya tak menyisakan ruang negosiasi. "Sekarang, angkat kakimu dari rumah saya sebelum saya berubah pikiran dan menyeretmu ke sel yang sama dengannya!"

Ghea yang ketakutan sekaligus dilingkupi rasa syukur yang luar biasa langsung membungkuk sujud berkali-kali ke arah Nadia. "Terima kasih, Nadia... Terima kasih banyak... Maafkan aku..." la segera bangkit dengan tergesa-gesa dan berlari keluar dari mansion dengan tubuh yang masih gemetar hebat.

Setelah pintu utama tertutup rapat, keheningan di ruang tamu itu langsung jatuh, terasa begitu pekat dan menekan. Namun, tidak ada pelukan hangat atau kata-kata penenang yang datang dari Devan seperti biasa jika melihat Nadia menangis.

Nadia melangkah perlahan, mencoba mendekati punggung tegap suaminya. "Devan... maafkan aku. Aku tahu kamu marah karena aku terlalu—"

Nadia menghentikan kalimatnya saat Devan tiba-tiba menoleh ke arahnya. Sepasang mata elang yang biasanya menatapnya dengan pandangan teduh, kini menyorotnya dengan pandangan yang teramat dingin dan dipenuhi kekecewaan mendalam. Tatapan itu begitu asing, membuat jantung Nadia mencelos seketika.

"Kamu pikir ini hanya soal saya marah, Nadia?" tanya Devan, suaranya terdengar sangat rendah namun bergetar menahan gejolak emosi. "Tidak. Saya kecewa. Sangat kecewa dengan jalan pikiranmu."

Nadia terpaku di tempatnya, menatap Devan dengan mata yang kembali berkaca-kaca. "Devan, aku hanya tidak ingin hidup dalam dendam a-aku ha..."

Devan mengangkat tangannya, mengisyaratkan untuk Nadia berhenti berbicara. "Saya nggak peduli dengan penjelasan mu. Tapi saya sungguh nggak bisa berpikir kenapa dengan ringannya kamu mau memaafkan mereka?!" potong Devan tajam "Oke jika memaafkan, saya masih bisa toleransi. Tapi meringankan tuntutan Arkan..?" Devan geleng geleng kepala sembari tertawa geli.

"Kamu bodoh atau emang dasarnya saja tolol"

Nadia terdiam seketika mendengar kata kata kasar Devan, setitik air mata luruh tanpa bisa Nadia tahan. Kalimat itu terasa begitu sakit bagai pukulan palu Godam hingga membuat dada Nadia terasa sesak.

"Saya memeras otak, menggunakan seluruh kuasa dan hukum yang saya punya untuk memastikan orang-orang yang pernah membuang mu mendapatkan balasan setimpal. Saya melakukan semua itu agar tidak ada lagi yang berani merendahkan mu!"

Devan melangkah mundur, sengaja menciptakan jarak yang lebar di antara mereka berdua. Senyum sinis dan tatapan kecewa langsung menghunus mata Nadia.

"Tapi hari ini, kamu membuktikan bahwa semua perlindungan yang saya bangun itu sia-sia. Kamu dengan mudahnya luluh hanya karena air mata palsu dari wanita itu. Kamu lebih memilih mengasihani musuhmu daripada menghargai posisi saya sebagai suamimu" cecar Devan tanpa ampun, menyudutkan Nadia dalam rasa bersalah yang teramat besar.

Nadia menggeleng tak setuju."Bukan begitu, Devan... Aku menghargaimu, sungguh. Aku hanya memikirkan anak kita..." cicit Nadia dengan air mata yang mulai menetes deras.

"Jangan gunakan anak kita sebagai alasan atas kelemahanmu!. Saya tidak akan membiarkan anak saya tumbuh menjadi manusia naif yang membiarkan dirinya diinjak-injak oleh orang lain!" potong Devan mutlak, benar-benar menutup pintu komunikasi.

Pria itu berbalik, melangkah kasar menuju meja sudut ruang tamu dan menyambar kunci mobilnya dengan sekali sentakan. la bahkan tidak menoleh lagi ke arah Nadia yang berdiri gemetar dengan tangis yang tertahan.

"Saya butuh waktu sendiri. Berada di dekatmu saat ini hanya membuat saya sadar... sekeras apa pun saya mencoba menjadi perisaimu, semuanya tidak akan pernah berguna kalau kamu sendiri yang selalu memilih untuk terluka" ucap Devan dingin.

Bruk!

Pintu utama mansion ditutup dengan bantingan yang cukup keras, menyisakan bunyi gema yang memekakkan telinga di dalam ruangan yang luas itu. Devan pergi, meninggalkan mansion dengan rasa kecewa yang mendalam.

Nadia perlahan merosot, duduk bersimpuh di atas lantai marmer tempat Ghea menangis tadi. la memeluk perutnya sendiri yang tidak lagi rata itu, menangis tersedu-sedu di tengah keheningan ruang tamu yang mendadak terasa begitu dingin dan asing. Kebaikan hatinya yang teramat luas pagi ini justru telah menorehkan luka baru dan membentangkan jarak yang teramat jauh di antara dirinya dan Devan.

★★★

Yah.. Aku malah ketiduran tadi malam. Padahal niatnya mau update tengah malam eh malah ketiduran, jadinya kebablasan sampe jam segini 😭. and aku up dua bab langsung aja sama hari ini okey!👍🏼

1
Rita Rita
pelakor selalu menikmati hasil orang lain,dan Arkan sama Ghea menikmati hasil juga dari merampas harta orang
Rita Rita
pokoknya begitu klik langsung lebur,, AQ paling suka gercap,,,
Rita Rita
diri ku mampir, keknya menarik banget alur ceritanya Thor,,
KakLia
canggung bngt yah pak🤭
KakLia: terserah kk aja, kan author adalah penguasa🤣
total 2 replies
Ayamgoreng
wah ad yg komen. oke!! udh ta up satu tuh
Iffanaya 😽
kuy ditunggu lanjutannya kk 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!