Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Lima Belas
"Dek, duduk sini, mas mau bicara." ucap Galih pagi itu setelah anak anaknya pergi.
Bu Soraya dengan enggan melangkah dan duduk berhadapan dengan suaminya.
"Mau bicara apa, lansung aja." ucap bu Soraya tanpa basa basi, dengan wajah datarnya, mungkin rasa hormat bu Soraya benar benar sudah habis untuk suaminya itu.
Pak Galih menatap dalam wajah istrinya yang sibuk membalas pesanan, "Sudah berapa lama ya saya tidak memperhatikan nya, kenapa dia semakin cantik, tidak sekumel biasanya." gumam pak Galih menatap kagum terhadap sang istri.
"Klau hanya mau diam diaman, lebih baik saya menyelesaikan kerjaan saya." ucap bu Soraya bosan menunggu sang suami yang katanya mau bicara, tapi sudah lima menit waktu berlalu pak Galih tidak mengeluarkan kata sepatah kata pun, membuat wanita super sibuk itu kehilangan waktu berharganya.
"Ehhh.... Tunggu dulu, jangan pergi." ucap pak Galih yang sadar dari lamunannya.
Bu Soraya menatap pak Galih dalam diam, dan tanpa minat sedikit pun.
"Dek, kenapa kamu dan anak anak, makin hari makin berubah, mana Soraya mas yang dulu, yang patuh dan hormat sama suami, mana istri mas yang dulu, selalu membuatkan mas kopi dan menyiapkan makan untuk mas." keluh pak Galih tidak sadar dengan kesalahannya, ingin di hargai tapi tidak bisa menghargai orang, ingin menuntut hak lebih tapi lupa dengan tanggung jawab sendiri.
Bu Soraya terkekeh mendengar keluhan suaminya itu, mungkin klau dulu saat suaminya berkata seperti ini, bu Soraya lansung merasa bersalah, lalu minta maaf, namun kali ini, jangankan merasa bersalah, justru bu Soraya terkekeh geli mendengar keluhan suaminya itu, lalu berfikir, "Ternyata aku ini sebodoh ini ya dulunya, makanya gampang sekali di tindas oleh laki medusa ini.
" Berubah ya, ohhh.... Itu bukan berubah seharusnya dari dulu kami harus melakukan hal seperti itu, Apa tadi? di suguhkan kopi ya, dan masakan? hahaha.... Anda ini lucu sekali pak, anda pikir saya ini panti sosial yang memberi orang makan cuma cuma." kekeh bu Soraya sinis, muak sudah wanita itu, dan kali ini biar lah dia keterlaluan, biar laki laki itu bisa berfikir jernih, atau semakin lupa diri.
Pak Galih terperangah, dan melotot tidak percaya dengan ucapan istrinya itu, istrinya benar benar sudah berubah total, tidak ada lagi kata kata lembut dan tatapan hormat, yang terlihat sekarang ini adalah tatapan muak dan ingin menantang siapapun yang ingin melawannya.
"Dek." panggil pak Galih dengan lembut.
"Stop mas, waktu saya susah habis, pergi lah ke rumah ibu mu, minta makan atau kopi di sana, jangan minta di sini, saya saja jualan kudu di bayar orang, situ mau makan cuma cuma, ya sori ya, saya bukan pasti sosial, lagian seluruh gaji mu kan di habiskan oleh ibu dan adik mu, berati dia bisa memberikan apa yang kamu mau, oohhh... Iya pakaian kotor mu, itu ada di dalam kantong, bawa lah ke laundry atau ke rumah ibu mu, di sini tidak ada air, sabun dan tenaga gratis untuk mengerjakannya." ucap bu Soraya pedas, lalu meninggalkan pak Galih yang terpaku dan tidak bisa mengeluarkan suara di ruang tamu itu, bu Soraya berjalan ke warungnya, karena hari ini dia mendapatkan orderan nasi kotak sebanyak 350 box.
"Wahhh.... Ada apa nih, tumben wajahnya berseri gitu." goda bu Rini yang melihat sahabatnya masuk ke dalam warung dengan langkah pasti.
"Barusan aku ngelawan mas Galih, rasanya plong banget dada ku, bodo lah mau di bilang dosa, yang penting aku bisa ngeluarin uneg uneg ku." keluh bu Soraya, namun di wajahnya tidak terlihat rasa bersalah.
"Wahhh.... Bagus itu, biar tau rasa tuh laki medusa." kekeh bu Rini. "Kenapa nggak dari dulu saja kamu ngelawan dia, pasti dia nggak akan berani menelantarkan kalian." ujar bu Rini.
"Ntah lah, mungkin dulu aku berfikir, harus jadi istri yang patuh, dan harus mengabdi sama suami, ternyata itu salah, itu nggak berlaku untuk mas Galih, semakin kita tunduk, semakin di injak injak dan tidak di hargai." ucap bu Soraya.
Tangannya sudah sibuk menggoreng ayam.
"Bu, nasinya sudah masak satu panci." ucap Lina karyawan yang sudah seminggu membantu bu Soraya.
"Ya sudah, lansung salin aja ke dalam baskom, abis itu, masak sepanci lagi." sahut Bu Soraya lembut.
"Baik bu." ucap Lina bergegas melakukan perintah dari bu Soraya, gadis berusia 22th itu lumayan cekatan mengerjakan pekerjaan, dan cepat sekali mengertinya.
Sementara pak Galih di rumah makin uring uringan, dia berdiri bertolak pinggang melihat banyak sekali baju kotornya yang sudah di bungkus dengan dua kantong besar oleh sang istri.
"Sial.... Kenapa perempuan itu hitung hitungan sekali dengan saya sekarang, siapa yang mengajarinya melawan." gerutu pak Galih mengacak rambutnya.
"Haaa.... Istri durhaka, bisa bisanya dia tidak mencucikan pakaian saya." kesal pak Galih, terpaksa lah laki laki itu membawa baju kotor itu kerumah sang ibu.
Sementara bu Rini yang mau masuk ke rumahnya memundurkan langkahnya, dan bersembunyi di barang pohon mangga, lalu mengambil HP nya dan memvidiokan pak Galih yang ke susahan membawa dia kantong pakaian kotor, lalu mengirimnya ke bu Soraya.
"Syukurin loe laki laki medusa, emang enak, itu baru aja baju kotor yang di buang sama teman gue, belum lu yang di suruh tidur di luar." kekeh bu Rini menahan sakit perut karena terlalu lama menahan tawa takut ketahuan sama pak Galih.
Bersambung....
yg bnyyyykkkk doooongggg
hal yang dah gak pernah terjadi sekarang di rasakan lagi. tapi apa semua akan kembali kesemula atau dah terlambat??
gimana galih, anak yang masih kecil aja paham duwit yang kamu kasih tak seberapa, tapi sakit ya luar biasa karena uang itu
kaka mu tak berani nanya, tapi kamy luar biasa berani😘
pucat pasi atau serangan jantung🤭
jangan sampai nyesel nanti