Menjadi seorang anak yatim piatu yang ditinggalkan kedua orang tuanya karena kecelakaan, kini Ayuna Kinanti Pradipta diasuh dan dibesarkan oleh om nya, Davian Robert adik dari Ibu Ayuna.
Biasa tinggal bersama Davian, membuat perasaan Ayuna perlahan berubah, jantung Ayuna bahkan berdebar kencang saat berada di dekat Davian.
Tak bisa lagi menahan perasaannya, Ayuna pun akhirnya mengungkapkannya kepada Davian.
Lantas bagaimana tanggapan Davian saat keponakannya sendiri mengungkapkan cinta padanya?
Akankah Davian menolak perasaan Ayuna atau justru menerimanya?
Ikuti ceritanya yuk di novel berjudul You Are My Sunshine, hanya di Noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Ayuna terus tersenyum sambil melamun menaiki anak tangga menuju kamarnya, dirinya teringat bisikan Winda tadi.
"Sepertinya yang aku lihat Om Davian juga menyukaimu."
"Benarkah? Memangnya apa yang membuat kamu berpikiran seperti itu?"
"Lihat saja tadi, Om Davian itu terlihat seperti cemburu saat Bara duduk di sampingmu dan tadi...so sweet banget tau, saat Om Davian melepaskan kemejanya dan memakaikannya padamu. Coba saja aku…"
"Stop jangan pernah berpikir kau bisa merebut Om Davian dariku," ujar Yuna segera memotong ucapan Winda.
"Ish tidak akan, walaupun aku menyukai pria tampan, tapi Om Davian bukanlah tipeku." Jawab Winda yang membuat Ayuna merasa lega.
Saat Ayuna sedang sibuk dengan pikirannya tiba-tiba…
Bruk
Ayuna mengelus keningnya saat mendadak dia menabrak dada Davian.
"Yuna kamu baik-baik saja?" Tanya Davian panik. "Coba biar Om lihat," tambahnya dan langsung melihat apakah kening keponakannya itu terluka.
"Yuna tidak apa-apa Om," jawab Yuna yang langsung menjauhkan dirinya dari Davian, dia benar-benar grogi saat ini, apalagi melihat yang belum juga memakai bajunya.
Apalagi melihat otot pamannya itu ditambah keringatnya yang membasahi sekujur badan pria itu, terlihat sexy di mata Yuna. Dia lihat sepertinya pamannya itu baru selesai berolahraga, ya di lantai atas, tepat di samping kamar Davian memang terdapat ruangan khusus untuk gym.
Yuna buru-buru menggeleng saat pikiran kotor merasuk ke dalam otaknya.
"Yuna kamu yakin baik-baik saja? Atau mungkin kepala kamu sakit?" Davian tampak khawatir melihat Yuna yang terus menggelengkan kepalanya.
"Hmm iya Om tidak usa khawatir, Yuna baik-baik saja," jawab Yuna.
"Makanya lain kali kalau jalan jangan melamun, bahaya tau, ya sudah Om ke bawah dulu, mau ambil minum," ucap Davian yang kemudian menuruni anak tangga menuju ke dapur.
Yuna hanya mengangguk kemudian segera masuk ke dalam kamar dan segera menutup pintunya. Dia memegang dadanya.
"Gi*la jantungku! Kenapa kau berdebar sekencang ini, untung saja Om Davian tidak mendengarnya, jika sampai hal itu terjadi, pasti rasanya akan malu sekali," gumamnya.
Yuna pun kini mengambil handuk dan pakaian ganti, lalu langsung menuju ke kamar mandi, dirinya memutuskan untuk mandi. Ayuna melepaskan kemeja Davian yang dipakainya. Kemudian menghirup dalam-dalam aroma Davian yang tertinggal disana, kilatan bayangan-bayangan kejadian tadi pun berputar di kepalanya juga bisikan Winda, dan Ayuna tersenyum bo**h memikirkan itu semua.
Dua puluh menit menghabiskan untuk membersihkan diri, kini Yuna pun sudah tampak lebih segar.
Langkah kakinya menuju ke ranjang, kemudian mengambil buku yang selalu di sembunyikannya di bawah bantal dan membawanya menuju ke sofa memilih duduk disana sambil membacanya. Yuna yang akan membaca, menundanya saat mendengar nada pesan masuk dari ponselnya.
Klunting
"Jadi tidak besok?"
Seperti itulah bunyi pesan dari Winda.
"Hmm sorry, sepertinya aku tidak jadi ikut deh, kamu sama Bara saja besok perginya,"
Yuna mengetik itu sebagai balasan dari pesan Winda.
Klunting
"Hmm apa besok Om Davian juga tidak bekerja?"
"Sepertinya iya, makanya aku ingin menghabiskan waktu berdua dengannya, tidak apa-apa kan? Aku akan membuktikan jika yang kamu katakan benar," balas Ayuna.
Klunting
"Baiklah, semoga beruntung, aku tunggu ceritanya nanti di sekolah."
"Oke," jawab Yuna yang juga menjadi pesan terakhir keduanya malam itu.
Yuna pun kemudian duduk bersandar di sofa dan menyandarkan tubuhnya, menaikkan kedua kaki dan melipatnya, kemudian menutupinya dengan bantal. Lalu baru dirilah mulai membaca bukunya.
…
"Kamu jangan terlalu melarang Ayuna seperti tadi, biarkan dia menghabiskan masa remajanya bersama dengan teman-temannya, Kakak tahu kamu ingin menjaga dan melindunginya, tapi bukan berarti kamu bisa mengekang kebebasannya."
Davian yang sudah selesai meneguk air putih yang langsung habis, kini meletakkan gelas kosongnya di atas dispenser.
Davian menghela nafas dan berbalik, menatap wanita yang baru saja selesai berbicara dengannya, karena hanya dirinyalah yang memang ada di tempat itu.
Davian berjalan melewati wanita itu begitu saja, melangkah hingga kemudian dia menarik kursi di meja makan dan duduk.
"Kak yang aku lakukan, demi kebaikan Yuna."
"Kakak tahu tapi…"
"Kakak tahu apa yang Yuna lakukan sebelumnya? Kakak bahkan tidak tahu apa-apa kan? Jadi biarkan aku melakukan apa yang ingin aku lakukan, karena aku melakukan itu bukan tanpa alasan," kata Davian menatap Ana.
Ana hanya terdiam, dia memang tidak tahu apa yang biasanya Ayuna lakukan, tapi dia seperti itu karena kasihan melihat Yuna yang sepertinya tidak sebebas anak seusianya saja. Dia takut, nantinya Ayuna sampai tidak tahu caranya bergaul karena hanya terus berdiam diri di rumah. Dia tidak ingin Ayuna sampai kehilangan masa remajanya karena Davian terlalu membatasi apa yang dilakukan Ayuna.
"Jadi kapan Kak Ana akan pulang?" Tanya Davian mengalihkan pembicaraan karena kini hanya kecanggungan yang terjadi di antara keduanya.
"Besok sore," jawab Ana singkat.
"Baiklah, besok sore aku akan mengantar Kakak, dan besok pagi aku harus pergi, ada urusan penting di kantor yang harus aku selesaikan, dan Kakak tidak perlu khawatir tentang Ayuna, karena aku akan mengurusnya dengan baik, Ayuna keponakanku sendiri, dan lagi aku sudah berjanji pada Kak Lena sebelum dirinya pergi, jika aku akan menjaga Yuna sebaik mungkin melebihi diriku sendiri. Dan aku juga tahu maksud Kak Ana baik, tapi aku tahu apa yang terbaik untuk Ayuna karena aku sudah bersamanya bertahun-tahun, Ayuna bahkan mungkin seperti anakku sendiri," jawab Davian panjang lebar.
Davian menarik nafas dan menghembuskannya perlahan apalagi melihat Ana yang hanya diam saja. Dia kemudian bangkit dari duduknya, "Ya sudah, Kakak beristirahatlah!" Katanya sebelumnya dirinya pergi meninggalkan Ana yang kini dalam keheningan.
Davian melangkah menaiki anak tangga masuk ke dalam kamarnya hendak mandi, tubuhnya terasa lengket setelah tadi berolahraga. Tapi saat akan membuka pintu kamarnya, pandangan Davian tertuju pada kamar Ayuna yang pintunya tertutup. Davian kemudian mengurungkan niatnya dan memilih melangkah mendekati kamar Ayuna. Membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya, Yuna tidak ada di ranjangnya? Davian begitu panik hingga dia merasa lega saat melihat jika Ayuna sedang duduk di sofa, sepertinya gadis itu tampak fokus dengan buku di tangannya. Dia kemudian melangkah mendekat dan duduk di samping Yuna yang sepertinya tidak menyadari kedatangannya.
"Ehem, ehem," Davian berdehem dan tersenyum ketika Ayuna menoleh.
"Om? Se...sejak kapan Om disini?" Tanya Yuna gugup, Davian sampai mengernyit bingung dibuatnya, Yuna sudah seperti melihat hantu saja.
"Sudah lima menit yang lalu, dan kamu sepertinya sangat fokus dengan buku itu" jawab Davian sambil menunjuk buku di tangan Ayuna dengan dagunya.
"A…hmm itu...karena Yuna," ucap Yuna menatap buku yang jangan sampai Davian sampai tahu.
"Buku apa yang kau baca hmm?" Tanya Davian yang penasaran, karena Yuna tampak gugup.
"Bu...bukan apa-apa."
"Oh ya? Coba sini om lihat, kata Davian yang ingin melihat buku Yuna tapi dengan cepat Yuna menjauhkannya dan mengangkat tinggi-tinggi.
"Tidak perlu Om, sungguh ini bukan apa-apa."
"Ya makanya itu, sini coba Om lihat," Davian mencoba merebut buku itu dan Yuna kembali menjauhkannya.
Tapi Davian tidak menyerah semudah itu, dia berdiri dan akan merebutnya lagi, tapi tiba-tiba, kakinya tersandung kaki Yuna hingga pria itu kini jatuh di atas tubuh Yuna. Nafas Yuna naik turun dengan cepat, bahkan dia bisa mendengar degup jantungnya sendiri saat ini. Wajahnya dan wajah Davian begitu dekat, bahkan tubuh mereka hampir saja menempel, jika saja Davian tidak memegang pinggiran sofa. Dapat Yuna rasakan hembusan nafas Davian menerpa wajahnya, dan itu membuat Yuna refleks semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Davian.
Apakah cinta baru akan mampu bertahan saat cinta pertama memiliki kenangan dan ruang tersendiri? Cari jawabannya di MY OWN KOREAN DRAMA
Chris McKenzie akan membawa kalian mengarungi indahnya cinta pertama dan bagaimana akhirnya dia dipertemukan dengan cinta baru. Siapa yang akhirnya dapat memenangkan aktris Korea Selatan Christina MacKenzie? Mantan bosnya atau member boyband GuBoy? Well.... kalian harus mengikuti kisahnya agar mengerti.
baru nyimak💪💪💪