Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...
Grizla membalikkan badannya perlahan, melangkah menuju meja rias. Ia duduk di sana, menatap pantulan dirinya di cermin.
Tangan rampingnya membuka laci paling bawah, meraba bagian tersembunyi di balik tumpukan kain, hingga jemarinya menyentuh sebuah ponsel pintar berwarna hitam.
Ia menyalakan layar ponsel itu. Sebuah pesan singkat masuk dari Siska.
"Semua persiapan di gudang bawah tanah sudah selesai, Nyonya Grizla. Tikus utama sudah masuk jebakan. Kami menunggu perintah Anda selanjutnya.”
Grizla mengetik balasan dengan cepat, gerak jarinya begitu tenang namun pasti.
“Biarkan dia menikmati makan malam terakhirnya dengan tenang. Besok pagi, saat dia mengira akan pergi bekerja, bawa dia ke sana.”
Setelah mengirim pesan itu, Grizla menghapusnya secara permanen, mematikan ponsel, dan menyembunyikannya kembali ke tempat semula. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan untuk menetralkan raut wajahnya kembali menjadi Grizla yang lemah lembut.
Dari arah dapur, terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang beradu kasar dengan piring. Antonio tampaknya sengaja membuat kegaduhan untuk meluapkan sisa kekesalannya.
"Grizla! Sini kau!" teriak Antonio dari meja makan.
Grizla segera berdiri dan melangkah keluar kamar. "Iya, Mas? Ada apa?"
Antonio menunjuk piringnya yang sudah kosong dengan ujung garpu. "Sambalnya kurang pedas! Dan kenapa lauknya cuma tempe dan sayur sup hambar begini? Kamu sengaja mau menyiksaku, hah? Aku ini cari uang seharian di luar rumah!"
Grizla berjalan mendekat, lalu berdiri di samping meja makan dengan kepala sedikit tertunduk. "Maaf, Mas. cuma itu yang ada di kulkas mas, dan itu ibu yang belikan."
Antonio mendengus kencang, melempar garpunya ke atas piring hingga menimbulkan suara dentangan yang nyaring. "Alasan! Bilang saja kamu tidak becus mengatur uang. Makanya, untung saja kamu dapat kerjaan baru besok. Jadi isi otakmu itu tidak cuma mikirin cara menghabiskan uangku!"
"Iya, Mas. Besok aku sudah mulai bekerja. Mas tidak perlu khawatir lagi tentang uang belanja," jawab Grizla, suaranya terdengar begitu tulus dan penuh penyesalan di telinga Antonio.
Antonio bangkit dari kursinya, menatap Grizla dengan pandangan penuh kemenangan. "Ingat ya, besok jam tujuh pagi aku sudah harus berangkat. Siapkan sarapan yang layak. Jangan buat mood-ku hancur sebelum ke kantor."
"Baik, Mas. Besok jam tujuh pagi semuanya pasti sudah siap," kata Grizla.
"Bagus," sahut Antonio ketus. Ia melenggang pergi meninggalkan dapur, menuju ruang tengah untuk menonton televisi, merasa bahwa dirinya telah berhasil memegang kendali penuh atas istrinya.
Grizla menatap piring kotor di atas meja. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman misterius.
"Tentu saja, Antonio. Besok jam tujuh pagi, semua hal yang 'layak' untukmu sudah siap menanti," bisik Grizla dengan suara pelan di dapur.
Bukan karena ia takut, tapi ia ingin perlahan menyiksa Antonio yang perlahan menganggap pembantu.
Tak lama kemudian Widya dan Tari pulang, mereka terlihat kelelahan.
"Ibu sama Tari dari mana aja?" tanya Antonio menatap mereka dengan wajah masam.
"Pergi makan di luar lah, apalagi? Di rumah nggak ada yang bisa di makan," kata Widya.
Antonio berdecak gemas, dadanya makin sesak menahan dongkol. "Lho, kok malah makan di luar sih, Bu? Duit dari mana? Harusnya hemat, kondisi kantor Antonio lagi nggak stabil!"
Widya melepas tas sandangnya dengan kasar lalu membanting tubuhnya ke sofa empuk di ruang tamu. "Aduh, Antonio! Kamu ini bukannya menyambut ibu sama adikmu yang kecapekan, malah ngomel-ngomel! Harusnya kamu malu, masa rumah tangga cuma bisa menyajikan tempe goreng hambar?!"
Tari ikut menyahut sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang gerah. "Iya, Mas! Mbak Grizla itu niat masak apa nggak sih? Masa kita disuruh makan makanan kelas bawah begitu? Ya jelas Ibu sama Tari pilih ke restoran depan kompleks lah. Soal bayar? Ya pake kartu kredit Mas Antonio, kan masih bisa digesek!"
"Apa?! Kartu kreditku?!" Antonio melotot, memegang dadanya yang mendadak rasanya ingin meledak. "Tari! Mas itu lagi dipotong gaji lima puluh persen! Kenapa malah pakai kartu kredit?!"
"Ya lagian salah Mbak Grizla!" serobot Widya tidak mau kalah. "Coba kalau istri kamu itu pinter masak dan pinter ngelayanin suami sama mertua, kita nggak bakal keluar uang! Punya istri kok pembawa sial, nggak ada gunanya!"
Dari balik sekat dapur, Grizla muncul membawa tiga gelas air putih di atas nampan. Langkah kakinya begitu tenang, wajahnya berhias senyum santun yang sangat rapi.
"Maafkan Grizla, Ibu, Tari... Uang belanja dari Mas Antonio memang sudah habis," ucap Grizla lirih sambil meletakkan gelas-gelas itu di meja. "Tapi Ibu sama Tari tidak usah khawatir lagi. Mulai besok Grizla sudah kerja. Gajinya tiga juta."
Tari langsung tertawa menyemburkan cemoohan. " Tiga juta?! Haha! Gaya betul! Kerja apaan Mbak? Jadi tukang sapu di jalanan?!"
"Hush, Tari, jangan begitu," potong Widya, meski matanya menatap Grizla dengan cemoohan yang sama. Ia melirik Antonio. " Tapi lumayanlah, Antonio. Dari pada dia cuma jadi benalu di rumah ini, tiga juta itu suruh dia serahkan semua ke kamu buat bayar tagihan kartu kredit tadi."
"Iya, Bu. Tadi Antonio sudah atur," kata Antonio, mencoba mengembalikan gengsinya di hadapan ibu dan adiknya. Ia menatap Grizla dengan dagu terangkat. "Uang gaji kamu buat cicilan rumah dan bayar utang-utang. Awas saja kalau kamu berani pegang uang itu sendiri."
"Iya, Mas. Apa pun yang Mas Antonio dan Ibu minta, Grizla bakal turuti," jawab Grizla menunduk dalam-dalam.
Namun di balik kepala yang menunduk itu, mata Grizla berkilat dingin. "Nikmatilah sisa kesombongan kalian," batin Grizla. "Karena besok, jangankan kartu kredit... tempat tinggal pun kalian tak akan punya lagi."
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..