Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAMES DAN FANYA
KRAAAK
"AAAAKKKKKKHHHH!"
Suara tulang leher yang patah terdengar begitu jelas di keheningan malam, tanpa memberi kesempatan untuk melawan, James melepaskan energi kegelapannya, membuat tubuh vampir liar itu langsung terbakar oleh api hitam dan berubah menjadi tumpukan debu dalam hitungan detik.
Pemberontak yang satu lagi langsung mematung, wajahnya yang pucat kini berubah menjadi penuh ketakutan yang luar biasa setelah menyadari siapa pria yang ada di hadapannya saat ini.
"K-kau... Tangan Kanan Yang Mulia Raja Alexander..." bisik pemberontak itu dengan lutut yang mulai lemas. Dia langsung berbalik arah untuk melarikan diri.
"Mau lari ke mana, Hem?" tanya James yang mendadak sudah berdiri tepat di depan pemberontak tersebut, menghalangi jalannya.
Sebelum makhluk itu sempat berteriak, James sudah lebih dulu menusukkan tangan kirinya tepat ke arah dada kiri pemberontak tersebut, mencabut jantungnya dengan sekali gerakan yang sangat rapi.
GREKKK
Tubuh kedua pun hancur menjadi abu, menyisakan James yang kini sibuk mengibas-ngibas kan tangannya dari debu-debu hitam, dan sialnya sudut bibir nya sedikit terluka, tapi itu bukan masalah besar, nanti juga akan hilang sendiri.
"Mereka ini mengotori jasku saja, padahal jas ini baru aku laundry kemarin," gerutu James kesal sambil menatap sisa abu di lantai parkiran.
James mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, mengelap tangannya dengan bersih.
Kembali ke dalam ruang kerja Dokter Fanya, dia masih duduk terpaku di kursinya, sedari tadi pandangannya tidak lepas dari botol kecil berisi cairan merah di atas mejanya.
Kamar praktiknya terasa begitu sunyi, hanya ada suara detak jarum jam yang seolah menekan batinnya untuk segera mengambil keputusan.
"Aaaakkkkhhh apa aku harus mempercayai pria aneh tadi," gumam Fanya mengacak rambutnya frustrasi.
Fanya meraih botol tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar, dia memperhatikan bagaimana cairan di dalamnya bergerak seolah memiliki kehidupannya sendiri.
"Kalau ini racun, pria tadi pasti sudah membunuhku dari tadi untuk menghilangkan jejak," gumam Fanya pelan.
Dia mengingat kembali semua gejala aneh yang dialami Naya akhir-akhir ini.
Nafsu makan yang melonjak drastis, perubahan fisik yang terlalu cepat, hingga rasa lelah yang tidak wajar untuk ukuran ibu hamil di trimester pertama.
Tapi mengingat penjelasan pria misterius tadi entah bagaimana justru menjawab semua kejanggalan tersebut.
"Janin itu... menguras energi Naya untuk tumbuh," bisik Fanya pada dirinya sendiri.
Fanya menarik napas dalam-dalam, lalu memasukkan botol kecil itu ke dalam tas kerjanya dengan hati-hati.
Sebagai seorang dokter, dia melanggar kode etik jika memberikan obat yang tidak jelas kandungannya. Namun, sebagai seorang sahabat yang sangat menyayangi Naya, dia tidak punya pilihan lain selain memercayai instingnya demi keselamatan wanita itu.
"Besok aku harus ke penthouse Naya, aku tidak bisa tenang kalau belum memastikan keadaannya sendiri," ucap Fanya dengan tekad yang bulat, lalu bergegas merapikan barang-barangnya untuk segera pulang.
Fanya berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor rumah sakit menuju area parkir.
Langkah kakinya terdengar menggema di keheningan malam yang kian larut, tapi pikirannya masih berkecamuk antara botol misterius di tasnya dan kekhawatirannya pada Naya.
Namun, begitu dia melangkah keluar dari pintu lobi dan tiba di area parkir yang remang-remang, matanya menangkap siluet seorang pria.
Pria itu, James, sedang berdiri di dekat sebuah mobil sedan hitam mewah, sibuk mengusap sudut bibirnya dengan sapu tangan.
"Loh? Kamu belum pulang?" tanya Fanya spontan, menghentikan langkahnya di dekat James.
James menoleh, matanya yang sempat berkilat merah kini sudah kembali menjadi hitam kelam, tenang seolah tidak terjadi pembantaian dua vampir pemberontak beberapa detik yang lalu di sudut lain parkiran itu.
"Ada beberapa masalah yang harus saya bersihkan dulu tadi, Dokter," jawab James santai, memasukkan sapu tangannya kembali ke dalam saku jas.
Fanya mengernyitkan dahi nya, melangkah mendekat, ke arah James.
Barulah Fanya menyadari ada sesuatu yang salah pada wajah pria misterius itu, di sudut bibir kanan James, terdapat goresan luka kecil yang masih mengeluarkan sedikit darah segar.
Luka itu sebenarnya akibat hantaman kuku pemberontak yang sempat menyerempetnya sebelum James mematahkan leher makhluk tersebut.
"Eh, sudut bibir kamu berdarah itu. Kamu habis berantem ya?" tanya Fanya, nada suaranya berubah menjadi nada protektif khas seorang dokter.
James menyentuh sudut bibirnya sendiri, lalu menatap jarinya yang terkena noda darah. Baginya, luka sekecil ini akan sembuh total dalam waktu kurang dari jam menit tanpa bekas.
"Ah, ini? Bukan apa-apa, hanya tergores ranting pohon tadi," alibi James asal-asalan, malas menjelaskan kalau dia habis bertarung dengan kaumnya sendiri.
"Ranting pohon gimana? Jelas-jelas itu luka robek kecil. Sini, ikut saya ke IGD atau balik ke ruangan saya, luka mu harus dibersihin itu, nanti infeksi," perintah Fanya tegas, sambil reflek memegang pergelangan tangan James untuk menariknya kembali ke dalam rumah sakit.
Deg
Begitu kulit hangat Fanya bersentuhan dengan kulit tangannya, James mendadak mematung.
Ada sengatan aneh yang belum pernah dia rasakan selama ratusan tahun hidup sebagai vampir.
Bau harum tubuh Fanya, kombinasi antara wangi vanila dan aroma antiseptik rumah sakit, mendadak menyerbu indra penciumannya yang tajam.
"Sial, bau gadis manusia ini kenapa bisa senyaman ini?" batin James, mengeram rendah.
"Tidak perlu, Dokter. Saya bisa mengurusnya sendiri," tolak James, mencoba menarik tangannya perlahan.
"Jangan keras kepala Tuan, kamu sudah datang malam malam begini demi sahabat saya, anggap saja ini sebagai tanda terima kasih Saya pada Anda. Ayo," potong Fanya tidak mau dibantah, menarik James menuju sebuah bangku taman di dekat area parkir yang diterangi lampu jalan.
James akhirnya pasrah dan mengikuti langkah Fanya, dia duduk di bangku itu sementara Fanya membuka tas kerjanya, mengeluarkan sebotol kecil alkohol pembersih, kapas, dan plaster penutup luka yang selalu dia bawa di dalam tas daruratnya.
Fanya mengambil posisi berdiri di depan James yang sedang duduk.
Karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup jauh berbeda, posisi ini membuat wajah mereka menjadi sejajar dan sangat dekat.
"Agak perih sedikit ya, tahan," ucap Fanya lembut sambil menuangkan sedikit cairan antiseptik ke kapas.
Fanya perlahan menempelkan kapas itu ke sudut bibir James, matanya fokus penuh pada luka kecil tersebut, jemari tangannya yang lentik memegang dagu James dengan hati-hati agar pria itu tidak banyak bergerak.
"Dokter selalu seberani ini pada orang asing?" tanya James tiba-tiba, suara beratnya terdengar sangat dekat di telinga Fanya.
Dari jarak sedekat ini, James bisa melihat dengan jelas bulu mata Fanya yang lentik, serta binar matanya yang lelah namun memancarkan ketulusan.