NovelToon NovelToon
PRINCESS AZURA

PRINCESS AZURA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:156k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.

Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?

Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa yang tersisa

Azura cepat-cepat menyembunyikan kertas itu, namun terlambat, sepertinya Xavier sudah melihatnya. Buktinya mata pria itu terus terpaku pada apa yang dia sembunyikan. Saat lelaki itu mengganti posisinya dari berbaring menjadi duduk dengan posisi yang siap mengambil ancang-ancang, Azura ikut waspada.

Ia mundur selangkah. Tepat ketika Xavier berdiri dan melangkah mendekatinya dengan kecepatan yang luar biasa, Azura langsung mengisi kertas tersebut ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.

Tak berhenti sampai di situ saja, Xavier nekat memasukkan tangannya ke dalam mulut Azura untuk merampas kertas yang mungkin saja belum habis di makan semuanya.

Azura meronta sekuat tenaga, matanya membelalak karena kaget dan sakit. Ia berusaha menutup mulutnya, berusaha menelan gumpalan itu secepat mungkin, namun kekuatan Xavier jauh di atas dirinya. Jari-jari kasar dan keras itu mengorek masuk, menyentuh lidah dan langit-langit mulutnya, membuatnya mual dan hampir muntah. Air mata keluar dari sudut matanya karena hampir muntah.

"Apa isi surat itu?! Siapa yang mengirimnya?!" desis Xavier, wajahnya begitu dekat hingga napas panasnya menerpa wajah Azura. Ia semakin memaksa, jari-jarinya menyelam lebih dalam, berusaha mencari sisa kertas yang sudah hancur lebur dan bercampur air liur.

"Sakit... lepaskan..." rintih Azura di sela-sela sumbatan mulutnya, tubuhnya gemetar hebat. Demi putranya ia tidak apa-apa diperlakukan seperti penjahat yang baru tertangkap basah.

Akhirnya, Xavier menarik tangannya kembali. Di ujung jarinya hanya tersisa sedikit sisa serat kertas yang sudah tak berbentuk lagi dan tak mungkin dibaca. Ia menatap jari-jarinya itu dengan tatapan membunuh, lalu menatap Azura yang terhuyung mundur sambil terbatuk-batuk hebat, air mata dan air liur bercampur di wajahnya.

"Kau memang tak bisa dipercaya," ucap Xavier dingin, suaranya penuh kekecewaan yang bercampur amarah meluap. Ia mengusap tangannya ke kain jubahnya seolah baru saja memegang sesuatu yang menjijikkan.

"Selalu saja ada rahasia, selalu saja ada pesan rahasia. Kau pikir dengan memakannya, kau bisa menyembunyikan segala niat jahatmu dariku?"

Azura menekan dadanya yang sesak, napasnya tersengal. Ia menatap pria itu dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara rasa takut, sakit hati, dan keputusasaan yang mendalam. Ia tahu, momen ini semakin membuat keyakinan Xavier bahwa ia adalah wanita licik. Harapan untuk dipercaya semakin menjauh, namun ia tak menyesal. Asalkan isi pesan itu tidak diketahui Xavier atau siapa pun, asalkan nyawa putranya masih bisa ia jaga, ia rela diperlakukan seburuk apa pun.

"Itu... bukan apa-apa..." jawabnya lirih, suaranya parau dan menyakitkan.

"Hanya... pesan tak penting."

Xavier mendengus keras, mendekat lagi hingga wajah mereka hampir bersentuhan.

"Kau pikir aku bodoh? Kau sampai menelan habis kertas itu dan masih bilang pesan tidak penting? Huh! Aku bukan laki-laki bisa kau bodohi. Katakan, kau dan penguasa-penguasa sialan itu sedang bersekutu membunuhku kan?"

Xavier maju terus hingga tubuh Azura menubruk dinding kamar. Pria itu menekan tubuh mungil Azura.

"Kau ingin membunuhku, hm?"

Azura menggeleng. Xavier tersenyum miring. Tangannya bergerak kasar mencengkeram rahang Azura, memaksanya mendongak agar menatap lurus ke arahnya.

"Surat itu pasti berisi perintah baru, bukan? Langkah apa yang harus diambil selanjutnya? Kapan waktu yang tepat untuk menghabisiku? Katakan padaku, seberapa mahalkah harga nyawaku di matamu dan para penguasa itu?"

"Terserah kau percaya atau tidak, tapi dari awal aku tidak pernah ingin menyakitimu." ucap Azura.

Xavier mendengus.

"Tidak pernah ingin menyakitiku? Tapi kau tetap memanfaatkanku, itu yang namanya tidak pernah ingin menyakiti? Kau berlagak seperti wanita lemah yang butuh pertolongan, berlagak punya trauma yang bahkan lihat orang asing saja ketakutan, kau ..."

Ucapan Xavier terjeda beberapa. Dia terlalu emosional. Butuh waktu untuk melanjutkan.

"Kau... Menciptakan Emely yang tidak pernah ada! Memakai wajah polos dan mata berkaca-kaca itu hanya untuk mencuri perhatianku, untuk membuatku luluh, untuk membuatku jatuh dalam pesona dan kepolosanmu!"

Suara Xavier meninggi, bergetar hebat menahan amarah yang meluap-luap, matanya menyala penuh kebencian namun juga ada kilatan rasa sakit yang mendalam, rasa sakit karena merasa telah dikhianati begitu parah. Tangannya semakin kuat mencengkeram rahang Azura, membuat wanita itu menahan rintih di dalam tenggorokannya.

"Menurutmu, apalagi yang masih perlu ku percaya dari penipu ulung seperti dirimu? Apa yang tersisa?"

Tanpa sadar air mata jatuh dari pipi Azura. Air mata yang entah kenapa membuat Xavier makin sakit hati melihatnya. Ia melepas cengkeramannya dari rahang Azura dan membuang muka dari wanita itu.

"Hapus air mata palsumu itu. Aku tidak akan tertipu lagi." katanya berusaha menahan emosi agar tidak meledak-ledak lagi.

Azura cepat-cepat menghapus air matanya. Xavier kembali menatapnya.

"Dengar baik-baik," tatapannya tetap tajam.

"Kalau kau berniat membunuhku, berdoalah agar kau berhasil. Karena jika tidak, bukan hanya kau yang akan aku habisi. Tapi semua orang di Kerajaan ini juga."

Azura tersenyum hambar, dia tidak berkata apa pun sampai saat kata-katanya keluar, giliran Xavier yang terdiam.

"Aku tidak pernah ingin membunuhmu. Kau mau percaya padaku atau tidak, itu urusanmu. Aku tahu aku sangat bersalah padamu. Dan aku akan menebus kesalahanku nanti. Berikan aku waktu. Setelah itu, aku berjanji tidak akan pernah mengganggu kehidupanmu lagi. Aku akan menghilang dari hidupmu selamanya."

Suara Azura terdengar datar namun penuh kepahitan, seolah setiap kata yang keluar itu adalah potongan jiwanya yang ia korbankan satu per satu. Kalimat itu menohok dada Xavier dengan cara yang tak terduga, membuat amarah yang tadi berkobar hebat itu seketika terhenti, digantikan oleh rasa bingung yang bercampur rasa sakit yang aneh.

Menghilang? batin Xavier bergema kencang. Kenapa kalimat itu terdengar begitu menyakitkan di telinganya? Bukankah itu yang selalu ia inginkan? Menyingkirkan wanita penipu ini dari hidupnya selamanya? Tapi saat Azura mengucapkannya sendiri dengan nada pasrah seolah tak ada lagi yang tersisa baginya di dunia ini, Xavier justru merasa seolah ada bagian dari dirinya yang akan ikut hancur bersamaan dengan kepergian wanita itu.

Ia menatap wajah pucat di hadapannya, mencari jejak kebohongan, mencari tanda-tanda sandiwara seperti biasa. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan mata yang kosong, lelah, dan penuh keputusasaan yang nyata, bukan kepura-puraan.

"Menghilang?" ulang Xavier pelan, suaranya serak dan berat.

"Kau pikir sesederhana itu? Setelah kau mengacak-acak seluruh hidupku, setelah kau membuatku menjadi seperti orang bodoh karena percaya padamu ... kau pikir kau bisa pergi begitu saja?"

Xavier melangkah mendekat lagi, jaraknya begitu dekat hingga napas mereka saling bersentuhan, namun kali ini tak ada lagi kekerasan, hanya ada ketegangan.

"Jangan bermimpi, Azura. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun, dan aku tidak akan membiarkanmu menghilang sampai aku mendapatkan semua jawaban dan pembalasan yang pantas kau terima. Kau milikku, entah kau sebagai istriku atau sebagai tahananku. Sampai aku memutuskan, kau akan tetap ada di sini, di bawah pengawasanku, membayar setiap kebohongan yang pernah kau buat... bahkan jika itu berarti aku harus mengikatmu seumur hidup. Jadi, teruslah berakting jadi istriku yang baik."

Setelah mengatakan itu, Xavier kembali naik ke kasur, meninggalkan Azura yang masih berdiri dengan wajah yang benar-benar kelelahan.

1
Bunda Dzi'3
xavier Pasti datang yaa kaa Mae...
kan ga ada yg bisa kendalikan Xavier di kerjaan Utara skalipun...
ayooo xavier bantu Azura&Orion😭
sr
huaaa tambah lgi thorr mmpung lgi libur gregetan😭
Vie
apakah orion itu sebenarnya adalah anaknya pangeran Xavier gitu? karena dulu pangeran wessel pernah heran mendengar Xavier menyebut dirinya mandul??? iiihhhh plot twist banget deh....
Syifa Azhar
Orion jangan takut mama dan kak roel pasti akan melindungi mu.azura jangan takut sama selir Evelin dan ayah tirimu karena mereka tanpa kamu gak ada artinya apa-apa.kekuasaan cuma menumpang aja sok berkuasa, tunjukan pada mereka kamulah pemilik kerajaan Utara sesungguhnya 💪💪
itin
maju kena mundur kena hidupnya azura saat ini
Nandi Ni
Semoga Xavier mata dan hati serta pikirannya terbuka,ttg kesusahan,kesakitan dan derita Azura,sehingga bisa menolong keluar dr penderitaan itu
Nandi Ni
kasihan sekali...hanya demi kekuasaan nilai kekelyargaan diabaikan,rakus.
Seorang ibu tdk akan rela,anak disakiti dan telantarkan,sungguh biadab mereka.
Hindra Cechen
jgn cuma 2 bab thorrrr
Hanima
👍👍💪
partini
Azura harusnya belajar bela diri juga lah aihhhh jaman bahela putri" kan diajari memanah dan bertarung
ga semua duduk manis
mars
xazier hrus dtg dan bawa pergi azura dan putranya biar terkuak semua pasti itu anak xazier. ayo lnjut ka
Vie
yeeee... go... azura .... go... lawan semua ketidakadilan itu, sudah saatnya kamu bangun dan berdiri tegak tanpa rasa takut dihatimu.... kuatkan hatimu demi anak dan juga masa depanmu.... tenang saja, karena xavier pasti cepat atau lambat akan tau semua kebenaranya, dan dia akan membelamu juga anakmu kalau dia sudah tau semua kebenaranya ...
🌿🌺WINA🌸🌿
Kasian orion sangat menderita masih kecil sangat ketakutan, parahnya lagi gak dikasih makan dan minum sampai kurus lagi sakit demam... evelyn sangat kejam banget memperlakukan anak kecil sampai ketakutan dan trauma...

azura akan berusaha bawa orion pergi kasian anaknya sangat menderita, hati seorang ibu hancur melihat anaknya disiksa...putri azura akan berjuang membebaskan anaknya dan membawa pergi, minta bantuan pangeran xavier zura sebaiknya jujur, pangeran xavier hatinya sangat baik pasti akan membantu menolong anakmu...
faridah ida
semoga Xavier datang ini ...
faridah ida
anak kamu di giniin kamu harus bales Azura , tetutama sama selir dan ayah.tiri kamu , kalau bisa kasih racun mereka semua ...
faridah ida
bawa aja anak kamu sama kamu Azura , nanti kamu kelasin ke Xavier , biar Xavier tahu dan bisa bantu kamu nanti ..
aroem
bagus
🌿🌺WINA🌸🌿
Gregetan sama putri azura gak mau jujur sama pangeran xavier, klo junur dan terbuka pamgeran xavier pasti akan bantu bebasin anaknya azura...

kasian anaknya disiksa dan azura diperlakukan kasar sama xavier, pangeran xavier juga seharusnya selidiki azura secara diam-diam apa yg disembunyikan azura...
darpadai anaknya disiksa terus dan azura diancam akan sebaiknya cerita jujur, jangan disembunyikan terus kebenarannya... kerajaan utara penuh orang jahat dan licik...
pasti pageran xavier bisa bantu bebasin bawa anaknya zura kerajaan barat pasti aman banget....
......bunga
❤️
Atalia
kasian banget ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!