Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaga Mata Lo
Di dalam kamar, Reza dan Arvin sedang bersiap-siap memasukkan baju ganti ke dalam tas punggung mereka. Arvin yang sedang merapikan jaketnya berpura-pura bertanya dengan nada santai.
"Itu tante lo... umur berapa emang, Ja?"
Reza menoleh sekilas. "Kalau gak salah 25 atau 26, lupa gue. Sekitar segituanlah. Kenapa? Kelihatan muda, kan, dia?"
"Iya," jawab Arvin jujur. "Gue kaget aja, kirain siapa tadi yang tiba-tiba loncat gitu."
Reza terkekeh sambil menyampirkan tasnya. "Tante gue itu emang agak gila, suka absurd gitu anaknya. Sorry, ya, atas kelakuannya tadi pagi."
Arvin hanya mengangguk kecil, memaklumi. "Tapi, gapapa kan tante gue ikut ke curug?" tanya Reza memastikan.
"Ya gapapa, seru juga kan kalau rame. Ya udah, gue kabari yang lain dulu buat kumpul di pom bensin depan," sahut Arvin sambil mengetik pesan di ponselnya.
Setelah semuanya beres, Reza memanggil Karin yang sudah siap di bawah. Mereka bertiga pun melangkah ke luar rumah. Di halaman, Arvin mulai mengeluarkan motor sport-nya dari garasi. Karin yang berdiri di dekat teras hanya diam memperhatikan proporsi tubuh cowok 17 tahun itu dari belakang.
"Suka olahraga, ya?" tanya Karin tiba-tiba, memecah keheningan.
Arvin menoleh, agak terkejut dengan pertanyaan random itu. "Iya. Emangnya kenapa, Tan?"
"Tubuhmu bagus, gak kayak si Eja," puji Karin blak-blakan dengan nada santai khas orang dewasa.
"Tante! Enak aja kalau ngomong!" protes Reza yang baru keluar menutup pintu rumah. "Yang penting gue gak gendut, tau!"
Karin hanya terkekeh melihat keponakannya yang merajuk. Di matanya, Arvin memang memiliki bentuk tubuh yang atletis, meski guratan ototnya masih tampak samar, namanya juga masih anak sekolahan yang masa pertumbuhannya belum maksimal. Tapi tetap saja, untuk ukuran remaja 17 tahun, Arvin terlihat proporsional.
Mereka pun berangkat. Karin mengendarai motor matic-nya sendiri, sedangkan Reza nebeng bersama Arvin.
Begitu tiba di pom bensin depan kompleks, dua motor lain sudah menunggu. Di sana ada Reno, Dito, Fino, dan Bima yang sedang asyik mengobrol.
"Loh, gue kira bakalan berenam, siapa tuh?" tanya Fino saat melihat ada satu motor matic tambahan yang mengiringi Arvin dan Reza.
Reza membuka kaca helmnya. "Tante gue ikut, gapapa ya?"
"Oh, oke deh, boleh," jawab Dito santai mewakili yang lain. Karena Karin memakai masker hitam dan helm, teman-teman Reza tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tanpa buang waktu lama, rombongan itu langsung memacu motor menuju curug.
Satu jam perjalanan berlalu, mereka akhirnya tiba di kawasan wisata curug. Udara pegunungan yang sejuk langsung menyambut. Karin mematikan mesin motornya, membuka helm, lalu turun sambil berkacak pinggang menghirup udara dalam-dalam.
"Wah, enak banget! Seger banget di sini!" serunya riang.
"Tante, bayar tiketnya dulu," kata Reza mengingatkan sambil menunjuk ke arah loket.
Karin langsung melenggang ke loket tiket mendahului anak-anak remaja itu. "Mbak, tiketnya berapa semuanya?" tanya Karin pada petugas penjaga.
"Untuk 7 orang ditambah parkir motor, totalnya jadi seratus lima puluh ribu rupiah, Mbak," sebut si penjaga loket.
Karin langsung mengeluarkan dompetnya dan membayar lunas seluruh total tiket mereka tanpa ragu. Melihat hal itu, Dito dan Reno buru-buru menghampiri Karin sambil merogoh saku celana.
"Nih, Tante, uang ganti tiket kami," ucap Dito menyodorkan beberapa lembar uang.
Karin mengibaskan tangannya sambil tersenyum di balik masker. "Gak usah, gapapa. Tante yang bayar, anggap aja Tante lagi traktir kalian."
Arvin yang memperhatikan adegan itu dari jarak dekat diam-diam menyunggingkan senyum di balik helmnya. Ada rasa hangat melihat bagaimana Karin memperlakukan teman-teman keponakannya dengan begitu royal.
Mereka pun berjalan masuk ke area air terjun. Begitu tiba di dekat gemercik air yang deras, Karin langsung melepas helm dan maskernya, membiarkan wajah aslinya terlihat sepenuhnya di bawah sinar matahari.
"Wih, Ja... tante lo cantik juga, ya," bisik Fino ke arah Reza dengan mata agak terkesima.
"Iya lah! Tante siapa dulu!" jawab Reza dengan nada bangga yang sengaja dikeras-keraskan.
Segera setelah itu, Karin melepas jaket jeans-nya. Tak tanggung-tanggung, karena kegerahan, dia juga membuka kaos luarnya hingga kini hanya menyisakan tank top ketat berwarna hitam dan celana pendek di atas lutut.
Reza yang melihat hal itu langsung melotot panik. "Tante! Gak malu apa?!" tegur Reza setengah berbisik, mencoba menutupi tubuh tantenya.
Karin mengerutkan kening heran. "Loh, apa salahnya? Kan mau main air? Tante gak bawa baju ganti, jadi pake baju yang emang udah dipakai aja dari rumah. Apa salahnya?" bela Karin cuek.
"Ya tapi kan ini ada temen-temen Eja, Tante..." gumam Reza frustrasi dengan kepolosan tantenya yang kelewat santai.
Sementara itu, di posisi yang agak jauh, Bima menyenggol lengan Arvin sambil berbisik heboh. "Anjir, gila... body-nya mantep banget. Udah nikah belum sih tantenya si Eja itu?"
Arvin yang sejak tadi diam langsung mengalihkan pandangannya ke arah Karin. Menatap lekuk tubuh Karin yang dewasa dari atas sampai bawah, ada debaran aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya. Namun, mendengar bisikan nakal temannya, perasaan Arvin mendadak berubah menjadi tidak nyaman.
"Belum nikah katanya," jawab Arvin singkat, nadanya terdengar sedikit dingin.
"Anjir, gila... kalau kayak gini mah gue juga mau," ucap Bima lagi, matanya masih enggan beralih dari Karin.
Arvin menyikut lengan Bima dengan cukup keras hingga temannya itu mengaduh pelan.
"Jaga mata lo," sahut Arvin tajam, memberikan tatapan memperingatkan agar Bima tidak terus-terusan memandangi Karin dengan tatapan seperti itu.
Gemercik air terjun yang deras langsung membuat suasana menjadi riuh. Reza, Dito, Reno, Fino, dan Bima langsung berlari kecil dan melompat ke bagian air yang dangkal, saling mencipratkan air sambil tertawa lepas.
Karin tersenyum lebar melihat kelakuan remaja-remaja itu. Dia berjalan perlahan, merasakan dinginnya air curug yang menyentuh mata kakinya. Kulitnya yang putih tampak kontras dengan air jernih dan bebatuan gelap di sekitarnya.
Saat Karin sedang asyik menikmati kesegaran air, dia menyadari kalau Arvin tidak ikut bergabung dalam kehebohan anak-anak yang lain. Cowok itu berdiri tidak jauh darinya, hanya merendam kakinya sebatas betis sambil memperhatikan sekeliling atau lebih tepatnya, diam-diam menjaganya.
"Arvin, kok gak ikut gabung sama yang lain?" tanya Karin setengah berteriak agar suaranya tidak tenggelam oleh deru air terjun.
Arvin menoleh, menatap Karin yang rambutnya mulai sedikit basah karena cipratan air. "Gak apa-apa, Tan. Di sini aja, sekalian jagain Tante," jawab Arvin santai, tapi matanya menatap Karin dengan lekat.
Karin terkekeh geli. "Jagain Tante? Tante udah 25 tahun, Vin, bukan anak kecil lagi yang takut hanyut."
"Bukan hanyut karena air," gumam Arvin pelan, hampir tak terdengar.
"Hah? Apa?" Karin mendekat karena kurang dengar.
"Enggak," seru Arvin cepat sambil mengalihkan pandangan, telinganya mendadak sedikit memerah. Dia tidak mungkin jujur kalau yang dia maksud adalah menjaga Karin dari tatapan cowok-cowok lain di sekitar curug yang mulai melirik ke arah tantenya Reza itu.
Tiba-tiba, BYURRR!
Sebuah cipratan air berukuran besar menghantam punggung Karin hingga basah kuyup. Karin menjerit kaget lalu berbalik, mendapati Reza dan Fino sedang tertawa puas di seberang sana.
"Eja! Curang ya!" seru Karin tidak terima. Tanpa pikir panjang, Karin langsung balas menyerang dengan menyendok air menggunakan kedua telapak tangannya, melemparkannya ke arah sang keponakan.
Aksi saling balas pun terjadi. Arvin yang awalnya hanya menonton, mendadak ditarik oleh Dito untuk ikut masuk ke dalam pusaran perang air. Alhasil, dalam waktu singkat, mereka semua basah kuyup dan tertawa bersama.
Di tengah keriuhan itu, beberapa kali Karin hampir tergelincir karena batu curug yang licin. Namun, setiap kali tubuhnya oleng, sebuah tangan yang kekar dan hangat dengan sigap menahan lengannya dari belakang. Saat Karin menoleh, dia selalu mendapati Arvin yang menatapnya dengan raut khawatir.
"Hati-hati, Tan. Batunya licin banget," ucap Arvin lembut, masih memegangi lengan Karin sampai perempuan itu benar-benar berdiri seimbang.
Karin sempat terpaku beberapa detik. Jarak yang dekat membuat dia bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi air pegunungan dari tubuh Arvin. Dadanya tiba-tiba berdetak aneh, perasaan yang seharusnya tidak dia rasakan dari seorang remaja yang usianya terpaut delapan tahun di bawahnya.
"Ah... iya, makasih ya, Arvin," jawab Karin agak gugup, buru-buru memalingkan wajahnya yang mendadak terasa hangat.
Arvin tersenyum tipis melihat reaksi Karin, menyadari kalau kehadirannya mulai memberikan efek yang berbeda pada wanita dewasa di depannya itu.