Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Bayang-Bayang Perang
Suara itu kembali terdengar.
"...Kalau begitu..."
"...jadilah lebih kuat."
Ryosuke membuka matanya.
"Bagaimana caranya?"
Hening.
Kemudian suara itu terdengar kembali.
"...Kekuatan..."
"...selalu meminta harga..."
Ryosuke tidak segera menjawab.
Ia tahu.
Tidak ada kekuatan yang diperoleh tanpa pengorbanan.
Tetapi ia juga tidak ingin memperoleh kekuatan dengan mengorbankan orang lain.
"Aku akan menjadi kuat."
"Tapi bukan demi membantai."
"Bukan demi balas dendam."
"Aku ingin cukup kuat..."
"...agar tidak perlu melihat orang lain mengalami nasib seperti keluargaku."
Untuk pertama kalinya...
Suara itu tidak langsung membalas.
Keheningan berlangsung cukup lama.
Kemudian...
Tenkū Matō memancarkan aliran mana berwarna hitam yang sangat tipis.
Mana itu tidak menyelimuti tubuh Ryosuke.
Tidak pula memperkuatnya.
Hanya mengalir perlahan mengelilingi bilah pedang sebelum menghilang kembali.
"...Menarik..."
Suara itu terdengar jauh lebih pelan.
"...Berabad-abad telah berlalu..."
"...dan akhirnya aku kembali menemukan manusia yang tidak mencari kekuatanku demi kekuasaan..."
Ryosuke sedikit terkejut.
"Berabad-abad?"
Namun tidak ada jawaban.
Pedang itu kembali diam.
Seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.
Ryosuke mencoba memanggilnya lagi.
"Kau dengar..."
"...Apa kau masih mendengar ku?"
Tidak ada suara.
Hanya desir angin yang kembali berembus melewati pepohonan.
Ryosuke mengembuskan napas perlahan.
"Jadi..."
"...kau hanya berbicara saat kau menginginkannya."
Ia tersenyum tipis.
Meski hanya sesaat, percakapan itu meninggalkan satu hal di dalam hatinya.
Harapan.
Bahwa ia masih bisa menjadi lebih kuat.
Bukan untuk memuaskan amarahnya.
Melainkan untuk melindungi orang-orang yang masih hidup.
Perlahan Ryosuke memasukkan kembali Tenkū Matō ke dalam sarungnya.
Di saat yang sama...
Ia merasakan kehadiran seseorang dari belakang.
"Jadi kau di sini."
Suara itu membuat Ryosuke menoleh.
Hana berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Ia tersenyum kecil, tetapi sorot matanya masih menyimpan kesedihan akibat peristiwa sehari sebelumnya.
"Semua orang mencari mu." kata Hana pelan.
"Alfaro belum kembali."
"Lance meminta seluruh anggota tetap berada di sekitar barak."
Ryosuke mengangguk.
"Maaf."
"Aku hanya ingin menyendiri sebentar."
Hana berjalan mendekat hingga berdiri di samping Ryosuke.
Keduanya memandang ke arah utara.
Asap hitam masih tampak membumbung di kejauhan.
"Itu..." ucap Hana lirih.
"...mungkin desa lain."
Ryosuke mengepalkan tangannya.
"Tidak."
"Kita akan menghentikan mereka."
Hana menoleh kepadanya.
Ryosuke masih memandang lurus ke depan.
Tatapannya kini berbeda.
Rasa sesal masih ada.
Namun di baliknya mulai tumbuh tekad yang jauh lebih kuat.
Sementara itu, jauh di utara...
Benteng Vargan telah bersiap menyambut kedatangan Alfaro Perez.
Dan tanpa disadari siapa pun...
Roda perang yang akan mengguncang seluruh Benua Aldabaron mulai berputar semakin cepat.
Pagi yang biasanya dipenuhi suara tawa para tentara bayaran kini berubah menjadi pagi yang sunyi dan menyesakkan. Kabut tipis masih menggantung di atas pepohonan ketika gerbang barak terus terbuka menyambut rombongan demi rombongan pengungsi yang datang dari arah utara.
Mereka berjalan tanpa tenaga.
Ada yang menggendong anak kecil yang terus menangis.
Ada yang memapah orang tua yang bahkan sudah tidak sanggup lagi melangkah sendiri.
Sebagian hanya membawa pakaian yang melekat di tubuh mereka.
Rumah, ladang, ternak, bahkan keluarga mereka telah tertinggal di belakang.
Tidak sedikit yang datang sambil sesekali menoleh ke arah utara, seolah masih berharap kampung halaman mereka belum benar-benar hilang.
Ryosuke berdiri di dekat gerbang bersama Hector.
Mereka membantu menurunkan barang-barang milik para pengungsi dari kereta yang tersisa.
Seorang anak kecil memeluk erat kaki ibunya sambil terus menangis.
"Rumah kita... terbakar..."
Ibunya tidak menjawab.
Air matanya telah habis sejak perjalanan panjang semalam.
Ryosuke menundukkan kepala.
Pemandangan itu mengingatkannya pada desanya sendiri.
Hari ketika semuanya direnggut oleh perang.
Hector memperhatikan sahabatnya beberapa saat sebelum menepuk bahunya pelan.
"Ayo."
"Masih banyak yang harus dibantu."
Ryosuke hanya mengangguk.
Di halaman utama barak, Alfaro Perez telah mengumpulkan seluruh anggota tentara bayaran.
Wajah mereka jauh berbeda dibanding beberapa hari lalu.
Kini tidak ada lagi pembicaraan mengenai bayaran atau misi.
Semua memahami keadaan telah berubah.
Alfaro memandang mereka satu per satu.
"Mulai hari ini."
"Seluruh misi dibatalkan."
"Tidak ada lagi kontrak."
"Tidak ada lagi perburuan."
"Kita mempertahankan tempat ini."
Tidak seorang pun menyela.
"Kita bukan tentara kerajaan."
"Tetapi selama rakyat masih membutuhkan perlindungan..."
"...barak ini tidak akan menutup gerbangnya."
Ucapan itu disambut anggukan seluruh tentara bayaran.
Lance kemudian melangkah ke depan.
Ia membuka peta sederhana wilayah sekitar barak.
"Mulai sekarang penjagaan dilakukan siang dan malam."
"Regu pengintai akan bergantian menyisir hutan."
"Begitu menemukan pergerakan Krusador..."
"Jangan bertempur."
"Segera kembali melapor."
Beberapa orang langsung bergerak menjalankan tugas.
Yang lain mulai memperkuat pagar kayu, menyiapkan panah, memeriksa persediaan makanan, dan mengatur tempat beristirahat bagi para pengungsi.
Barak tentara bayaran perlahan berubah menjadi benteng darurat.
Di salah satu sudut halaman, Amanda sibuk memeriksa persediaan Crystal Rune yang tersimpan di gudang.
Beberapa Rune yang retak dipisahkan.
Yang masih layak digunakan diserahkan kepada para penyihir yang bertugas menjaga pertahanan.
Sementara itu Hana berkeliling di antara tenda-tenda pengungsi.
Ia membantu mereka yang terluka selama perjalanan.
Seorang lelaki tua menggenggam tangan Hana.
"Terima kasih..."
Hana hanya tersenyum kecil.
"Beristirahatlah."
"Di sini untuk sementara aman."
Meski mengucapkan kata-kata itu, bahkan Hana sendiri tidak benar-benar yakin.
Di atas menara pengawas, Melinda mengamati perbukitan menggunakan teropong sederhana.
Hutan masih tampak tenang.
Tidak ada debu.
Tidak ada asap baru.
Namun justru ketenangan itulah yang membuatnya semakin gelisah.
"Sepi sekali..." gumamnya.
"Seperti sebelum badai."
Menjelang siang, Ryosuke berjalan sendirian menuju sisi timur barak.
Di sana terbentang padang rumput yang langsung mengarah ke wilayah perbatasan.
Angin berembus pelan.
Ia meletakkan tangan di gagang Tenkū Matō.
Sudah sehari berlalu sejak bisikan aneh itu muncul.
Namun sejak saat itu...
Pedang itu kembali diam.
Ryosuke mencoba memejamkan mata.
Tidak ada suara.
Tidak ada bayangan.
Hanya angin yang berembus melewati rerumputan.
"Siapa sebenarnya kau..." bisiknya pelan.
Tetap tidak ada jawaban.
Sore mulai turun.
Para pengungsi akhirnya mendapat makanan hangat untuk pertama kalinya setelah berhari-hari melarikan diri.
Beberapa anak kecil mulai tersenyum kembali.
Melihat itu, Alfaro menghela napas lega.
Setidaknya...
Untuk hari ini...
Mereka masih berhasil melindungi orang-orang yang datang mencari perlindungan.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Suara lonceng dari menara pengawas tiba-tiba bergema.
TANG!
TANG!
TANG!
Seluruh halaman barak langsung hening.
Semua mata tertuju ke atas menara.
Melinda berdiri di sana dengan wajah tegang.
"Asap!" teriaknya.
"Asap dari utara!"
Semua segera berlari menuju pagar pertahanan.
Di kejauhan tampak kepulan debu membumbung di balik perbukitan.
Beberapa detik kemudian...
Suara derap kaki kuda mulai terdengar.
Semakin lama...
Semakin jelas.
Lance menaiki pagar kayu dan memandang ke arah utara.
Tatapannya langsung berubah.
"Mereka akhirnya datang..."
Alfaro menggenggam gagang pedangnya.
"Semua orang..."
"Ambil posisi."
Tidak ada lagi percakapan.
Tidak ada lagi waktu untuk beristirahat.
Sementara para pengungsi saling memeluk dalam ketakutan, seluruh tentara bayaran bergerak menuju posisi masing-masing.
Dan di balik perbukitan...
Bendera hitam berlambang singa emas milik Empire Krusador mulai bermunculan satu demi satu.
Pertempuran yang tak dapat dihindari...
Akhirnya tiba di depan gerbang barak tentara bayaran.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉