Unara Callista, Gadis Remaja Berusia 17 Tahun Yang Terpaksa Bekerja Sebagai Waiters Di Sebuah Klub Malam.
Karna Ulah Teman Seprofesinya Di Klub Yang Memberikan Nara Obat Perangsang Pada Minuman Nara, Libidonya Naik Dan Nara Di Bawa Pergi Oleh Pria Yang Ingin Menyelamatkannya, Tapi Justru Pria Itu Sendiri Yang Tak Mampu Menahan Geloranya.
"Wahai hati. Janganlah engkau menyimpan rasa pada apa yang tak bisa kau gapai. Sebab pemilik Raga ini, tak kan mampu menerima lara yang kan terukir karna kebodohanmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan Valdo
Nara terus menemani Aditya, kini giliran dirinya yang harus ada untuk menguatkan Kakaknya, orang yang juga di cintai nya. Entah apa yang harus di rasakan Nara saat ini. Harus kah dia berbahagia karna Aditya telah mengakhiri hubungannya terhadap Alexa? Tapi dia juga bersedih dan kasihan melihat Aditya yang terpuruk akibat kecurangan Alexa pada dirinya.
Aditya tertidur di atas ranjangnya dengan kepalanya yang berbantalkan paha Nara.
...****************...
Hari-hari berlalu lebih baik dan lebih tenang. Nara sudah pindah dari sekolah lamanya. Aditya kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Nara terpaksa memblokir nomor Valdo. Ia bahkan menonaktifkan semua sosmednya. Valdo beberapa kali datang ke rumah Nara, tapi sudah di cegah oleh pak Ilham di depan sesuai perintah dari Aditya. Pak Ilham mengatakan pada Valdo jika Nara telah pindah dan tinggal di luar negri.
Valdo serasa menggila. Ia kehilangan perempuan yang sangat di cintai nya. Ia hampir frustasi. Rio sahabatnya tidak tega melihat keadaan Valdo yang seperti itu. Ia pun memberikan ide pada Valdo untuk menyuruh orang mengintai 24 jam rumah Nara. Mungkin saja dia masih tinggal di rumah itu. Dan Valdo menurutinya.
Hampir selama satu Minggu orang suruhan Valdo tidak mendapat hasil apa pun. Hingga pagi ini ketika Nara hendak pergi ke sekolah. Ia meninggalkan ponselnya di kamar, dan meminta Aditya menghentikan mobilnya yang sudah keluar gerbang untuk dia kembali masuk kedalam rumah.
Orang-orang suruhan Valdo yang sangat sigap mengambil gambar dan Video mulai dari mobil Aditya keluar, hingga berhenti, dan seorang gadis yang keluar lalu beberapa menit kemudian kembali lagi masuk ke dalam mobil.
Orang itu langsung mengirimkan hasil kerjanya pada Valdo. Valdo yang tidak lagi berkonsentrasi pada hal apa pun. Ia hanya berdiam diri di kamar langsung membuka pesan yang di terimanya.
"Nara??" Akhirnya terjawab sudah apa yang di cari Valdo. Sama seperti yang di duga Rio jika Nara selama ini masihlah di rumah itu.
"Kau tidak bisa menghindari ku dan meninggalkanku begitu saja, Nara. Kau harus mendapat hukuman mu karna sudah berbuat seperti ini padaku."
Valdo berseringai licik. Ia memerintahkan orang-orangnya untuk mengikuti Nara. Lalu saat ada kesempatan, Valdo memerintahkan orang-orang yang sudah profesional itu untuk menculik Nara paksa.
Saat jam pulang sekolah. Nara masih menunggu Fardan di sekolah. Ia duduk di pinggiran kolam yang melingkar yang berada di tengah halaman sekolah.
Seorang laki-laki datang, dia mengatakan jika Fardan tidak bisa menjemputnya. Dan dia yang menjemput, hal seperti itu sudah pernah Valdo lihat dulu saat Nara pertama kali masuk sekolah. Dan Nara yang mudah percaya membawa dirinya dalam situasi ini saat ini.
Nara hendak masuk ke dalam mobil yang di tunjukkan laki-laki tadi, Ada satu pria lain yang sudah duduk di jok kemudi. Awalnya Nara bingung dan ragu. Ia menghentikan geraknya untuk masuk kedalam mobil.
Namun laki-laki yang membawanya dengan gerakan cepat membekap mulut Nara dengan sapu tangan yang sudah di beri cairan obat penenang sehingga Nara kehilangan kesadaran.
Pria yang berada di dalam mobil membantu memasukkan Nara kedalam mobil. Mobil melaju kencang membelah jalan menuju tempat tujuan.
Fardan yang baru datang mencari Nara, menghubungi ponsel Nara, namun mati. Menanyakan pada Pak Satpam sambil menunjukkan foto Nara di ponselnya. Dan Pak Satpam mengatakan jika gadis itu baru saja keluar dengan seorang laki-laki.
'Seorang laki-laki.?'
...----------------...
Mobil yang membawa Nara telah sampai di sebuah villa mewah yang berada di tempat jauh dari pemukiman warga. Di sekitanya hanya di kelilingi oleh taman-taman indah, dan semakin jauh seperti hutan atau kebun, entahlah.
Hari juga sudah mulai petang, karna jauhnya tempat ini.
Dua orang pria membawa Nara yang tengah dalam keadaan tidak sadarkan diri masuk kedalam Villa, lalu kesebuah kamar. Valdo sudah menunggunya dengan berdiri tenang disana.
"Tuan?"
"Baringkan dia di ranjang. Ikat kedua tangan dan kakinya"
"Baik, Tuan."
Valdo tersenyum sinis penuh kemenangan.
Nara meninggalkan dirinya secara tiba-tiba, mencampakkannya, membiarkan dirinya larut dalam kesedihan selama berhari-hari. Kini Nara harus menerima pembalasan darinya. Valdo tidak bisa menerima kekalahan.
Kerja kedua orang pria tadi sudah selesai. Dan mereka pergi keluar. Valdo mengunci pintu kamar dari dalam. Ia lalu mendekat ke arah Nara yang terbaring di atas ranjang.
Valdo berbaring di dekat Nara menghadap wanita yang tak berdaya itu, menggunakan tangan kanannya sebagai tumpuan kepala, dan tangan sebelah kirinya ia gunakan untuk membelai halus wajah Nara. Menyingkirkan rambut yang sedikit berantakan di wajah Nara. Jari jemari Valdo mengelus lembut kelopak mata, hidung, pipi, dan juga bibir Nara yang sangat ia damba.
Nara merasakan sentuhan. Efek obat itu mulai hilang. Ia mulai sadar, Nara menggerakkan kepalanya pelan. Lalu perlahan memicingkan mata. Ia menajamkan pandangannya mendapati Valdo ada di dekatnya.
"Valdo.?"
Nara bergerak ingin menjauh, sedetik kemudian ia baru menyadari keadaan tubuhnya sendiri. Kedua pergelangan tangan dan kedua kakinya telah terikat di sisi-sisi ranjang.
"Sssuutt..!"
Valdo menyuruh Nara diam.
"Hentikan pergerakan mu, Nara."
"Apa yang kau lakukan, Valdo?. Lepaskan aku?."
Nara sudah menangis. Ia benar-benar merasa takut sekarang. Nara membayangkan hal buruk yang bisa saja terjadi pada dirinya.
"Apa yang kulakukan, Nara? Tidak ada. Kaulah yang melakukan sesuatu. Kau meninggalkan aku begitu saja disaat aku begitu sangat mencintaimu?"
Nara hanya bisa menangis sesenggukan mendengar setiap kata yang Valdo ucapkan. Dia menyadari jika dirinya lah yang memang bersalah.
"Kau menghancurkan perasaanku, Nara.? Hatiku.? Apa kau tidak memahami betapa sakitnya diriku?."
Valdo berteriak di depan Nara. Dan...
"Menyingkir dari diriku, Valdo.?"
"Aaaahh."
Nara kaget.
"Ha ha ha ha ha ha ha.."
Tawa Valdo terdengar menakutkan. Ia turun dari ranjang dari sisi samping lalu berjalan memutar berhenti menghadap Nara kembali.
"Apa kau ingin menggodaku, Nara?"
Nara hanya bisa sesenggukan. Jantungnya berdegup semakin kencang, ia merasa sangat takut.
"Please Valdo? Jangan lakukan? Aku minta maaf, aku memang bersalah.? Tapi Please? Jangan lakukan.?"
Nara sudah menangis dengan deras. Suaranya terdengar pelan dan serak.
"Kenapa kau takut, Nara? Kita adalah sepasang kekasih.? Aku pacar mu.? Kita hanya melanjutkan apa yang sempat tertunda. Nara?"
Valdo bergerak.
"Aaahh.?? Valdo? Please..?? Hiks Hiks Hiks.."
Valdo menatap manik Nara semakin dalam. Ada rasa kasihan di hatinya. Tapi amarah dan gejolak libidonya yang sudah naik, jelas tidak lagi ingin mempedulikan rengekan Nara.
"Aaahh.?"
Nara hanya bisa berteriak yang semakin melemah suaranya. Karna terlalu banyak menangis dan terlalu lama. Serta rasa takutnya yang mendominasi.
"Aaahh haghh haah.."
Nara hanya bisa menangis menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Valdo semakin bersemangat.
Ia berhenti sejenak. Valdo melihat Nara yang menangis dan matanya menutup sempurna. Bulir keringat nampak bermunculan membasahi kening Nara. Valdo mengusapnya lembut dengan jemarinya.
Nara membuka mata. Ia kembali membuka suara yang sudah semakin parau,. lirihnya hampir tak terdengar.
"Please Valdo.. Jangan__?"
"Emmpphh.."
Valdo terus mengeksplor bagian dalam bibir Nara,.
"Valdo.?" Lirih Nara terdengar parau.
Valdo memainkan jarinya...
Jutaan kupu-kupu terasa terbang di perut Nara. Ada sebuah aliran gelanyar aneh yang sangat kuat menyerang seluruh tubuhnya.
"Val,__--doo."
Valdo menghentikan aksinya, ia memberi waktu pada Nara untuk menarik nafas, Nafasnya sendiri memburu seperti habis melakukan lari maraton. Tubuh Nara lunglai.
Valdo pun membuka semua ikatan itu. Nara menyadarinya, namun tubuhnya seakan tak memiliki sisa tenaga sekedar untuk bergerak.
Valdo tersenyum penuh kemenangan. Ia mengelus pucuk kepala Nara, mengecup keningnya.
"Kau menyukainya, Ra?"
Valdo berbisik di telinga Nara. Namun Nara yang sudah tak bertenaga tak mampu menjawab ucapan Valdo. Air jernih itu kembali menetes dari sudut matanya yang sendu.
Valdo menyapu wajah Nara. Membuat pergerakan persatuan. Pelan-pelan.
"Aaahh.."
Valdo melakukan gerakan maju mundur secara teratur.
Hingga hampir satu jam. Dan
"AAARRRGGHHH."
"Aaaahahahhah"
Nafas Valdo tersengal, Menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Nara. Itu adalah Pembalasan Valdo atas sakit hatinya pada Nara.
...****************...
padahal aku tungguin tiap hari kelanjutannya🤔
tapi kisah Arend sm zico kok nggak ada thor, aku padahal sudah masuk ke branda author ya, cari judul love or game 😫😫😭😭😭😭 nggak ada thor yg ada nona dan tuan, mainan bos mafia
makasi thor atas novelnya..semangat untuk slalu berkarya🤗