NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:99.8k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Bukti

Hidup ribuan pasien lain bisa berubah.

Kalimat itu terus bergema di kepala Rangga sampai pagi datang.

Pak Karto berhasil distabilkan untuk kedua kalinya sebelum fajar. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada rasa lega yang utuh. Serangan kedua membuat semua orang di UGD memahami satu hal: selama penyebabnya belum diselesaikan, lelaki tua itu hanya menunggu serangan berikutnya.

Rangga berdiri di depan wastafel, membiarkan air dingin mengalir di pergelangan tangannya.

Di dalam pikirannya, formula Trombosin Plus tersusun begitu jelas hingga terasa tidak adil. Rasio bahan aktif, tahap ekstraksi, stabilisasi molekul, cara membuat obat itu bekerja langsung pada trombus tanpa menghancurkan komponen darah lain.

Terlalu sempurna.

Justru karena terlalu sempurna, ia tidak boleh gegabah.

Obat bukan jurus. Obat harus diuji.

"Rangga."

Pak Bambang muncul di pintu ruang cuci tangan. Matanya merah setelah semalaman terjaga. Suaranya masih tajam.

"Map bukti sudah siap?"

"Sudah, Pak."

"Kita ke Pak Hendra."

Ruang Direktur RSUD Harapan Bangsa berada di lantai administrasi, jauh dari suara monitor UGD. Lantainya lebih bersih, kursinya lebih empuk, dan udara AC-nya lebih dingin. Namun pagi itu, ruangan Pak Hendra terasa tidak lebih nyaman daripada ruang resusitasi.

Pak Hendra membaca map yang diserahkan Rangga.

Di depannya ada empat lembar utama: hasil lab Pak Karto yang "normal", salinan EKG serial, catatan klinis nyeri dada dan kolaps, serta log penerimaan sampel yang waktunya tidak masuk akal.

Pak Bambang berdiri di samping meja, tangan bersilang.

Rangga berdiri sedikit di belakang, tidak mencoba terlihat lebih besar dari tempatnya.

Pak Hendra akhirnya meletakkan kertas.

"Dokter Rangga," katanya pelan, "Anda paham beratnya tuduhan ini?"

"Saya paham, Pak Direktur."

"Kalau ini benar, ada petugas laboratorium yang membahayakan pasien. Kalau ini salah, Anda menuduh unit lain tanpa dasar."

"Karena itu saya tidak membawa dugaan saja, Pak." Rangga menunjuk lembar pertama. "Gejala klinis Pak Karto mengarah kuat ke infark miokard. EKG serial menunjukkan progres. Tapi troponin I, CK-MB, dan D-dimer keluar normal semua dalam enam menit sejak sampel diterima."

Ia pindah ke lembar log.

"Di jam yang sama, Joko mengatakan antrean lab penuh dan ulang pemeriksaan paling cepat satu setengah jam. Kalau antrean penuh, hasil pertama tidak mungkin selesai lengkap dalam enam menit. Kalau hasil pertama bisa selesai enam menit, alasan menolak ulang emergensi tidak masuk akal."

Pak Hendra tidak berkedip.

Rangga melanjutkan, suaranya tetap tenang.

"Nomor alat pemeriksaan juga kosong di bagian ini. Saya tidak mengatakan siapa yang mengubah angka. Saya hanya mengatakan laporan ini tidak valid dan keputusan klinis tidak boleh bergantung padanya."

Pak Bambang menambahkan, "Kalau Rangga mengikuti laporan itu, Pak Karto bisa meninggal di kursi observasi. Dan kematian itu akan terlihat seperti kesalahan dokter UGD."

Pak Hendra menekan tombol telepon meja.

"Panggil dr. Herman dan Joko Susanto ke ruangan saya. Sekarang."

Lima menit kemudian, dr. Herman masuk lebih dulu. Wajahnya rapi, senyumnya tipis, seolah ia datang untuk rapat biasa.

Joko menyusul di belakangnya. Begitu melihat map di meja, warna wajahnya berubah setengah tingkat.

Pak Hendra tidak menawarkan duduk.

"Joko," katanya, "jelaskan hasil lab Pak Karto."

Joko menelan ludah. "Sesuai prosedur, Pak. Sampel diterima, diproses, hasil keluar dari sistem."

"Alat mana?"

"Maaf?"

"Alat mana yang memproses troponin I dan CK-MB?"

Joko melirik dr. Herman.

Gerakan kecil itu cukup.

Pak Hendra melihatnya.

"Jawab saya langsung. Pak Herman tidak perlu mewakili Anda."

"Seharusnya analyzer nomor dua, Pak."

"Seharusnya?"

Joko mengusap telapak tangan ke celana. "Saya... saya perlu cek ulang log teknis."

Rangga berkata pelan, "Log teknis di salinan ini kosong."

Joko langsung menoleh. "Dokter Rangga tidak punya hak mengambil log internal lab."

Pak Bambang maju setengah langkah. "Dia punya hak menyelamatkan pasiennya dari laporan yang tidak valid."

dr. Herman akhirnya bicara. "Pak Direktur, mungkin ini hanya masalah sistem. Laboratorium kita memang sering overload. Jangan sampai satu kesalahan teknis dibesar-besarkan menjadi tuduhan kriminal."

"Kesalahan teknis bisa dijelaskan," kata Pak Hendra. "Mengapa permintaan ulang emergensi ditunda?"

Joko cepat menjawab, "Antrean penuh, Pak."

Pak Hendra mengangkat hasil pertama. "Tapi hasil awal selesai enam menit."

Mulut Joko terbuka.

Tidak ada suara keluar.

Ruangan itu sunyi terlalu lama.

dr. Herman menjaga wajahnya tetap tenang, tetapi jari telunjuknya bergerak sekali di sisi celana.

Rangga melihatnya.

Orang yang biasa mengatur orang lain tidak suka ketika ruang geraknya menyempit.

Pak Hendra meletakkan kertas dengan hati-hati.

"Joko Susanto, mulai hari ini Anda saya bebastugaskan sementara dari laboratorium sampai audit internal selesai. Semua akses sistem Anda dibekukan. Unit IT akan menarik log server. Komite medik dan manajemen SDM akan memeriksa kasus ini."

"Pak Direktur..." suara Joko pecah. "Saya hanya mengikuti..."

Ia berhenti.

Terlambat.

Pak Hendra menatapnya tajam. "Mengikuti apa?"

Joko menunduk. "Saya panik, Pak."

dr. Herman langsung masuk. "Pak Direktur, saya mendukung investigasi. Kita harus menjaga nama baik rumah sakit."

Pak Bambang tertawa pendek, tanpa humor. "Nama baik rumah sakit hampir dijadikan tameng untuk membunuh pasien."

Wajah dr. Herman mengeras. "Dokter Bambang, hati-hati dengan kata-kata Anda."

"Saya sudah hati-hati sejak tadi malam. Kalau tidak, saya sudah menyeret anak buah Anda ke komite etik sebelum Pak Karto kolaps."

Pak Hendra mengangkat tangan. "Cukup."

Ia menatap dr. Herman.

"Pak Wakil Direktur, selama investigasi berjalan, semua instruksi terkait laboratorium UGD harus melalui jalur tertulis. Tidak ada pesan pribadi, tidak ada arahan lisan."

Senyum dr. Herman hilang.

"Baik, Pak Direktur."

Kata itu patuh.

Matanya tidak.

Setelah Joko dibawa keluar oleh petugas administrasi, Rangga akhirnya menghembuskan napas. Satu batu kecil terasa terangkat dari dadanya, meski masalah belum selesai.

Pak Hendra memandangnya lagi.

"Dokter Rangga."

"Ya, Pak Direktur."

"Saya mendengar banyak cerita tentang Anda minggu ini. Saya tidak suka rumah sakit berjalan berdasarkan rumor. Tapi hari ini, Anda membawa data. Itu yang saya hargai."

Rangga menunduk sedikit. "Terima kasih, Pak."

"Selamatkan pasien Anda. Untuk urusan ini, biarkan sistem rumah sakit bekerja."

Pak Bambang menjawab sebelum Rangga. "Kami akan pastikan pasien tidak jadi korban kedua kali."

Namun siang itu, Pak Karto kembali membuktikan bahwa tubuh manusia tidak menunggu rapat selesai.

Serangan ketiga berlangsung singkat dan sulit diprediksi. Tekanan darah jatuh, lalu nyeri dada menekan napas Pak Karto seperti gelombang. Rangga sudah siap menghadapinya.

Ia tidak lagi bergerak sebagai orang yang baru mendapat teknik.

Ia bergerak sebagai dokter yang sudah membaca peta badai.

Obat diberikan lebih presisi dan cairan dijaga agar tidak membebani jantung. Ritme dipantau ketat. Ia menyesuaikan terapi dari respons tubuh Pak Karto setiap menit; laporan palsu lama tidak lagi dipakai.

Pak Karto berhasil melewati serangan itu.

Tapi setelah semuanya stabil, Rangga berdiri lama di sisi ranjang.

Sri dan Agus menatapnya dengan mata penuh harap yang hampir menyakitkan.

"Dok," kata Agus, "Bapak bisa sembuh?"

Pertanyaan itu sederhana.

Jawaban jujurnya tidak sederhana.

"Kita bisa menjaga beliau tetap stabil," kata Rangga. "Tapi sumber masalahnya harus diatasi. Kalau trombusnya terus menjadi ancaman, serangan bisa berulang."

Sri menutup mulut.

"Apa ada obatnya, Dok?"

Rangga terdiam setengah detik.

Ada.

Di dalam kepalanya, ada.

Tetapi obat yang belum diuji belum boleh disebut harapan di depan keluarga.

"Saya sedang mencari jalan," katanya akhirnya. "Tolong percaya pada kami malam ini."

Ketika keluarga Pak Karto keluar, suara sistem kembali muncul.

[Misi tambahan selesai.]

[Tingkat Penyelesaian: 80%.]

[Hadiah tunai sebesar Rp 50.000.000 telah ditransfer ke rekening pribadi Anda melalui Yayasan Dana Abadi Cakrawala.]

[Konfirmasi: Resep Trombosin Plus telah terbuka penuh.]

Rp 50 juta.

Rangga hampir tidak merasakannya.

Yang ia lihat hanya wajah Pak Karto, tubuh tua yang sudah tiga kali dihantam serangan, dan ketakutan Sri setiap kali monitor berbunyi.

Malam itu, di ruang kerja Pak Bambang, Rangga membuka buku catatan kosong.

Ia tidak menulis nama sistem.

Ia hanya mulai menyalin formula dari ingatan, mengubahnya menjadi bahasa yang bisa dibaca manusia: bahan aktif, pelarut, proses pemurnian, stabilisasi, estimasi dosis, rencana uji awal.

Pak Bambang berdiri di belakangnya.

Awalnya dokter senior itu hanya ingin melihat sekilas.

Lalu ia diam.

Semakin lama, wajahnya semakin serius.

"Rangga," katanya akhirnya, suaranya rendah. "Kamu dapat ini dari mana?"

Rangga tidak berhenti menulis. "Dari pemahaman saya tentang kasus Pak Karto, Pak."

"Ini bukan sekadar pemahaman kasus."

Di kertas, formula itu memenuhi halaman. Struktur molekul, catatan stabilitas, mekanisme kerja yang terlalu rapi untuk sekadar ide liar dokter muda.

Pak Bambang menarik kursi dan duduk.

"Kamu sadar apa yang sedang kamu tulis?"

"Obat trombolitik khusus."

"Obat trombolitik sudah ada."

"Yang ini berbeda. Targetnya lebih selektif pada trombus. Kalau perhitungan saya benar, risiko perdarahan sistemik jauh lebih rendah."

Pak Bambang menatapnya seperti menatap orang yang baru saja berkata akan memindahkan gunung dengan stetoskop.

"Rangga... kamu yakin ini bukan lelucon?"

Rangga mengangkat wajah.

Matanya merah setelah semalaman terjaga. Suaranya tetap mantap.

"Kalau ini benar, Pak Karto bisa punya kesempatan yang tidak dia miliki sekarang. Pasien seperti dia juga."

Pak Bambang menatap formula itu lagi.

"Kalau ini benar," katanya pelan, "seluruh pengobatan kardiovaskular di Indonesia bisa berubah."

Ruangan itu mendadak terasa sempit.

Rangga menutup buku catatan.

"Pak Bambang, beri saya akses ke laboratorium farmasi rumah sakit dan dua hari waktu."

Pak Bambang menatapnya lama.

"Dua hari untuk apa?"

"Untuk membuktikan Trombosin Plus bukan sekadar tulisan di kertas."

1
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
Amiera Syaqilla
hello author🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!