NovelToon NovelToon
ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.

Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PULANG

Libur di vila berakhir setelah tiga hari. Bukan karena Lina ingin pulang, tapi karena Arka mendapat telepon darurat dari kantornya—klien utamanya panik karena servernya dimakan rayap digital (alias hacker).

"Maaf, Lin," kata Arka sambil mengemas barang-barangnya dengan cepat. "Dunia nyata sedang memanggilku kembali Tapi ingat, kamu nggak sendirian. Kalau butuh pelarian lagi, kabari saja. Aku akan siapkan roti bakar gosong dan kopi pahit."

Lina tersenyum lalu memeluk Arka sekilas. "Terima kasih Arka Kamu penyelamatku. Bahkan lebih baik daripada Superman karena kamu nggak pakai jubah norak."

Arka tertawa, lalu melambaikan tangan sebelum mobilnya menghilang di tikungan jalan berliku.

Kini, Lina berdiri sendiri di depan gerbang rumah orang tuanya. Rumah besar bergaya kolonial yang dulu menjadi tempat bermainnya saat kecil, kini terasa seperti benteng musuh. Dia tahu apa yang menunggunya di dalam: pertanyaan, tatapan menghakimi, dan drama keluarga tingkat dewa.

Dia menarik napas dalam-dalam,dan memberanikan diri, kemudian menekan bel pintu.

TING-TONG.

Pintu terbuka. Bukan pelayan, tapi ibunya langsung muncul. Wajah Ibu nya seketika merah padam, matanya bengkak. Di belakangnya, Ayahnya duduk kaku di sofa ruang tamu, memegang koran terbalik. Dan di sudut ruangan, Dinda duduk meringkuk, wajahnya tertutup oleh tangannya

"LINA!" teriak Ibu lina, bukan menyapa, tapi seperti sirene alarm kebakaran. "Kamu akhirnya pulang! Kamu tahu nggak betapa malunya Ibu? Tante Yuli nanyain terus! 'Benarkah Dinda hamil anak Raka?' 'Benarkah Lina diceraikan?' Ibu jawab apa? Ibu cuma bisa diam dan pura-pura tuli!"

Lina masuk, meletakkan tasnya di meja dengan tenang. "Halo juga, Bu. Apa kabar? Sehat? ibu sudah makan?"

Ibu melotot. "Jangan sok santai! Ini urusan harga diri keluarga! Kamu harus minta maaf sama Dinda! Kamu harus mempermalukan Raka di depan umum! Kamu harus..."

"Cukup, Bu," potong Lina, suaranya datar namun berwibawa. Dia berjalan menuju sofa, duduk di hadapan Ayahnya yang masih pura-pura membaca koran. "Ayah, apa kabar?"

Ayah menurunkan korannya perlahan. Matanya lelah. "Lina... Ayah Sangat sedih."

"Ayah sedih karena Dinda hamil di luar nikah? Atau karena Ayah kehilangan menantu yang 'bergengsi'?" tanya Lina tajam.

Ayah lina menghela napas. "Karena anak-anak Ayah hancur. Kakak dan adik bertikai. Suami istri bercerai. Ini bukan tentang gengsi, Lin. Ini tentang kehancuran."

Lina menatap Ayahnya. Untuk pertama kalinya, dia melihat kerapuhan pria yang selalu dianggap kuat itu.

"Din," panggil Lina pada adiknya.

Dinda mengangkat kepala. Matanya sembab. Dia terlihat lebih kurus, pipinya cekung. Kehamilan belum terlihat jelas, tapi beban mentalnya sudah menghancurkan fisiknya.

"Ya, Kak..." suara Dinda parau.

"Aku nggak datang untuk marah," kata Lina lembut. "Aku datang untuk menyelesaikan ini. Sekali dan untuk selamanya."

Ibu hendak protes, tapi Lina mengangkat tangan. "Bu, tolong diam sebentar. Biarkan aku bicara dengan adikku. Sebagai kakak. Bukan sebagai mantan istri Raka."

Ibu terdiam, meski masih mendengus kesal.

Lina menatap Dinda lekat-lekat. "Din, aku tahu kamu takut. Aku tahu kamu bingung. Tapi apa kamu Benar-benar mencintainya? Atau kamu hanya mencintai perhatian yang dia berikan, sesuatu yang mungkin jarang kamu dapatkan?"

Dinda menangis lagi. "Aku... aku nggak tahu, Kak. Awalnya cuma curhat. Dia dengerin aku. Dia baik. Lama-lama... kami dekat. Dan ketika aku sadar aku hamil, aku panik. Aku pikir kalau aku bilang ke Kakak, Kakak bakal marah dan ninggalin aku. Jadi aku diam. Dan Raka... dia bilang dia akan bertanggung jawab."

"Tanggung jawab?" Lina tertawa pahit. "Raka nggak bertanggung jawab, Din. Dia lari dari masalah dengan menciptakan masalah baru. Dia menggunakanmu sebagai pelarian dari pernikahannya yang membosankan. Dan sekarang, kamu terjebak."

Dinda terisak keras. "Aku menyesal, Kak. Aku sangat menyesal. Aku nggak bermaksud nyakitin Kakak. Aku cuma... aku cuma ingin dicintai."

Kalimat itu menusuk hati Lina. Karena dia juga ingin dicintai. Tapi caranya berbeda. Dia memilih untuk mencintai dirinya sendiri dulu, sebelum mencari cinta orang lain.

Lina berdiri, mendekati Dinda, dan memeluknya. Pelukan itu kaku, canggung, tapi tulus.

"Aku maafin kamu, Din," bisik Lina di telinga adiknya. "Bukan karena apa yang kamu lakukan itu benar. Tapi karena kamu darah dagingku. Dan aku nggak mau kehilangan adikku cuma gara-gara pria busuk bernama Raka."

Dinda membalas pelukan itu erat-erat, tubuhnya berguncang-guncang oleh tangisan.

Ibu menonton dari samping, air matanya mulai mengalir. Ayah mengusap matanya dengan punggung tangan.

"Tapi," lanjut Lina, melepaskan pelukan dan menatap Dinda serius, "kamu harus kuat, Din. Kamu akan jadi ibu tunggal. Raka mungkin bayar nafkah, tapi dia nggak akan jadi ayah yang baik. Dia egois. Kamu harus siap menghadapi dunia sendirian. Tanpa aku, tanpa Ibu, tanpa Ayah yang terlalu sibuk menjaga image."

Dinda mengangguk, meskipun wajahnya penuh ketakutan. "Aku akan coba, Kak. Aku janji."

Lina menoleh ke Ibu dan Ayah. "Dan untuk Bapak-Ibu... tolong berhenti menyebar gosip. Tolong berhenti merasa malu. Malu itu nggak bikin masalah selesai. Yang perlu dilakukan adalah mendukung Dinda untuk menjalani kehamilannya dengan sehat, dan mendukung aku untuk membangun hidup baru."

Ibu terdiam lama. Lalu, dia mengangguk pelan. "Ibu... ibu cuma khawatir, Lin. Ibu takut kamu sakit hati."

"Sakit hati itu udah lewat, Bu," kata Lina sambil tersenyum tipis. "Sekarang fase sembuh. Dan obatnya bukan dramatisasi, tapi penerimaan."

Ayah berdiri, mendekati Lina. Dia memeluk putrinya erat. "Maafkan Ayah, Lin. Ayah seharusnya lebih tegas sama Raka dulu. Ayah seharusnya lebih peka."

"Nggak apa-apa, Yah," kata Lina, menahan air mata yang hampir tumpah. "Kita semua belajar. Kita semua salah."

Malam itu, mereka makan bersama. Suasananya masih canggung, masih ada ketegangan yang menggantung di udara. Tapi setidaknya, tidak ada lagi teriakan. Tidak ada lagi tuduhan. Hanya keheningan yang mencoba memahami satu sama lain.

Setelah makan, Lina pamit untuk kembali ke apartemen sewanya yang baru. Dia tidak mau tinggal di rumah orang tua lagi. Dia butuh ruang sendiri. Ruang untuk bernapas.

Saat dia berjalan keluar, Dinda mengejarnya di teras.

"Kak," panggil Dinda.

Lina menoleh. "Ya, Din?"

"Terima kasih," kata Dinda pelan. "Karena masih mau ngakuin aku sebagai adik."

Lina tersenyum, kali ini senyum yang hangat. "Selalu, Din. Tapi ingat,jangan main api lagi. Nanti kebakar rumah."

Dinda tertawa kecil, tawa yang terdengar lega.

Lina berjalan menuju mobilnya. Langit malam cerah, bintang-bintang berkelip. Dia merasa berat di pundaknya sedikit berkurang. Dia telah menghadapi singa (Ibunya), ular (Dinda), dan batu karang (Ayahnya). Dan dia selamat.

Sekarang, giliran dia menghadapi dunia luarnya. Dunia di mana dia adalah Lina, wanita mandiri, bebas, dan siap untuk babak baru.

Dia menyetir mobilnya, menyalakan radio. Lagu favoritnya diputar. Lina menyanyikannya dengan lantang, meski suaranya sumbang.

Di kejauhan, lampu kota berkedip-kedip, seolah menyambut kepulangannya. Bukan sebagai korban, tapi sebagai pemenang.

1
Allea
kok bisa dapet harta selama baca novel anak haram nasabnya ( bener ga) ikut ibu jd ga berhak atas warisan ( kata cerita2 novel ya bukan kata saya)😄
Nuna_Pena: bikin berbeda dari yang lain🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!