Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07 - Beban Tujuh Nyawa
Malam jatuh dengan cepat di pinggiran Madiun, membawa gulita yang seolah membungkus rumah keluarga Broto lebih rapat dibanding rumah-rumah tetangga di sekitarnya.
Suara jangkrik dari semak-semak belakang rumah bersahut-sahutan, kalah bersaing dengan suara kepakan sayap kelelawar yang beterbangan rendah di sekitar pohon jati tua.
Di atas meja makan kayu yang melengkung dan kusam, sebuah lampu tempel minyak tanah berkedip-kedip kuyu. Cahaya jingganya yang temaram membiaskan bayangan-bayangan kaku di dinding semen yang retak.
Tujuh piring seng tertata di atas meja, namun hanya tiga di antaranya yang terisi nasi putih hangat bercampur sedikit kuah tempe krecek yang bening dan tanpa aroma.
"Mas Galang ... Gilang gak mau tempe, Bilang mau telur ...," gumam si bungsu Gilang dengan suara parau, memegang sendok plastiknya kencang-kencang. Anak berusia tujuh tahun itu menatap polos pada piringnya yang hanya berisi nasi dan potongan tempe rebus pucat.
Galang yang duduk di ujung meja tersenyum tipis, meski dadanya terasa terremas penderitaan yang tak tertahankan. Ia merangkul bahu Gilang, lalu mengambil separuh potongan tempe dari piringnya sendiri dan memindahkannya ke piring si bungsu.
"Makan ini dulu ya, Le. Besok Mas Galang belikan telur kalau jualan kayu bakar di pasar laku banyak," bisik Galang penuh kelembutan, mengusap kepala adiknya yang berambut tipis.
"Laku dari mana, Lang?" potong Bayu dingin dari sudut meja. Pria itu bahkan tidak menyentuh piringnya sama sekali. Ia hanya duduk bersedekap, matanya menatap tajam pada piring kosong yang disiapkan Pertiwi untuk Bu Retno. "Pagi tadi aku coba tawarkan kayu jati sisa tebangan Bapak ke pengepul di pinggir jalan. Kamu tahu mereka nawar berapa? Cuma separuh harga normal. Mereka tahu kita lagi kepepet, Lang! Mereka memanfaatkan situasi!"
Pertiwi menyeka sudut matanya dengan ujung kain kerudung. Gadis itu menunduk dalam-dalam, menahan isak tangis yang siap meledak dari dadanya.
"Duit buat bayar SPP-nya Mia sama Rian juga udah nunggak dua bulan, Mas. Tadi sore Pak Guru datang ke rumah ... beliau nanya kapan bisa dilunasi," ujar Pertiwi parau.
Suasana meja makan berubah mendadak menjadi hening yang menindas. Mia dan Rian yang duduk berdampingan menundukkan kepala, memain-mainkan nasi dingin di piring mereka tanpa selera.
Beban finansial yang menghimpit rumah ini bukan lagi sekadar angka, melainkan jerat leher yang kian hari kian mengetat.
Galang menghela napas panjang. Sebagai anak ketiga yang baru berusia 19 tahun, rasa tanggung jawab yang amat berat mendadak bertumpuk total di pundaknya.
Bayu yang anak sulung sudah terlalu hanyut dalam frustrasi dan rasa takut sejak malam pemakaman yang mengerikan itu. Kakaknya itu kerap meminum tuak murahan di pinggir jalan desa demi melupakan teror bayang-bayang ayahnya.
Maka, mau tak mau, Galang-lah yang harus berdiri tegap menjadi tiang penyangga bagi kelima saudaranya dan seorang ibu yang jiwanya terperangkap di kamar yang gelap.
"Besok pagi aku yang bakal turun ke pasar," ucap Galang penuh kepastian. Suaranya bergema mantap di antara pendar lampu minyak tanah. "Aku yang bawa kayu bakar sama sisa hasil kebun belakang. Kalau pengepul itu nawar murah, aku jual sendiri mengecer ke rumah-rumah warga."
"Mau jualan sampai jam berapa kamu, Lang?" bentak Bayu pelan, matanya merah menatap adiknya. "Ngecer kayu bakar itu paling cuma dapet sepuluh, dua puluh ribu! Cukup buat beli apa?! Buat beli beras sebakul aja nggak cukup untuk kita bertujuh!"
"Daripada kita cuma duduk menangis di sini sambil nunggu kelaparan, Mas!" balas Galang menghentikan amarah Bayu.
Pandangan mata Galang begitu tajam dan tegar, membuat Bayu akhirnya mengalihkan pandangan dengan ketusan kekalahan.
Galang berdiri dari kursi kayunya. Ia meraih piring seng terakhir yang telah diisikan nasi dan kuah bening oleh Pertiwi, lalu berjalan melangkah menyusuri lorong rumah yang temaram menuju pintu kamar utama.
Langkah kaki Galang berbunyi pelan di atas lantai semen dingin.
Di depan pintu kayu jati yang terkunci rapat itu, aroma kemenyan dan tanah basah masih menguap tipis dari celah bawah pintu—bau yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari rumah ini selama enam bulan terakhir.
Galang mengetuk pintunya pelan. Tok ... tok ... tok.
"Bu ... ini Galang," bisiknya, menempelkan bibirnya dekat pada celah pintu. "Galang bawakan makan malam buat Ibu. Ada nasi hangat sama tempe."
Tidak ada tanggapan. Hanya ada keheningan dingin yang pekat.
"Bu ...," lanjut Galang, suaranya sedikit bergetar oleh campuran rasa iba dan amarah yang tertahan. "Adek-adek butuh Ibu. Gilang kangen dipeluk Ibu. Mia sama Rian butuh uang sekolah. Warung kita udah terlalu lama tutup, Bu ... Rumah ini makin hari makin kacau. Tolong ... keluar, Bu. Bicara sama kita. Kalau ada masalah, biar Galang sama Mas Bayu yang tanggung jawab."
Di balik daun pintu yang tebal, terdengar pergerakan pelan. Suara gesekan kain kasar di atas lantai terdengar mendekati pintu, berhenti tepat di sisi lain papan kayu jati tersebut.
Galang menahan napasnya. Ia bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa merembes keluar menembus celah kayu, membuat tenggorokannya mendadak kering.
"Galang ..."
Suara Bu Retno mengalun dari balik pintu. Suara itu begitu serak, lemah, dan jauh—seolah-olah suara itu ditarik dari kedalaman sumur tua yang kering. "Kalian ... tidak akan sanggup menanggungnya."
"Sanggup, Bu!" potong Galang cepat. Ia menempelkan kedua telapak tangannya pada permukaan pintu kayu yang terasa membeku. "Galang sanggup! Galang ini anak Ibu! Apa pun beban Bapak, apa pun masalah warung ini, Galang yang bakal kerjakan! Asal Ibu keluar ... kasihan adek-adek, Bu ...."
Sebuah helaan napas yang panjang dan menyakitkan terdengar dari dalam kamar.
"Jumlah kita pitu ... Galang," bisik Bu Retno lambat, menyebut angka tujuh dalam bahasa Jawa dengan irama ganjil yang mendinginkan darah. "Pitu ... iku pitulungan ... utawa pitumpuran. Ada tujuh nyawa di rumah ini. Dan tidak semua nyawa ... bisa berjalan di bawah sinar matahari."
"Maksud Ibu apa?!" Galang menggedor pintu dengan kepalan tangannya.
BUMM!
"Ngomong yang jelas, Bu! Jangan main tebak-tebakan begini!"
"Simpan makanan itu ...," balas suara Bu Retno dari balik pintu, kian jauh dan menjauh seolah wanita itu kembali berjalan mundur ke kegelapan kamar. "Malam ini ... bakal ada yang mengetuk pintu belakang. Jangan pernah kamu bukakan."
KLAK.
Suara kait selot pintu bergeser dari dalam, menegaskan bahwa tidak ada lagi akses untuk berkomunikasi malam ini.
Galang mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga bukunya memutih. Rasa frustrasi yang membakar dadanya beradu dengan teka-teki mengerikan dari ucapan ibunya. Pitulungan utawa pitumpuran—pertolongan atau kebinasaan. Kenapa ibunya selalu mengulang angka tujuh? Tujuh saudara? Tujuh anak?
Dengan langkah berat dan hati yang bergemuruh, Galang meletakkan piring seng berisi nasi itu di atas bangku kecil di samping pintu kamar ibu, lalu berjalan kembali ke ruang tengah.
Adik-adiknya sudah selesai makan. Pertiwi sedang merapikan piring-piring di dapur, sementara Mia menuntun Rian dan Gilang masuk ke kamar untuk tidur. Bayu sudah menghilang entah ke mana, kemungkinan besar keluar rumah menuju warung tuak di ujung desa.
Galang duduk sendirian di ambang pintu depan yang terbuka sedikit. Ia memandang ke arah langit malam Madiun yang pekat tanpa bintang. Bulan sabit tertutup awan hitam yang tebal, memproyeksikan bayangan kelam di atas jalanan desa yang sepi.
Tangan Galang mengusap kasar mukanya. Tujuh nyawa. Ia menghitung dalam hati: Bayu, Pertiwi, dirinya sendiri, Mia, Rian, Gilang, dan Ibu. Pas tujuh orang. Tapi kenapa ada perasaan asing yang mengganjal di dalam dadanya setiap kali ia mengingat silsilah keluarganya? Kenapa ingatan masa kecilnya tentang rumah ini selalu terasa memiliki celah-celah kosong yang kabur?
Pukul dua belas malam berlalu. Seluruh rumah telah tenggelam dalam tidur yang tak tenang.
Galang berbaring di atas tikar ruang tengah, kedua matanya menatap langit-langit papan yang berdebu. Pikirannya terus berputar pada kata-kata ibunya: Malam ini bakal ada yang mengetuk pintu belakang. Jangan pernah kamu bukakan.
Dan tepat tatkala waktu merambat menunjukkan pukul tiga pagi, keheningan malam Madiun yang mencekam itu pecah.
Dari arah dapur—tepat pada pintu kayu belakang rumah yang berbatasan langsung dengan teras warung yang terbengkalai—terdengar sebuah ketukan.
TOK ... TOK ... TOK.
Suara ketukan itu pelan, teratur, dan berirama kaku. Suara yang berasal dari jemari tangan yang dingin dan tanpa kehidupan.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya