NovelToon NovelToon
Jangan Mati, Sayang

Jangan Mati, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / Perperangan / Tamat
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: Mía Ríos

Vania Maharani pergi ke Levante untuk merekam perang, bukan untuk jatuh cinta. Namun sebuah bom tekanan di jalan hancur Alepo mempertemukannya dengan Satria Heryanto, prajurit pendiam yang menjinakkan kematian dengan tangan tenang dan meninggalkan seutas benang merah di pergelangan Vania.
Bertahun-tahun kemudian, perang mempertemukan mereka lagi di Garun, Hapir, dan Zandi: di ladang ranjau, barak berdebu, tempat penampungan anak, rumah sakit lapangan, dan misi rahasia yang tidak akan tercatat di laporan resmi. Di antara tugas, luka, dan pilihan yang tidak pernah sederhana, Vania harus memutuskan seberapa jauh ia sanggup mengejar kebenaran, dan seberapa banyak hatinya bisa bertahan ketika orang yang ia cintai selalu berjalan menuju bahaya.
Ini adalah kisah cinta yang dibangun dari hal-hal kecil yang bertahan setelah ledakan: tali merah, harmonika, apel, sepatu yang talinya diikatkan, cincin di jari yang salah, dan satu kalimat yang menjadi jangkar saat ingatan runtuh: Sat dan Van sudah menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mía Ríos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Benang Merah

Vania berjalan.

Ia tidak ingat kapan mulai berjalan. Pada suatu titik ia berhenti meneriakkan "Tunggu!" ke jalan kosong, dan kakinya bergerak sendiri mengikuti arah yang ditunjukkan pria itu. Tenggara. Delapan blok. Gang di balik dinding.

Debu ledakan masih mengambang di udara, menggaruk tenggorokannya setiap kali ia bernapas. Di kirinya, motor yang terguling meneteskan bensin tipis di antara puing. Ia tidak mengambilnya. Ia tidak peduli. Kakinya membawanya pergi, dan ia membiarkan dirinya dibawa.

Ia menatap pergelangan tangan kirinya sambil berjalan. Gelang merah itu masih ada, tipis, teranyam, usang, melingkar di antara jari-jarinya seolah ia memang sengaja menggenggamnya. Ia tidak sengaja menggenggamnya. Gelang itu tertarik dari pergelangan pria itu saat mereka berlari, pada sentakan yang hampir mengangkat tubuhnya dari tanah.

Tangannya gemetar. Gemetar sejak ledakan dan belum berhenti.

Ia berbelok ke gang. Dinding gedung dipenuhi lubang serpihan yang tampak seperti rasi bintang. Satu sandal anak-anak tergantung di kabel listrik. Vania melewatinya. Tiga bulan di Levante mengajarinya untuk tidak berhenti pada detail. Kalau kau berhenti, kau tenggelam.

Konvoi evakuasi muncul di ujung jalan seperti penampakan: empat bus putih berlogo PBB yang pudar terbakar matahari, satu ambulans dengan pintu terbuka, prajurit berhelm biru mengatur arus manusia. Ada puluhan warga sipil mengantre, keluarga dengan koper diikat tali, orang tua di kursi roda, ibu-ibu dengan bayi terbungkus selimut kotor. Bisingnya berbeda dari ledakan. Ini gumaman terus-menerus dari suara, tangis, dan mesin yang menyala.

Vania berhenti di tepi kerumunan. Ia tidak tahu harus ikut antre atau mencari koordinator pers. Secara naluriah ia mengeluarkan kamera, kamera yang selamat dari ledakan di dalam ransel yang tersilang di punggungnya. Ia menyalakannya. Layar menyala dengan retakan diagonal, tetapi masih berfungsi.

Saat itulah ia melihat mereka.

Seorang gadis muda, tujuh belas atau mungkin delapan belas tahun, duduk di dekat jendela bus kedua. Rambut gelapnya dikepang berantakan, matanya bengkak. Di luar, berdiri di samping jendela, seorang pemuda seusianya menatapnya dengan kedua tangan menempel pada kaca. Gadis itu menempelkan tangannya dari sisi lain. Jari-jari mereka sejajar, ibu jari dengan ibu jari, kelingking dengan kelingking, tetapi tidak bersentuhan. Kaca berada di tengah.

Pemuda itu mengatakan sesuatu yang tidak terdengar oleh Vania. Gadis itu menggeleng. Air mata jatuh tanpa ia seka. Pemuda itu mengangkat tangan kanan dan menggambar sesuatu di kaca yang berembun dengan ujung jari. Sebuah hati. Bengkok, miring, konyol. Gadis itu tertawa di antara isak lalu meletakkan telapak tangan di atas gambar hati, seolah bisa menembus kaca dan meraihnya.

Vania merekam. Ia tidak memikirkannya; tangannya mengangkat kamera dan matanya mencari bingkai sendiri. Jari-jari yang terpisah kaca. Hati di kaca berembun. Air mata yang turun di atas senyum gadis yang pecah.

"Aku sedang merekam ceritaku sendiri."

Pikiran itu menghantamnya seperti ledakan kedua. Ia juga berada di sisi lain kaca yang tak terlihat, terpisah dari seseorang yang namanya tidak ia ketahui, wajahnya belum ia lihat, tangannya sempat menggenggam tangannya tepat tiga detik sebelum melepasnya untuk selamanya.

Ia menurunkan kamera. Napasnya sulit.

Seorang prajurit berhelm biru menyentuh bahunya.

"Mbak, Anda ikut konvoi? Pintu sebentar lagi ditutup."

"Ya," kata Vania, dan suaranya sendiri terdengar jauh.

Ia dinaikkan ke bus ketiga. Tidak ada kursi kosong di bagian depan; ia berjalan ke belakang dan duduk di dekat jendela. Kacanya hangat oleh matahari sore. Di luar, langit Alepo berubah jingga di atas atap-atap yang hancur.

Bus bergerak, maju tiga blok, lalu berhenti. Pos pemeriksaan militer. Lewat jendela, Vania melihat para prajurit memeriksa dokumen, penghalang karung pasir, sebuah tank yang diparkir miring.

Ia menunduk.

Gelang merah masih terbelit di antara jari-jarinya. Ia mengurainya hati-hati lalu memakainya di pergelangan tangan, tepat di atas tulang. Benang itu hangat, seolah menyimpan panas kulit orang lain.

Ia mengangkat wajah.

Dan melihat pria itu.

Ia berdiri di dekat penghalang karung pasir, kurang dari sepuluh meter dari jendelanya. Penutup wajahnya sudah dilepas. Untuk pertama kalinya, Vania melihat wajahnya utuh: rahang tegas, rambut pendek gelap yang lepek oleh keringat, garis debu melintang di dahi seperti bekas luka palsu. Ia berbicara dengan prajurit lain sambil menunjuk sesuatu di peta. Sarung tangan hitam terselip di rompi taktisnya. Tangannya, tangan yang memotong kabel merah, yang menggenggam pergelangan Vania, yang membentuk lengkung di atas kepalanya saat ledakan, kini telanjang.

Di pergelangan kirinya, tempat gelang merah itu dulu berada, ada bekas pucat. Jejak benang yang sudah hilang.

Vania mengetuk kaca dengan buku jari.

Bunyi itu lenyap di antara deru mesin. Ia mengetuk lebih keras. Sekali. Dua kali. Tiga.

Pria itu menoleh.

Mata gelapnya menemukan Vania lewat kaca kotor. Mata yang sama yang memandangnya dari atas dinding, mata yang sama yang berkata "Cukup" ketika ia bertanya berapa waktu mereka. Vania melihat saat tepat pria itu mengenalinya: sepersekian detik ketika alisnya terangkat dan mulutnya terbuka tanpa suara.

Pria itu berjalan ke arah jendela. Vania menempelkan telapak tangan terbuka pada kaca. Pria itu mengangkat tangannya dan menempelkannya dari sisi luar, jari-jari sejajar, terpisah kaca, persis seperti pasangan yang Vania rekam beberapa menit sebelumnya.

Kaca itu dingin di sisi luar dan hangat di sisi Vania. Mereka tidak bisa saling menyentuh.

Tenggorokan Vania menutup. Dengan telunjuk tangan satunya, ia menulis di embun napasnya sendiri pada kaca:

Namamu?

Huruf-huruf itu miring, transparan, hampir lenyap. Pria itu membacanya. Vania melihat bibirnya bergerak. Membentuk satu kata. Dua suku kata. Tiga.

Bus tersentak.

Mesin meraung. Roda berdecit di atas kerikil. Vania merasakan tarikan di perut saat kendaraan bergerak. Ia memukul kaca dengan telapak tangan, "Tidak, tunggu!" tetapi bus terus melaju, karung pasir bergeser mundur, penghalang menjauh, dan pria itu tetap berdiri di sana, tangan masih terangkat, mulut masih terbuka pada kata yang tidak sempat ia dengar utuh.

Hanya suku kata pertama.

"Sa..."

Bus menambah kecepatan. Sosok pria itu mengecil di antara debu, prajurit, dan penghalang sampai hanya menjadi titik gelap di depan langit jingga. Lalu tidak ada lagi.

Vania tetap menempelkan tangan ke kaca. Tulisan yang ia buat sudah hilang karena getaran. Telapak tangannya perih seolah kaca itu panas, padahal dingin.

"Sa..."

Ia menatap pergelangan tangannya. Gelang merah berada di tempat ia memasangnya, di atas tulang, menekan denyut nadi. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri di bawah benang itu.

Ia tidak tahu nama lengkap pria itu. Tidak tahu marganya. Tidak tahu dari unit mana ia berasal atau di pangkalan mana ia ditempatkan. Ia hanya punya satu suku kata, gelang yang bukan miliknya, dan bayangan tangan pria itu terbuka di balik kaca, jari yang tidak sempat ia sentuh, mulut yang tidak sempat ia dengar, kata yang dibawa mesin bus seperti angin membawa debu.

Bus melaju menuju malam. Vania tidak melepaskan kaca sampai kegelapan menghapus seluruh kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!