NovelToon NovelToon
Komandan Galak Itu, Suamiku

Komandan Galak Itu, Suamiku

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Dokter / Tamat
Popularitas:280k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"

Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.

Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

Bagi Rahma, daster Hello Kitty longgar yang ia kenakan hanyalah baju rumahan biasa yang paling nyaman dipakai setelah lelah seharian beraktivitas. Sama sekali tidak ada niat terselubung di kepalanya untuk memancing libid0 sang suami. Namun, entah mengapa di mata Sakti yang sedang dirayapi virus merah jambu, penampilan Rahma malam ini justru terlihat berkali-kali lipat lebih menggoda.

"Sudah ah, Kak. Jangan bahas daster ini lagi. Sebaiknya Kakak makan dulu mumpung mie sehatnya masih hangat," ucap Rahma mengalihkan pembicaraan, berusaha meredakan kecanggungan yang membuat wajahnya terasa panas.

Sakti tidak bergeming. Alih-alih mundur, ia justru mengikis jarak hingga menyisakan beberapa sentimeter saja di antara hidung mereka.

"Aku mendadak tidak lapar karena mie, Rahma... tapi aku lapar karena kamu," bisik Sakti dengan suara berat yang serak.

Deg!

Bulu kuduk Rahma seketika meremang. Jantungnya berdetak liar tak karuan hingga tubuh mungilnya bergetar halus karena disergap rasa takut sekaligus gugup setengah mati.

"Kak, sudahlah jangan menggodaku terus. Kenapa Kak Sakti jadi seperti ini sih? Kakak tuh aneh banget tahu, gak?!" protes Rahma dengan nada yang mulai meninggi, berusaha menyembunyikan kepanikannya.

"Itu karena aku suka sama kamu, Rahma... Kamu ngerti gak sih?!" sahut Sakti dengan nada gemas yang mulai diselimuti rasa kesal karena cintanya terus-menerus diragukan.

Mendengar itu, Rahma justru tersenyum hambar, ada nada meremehkan dalam senyumannya. "Kakak bilang suka? Lantas bagaimana dengan Kak Dinda? Wanita yang sampai kapan pun akan selalu Kakak cintai? Bukankah dulu Kakak sendiri yang pernah bilang, 'Jangan pernah mengharapkan cinta dari Kakak'?"

Deg!

Langkah taktis Sakti langsung terkunci. Sorot matanya membelalak kaget mendengar nama yang sangat asing bagi kehidupan rumah tangga mereka tiba-tiba meluncur bebas dari bibir istrinya.

"Dari mana kau tahu kalau mantan kekasihku itu adalah Dinda?" tanya Sakti dingin, menatap tajam menuntut jawaban.

Deg!

Rahma seketika menggigit bibir bawahnya erat-erat. Ia baru menyadari bahwa dirinya baru saja keceplosan! Padahal, ia sudah berjanji setengah mati kepada Salma untuk merahasiakan bahwa ia telah mengetahui masa lalu Sakti dari adik suaminya itu.

'Ya ampun, Salma! Tolong maafkan aku... aku benar-benar keceplosan!' batin Rahma penuh sesal, merutuki kebodohan mulutnya sendiri.

Sakti terus mengunci pergerakan Rahma, menatapnya intens seolah ingin menelan wanita itu bulat-bulat. "Pasti kau tahu dari Salma, kan? Bocah itu benar-benar...!" Sakti menggeram tertahan, mengepalkan tangannya menahan dongkol pada adiknya yang sangat usil itu.

Menyadari rahasianya sudah terbongkar, Rahma akhirnya memilih untuk bersikap bertahan. Ia mulai menyusun spekulasinya sendiri tanpa mau tahu bagaimana isi hati Sakti yang sebenarnya.

"Sekarang Kakak tidak usah memaksakan diri mengatakan suka padaku. Paling rasa sukanya Kakak itu hanya beberapa persen karena aku sekarang berstatus sebagai istrimu dan karena kita sudah saling kenal sejak kecil. Tapi rasa sukanya Kakak pada Kak Dinda pasti jauh lebih besar dan mendalam, iya kan?!" cecar Rahma menantang.

Sakti menghembuskan napasnya kasar. Dadanya naik turun menahan gregetan yang teramat sangat pada jalan pikiran istrinya.

'Nih bocah, perasaan dari tadi siang di kampus sampai sekarang salah paham terus! Kenapa susah sekali dibilangin sih?' batin Sakti geram sendiri.

"Itu kan perkataanku yang dulu, Rahma! Masalah perasaan itu dinamis, bisa saja berubah sewaktu-waktu seiring berjalannya waktu, iya kan?" jawab Sakti membela diri, berusaha menegaskan bahwa bayang-bayang masa lalu itu perlahan mulai terkikis oleh kehadiran Rahma.

Rahma kembali terbungkam. Ia menatap lekat matanya Sakti, mencoba mencerna dan mencari kebohongan dari setiap untaian kalimat yang baru saja diucapkan suaminya.

Di saat Rahma tengah melamun dan terdiam tanpa suara, Sakti mengira ini adalah kesempatan emasnya. Perlahan tapi pasti, ia kembali memajukan wajahnya. Jarak mereka memangkas drastis hingga hembusan napas hangat Sakti yang beraroma mint menerpa lembut permukaan kulit wajahnya Rahma. Sakti memejamkan matanya perlahan, bersiap untuk mendaratkan kecupan di bibir manis istrinya.

Namun, alih-alih mendapatkan kecupan manis seperti yang ia bayangkan, tiba-tiba...

Sretttt!

Rahma dengan gerakan secepat kilat menyodorkan mangkuk keramik berisi mi instan yang baru saja matang tepat di depan wajahnya Sakti, ia pun memundurkan kepalanya kebelakang mencoba menghindar.

Cup!

Bibir Sakti seketika menempel sempurna pada pinggiran mangkuk keramik yang masih mengepulkan uap panas.

"Aduh! Sss hhhh..." Sakti langsung menarik kepalanya ke belakang sambil meringis perih. Ia mengusap bibirnya yang mendadak terasa panas dan memerah akibat bersentuhan langsung dengan keramik panas.

Melihat pemandangan itu, Rahma yang masih terduduk di atas meja konter dapur langsung tersenyum puas penuh kemenangan.

'Rasakan! Enak saja main nyosor terus. Sudah tiga kali loh Kak Sakti menciumku secara sepihak, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi untuk yang keempat kalinya sebelum Kak Sakti benar-benar bisa membuktikan kalau dia sudah melupakan mantan kekasihnya itu secara total!' pekik Rahma riang di dalam hatinya, sembari menatap jenaka ke arah suaminya yang masih sibuk mengipasi bibirnya sendiri yang kepanasan.

Sakti akhirnya memilih untuk menyerah. Dengan helaan napas pasrah, ia merebut mangkuk keramik berisi mie sehat itu dari tangan Rahma. Kepulan asap tipis masih keluar dari mangkuk tersebut, sewarna dengan bibirnya yang kini memerah akibat terkena panasnya mangkok keramik. Andaikan cacing di dalam perutnya tidak berdemo dengan sangat anarki karena kelaparan dari pagi, ia pasti sudah malas untuk makan malam ini.

Sakti membalikkan tubuhnya dengan langkah gusar, berjalan cepat menuju meja makan tanpa menoleh lagi.

Sementara itu, Rahma yang masih terduduk di atas meja konter keramik langsung merosot turun. Kedua kakinya terasa lemas bagaikan tak bertulang. Ia mengusap dadanya yang berdegup kencang sembari menghembuskan napas lega yang teramat panjang.

"Selamat... akhirnya aku tidak jadi dimangsa oleh suamiku sendiri!" gumam Rahma sangat lirih, bersyukur benteng pertahanannya berupa mangkuk mie tadi berhasil menyelamatkannya di detik-detik terakhir.

Selesai menghabiskan mie instan dalam keheningan yang mencekam, Sakti segera bersiap-siap kembali menuju markas. Suasana hatinya malam ini benar-benar kacau berantakan. Niatnya pulang untuk beristirahat dan berbaikan dengan sang istri malah berujung runyam. Rahma sama sekali tidak mempercayai pengakuannya, dan malah mengungkit-ungkit masa lalunya bersama Dinda yang ingin ia kubur dalam-dalam.

Saat Sakti sudah rapi dengan jaketnya dan hendak melangkah keluar rumah, Rahma berdiri di dekat pintu untuk mengantarnya. Namun, begitu pandangan Rahma jatuh pada wajah suaminya, matanya langsung melebar.

Bibir bagian bawah Sakti terlihat sangat merah merona akibat bekas gigitan kemarin siang ditambah efek bersentuhan dengan mangkuk mie panas barusan. Penampilannya benar-benar terlihat seperti pria yang baru saja mengenakan lipstik merah cerah.

Rahma mati-matian menggigit bibirnya sendiri. Bahunya bergetar hebat menahan tawa yang nyaris meledak.

'Ingin menertawakan suami sendiri tapi takut dosa, ya Tuhan... tapi ini lucu sekali!' jerit Rahma dalam hati, tangannya mengepal erat di sisi tubuh demi menahan diri agar tidak menyemburkan tawa di depan wajah sang perwira yang sedang sensitif.

Sakti yang menyadari gelagat aneh istrinya langsung melotot gemas. Ia tahu betul apa yang sedang ditertawakan oleh Rahma. Dengan wajah yang ditekuk masam dan penuh kekesalan, Sakti mendengus keras.

"Aku berangkat dulu!" ketus Sakti, suaranya terdengar sangat jengkel.

"H...hati-hati di jalan ya, Kak," jawab Rahma terbata-bata, setengah suaranya habis karena menahan tawa dengan bibir yang dikulum rapat-rapat.

Melihat reaksi Rahma yang seolah sangat puas di atas penderitaannya, sudut bibirnya Sakti yang merah itu mendadak tertarik, membentuk sebuah kurva asimetris. Alih-alih langsung melangkah pergi, Sakti justru sengaja memajukan tubuhnya. Ia menunduk dalam, mendekatkan wajahnya hingga bibirnya berada tepat di samping daun telinganya Rahma yang mendadak menegang.

"Kau sepertinya sangat puas melihatku tersiksa malam ini, hem?" bisik Sakti dengan suara rendah yang serak, disusul sebuah seringai licik yang sangat intimidatif. "Tunggu saja pembalasanku besok pagi saat aku pulang, Rahma. Jangan harap kau bisa lolos lagi."

Glek!

Seketika senyum di wajah Rahma lenyap tak berbekas. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, merasakan bulu kuduknya meremang hebat mendengar ancaman yang terdengar sangat tidak main-main itu.

Sakti yang puas melihat perubahan drastis pada wajah istrinya langsung menegakkan tubuhnya. Ia memberikan satu kedipan mata jahil yang sengaja dibuat untuk menakut-nakuti Rahma, sebelum akhirnya berbalik arah dan melangkah mantap keluar halaman rumah dinas, meninggalkan Rahma yang kini didera rasa cemas dan penyesalan yang mendalam di ambang pintu.

Bersambung...

1
Hilmiya Kasinji
ijin baca kak
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih sudah mampir, kak 😊🤗
total 1 replies
juwita
ini si sakti bodoh apa bego. ngpain ngejaga hati buat mantan yg udh jd istri org. mending kasihkan rasa itu buat istri sah mu. gedek banget sm laki" ky gitu yg masih mengharapkan mantan😡😡
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: timpuk aja kak, aku ikhlas 🤣🤣🤣
total 1 replies
juwita
lgian udh nikah sah ngpain tidur pisah kamar aneh" km sakti umur udh tuir gitu kelakuan ky bocah🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
juwita
jorok Rahma knpa g di keluarin aj dr pd di tarik lg keatas🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Deera__
aiih yg mau anu anu mereka kenapa aku yg jadi dah Dig dug deg deg an begini.. alamakkkk ... 🤣🤣🤣🤣🤣/Shame//Shame//Sweat//Sweat//Sweat/
Deera__: hahahahaa🤣🤣🤭🤭🙈🙈🙈
total 2 replies
Deera__
heh enemia ya eh salah amnesia ya kau pak Komandan.🤣🤣/Facepalm//Facepalm/ sadarlah kau itu galak bin kejam. suka judesss dan beri hukuman suka² lgi🤣🤣🤣🤣
Deera__: /Tongue//Tongue//Tongue/

kabuurrr

🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🤸🏻‍♀️
total 2 replies
juwita
udh tau cwek g bener ninggalin km dmi yg mapan. msh aj di cintai. buang rasa yg mau buat cwek gitu mah
Deera__
benar itu Cok Ucok🤣🤣🤣🤣🤣
Deera__
astaga gelii aku /Joyful//Joyful/ GK suka pink
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Eh udah tamat saja.
kelahiran Bima ternyata sebagai penghujung cerita.😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Wah baby Boy nih, kayaknya bakal jadi kesayangan semua Opa Oma'nya.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Akhirnya yang di tunggu² calon anggota baru hadir juga.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Tenang pak Wira, sebentar lagi pasti doanya terkabul.

tapi Emang Rahma lagi libur tah masa magang di RS bandungnya.🤔😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
mayor Adna sudah ga jomblo lagi.🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤗🤗🤗
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selesai juga masalahnya.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
babat sampe habislah sekalian orang yang terlibat di institusi atas biar malu sekalian karna sudah salah menggunakan jabatannya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Profesor Asha dan mayor Yuda teman terThe best, saling bantu dan tau balas budi tanpa iri hati.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Syukurnya ada prof Asha dan dokter Adnan jadi kamu terselamatkan dari pikiran egatifmu sendiri Rahma... lain kali di konfirmasikan dulu baru ambil keputisan kalaupun mau sendiri dulu asal jangan bikin suami mu panik dan malah memperbesar masalah kalau seandainya ada orang lain yang ambil kesempatan di tengah masalahmu dengan Sakti
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Rahma ini lemah banget, kemana keberanian dan otak cerdasmu sebagai calon dokter harusnya sebagai calon dokter yang kerjanya bituh otak yang tenang saat melakukan tindakan bisa juga harus lebih tenang dalam masalah RTnya dan lebih hati² ambil keputisan ga ceroboh dikit² kabur
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hayo loh harus jujur dari pada kedepannya jadi bumerang kalau tiba² Rahma tau dari orang lain atau bisa jadi Dinda datangin Rahma dan ngarang cerita, Sakti.
jadi mending jujur saling terbuka daaannn belajar komunikasi yang lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!