Novel ini mengisahkan tentang seorang wanita hebat yang bernama salwa janatun adwiyah, yang sejak kecil ia sering diperlakukan tidak adil oleh sang ayah hanya karena sebuah alasan salwa tidak seperti saudari kembarnya yang cerdas, penurut dan mampu membanggakan orang tua.
seiring berputarnya roda kehidupan, sayangnya takdir berkata lain, di usianya yang masih belia sang saudari kembar mengalami tragedi kecelakaan bus hingga terbaring koma selama bertahun-tahun di rumah sakit, hingga perlahan pundi-pundi ekonomi merekapun mulai terpuruk, sejak itulah salwa memaksakan diri untuk bekerja demi menopang ke dua orang tua yang mulai kewalahan dalam memenuhi tagihan rumah sakit.
semua yang sudah dilakukan tentu saja belum bisa menutupi utang-utang mereka pada pihak rumah sakit yang semakin hari semakin melejit, hingga akhirnya atas keputusan sang ayah, salwapun terpaksa harus menggadaikan masa depannya dengan menikahi seorang pria yang berasal dari keluarga konglomerat.
suatu ketika semesta mengizinkan pertemuan pertamanya dengan lelaki itu, yang juga diketahuinya berprofesi sebagai pilot, namun tak ada yang bisa menyangka, pertemuan itu cukup merekah senyuman lebar dibibir salwa, bagaimana tidak pria bersinar itu adalah satu-satunya pria yang selama ini ia kagumi bahkan sejak duduk di bangku SMP, menyadari hal itu, salwa juga tidak bisa memungkiri bahwa pria itu sama sekali tidak mencintainya bahkan yang lebih mengerikan lagi, pria itu tengah menjalin hubungan asmara dengan wanita lain.
pernikahan itu terjadi begitu saja, hanya sebatas tinta yang terbubuhi diatas dua buah surat nikah, baru seminggu melantunkan ijab kabul kini pria itu berani melafadzkan kata cerai dihadapan salwa.
semakin hari semakin rumit saja kehidupan rumah tangganya, mereka hidup serumpun namun layaknya seprti orang asing yang tak saling kenal, sebelumnya hal ini sudah bisa dibayangkan oleh salwa, karena jatuh cinta sepihak itu memang menyakitkan, hingga akhirnya salwa memutuskan untuk membuat kesepakatan perceraian dengan lima syarat, agar keduanya bisa hidup dengan tidak terbebani satu sama lain, sungguh gigih perjuangan salwa untuk tetap kokoh mempertahankan makna dari sebuah cinta,hingga satu demi satu dari orang-orang terdekatnya mulai mengerti betapa besar kualitas cinta yang ia hadirkan di tengah-tengah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fathonah larakesi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
*Dia Hanya Teman
Di saat aku, Arief dan Umi tengah berbenah-benah toko cake yang dalam beberapa hari ini sudah akan diresmikan itu, tiba-tiba dari kejauhan terlihat bi Lijah yang tengah berlari kecil menghampiri kami, dengan beberapa tentengan dus cake yang belum sempat kami bawa tadi pagi.
"Lah, aku kan udah bilang bibi dirumah aja, kalo kek begini kan ngerepotin bibi jadinya" tuturku sedikit tak enak, sambil kuraih tentengan yang ada ditangan bi Lijah.
"Gak apa-apa kok non, habis nganterin ini bibi langsung pulang"
"Terus bibi kesininya naik apa?"
"Tuh dianterin sama tuan Qiyas, non!" Sejenak bi Lijah menoleh kebelakang, pun pandanganku turut mengikuti.
"Ouw yah? lalu mas Qiyas nya mana?" tanyaku sambil mencari-cari keberadaan mas Qiyas yang sedari tadi tak terlihat olehku.
"Ada di mobil!" sahut bi Lijah, sontak ku edarkan pandangan ke beberapa mobil yang terpakir di depan halaman bangunan ini, terlihat jelas mobil mas Qiyas terpakir di ujung sana, sontak ku lancipkan senyuman, lalu bergegas menghampirinya, dari dalam mobil mas Qiyas menatapku cukup dingin, hingga saat tubuhku hampir mendekati mobilnya, secara tiba-tiba mas Qiyas mulai memutar arah mobil sembari berlalu begitu saja, aku yang tak bisa berbuat banyak hanya bisa menegun dan menatap kepergiannya.
"E eeh! tuan..tuan, tuan Qiyas mau kemana? tuan?"
Dari arah belakang terdengar teriakan panik dari bi Lijah, ia berlari cukup kencang dan berusaha mengejar mobil mas Qiyas yang sudah melaju itu, namun tetap saja pria batang kayu itu tak berniat untuk menyetop mobilnya.
Hatiku langsung meluruh saat menyaksikan tingkahnya yang tiba-tiba berlalu begitu saja, seketika tubuhku yang mematung ini kembali tersadar dengan segenap jiwa batinku terus menasehati agar aku harus tetap hidup dan harus tetap kuat untuk melewati semua ini.
"Yaah! tuan Qiyas kok malah pergi, terus bibi pulangnya naik apa dong?" Sambil berjalan ke arahku bi Lijah kembali berkeluh kesah yang semakin menyesakkan dadaku saja. Sontak ku coba tenangkan pikiran yang tengah mengamuk ini lalu bersikap biasa biasa saja pada bi Lijah.
"Houuftt! bi?”
“Bibi ambil uang ini, nanti bibi pulangnya naik taxi aja yah?" Pungkasku buru-buru, seraya menyedorkan beberapa lembar uang kertas pada bi Lijah.
Setelah itu akupun langsung buru-buru kembali ke toko, namun aku sedikit terkejut saat mendapati Arief yang tengah berdiri didepan toko sambil memandangi ku, mungkin saja ia sempat menyaksikan kejadian tadi,
"Siapa tadi? suami kamu?" Benar saja sesuai terkaan, Arief sudah melihat semuanya, sebenarnya aku cukup malu tapi ya sudahlah, yang harus aku lakukan saat ini adalah harus tampil baik-baik saja dihadapan semua orang, meski aku tak tahu saat ini apakah Arief bertanya cukup serius, atau hanya sekedar meledekku saja.
"Houuftt, ya!" sahutku pelan dengan hembusan nafas yang cukup keras, berasa udara disekitar sini tak cukup banyak untuk meluaskan rongga paru-paruku.
"Kenapa dia pergi begitu aja?"
"Hum! mungkin dia lagi sibuk, ya udah aku masuk ke dalem dulu ya, masih banyak pekerjaan yang belum di bereskan!" ujarku menghindari pertanyaan Arief, yang semakin membuatku sakit hati saja.
*****
"Salwa?" seketika Umi mengejutkanku
"Haa?" tanyaku kaget.
"Makan! makanan didepan mata kok hanya di liat-liat aja sih!"
"I..iya Umi!" ucapan ku yang gelagapan itu semakin membuat Arief terus mecurigaiku.
"Salwa mikirin apa?"
"Gak! gak ada apa-apa kok Umi, yuk kita makan"
"Nih..!" dengan ragu-ragu Arief akan menuangkan lauk di piringku namun dengan cepat ku tepis sikap perhatiannya itu.
"Aam! gak apa-apa, aku bisa ngambil sendiri kok, makasih!"
"Ow yah! setelah ini Salwa pulang bareng nak Arief ya?" cetuh Umi tiba-tiba.
"Umi!" sahutku, dengan ekspresi wajah menjengkelkan.
"Di rumah kan ada nak Qiyas, Salwa tuh gak boleh keluar terlalu lama, Umi masih mau ngurus beberapa lagi yang belum sempat beres tadi!"
*****
Sejauh ini, tak ada percakapan yang terjadi antara aku dan Arief, terus saja kupandangi jalanan yang macet ini hingga akhirnya terdengar Arief yang mulai bersuara.
"Aam! Salwa?" panggilnya sedikit ragu-ragu.
"Umm?" sahutku tak bertenaga.
"Kamu masih marah ya sama aku?"
"Arief tolong jangan bahas masalah itu lagi!"
"Aku minta maaf kalo emang kamu masih marah sama aku"
"Huufftt! gak ada yang perlu di maafin dan gak ada yang perlu minta maaf"
"Tapi Salwa aku..." seketika ku penggal ucapannya.
"Arief!!!" tegasku dengan pelototan mata tajam padanya.
"Ok, ok!"
Kini Arief tengah menepihkan mobilnya di halaman parkir, sudah terlihat mas Qiyas yang berdiri di depan pintu sambil memerhatikan mobil Arief.
"Tumben-tumbennya jam segini mas Qiyas ada dirumah, duuh gimana nih!" gumamku yang mulai panik, rasanya paru-paru ku mulai kehabisan oksigen lagi, kenapa keadaan ini begitu runyam untuk ku hindari.
"Ayok turun!"
"Aam! tunggu beberapa menit lagi ya!" seketika Arief menatapku aneh, namun ia mulai paham saat melihat mas Qiyas yang ada didepan sana.
"Ouw! seberapa lama kita akan berdiam diri disini?"
"Sampai dia masuk ke dalem rumah"
"Kamu yakin dia akan masuk ke dalem? yang aku liat sih, dia cukup penasaran dengan orang yang ada di dalam mobil ini" seketika ku suguhkan tatapan mengesalkan padanya.
"Kenapa kamu tatap aku kek begitu?" tak ada jawaban apapun masih dengan tatapan yang sama.
"Aku sih gak masalah, cuman yang aku takutkan nanti dia malah mikir yang macem-macem kalo kita berlama-lama didalam sini" ucapan Arief kali ini, seketika menyeret tubuhku untuk keluar dari mobil, dengan hati yang was-was aku dan Arief berjalan menghampirinya.
"Hai! aku Arief" seketika mas Qiyas menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki
"Qiyas!" jawabnya sangat datar.
"Ahm! mau minum dulu gak didalem?" dengan ragu-ragu ku tawari Arief untuk berkesempatan meneguk segelas minuman.
"Hmm! gak apa-apa, aku langsung balik aja"
"Ouw ok, makasih ya udah nganterin aku!" iya hanya tersenyum sembari berlalu meninggalkan kami.
Ku lihat wajah mas Qiyas yang sejak tadi tak ada senyum-senyum nya sama sekali, semakin membuatku beratanya-tanya, apakah ia tengah marah ataukah biasa-biasa saja.
"Aam, di..dia itu temen aku" ucapku ragu-ragu.
"Terus?"
"Gak, takutnya nanti kamu salah paham"
"Bhuuws!" sontak ia melepaskan tawa sinisnya.
"Aku sih gak peduli ya, mau dia temen kamu, pacar kamu, atau bahkan suami sirih kamu sekalipun, gak ada masalah buat aku!" ia lalu beranjak masuk kedalam rumah.
Tak ingin berlama-lama terpaku seorang diri dlijah, segera saja ku hampiri bi lijah yang ada di dapur.
"Bi! mas Qiyas udah makan?" tanya ku lirih, takut kedengaran oleh mas Qiyas yang tengah bersantai di ruang TV.
"Iya sudah non!"
"Okey!" sahutku pelan.
*****
"Aam! kapan lagi jadwal fly kamu?" pertanyaan ku ini bagaikan semburan angin di telinga nya, hingga ia tak berespon apa-apa terus saja ia menatap layar televisi itu seperti tak bertemankan manusia yang tengah duduk berjarak di sampingnya saat ini.
"Aku ini isteri kamu, aku wajib tau jadwal fly kamu kapan aja" lagi-lagi aku semakin jengkel saja dibuatnya.
"Kalo kamu kesini hanya untuk menggerutu, mending kamu keluar dari ruangan ini" jawabnya datar.
"Apa kamu gak bisa, sedikit aja menghargai aku?"
"Kamu sendiri aja gak bisa menghargai diri kamu, apa lagi orang lain!"
"Maksud kamu apa?"
"Wanita berharga gak akan pernah menjual dirinya demi uang" terus saja ia berbicara tanpa melihat wajahku, aku yang mulai emosi atas tingkah dan ucapannya yang sangat keterlaluan itu, seketika aku mulai terperanjat dan berdiri di hadapannya.
"Aku gak pernah jual diri aku!"
"Kamu pikir menikah karena uang, itu bukan jual diri namanya? heh asal kamu tau yah, aku bisa dengan bebasnya nyentuh kamu kapan aja, tapi sialnya sedikitpun aku gak suka sama kamu, bahkan sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, kenapa papah aku membeli wanita seperti kamu yang gak nafsu untuk ku pakai sama sekali"
Mendengar kalimatnya yang amat pedih itu, aku lalu tersimpuh lemah di atas lantai, tak ada yang bisa ku katakan lagi, betapa sakitnya hati ini, tanpa keraguan ia torehkan sayatan diatas luka lama, aku yang hampir putus asa dengan tatapan dan pikiran yang kosong, hanya menyisakan bulir-bulir air mata yang terus menggelinding di wajahku, serta secercah harapan ingin segera bertemu dengan sang malaikat Izrail, namun secuil akal sehatku berbisik bahwa aku harus tetap kokoh dan bertahan.
Eeeiiiittts..🙋Udah Vote belum? udah? jangan lupa coment yah🤗