Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
#33
Mobil Bagas berhenti di depan rumah Mama Juwita seperti hari-hari biasa, tanpa terasa sudah hampir sebulan Bagas melakukan ritual tersebut, mengantar Dinda tengah malam, lalu menjemputnya pagi-pagi buta.
Demi cinta, dan demi menghabiskan banyak waktu bersama, semua itu tak terasa melelahkan bagi Bagas.
Tapi sepanjang perjalanan tadi, Bagas merasa Dinda sedang tak baik-baik saja.
Bukankah hubungan mereka memang tak baik-baik saja sejak dulu? Memang, sih, tapi kali ini perasaan Bagas mengatah hal lain, ini berbeda dari perselisihan mereka biasanya.
“Aku turun dulu, ya, Mas? Kamu hati-hati di jalan.”
“Begini saja, tidak ada yang ingin kamu katakan?” balas Bagas dengan bibir mengerucut.
“Jangan mulai, deh, nggak mempan,” jawab Dinda, “lagian memang tak ada yang ingin ku sampaikan.”
Sebab Dinda masih ragu, belum siap mengatakan apa yang baru saja ia temukan. Tapi Dinda sudah berjanji pada dirinya sendiri, dalam waktu dekat ia akan mengatakannya.
“Jangan bohong pada kekasihmu, kamu lupa kalau aku termasuk salah satu orang yang paling mengenalmu?”
Blush!
Tiba-tiba wajah Dinda merona, padahal Bagas tidak sedang menggombal, tapi wanita itu sudah merasa grogi. “Tidak ada, Mas,” jawab Dinda, sekali lagi ia masih berpikir untuk menunda, sambil menyiapkan mentalnya sendiri.
“Kalau begitu buktikan.” Bagas menyodorkan pipinya, dengan maksud ingin di cium.
“Kenapa pipimu?” seloroh Dinda polos, tak paham maksud dan omongan Bagas
“Dih, kelamaan menjanda jadi lola begini, nih. Maksudnya cium, Sayang.”
Dinda menoyor wajah Bagas hingga kembali ke tempat semula, “Nggak nyambung.” Lalu ia bergegas keluar, sebelum mereka kepergok para tetangga.
Bagas menurunkan kaca jendela mobilnya, “Jangan lupa mimpiin aku, ya?”
“Hmmm,” sahut Dinda ogah-ogahan.
Gemas dengan sikap mantan istrinya, Bagas pun memilih keluar dari mobil, lalu meraih tangan Dinda. “Kok, malah keluar?”
“Aku ingin mengantarmu sampai ke depan pintu rumah, seperti saat kita kencan dulu.”
Dinda pasrah ketika Bagas menggandeng tangannya, dan mereka melangkah memasuki halaman rumah.
“Aku sangat serius untuk mengajakmu rujuk, jadi aku juga tak ingin setengah-setengah meraih hati mama, agar memberikan restunya untuk kita. Aku harap, kamu juga tidak menyembunyikan apapun lagi dariku,” pinta Bagas.
Gleg!
Dinda mengangguk pelan, menelan ludahnya dengan susah payah, masih ada rahasia besar yang ia sembunyikan dari Bagas, bukan hanya rahasia soal Biandra.
Bagas menyadari perubahan air muka Dinda, “Kenapa? Apa tebakanku benar?”
“Aku—”
Klek!
“Dinda! Kenapa baru pulang?!”
Suara Mama Juwita membuat genggaman tangan mereka terlepas tiba-tiba.
“T-tadi— anu, Mah, eyang—”
“Jangan bawa-bawa eyang sebagai alasan, jangan bilang kalian sengaja biar bisa berduaan?!” tuding Mama Juwita, dengan tuduhan dan nada suara yang tak enak di dengar.
“Maaf, Ma. Tapi, sungguh, kami tak bohong,” timpal Bagas, agar Dinda tan mendapat omelan dari mamanya.
Mama Juwita tersenyum sinis, “Kamu masih percaya padanya, Dind?” Dinda terdiam.
“Apa yang mantan suamimu katakan sampai kamu luluh padanya, hah?!”
“Kami saling mencintai, Ma, dan aku janji akan memperbaiki semuanya,” jawab Bagas, ini adalah perjuangannya, maka dialah yang harus mengambil tempat di depan, bukan hanya Dinda.
“Huh?! Cinta,” dengus Mama Juwita sinis, “Kalau benar cinta, harusnya dulu kamu tak meninggalkannya, mabuk-mabukan dan malah tidur dengan perempuan lain. Sementara Dinda pontang-panting mencari anak kalian.”
“Itu salah paham, Ma. Aku bahkan tak mengenal wanita itu, kebetulan saja kami bertemu di club malam.”
“Mas Bagas sudah menjelaskan semuanya, Ma.”
Dinda ikut menambahkan, membuat Mama Juwita makin naik darah. “Dan kamu percaya?!”
Dinda mengangguk, Bagas yang melihat hal itu tiba-tiba merasa perjuangannya akan sedikit lebih mudah.
Tapi, pembicaraan mereka terhenti sebab Dara tiba-tiba keluar dengan wajahnya yang kusut, karena tidurnya terganggu.
“Udah malam, sebaiknya ributnya dilanjutkan besok, atau kalo nggak di dalam rumah saja. Nggak enak di dengar tetangga.”
Sudah kepalang basah, maka Bagas masuk lebih dulu, sebab ia masih punya cukup tenaga untuk melunakkan hati Mama Juwita.
“Heh, siapa yang menyuruhmu masuk?”
“Ma, sudah, Ma. Nggak enak di dengar tetangga,” kata Dinda, mencoba menenangkan sang mama, yang tampaknya menunjukkan taringnya yang tajam, hanya karena melihat Bagas masuk ke dalam rumah.
Tapi Mama Juwita dengan segala keegoisannya sebagai seorang ibu, tetap tak mau mengalah. Biar bagaimanapun Dinda adalah buah hatinya, tak ada yang rela anaknya disakiti, apalagi oleh orang yang dulu sangat ia sayangi dan banggakan sebagai menantu terbaik.
Tiba di ruang tengah, Bagas langsung berlutut di hadapan Mama Juwita, pbelaan Dinda sesaat lalu, cukup menjadi energi dan bahan bakar pemicu semangatnya. “Tolong izinkan kami bersama, memperbaiki segala sesuatu yang salah di masa lalu, dan sebagai kepala rumah tangga, saya janji kali ini saya akan lebih dewasa dalam bersikap.”
“Nggak!” tolak Mama Juwita tegas. “Jangan harap kali ini Mama akan memberikan restu Mama pada kalian. Selama ini Dinda sudah bahagia tanpamu, bahkan ada seorang pria yang sangat mencintainya.”
“Dinda nggak bahagia, Bu,” jawab Dinda dengan kedua mata berkaca-kaca.
“Kalau tak bahagia, kamu akan memberi kesempatan pada mantan suami yang telah mengkhianatimu ini?”
Dinda mengangguk yakin, dan itu sudah lebih dari cukup untuk Bagas. “Dinda hanya butuh Mas Bagas untuk bahagia, Ma. Tolong—”
Dinda meraih tangan Bagas, agar pria itu kembali berdiri, sebab percuma saja berlutut, karena hal itu tak akan meluluhkan hati mamanya.
Bibir Mama Juwita berkedut sini, “Kamu lupa dengan apa yang dilakukan adiknya yang gila itu? Apa yang dilakukannya padamu, hah?!”
Dada Bagas terasa sesak, jika ada yang menyinggung perihal Biandra.
“Dia dan keluarganya bahkan tak bisa tegas pada adiknya. Bukannya membawa Biandra ke rumah sakit jiwa, malah membiarkan orang gila tinggal di rumah kalian.”
“Ma, sudah cukup!” tegur Dara tegas, sebab ia tak tega manakala melihat raut wajah Bagas yang terlihat menderita, saat mendengar Mama Juwita menyebut adiknya sebagai orang gila.
“Kamu juga ikut-ikutan membela dia?!” bentak Mama Juwita, akhirnya Dara kena omelan juga.
“Bukan membela, Ma. Tapi aku rasa ucapan Mama sudah keterlaluan, apa salahnya membiarkan Mas Bagas dan Mbak Dinda rujuk. Mereka juga berhak bahagia, apalagi mereka masih punya Abel.”
“Abel sudah meninggal.”
“Tidak! Abel masih hidup, dan aku yakin, cepat atau lambat kami pasti menemukannya,” isak Dinda emosional, sebagai ibu yang melahirkannya, Dinda yakin bahwa putrinya masih hidup, serta ada di suatu tempat saat ini.
Bagas kembali maju beberapa langkah, “Penyesalan terbesar Bagas adalah menyetujui ajakan Dinda untuk berpisah, Ma. Bagas tahu dan menyadari betapa sangat tidak dewasanya Bagas saat itu, Bagas janji akan memperbaiki semua kesalahan Bagas di masa lalu, Ma.” Bagas tak akan bosan mengulang ucapannya, ia menunduk dengan leher tercekat, karena menahan tangis dan sesak di dada.
“Kamu pikir penyesalanmu ini akan mengembalikan kepercayaan Mama?” tanya Mama Juwita pelan, namun, penuh penekanan. “Kamu sudah menghancurkannya, Bagas.”
“Maa—” Dinda kembali memohon.
“Jangan coba-coba melawan Mama, Dind. Lagipula apa kamu yakin dia akan menerima kamu apa adanya, menerima keadaanmu yang tidak lagi utuh seperti dulu?”
Bagas mendongak dan bertanya-tanya dalam hati, “Kamu harus bersyukur, karena Angga mau menerima kamu apa adanya,” tutur Mama Juwita lembut.
“Dinda nggak bisa sama Mas Angga, Ma.”
“Kamu hanya belum mau membuka hatimu, dia tulus mencintaimu, meski tahu kondisimu yang tak bisa lagi punya anak.”
Bagas terbelalak, untuk sejenak jantungnya terasa berhenti berdetak. Sebelum akhirnya kembali berdetak kencang tak karuan rasanya, setelah mendengar kabar mengejutkan yang terlontar dari lisan Mama Juwita.
Dinda menoleh ke arah Bagas, seolah berharap bahwa Bagas akan tetap kukuh bertahan dengan keinginannya.
“Apa maksudnya, Sayang?” tanya Bagas seperti orang linglung sejenak.
ko ya ikut bahagia
apa lagi yang jemput orang bisa di percaya jadi gasss