NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sambutan dari Semesta

"Arka... bangun, Ka..."

Lintang menepuk-nepuk pipi Arka dengan tangan yang masih gemetar. Kepala cowok itu kini berada di atas pangkuan Lintang.

Setelah sempat pingsan di samping ranjang tadi, tubuh Arka langsung dipindahkan ke sofa panjang kamar VIP dengan bantuan perawat.

Suhu tubuh cowok itu kembali memanas. Demamnya yang tadi pagi sempat turun kini melonjak drastis. Tubuh Arka bener-bener tumbang akibat syok, stres, dan duka mendalam yang menghantamnya secara bertubi-tubi.

Sementara itu, di sudut ranjang yang kini kosong, jenazah Frina sedang diurus dan dipersiapkan oleh tim medis sebelum dipindahkan ke rumah duka.

Di sisi lain ruangan, Ilna tak kalah syok. Wanita paruh baya itu tidak berhenti menangis hingga tubuhnya lemas, terpaksa bersandar sepenuhnya pada dada Leno yang terus mendekapnya erat. Kehilangan sahabat sejati sejak SMP merenggut separuh kekuatan Ilna.

"Arka... jangan kayak gini... bangun, dong..." Lintang terus berbisik lirih, mencoba membangunkan suaminya.

"Bunda..." Arka bergumam gelisah dalam tidurnya. Keningnya mengernyit dalam, menahan sesak yang terbawa sampai ke alam bawah sadar.

Lintang semakin terisak mendengar gumaman itu. Namun, dia mati-matian menahan suaranya agar tidak pecah. Lintang tahu dia harus kuat sekarang demi Mami dan suaminya.

"BUNDA!"

Arka mendadak bergerak bangkit secara refleks, persis seperti orang yang baru saja terbangun dari mimpi buruk yang teramat mengerikan.

Lintang sampai terlonjak kaget di tempatnya duduk.

"Bunda... gue... Bunda gue mana?!" Arka tampak kelabakan. Pandangannya mengedar liar dengan tatapan kosong yang linglung.

Dengan tubuh yang masih sempoyongan, dia memaksa kakinya untuk berdiri.

"Arka... Bunda udah nggak ada..." Lintang ikut berdiri, dengan cepat menahan kedua lengan Arka agar cowok itu tidak terjatuh.

"Nggak mungkin... Bunda gue nggak mungkin meninggal!" Suara Arka mendadak mengecil. Nada bicaranya bergetar hebat, menolak mentah-mentah kenyataan pahit di depannya.

Lintang menggelengkan kepalanya pelan, air matanya kembali menetes bebas. "Enggak, Arka... duduk dulu, please..."

Mata mereka saling bertemu. Sorot mata Arka yang biasanya tajam dan penuh harga diri, kini meredup total, menyiratkan kerapuhan yang luar biasa.

"Bunda gue... beneran udah meninggal?" lirih cowok itu, seolah baru tersadar dari denial-nya.

Lintang tidak kuasa lagi menahan buncahan kesedihan di dadanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia langsung menarik tubuh tegap Arka dan membawanya ke dalam pelukan erat.

Detik itu juga, tangis Arka langsung pecah. Cowok itu menangis meraung-raung di ceruk leher Lintang. Keras dan begitu pilu. Arka benar-benar hancur, persis seperti seorang anak kecil yang baru saja kehilangan seluruh dunianya.

...----------------...

Keesokan paginya.

Langit menyambut hari dengan begitu cerah. Guratan cahaya matahari yang hangat seolah bersiap menemani aktivitas semua orang dengan riang. Namun, tidak bagi Arka. Baginya, dunia sudah kehilangan seluruh warnanya.

Pagi ini, dengan pakaian serba hitam, Arka berjalan memimpin barisan. Bahu kirinya menyangga besi dingin keranda berisikan jenazah sang bunda di dalamnya.

Suasana makam itu begitu asri dan tenang. Seolah alam pun ikut bersukacita menyambut datangnya seorang insan yang baru saja menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik di dunia.

"Laa ilaha illallah, laa ilaha illallah, laa ilaha illallah..."

Gema tahlil bersahut-sahutan dari mulut bapak-bapak dan ibu-ibu tetangga yang ikut mengantarkan jenazah Frina ke peristirahatan terakhir.

Arka terus melangkah di barisan kanan paling depan. Pandangannya kosong, lelah, dan linglung. Kepalanya terasa mengambang luar biasa akibat demam tinggi yang belum sepenuhnya turun. Berkali-kali tubuh bongsornya oleng ke kanan dan ke kiri saat melangkah.

Di belakangnya, Lintang berjalan berdampingan dengan sang mami, mendekap foto dan papan nisan kayu bertuliskan nama Frina. Lintang menatap punggung Arka dengan dada sesak.

Tadi sebelum berangkat, dia sudah mati-matian melarang suaminya itu ikut menggotong keranda. Namun, Arka bersikeras. Cowok itu ingin menemani bundanya untuk yang terakhir kali dengan tenaganya sendiri.

Begitu sampai di area pemakaman, keranda perlahan diturunkan di dekat lubang galian yang masih basah.

"Nak Arka... Silakan ikut turun ke liang lahat untuk menerima jenazah Ibunda," ujar Pak Ustadz dengan lembut.

Arka mengangguk samar. Dengan tubuh yang gemetar menahan lemas, dia turun ke dalam lubang sedalam dua meter itu bersama dua orang kerabat lainnya.

Tali-tali pengikat keranda dibuka. Perlahan, jenazah Frina yang dibalut kain kafan putih bersih diturunkan ke bawah. Arka menyambut tubuh kaku bundanya dengan kedua tangan yang gemetar hebat.

Dibantu yang lain, mereka membaringkan jenazah Frina secara miring menghadap kiblat, lalu mengganjal bagian punggung dan kepala jenazah menggunakan bulatan-bulatan tanah liat agar posisinya tidak berubah.

Sebelum papan-papan kayu penutup dipasang, Arka berjongkok. Jemarinya yang dingin menyentuh dan mengusap pelan bagian punggung tangan bundanya yang terbungkus kain kafan.

"Bunda... Sekarang Bunda udah sembuh," bisik Arka, suaranya tercekat di tenggorokan. "Arka seneng Bunda nggak perlu nahan sakit lagi. Tapi Arka juga sedih... karena setelah ini, Bunda nggak akan pernah kembali."

Arka memejamkan matanya erat, membiarkan setetes air mata jatuh ke tanah makam. "Arka janji... Arka bakal lanjutin hidup. Tapi Arka nggak bisa janji... kalau setelah ini... Arka nggak bakal hilang arah..."

Arka menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya lalu berdiri tegak di dalam liang lahat.

Dia mendekatkan wajahnya ke arah telinga jenazah sang bunda, bersiap mengumandangkan adzan dan Iqamah terakhir.

"Allahu akbar, Allahu akbar..."

Suara adzan yang keluar dari mulut Arka bergetar begitu hebat. Nada suaranya pecah, sarat akan duka dan keputusasaan seorang anak yang ditinggal mati oleh separuh jiwanya.

Di atas galian, air mata Lintang mengalir deras tanpa suara. Dia menyaksikan sendiri bagaimana laki-laki yang dia cintai, suaminya, kehilangan satu-satunya penopang hidupnya selama ini, untuk selamanya.

"Laa ilaha illallah..." Iqamah berakhir dengan begitu pilu.

Arka perlahan dibantu naik kembali ke atas. Tak lama kemudian, cangkul demi cangkul tanah mulai ditumpahkan, perlahan-lahan menimbun tubuh Bunda Frina, menyembunyikannya dari dunia luar untuk selamanya.

...----------------...

Nama Frina Delinia binti Alm. Umar Sahab kini terukir jelas di atas nisan kayu yang masih basah. Makamnya sudah bertabur kelopak bunga mawar dan melati yang harum.

Beberapa ekor kupu-kupu kecil berterbangan di atas gundukan tanah itu, seolah ikut bahagia menyambut kepulangan yang diciptakan oleh Sang Pencipta.

Rombongan pelayat perlahan mulai membubarkan diri, menyisakan keluarga inti yang masih terpaku memandangi makam baru tersebut.

"Frina... Selamat ya. Kamu menang. Kamu berhasil pulang dengan tenang," lirih Ilna sambil mengusap lembut papan nisan sahabatnya sejak SMP itu. Air matanya menetes lagi.

"Aku janji... anak-anak kita, Arka dan Lintang, bakal aku jaga sama Mas Leno. Kamu nggak perlu khawatir Arka sendirian di dunia ini..."

Bzzzt... Bzzzt...

Di tengah suasana duka itu, ponsel di saku celana Leno bergetar. Leno melirik layarnya sebentar, lalu pamit menjauh beberapa langkah dari area makam untuk menerima telepon.

"Halo."

"Pak Leno, saya Dokter Fandy," ujar suara dari seberang telepon.

"Baik, ada apa, Dokter Fandy?" tanya Leno dengan nada serius.

"Saya menemukan kejanggalan besar saat menangani Ibu Frina di detik-detik terakhirnya kemarin. Saat saya masuk ke kamar VIP, selang oksigen yang tadinya terpasang rapat di hidung beliau sudah lepas berantakan begitu saja. Tidak hanya itu, monitor mesin ventilator di samping nakas juga dalam keadaan mati total akibat sengaja dimatikan," jelas Dokter Fandy, suaranya terdengar sangat tegang.

Leno seketika terdiam. Tatapannya menajam.

"Padahal, selang oksigen itu sama sekali belum boleh dilepas. Dan secara medis... sangat mustahil kalau pasien dalam kondisi selemah itu melepasnya sendiri," lanjut Dokter Fandy.

"Lalu, apa yang membuat Dokter curiga?" tanya Leno, merendahkan suaranya.

"Saat saya meminta pihak keamanan memeriksa CCTV koridor VIP, rekaman di jam kejadian tersebut hilang total. Dihapus secara sengaja. Saya rasa... ada yang tidak beres dengan kematian Ibu Frina, Pak Leno."

Krek.

Rahang Leno mengeras sempurna mendengarnya. Amarahnya perlahan menyulut. "Saya akan ikut tangani masalah ini segera. Untuk saat ini, saya minta Dokter tolong rahasiakan hal ini dari siapa pun, termasuk Arka. Mental anak itu masih berduka dan sangat rapuh."

"Baik, Pak. Terima kasih atas kerja samanya. Di sini saya juga sedang menginterogasi para perawat yang berjaga kemarin," ujar Dokter Fandy.

"Baik. Terima kasih atas informasinya, Dok."

Sambungan terputus.

Leno menurunkan ponselnya, lalu menghela napas panjang yang terasa sangat berat. Matanya menatap tajam ke arah langit.

Sepertinya... konspirasi ini jauh lebih rumit dan kotor dari sekadar asumsi kalau Frina menyerah pada penyakitnya.

1
siyuu nr
🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!