SCANDAL Part II: To Catch a Star
Sinopsis:
Bagi dunia, Galasky Ardayana (35 tahun) adalah definisi kesempurnaan. Aktor papan atas yang telah merajai layar kaca selama 12 tahun, pewaris tunggal Ardayana Group yang membangkang, dan pria lajang yang paling diinginkan se-Indonesia. Namun, di balik lampu spotlight, Gala adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan di masa kuliah membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat, lebih memilih hidup sebagai "perjaka tua" daripada harus terluka lagi.
Namun, ketenangannya hancur saat Airaya Greline Pradipta (19 tahun)—putri dari sahabat karibnya sendiri, Elang Adytama—muncul kembali sebagai gadis dewasa yang luar biasa cantik... dan sangat berani.
Yaya tidak main-main. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 16 tahun. Dia juga tidak peduli kalau Gala adalah orang yang sering menggendongnya saat ia masih bayi. Bagi Yaya, Gala adalah satu-satunya pria yang harus ia taklukkan.
"Om Gala, jangan sok jual mahal. Daripada diledekin perjaka tua terus sama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
....
...
Malam ke-15 di apartemen eksklusif milik Galasky. Angka lima belas harusnya menjadi pencapaian luar biasa bagi Gala karena berhasil mempertahankan status Bujang Lapuk Terhormat dari jajahan Tuan Putri Adytama . Namun, malam ini semesta seolah sedang berkomplot dengan isi otak gesrek milik Airaya Greline Pradipta.
Pukul sebelas malam lewat, Gala baru saja melangkah masuk ke dalam apartemennya dengan langkah gontai. Tubuhnya lelah, tapi wajahnya memancarkan binar kebahagiaan yang jarang terlihat. Dia baru saja pulang dari rumah sakit, menjenguk Regal partner in crame sebagai bocil kematian zaman SMA-nya dulu di AIS.
Siapa yang menyangka bocil kematian yang dulu hobi ngacak-ngacak kulkas apartemennya sambil megang kamera spionase itu, sekarang sudah resmi jadi ayah! Regal dan istrinya akhirnya dikaruniai anak pertama setelah delapan tahun penuh perjuangan dan air mata menanti kehamilan.
Melihat Regal menggendong bayi merahnya dengan mata berkaca-kaca, entah kenapa ulu hati Gala mendadak berdesir aneh. Ada rasa hangat yang pelan-pelan menjalar, disusul bayangan wajah Yaya yang tiba-tiba melintas di otaknya.
"Ah, gila lu Gal. Fokus, dia anak Bang Elang," gumam Gala sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir bisikan gaib yang mulai tidak beres itu.
Gala langsung melakukan ritual wajibnya setiap pulang: mandi air dingin biar segar, ganti baju kaos tipis dan celana pendek, lalu duduk santai di depan TV berukuran raksasa di ruang tamu untuk meluruskan otot-ototnya yang kaku. Suasana apartemen sepi dan tenang. Gala menghela napas lega, menduga sang rubah seksi sudah terlelap di kamar.
Dia tidak tahu saja, di area dapur open space yang terletak beberapa meter di belakang sofa, Yaya sedang menjalankan misi rahasia.
Aira tidak sedang memakai daster sapi atau daster batik bunga bangkai Tanah Abang pemberian Gala. Malam ini, dia benar-benar totalitas. Aira mengenakan lingerie sutra hitam sepaha dengan belahan rendah di bagian dada yang super transparan. Kulit putih mulusnya kontras menyala di bawah temaram lampu dapur.
Tangan lentiknya dengan sengaja menuangkan sisa sabun cuci piring cair di atas ubin lantai toilet dapur dekat sink. Setelah memastikan posisinya pas dan Gala sudah terlihat santai menikmati tontonan TV-nya, Aira menarik napas panjang.
Ini bukan pura-pura jatuh. Ini murni aksi nekat sengaja menjatuhkan diri demi sebuah eksekusi!
SREEET... GEDEBUAAAK!
"HUAAAAAA! OM GALA!!! SAKIIITTT!!!" teriakan melengking Aira memecah kesunyian malam, disusul bunyi dentingan botol sabun yang sengaja ditendang agar suasananya makin dramatis.
JREGGG!
Gala yang baru saja mau menyuap camilan langsung melompat dari sofa secepat kilat. Tanpa pikir panjang, Gala berlari kencang menuju dapur. "Yaya?! Kamu kenapa—"
Kalimat Gala mendadak lenyap ditelan bumi begitu sampai di ambang pintu toilet dapur. Langkah kakinya membeku, matanya melotot nyaris keluar dari tempatnya
Di atas ubin lantai yang licin penuh busa sabun, Aira sedang terduduk lemas dengan posisi kaki jenjang yang sengaja disilangkan, memperlihatkan paha mulusnya yang tidak terhalang oleh lingerie hitam tipis itu.Rambutnya yang terurai berantakan dan matanya yang berkaca-kaca membuat penampilannya malam ini benar-benar seratus kali lebih mematikan daripada bom atom
"Om... hiks... kayaknya kaki yaya terkilir deh.. licin banget ini lantai," rintih Aira.
Gala menelan ludah susah payah. Oksigen di sekitar dapur mendadak tersedot habis. Otaknya langsung nge-lag total, memorinya mendadak traveling liar ke mana-mana melihat pemandangan haram di depan matanya. Sialan, daster longgar Tanah Abang kemarin bener-bener gak ada gunanya kalau kelakuan anaknya Elang sekreatif ini
Gala mencoba menetralkan suaranya, melangkah maju dengan sangat hati-hati agar tidak ikut tergelincir. Dia berjongkok di depan Aira, berusaha keras menjaga matanya agar tetap fokus pada wajah pucat buatan gadis itu, bukan pada hal lain.
"Yaya... kamu... kamu ngapain malam-malam pakai baju kekurangan bahan begini di dapur?! Terus ini kenapa lantai penuh sabun?! Lu mau buka busa busan massal di apartemen gua?!" omel Gala frustrasi, mode ketusnya keluar buat menutupi detak jantungnya yang sudah disko parah
"Ih, Om mah bukannya ditolongin malah diomelin! Tadi Yaya mau ambil minum, terus gak sengaja nyenggol botol sabun, terus pas mau bersihin malah kepeleset! Sakit tau, Om!" sentak Aira cemberut, sengaja memajukan tubuhnya hingga aroma stroberi yang manis langsung menyerbu indra penciuman Gala.
"Ya lagian salah kamu sendiri! gak hati hatu!" Gala menjulurkan tangannya, berniat menarik lengan Aira agar berdiri
Tapi Aira justru tersenyum licik dalam hati. Begitu tangan besar Gala memegang lengannya, Aira sengaja menarik tubuh Gala kuat-kuat sambil berpura-pura kehilangan keseimbangan karena ubin yang licin
"Eh... Eeh! Yaya jangan ditarik—"
HUP! BRUKKK!
Dalam hitungan detik, posisi mereka langsung berubah 180 derajat di atas ubin dapur. Gala tergelincir maju, dan tubuh atletisnya yang kekar langsung menindih tubuh Aira sepenuhnya. Kedua tangan Gala refleks bertumpu di sisi kepala Aira untuk menahan beban badannya, sementara wajah mereka hanya berjarak kurang dari dua sentimeter.
Suasana mendadak hening. Hanya terdengar deru napas mereka yang saling memburu. Aroma maskulin parfum Gala bercampur sempurna dengan wangi stroberi dari kulit halus Aira
Gala bisa merasakan kehangatan tubuh Aira yang langsung menempel pada dadanya. Mata tajam Gala mengunci mata nakal Aira, dan di jarak sedekat ini, akal sehat sang aktor terbaik Piala Citra itu benar-benar resmi mengucapkan selamat tinggal.
"Om..." bisik Yaya rendah,
Gala mendengus, rahangnya yang tegas mengeras menahan gejolak hasrat pria dewasa yang sudah dia kunci rapat selama belasan tahun. Di otaknya, bayangan wajah seram Elang yang biasanya muncul sebagai mantra penguat iman, malam ini mendadak blur dan lenyap digantikan oleh mata indah gadis di bawahnya. Persetan dengan semuanya.
"Kamu... kamu bener-bener gak ada kapoknya ya, Airaya," suara bariton Gala berubah menjadi sangat berat, serak, dan penuh ancaman]. "Om udah kasih kamu kesempatan buat jadi anak baik, tapi kamu malah milih jadi rubah nakal."
"Yaya kan udah bilang dari awal, Om... Yaya gak takut dibakar api. Daripada Om kesepian jadi perjaka tua diketawain Om-Om yang lain, mending sama Yaya aja," tantang Aira genit, tangannya dengan berani terulur merapikan rambut acak-acakan Gala, lalu turun mengelus lembut rahang tegas pria itu.
Gala tersenyum miring—sebuah seringai tipis yang berbahaya sekaligus kepasrahan atas kekalahannya sendiri. Tangan Gala yang tadinya bertumpu di lantai, kini perlahan turun, mencengkeram pinggang ramping Yaya dengan sangat kuat, mengunci tubuh gadis itu agar tidak bisa kabur ke mana-mana
"Oke. Kamu yang mulai permainan ini, Yaya," bisik Gala tepat di depan bibir merah merona milik Aira. "Jadi, jangan pernah berani menangis atau minta dilepaskan setelah ini."
Mata Aira yang tadinya penuh kemenangan langsung melebar kaget begitu merasakan intensitas perubahan aura Gala yang mendadak berubah 100% menjadi predator. Keberanian amatirnya langsung ciut sesaat, berganti detak jantung yang mau copot. Tapi sebelum Aira sempat mengeluarkan kata-kata pembelaan diri, Gala sudah lebih dulu menundukkan kepalanya.
CUP.
Bukan lagi ciuman singkat atau sekadar gertakan seperti malam-malam sebelumnya. Kali ini, Gala mengeksekusi bibir manis Aira dengan ciuman panas, dalam, dan penuh tuntutan gairah pria dewasa yang sudah lama menahan diri
Aira tersentak, tubuhnya mendadak kaku menerima serangan yang se-agresif itu. Lidah Gala dengan lihai menguasai keadaan, membuat Aira benar-benar kehilangan seluruh fungsi otaknya. Tangan kecil Aira yang tadinya mau bermain-main, kini refleks meremas kaos tipis Gala dengan sangat kencang, menahan tubuhnya yang mendadak lemas tak bertulang di bawah kuasa Gala
Gala melepaskan ciumannya sebentar, membiarkan Aira meraup oksigen di sela-sela napasnya yang sudah berantakan. Jarak wajah mereka masih menempel, hawa panas dari tubuh kekar Gala benar-benar mengunci Aira di lantai.
"Gimana, Yaya? masih mau bermain main? tapi sayang nya gua gak sedang berbaik hati lagi" bisik Gala parau di telinga Aira suaranya seksinya gak masuk akal, membuat bulu kuduk Aira merinding
Aira yang biasanya paling pintar menjawab dengan kata-kata sombong, malam ini benar-benar tak berdaya. Wajahnya merah padam, dadanya naik turun dengan napas tersenggal-senggal. "Om... Om Gala... dingin... di lantai..." lirih Aira dengan sisa tenaganya, mencoba mencari celah aman.
Gala tertawa rendah—suara tawa berat yang terdengar sangat mematikan di telinga Aira. Tanpa melepaskan tatapan intensnya, tangan kekar Gala dengan sangat mudah menyusup di bawah tubuh Aira. Dengan satu gerakan cepat dan kuat, Gala langsung mengangkat tubuh lemas Aira dalam gendongan bridal style yang kokoh.
Gala melangkah lebar meninggalkan area dapur yang penuh busa sabun itu, menuntun langkahnya bukan ke arah kamar tempat Aira biasa tidur, melainkan lurus menuju kamar tidur utama miliknya sendiri.
Aira hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang sudah sepanas kepiting rebus di ceruk leher Gala, meremas pundak pria itu dengan tangan gemetaran.
singa lapar yang selama lima belas hari ini dia pancing, sekarang sudah benar-benar keluar dari kandangnya dan siap melumatnya sampai habis.
Begitu pintu kamar utama ditutup dengan tendangan kaki Gala dan terkunci rapat, apartemen mewah itu kembali sunyi. Menjadi saksi bisu bahwa tembok pertahanan Gala resmi runtuh total
langsung di kurung yeeee
🤣🤣🤣🤣🤣🤣om om mateng satu ini emang beda
di sini kesannya gala jadi tersangka yang paling jahat ya ?!
semngat beb , aku selalu menanti karya2 mu love you😘😘😘😘😘