NovelToon NovelToon
Penyesalan Sang CEO

Penyesalan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yuni Denara

Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ular yang Kehilangan Bisanya

Kabar mengenai pencopotan Arkan dari jabatannya sebagai CEO serta pemboikotan total keluarga Mentari oleh Alister Group menyebar seperti api di kalangan sosialita kota. Dalam waktu singkat, reputasi yang mereka banggakan hancur lebat. Sore itu, Keyra baru saja menyelesaikan sesi pemotretan luar ruangan untuk promosi produk kosmetik terbarunya. Kegiatan tersebut dilakukan di sebuah area taman privat yang asri dan dijaga ketat di pusat kota.

Saat Keyra sedang duduk santai di bawah payung kafe sembari memeriksa hasil foto bersama asisten dan beberapa kru desainer, suasana tenang itu mendadak terusik. Sesosok wanita dengan langkah terburu-buru dan napas terengah-engah menerobos masuk ke area privat tersebut. Petugas keamanan di gerbang depan sempat ingin menahannya dengan paksa, namun Keyra mengangkat tangan kanan, memberi tanda agar para pengawal membiarkan wanita itu mendekat.

Wanita itu adalah Mentari. Wajahnya yang biasa dipenuhi keangkuhan, riasan tebal, dan senyum meremehkan kini tampak sangat pias. Kulitnya pucat, dengan kantung mata yang menghitam karena tidak bisa tidur semalaman akibat memikirkan nasib keluarganya.

"Keyra!" Mentari langsung berseru lantang begitu berdiri di depan meja kaca tempat Keyra duduk. Suaranya bergetar hebat, tidak ada lagi nada melengking sombong seperti saat mereka berpapasan di restoran mewah dua hari yang lalu. "Aku tahu kamu yang ada di balik semua kegilaan ini! Kamu sengaja menggunakan pengaruh Tuan Devan Alister untuk menghancurkan bisnis keluargaku, kan?! Jawab aku, Keyra!"

Keyra perlahan meletakkan tablet kerjanya, lalu menyesap jus jeruk hangatnya dengan gerakan yang sangat anggun. Ia mendongak menatap Mentari dengan sepasang mata yang teramat tenang dan jernih. "Menghancurkan? Mentari, jaga bicaramu. Bukankah kalian sendiri yang menghancurkan diri kalian dengan bersikap sombong di tempat yang salah? Alister Group tidak akan bergerak jika kalian tidak menyulut api terlebih dahulu."

"Keyra, aku mohon... jangan berpura-pura tidak tahu!" Air mata Mentari menetes, merusak riasan matanya yang mahal hingga menghitam di sekitar pipi. Tanpa memedulikan harga dirinya lagi, Mentari nekat berlutut di atas rumput taman tepat di samping kursi Keyra. Tindakan dramatis itu langsung mengabaikan tatapan heran sekaligus berbisik-bisik dari para kru pemotretan di sekitar mereka. Tangannya yang gemetar mencoba meraih ujung blazer krem yang dikenakan Keyra. "Ayahku kena serangan jantung pagi ini karena pihak bank tiba-tiba menyita aset pabrik utama kami. Perusahaan kami di ambang bangkrut total, Keyra! Aku tahu aku salah karena merebut Arkan darimu dan menghinamu di depan umum. Tapi aku mohon... tolong bicaralah pada Tuan Devan untuk mencabut daftar hitam itu!"

Keyra dengan cepat menarik pelan ujung blazernya agar tidak disentuh oleh tangan Mentari. Ia menatap wanita yang kini bersujud di bawah kakinya tanpa rasa kasihan sedikit pun. Hatinya sudah mengeras sejak malam pengkhianatan itu.

"Mentari, saat kamu dengan bangga memamerkan Arkan di depanku, memeluk lengannya, dan menghina kemiskinanku sebagai pelayan toko kue, apakah kamu pernah sedetik saja memikirkan bagaimana perasaanku?" tanya Keyra, nadanya sangat datar namun terdengar begitu dingin menusuk. "Kamu menganggapku seperti sampah jalanan yang bisa disingkirkan begitu saja dengan uang seratus juta. Sekarang, saat roda nasib berputar dan posisimu berada di bawah, kamu datang dengan mudahnya mengemis iba padaku?"

"Aku akan meninggalkan Arkan! Aku bersumpah demi apa pun aku akan mendepaknya!" Mentari menangis histeris, bahunya berguncang hebat karena rasa takut yang teramat sangat akan kemiskinan. "Pria itu sama sekali tidak berguna! Dia ternyata hanya pecundang miskin yang tidak punya apa-apa tanpa suntikan dana dan investasi dari keluargaku! Ambil saja dia kembali, Keyra! Aku akan mengembalikannya kepadamu seutuhnya, asalkan kamu bersedia menyelamatkan perusahaan ayahku dari kebangkrutan!"

Mendengar kalimat murahan itu keluar dari mulut wanita sosialita seperti Mentari, Keyra justru tertawa kecil—sebuah tawa sinis yang terdengar sangat berkelas namun menyakitkan. "Mengembalikannya? Mentari, kamu pikir Arkan itu barang rongsokan atau mainan bekas yang bisa kamu buang, kamu rebut, lalu kamu kembalikan sesuka hatimu saat kamu bosan? Aku sudah membuang pria itu ke tempat sampah terdalam dalam hidupku, dan aku tidak sudi memungut sampah yang sudah membusuk."

"Tapi Keyra—"

"Sepertinya penjagaan di tempat ini terlalu longgar sampai ada ular berbisa yang bisa menyelinap masuk dan mengganggu wanitaku."

Sebuah suara berat yang sarat akan bariton intimidasi tinggi tiba-tiba menggema dari arah koridor taman, memotong ucapan Mentari seketika. Aura dingin yang pekat langsung menyelimuti area terbuka tersebut, membuat semua orang menahan napas.

Devan Alister telah datang. Pria itu baru saja menyelesaikan rapat bisnisnya di hotel sebelah dan langsung datang untuk menjemput Keyra. Dengan setelan jas hitam custom-made yang melekat sempurna di tubuh tegapnya, Devan berjalan mendekat dengan langkah mantap. Ia menatap Mentari yang bersujud di lantai dengan pandangan penuh rasa jijik yang amat kentara.

Mentari mendongak, seluruh tubuhnya mendadak kaku dan gemetar hebat saat melihat sepasang mata elang Devan yang menatapnya tajam seolah ingin mencabik dirinya hidup-hidup. "T-Tuan Alister... Maafkan saya... Saya hanya..."

Devan sama sekali tidak merespons ucapan Mentari, bahkan menganggap wanita itu tidak lebih dari angin lalu. Ia langsung mengulurkan tangan kekarnya yang hangat ke arah Keyra. Keyra tersenyum manis, menyambut uluran tangan itu dan berdiri dengan anggun di samping tubuh tegap Devan. Tangan Devan langsung melingkar protektif di pinggang ramping Keyra.

"Leon," panggil Devan pada asisten pribadinya yang berdiri tegap beberapa langkah di belakangnya. "Hubungi pihak kepolisian sekarang juga. Laporkan wanita ini atas tindakan pengrusakan fasilitas ketertiban dan pengancaman di area privat milik Alister Group. Dan pastikan proses hukumnya berjalan cepat tanpa ada penangguhan penahanan sedikit pun."

"Baik, Tuan Muda. Segera saya laksanakan," jawab Leon tegas tanpa ragu.

"Tidak! Tuan Devan, saya mohon ampuni saya! Keyra, tolong aku! Aku tidak mau dipenjara!" jerit Mentari histeris saat dua petugas keamanan bertubuh kekar langsung memegang kedua lengannya secara kasar dan menyeretnya menjauh dari area taman privat tersebut. Tangisannya terdengar pilu menggema di udara sore, namun tidak ada satu pun orang di tempat itu yang menaruh simpati pada wanita ular tersebut.

Keyra menatap kepergian Mentari yang terus merontak hingga hilang di balik gerbang dengan perasaan lega yang luar biasa. Beban penderitaan masa lalunya kini benar-benar terangkat satu per satu.

Devan perlahan membalikkan tubuh Keyra agar menghadap penuh ke arahnya, lalu merapikan beberapa helai anak rambut Keyra yang sedikit berantakan tertiup angin sore dengan gerakan yang sangat lembut, berbanding terbalik dengan kekejamannya pada musuh tadi.

"Ular pertamamu sudah kehilangan bisanya dan masuk perangkap," ucap Devan, nada suaranya melembut khusus hanya untuk Keyra. "Sekarang, tinggal tersisa pria pecundang itu yang merangkak di jalanan."

Keyra menatap lurus ke dalam mata Devan yang dalam, merasakan kehangatan, kekuatan, dan perlindungan yang nyata yang belum pernah ia dapatkan selama ini. "Terima kasih, Devan. Terima kasih karena selalu berdiri di depanku dan menjadi pelindungku."

Devan tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang teramat langka yang hanya ia perlihatkan khusus untuk wanita di pelukannya. "Kamu adalah wanitaku sekarang, Keyra. Menghancurkan siapa saja yang berani menyakitimu adalah tugas mutlakku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!