Salsabila Nugroho adalah putri dari Malik Nugroho dan Kirana. Saat ini Salsabila menduduki bangku kelas tiga SMA, Salsa yang sudah tumbuh dewasa terkenal dengan kenakalanNya bersama dengan sahabatnya Naura.
Saat Salsa melakukan kesalahan, sang wali kelas Salsa selalu memanggil orang tuanya. Tetapi Salsa tidak pernah mendatangkan orang tuannya melainkan ia akan menyewa seseorang teman dekatnya.
Hingga sesuatu hari kenakalan Salsa sampai ke telinga Malik. Apakah yang akan Malik lakukan menghadapai putri bungsunya itu?.
Yok kepoin cerita dari Cinta Salsabila...😊
dan jangan lupa like commet dan beritahu kepada teman-teman sekalian supaya novel ini banyak yang tau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti sihite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Begitu Liam keluar dari sana, ia masih saja kepikiran dengan apa yang tadi Lucas tawarkan kepada dirinya. Lalu Liam tersenyum seperti orang sakit jiwa, "Apa? manager keuangan? hey ayolah, kalau pun ini mimpi, aku mohon bangunlah Liam".
"Mimpi apa Liam?".
"Astaga, kamu mengagetkan aku saja Nay" Kejut Liam. Kemudian ia melihat Naya yang sedang melihatnya dengan tatapan bingung, "Kalau ini mimpi dia tidak akan kesakitan kalau aku menjewer wajahnya" Liam pun segera menjewer kedua pipi Naya cukup kuat sampai membuat Naya menjerit kesakitan.
"Liam" Bentak Naya melepaskan kedua tanganNya. "Apa yang sedang kamu lakukan Liam?".
"Maaf-maaf Nay, aku pikir aku sedang bermimpi. Sebagai gantinya, kamu boleh menampar ku dengan kuat, ayo tampar aku Naya".
Naya mengerutkan keningnya, "Ada apa dengan mu Liam setelah kamu keluar dari ruangan tuan Lucas? apa tuan Lucas mengusik mu? atau..
"Tidak" Potong Liam. "Sebaiknya kita kembali bekerja Nay, aku tidak ingin bermain-bermain".
"Bermain-main? perasaan tidak ada yang bermain-main. Ck, ada-ada saja" Geleng Naya melihat Lita yang sudah kembali pulang dari ruangan Lucas. "Mbak, ada apa tuan Lucas tadi menyuruh mbak memasuki ruanganNya?" Tanya Naya penasaran.
"Tidak ada apa-apa Nay, tadi tuan Lucas hanya meminta pendapat saja mengenai model yang cocok untuk kosmetik LIFA".
"Mmmm.. Terus Liam kenapa kesana tadi mbak? dan pulang dari sana Liam tampak tidak normal".
"Tidak normal seperti apa?" Tanyanya balik melihat Liam yang sedang melihat layar komputernya. "Mbak rasa dia baik-baik saja, dan sama halnya juga tuan Lucas tadi bertanya kepada Liam model yang cocok untuk kosmetik LIFA".
"Mmmmm" Gumam Naya melihat Liam.
.
Jam istirahat, Liam dan Naya berada di kantin perusahaan menikmati makan siang mereka berdua, "Liam" Panggil Naya.
"Kenapa?".
"Kamu baik-baik saja? dari tadi aku melihat mu murung terus?".
Liam tersenyum tipis, "Aku baik-baik saja Nay".
"Benarkah? aku rasa kamu sedang berbohong".
"Untuk apa aku membohongi mu Nay? ayo di habisin, siap ini aku akan mentraktir mu makan eskrim".
Dengan mata berbinar-binar, Naya segera melahap makan siangnya, "Benar ya eskrim Liam".
"Iya".
"Yes" Senyum Naya.
Selesai makan siang, mereka berdua segera pergi dari sana menuju swalayan yang berada di sebrang perusahaan, "Liam aku mau eskrim yang besar ini. Boleh yah?" Bujuk Naya.
"Mmmm.. Ambil saja".
"Ya ampun kamu baik banget sih Liam, padahal kita belum gajian loh. Mbak, saya mau eskrim mangkok yang ini yah. Kamu mau yang mana Liam?".
"Yang ini" Jawab Liam memberikan ditangan si pegawai toko.
"Tunggu sebentar yah" Ucap si pegawai toko memasukkan eskrim mereka kedalam kanton plastik. "Semua total 120 ribu tuan" Berinya ditangan Liam.
"Ini mbak, terima kasih".
"Sama-sama tuan" Senyumnya.
Kemudian Liam dan Naya pergi menuju taman yang berada di perusahaan. Sambil menikmati eskrim disana Liam menatap lurus ke depan begitu juga dengan Naya, "Liam" Panggilnya.
"Mmmm?".
"Liam" Panggilnya lagi.
"Ada apa Naya?" Lihatnya kearah Naya.
Naya tersenyum, "Liam, menurut mu salahkah aku mencintai seorang yang telah memiliki kekasih?".
"Maksud kamu?".
"Mmmm.. Saat ini aku sedang menyukai seorang pria yang sudah memiliki kekasih Liam. Menurut mu apa aku salah?".
"Tidak tau Nay. Terus, kenapa kamu menyukai pria itu? bukankah kamu sudah mengetahui kalau dia sudah memiliki kekasih?".
"Mmmm.. Aku tau dia sudah memiliki kekasih Liam. Tapi hati ini tidak bisa berbohong kalau aku tidak menyukainya, dan setiap kali aku melihatnya rasanya aku ingin sekali berlari kedalam pelukanNya. Kamu tau enggak Liam apa yang sangat aku suka dari dia?".
"Apa?".
"Dia tampan, dia tinggi, dia baik dan juga polos hahahah. Sepertinya aku sudah gila mengatakan dia polos Liam? menurut mu jaman sekarang masih ada laki-laki polos seperti yang aku bayangkan kepadanya?".
"Tidak tau Nay".
"Hey.. Ayolah berikan aku jawaban Liam".
"Aku tidak tau Nay".
"Ck, kamu tidak menyenangkan Liam".
DDDRRRTTTT.. DDDDRRRRTTTT...
"Siapa Liam?".
"Sebentar" Liam mengangkat ponselnya. "Iya Difa?".
"Kamu dimana Liam? aku baru tiba di rumah sakit xx yang ada di pusat kota".
"Aku masih dikantor Difa".
"Mmmm.. Pulang kerja nanti kamu bisakan datang menjemput ku kemari Liam?".
"Iya, nanti aku akan datang menjemput mu".
"Ok, kalau gitu aku kerja dulu yah".
"Iya" Angguk Liam mematikan ponselnya. Kemudian ia melihat Naya, "Sebaiknya kita kembali Nay, jam istirahat kita sudah habis".
"Apa dia kekasih mu Liam?".
Liam tersenyum.
"Aahh.. Ternyata dia kekasih mu" Gumam Naya mengikuti Liam dari samping.
.
Sekarang telah menunjukkan pukul 5 sore, Liam telah selesai mengerjakan proposal yang tadi pagi Lasma berikan kepadanya, "Buk Lasma" Panggilnya.
"Mmmm.. Apa kamu sudah menyelesaikanNya?".
"Sudah buk".
"Sini, berikan kepada ku" Tarinya dari tangan Liam. Lalu ia membuka proposal yang telah Liam kerjakan, "Kapan kamu kerjakan ini?" Tanyanya melihat Liam.
"Hhmm? maksud ibu?".
"Saya bertanya kapan kamu mengerjakan ini?".
"Aahhh.. Begitu ibu memberikan ini kepada saya. Apa masih ada yang kurang buk? kalau ada yang kurang saya akan mengerjakanNya sekarang juga sebelum saya kembali pulang".
"Tidak, semuanya sudah sesuai dengan apa yang saya minta".
"Benarkan buk?" Senyum Liam.
"Mmmmm.. Kamu boleh kembali pulang. Aahh satu lagi, besok kamu harus menemui salah satu client kita, jadi bersiaplah besok pagi".
"Baik buk, kalau gitu saya permisi dulu".
"Pergilah".
Begitu Lasma memberinya izin pulang, Liam segera membereskan meja kerjanya, "Liam, kamu sudah mau pulang?".
"Iya, kamu belum pulang Nay?".
"Belum, pekerjaan ku masih banyak. Apa kamu ingin menjemput kekasih mu itu?".
Liam menunjukkan senyumanNya lagi.
"Oohh.. Hati-hati dijalan Liam".
"Mmmm.. Aku duluan yah".
"Iya" Angguk Naya dengan perasaan sakit. "Liam, tidak bisakah kamu merasakan apa yang aku rasakan terhadap mu? tidak bisakah kamu membalas rasa cinta ku? meskipun hanya satu hari saja".
"Nay.. Naya" Panggil Lita. "Ada apa dengan anak itu? kenapa Naya melihat seperti itu?" Lita datang menghampirinya sambil menepuk pundak Naya. "Apa yang sedang kamu pikirkan?".
"Aahhh.. Mbak Lita. Ada apa mbak?".
"Kamu sudah selesai? temani mbak sebentar yok ke toko kue" Ajak Lita.
"Ngapain mbak?".
"Kamu sudah lupa tanggal hari ini?".
"Hhmm.. Tanggal hari ini?" Gumam Naya memikirkanNya hingga ia teringat kalau putra sulung Lita sedang berulang tahun malam ini, "Astaga, heheheh maafkan Naya mbak. Ayo, pekerjaan Naya sudah selesai mbak".
"Ayo" Pergi mereka.
Sesampainya Liam di rumah sakit yang tadi siang Difa beritahu, ia segera keluar dari dalam taksi. Kemudian ia menghubungi nomor Difa, "Kamu dimana? aku sudah berada di depan rumah sakit".
"Bisakah kamu menunggu ku sebentar lagi Liam?".
"Iya, aku akan menunggu mu".
"Terima kasih Liam".
Liam langsung mematikan ponselnya, sambil menunggu Difa selesai, ia memasuki loby rumah sakit dan mendudukan diri diatas sofa yang berada di sana.