Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.
Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.
Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.
Dan ini baru permulaan.
Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumor
Lea akhirnya mengembuskan napas lega. Setelah berkeliling cukup lama di sekitar hutan dekat jurang, ia berhasil mengumpulkan beberapa sulur yang menurutnya cukup kuat untuk menopang berat tubuh Luc.
Ia duduk di atas batu sambil mengikat sulur-sulur itu satu per satu. Sebagai seorang petualang, pekerjaan seperti ini bukan hal yang asing baginya. Ia memastikan setiap simpul terikat dengan benar. Bahkan setelah selesai, Lea masih mencoba menariknya beberapa kali untuk menguji kekuatannya.
"Harusnya cukup..." gumamnya pelan sambil memperhatikan sulur panjang di tangannya.
Kalau Luc sampai jatuh gara-gara ikatannya lepas, mungkin ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Dan Luc sendiri pasti akan mengeluh sepanjang sisa hidupnya. Membayangkan ekspresi Luc yang panik sambil berteriak membuat sudut bibir Lea sedikit terangkat.
"Kurasa aku bakal dihantuin sama dia," gumamnya lirih.
Namun senyum kecil itu segera menghilang saat ia kembali teringat kondisi Luc. Lea langsung berdiri sambil menggulung sulur tersebut.
"Aku harus cepat kembali," ujarnya pelan.
Baru beberapa langkah berjalan, telinganya yang sensitif menangkap sesuatu—suara manusia. Lea langsung menghentikan langkahnya. Refleks, ia berjongkok di balik batang pohon besar sambil menahan napas.
"Hei, apa benar kalau Pangeran Ash dibuang ke sini?" tanya seseorang dengan suara laki-laki.
Lea sedikit membelalakkan mata.
"Ya," jawab suara lain. "Itulah rumor yang kudengar dari seorang pekerja di istana."
"Rumor?"
"Iya."
Laki-laki itu mendengus pelan sebelum melanjutkan ucapannya. "Hah. Bukannya katanya dia meninggal karena sakit parah?"
"Itu juga yang tersebar ke publik," jawab orang kedua. "Tapi kenyataannya dia dibuang ke jurang ini."
"Tunggu, serius?"
"Kalau dipikir-pikir masuk akal juga," lanjut suara itu. "Kalau dia benar-benar meninggal karena sakit, seharusnya ada pemakaman kerajaan."
"Tapi tidak ada."
"Iya. Tidak ada acara pemakaman."
Lea yang sedari tadi menguping dari balik pohon mengernyitkan dahi.
Pangeran Ash...? batinnya.
Nama itu terasa tidak asing. Ia mencoba mengingat-ingat kembali pengetahuan umum yang pernah didengarnya selama menjadi petualang.
"Ah," gumamnya pelan.
Pangeran keempat dari Kerajaan Astoria. Ash van Astoria. Pangeran yang dikabarkan meninggal karena penyakit yang dideritanya sejak kecil. Setidaknya, itulah cerita yang beredar di berbagai kota. Namun dari percakapan orang-orang ini...
"Jadi dia sebenarnya dibuang ke jurang?" pikir Lea dalam hati.
Ia sedikit memiringkan kepalanya. Entah kenapa, sosok seseorang langsung terlintas di benaknya. Seorang pemuda keras kepala yang baru dikenalnya beberapa hari lalu. Pemuda yang selalu mengeluh. Yang suka bercanda di situasi tidak tepat. Yang hampir pingsan tetapi masih bersikeras berjalan. Yang rela memindahkan luka orang lain ke tubuhnya sendiri. Dan... Yang tidak pernah benar-benar menjelaskan siapa dirinya.
Lea menggenggam sulur di tangannya sedikit lebih erat. "Nggak mungkin, kan?" gumamnya pelan.
Luc memang menyembunyikan banyak hal. Namun ia tidak pernah terlihat seperti seorang bangsawan. Cara bicaranya santai. Sikapnya berantakan. Bahkan cara makannya saat melahap jamur mentah sama sekali tidak menunjukkan etika kerajaan.
"Nggak mungkin," ulang Lea sekali lagi, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Meski begitu, sebuah keraguan kecil mulai tumbuh di dalam hatinya.
Sementara itu, percakapan para lelaki itu masih berlanjut.
"Kalau benar Pangeran Ash dibuang ke jurang, menurutmu dia masih hidup?" tanya salah seorang dari mereka.
Laki-laki lainnya tertawa kecil.
"Mana mungkin? Bahkan petualang berpengalaman saja mungkin tidak ada yang selamat kalau jatuh ke sana."
"Iya juga."
"Lagipula, kalau dia memang masih hidup, apa yang bisa dilakukan pangeran sakit-sakitan itu?"
Lea menundukkan pandangannya. Tanpa sadar, ia kembali teringat bagaimana Luc mengayunkan pedangnya dengan canggung saat melawan goblin. Bagaimana ia berkali-kali mengeluh saat latihan. Dan bagaimana ia tetap maju meskipun ketakutan.
"..."
Ia menggigit bibir bawahnya pelan. Terlepas dari siapa sebenarnya Luc... Satu hal yang ia yakini. Pemuda itu sudah berjuang mati-matian untuk bertahan hidup di dasar jurang.
Lea mengangkat kepalanya dan melirik ke arah datangnya suara-suara tersebut.
"Aku harus kembali dulu," gumamnya sambil menggenggam sulur erat-erat.
Apa pun kebenarannya... Ia tidak mungkin membiarkan Luc menunggu sendirian lebih lama lagi. Terutama dalam kondisi seperti sekarang.
Ia segera berlari kembali menuju jurang tempat Luc menunggu. Pikirannya masih dipenuhi oleh percakapan yang baru saja ia dengar.
Pangeran Ash van Astoria. Pangeran keempat yang dikabarkan meninggal karena penyakit. Namun ternyata ada rumor kalau dirinya dibuang ke jurang.
Lea menggeleng pelan. "Apa benar..." gumamnya lirih sebelum menghela napas. "Nggak, nggak mungkin."
Ia mempercepat langkahnya. Bagaimanapun juga, Luc tetap Luc. Entah dia seorang bangsawan, petualang, atau bahkan penipu sekalipun, fakta bahwa ia telah menyelamatkan nyawanya tidak berubah.
Namun belum sempat Lea berjalan lebih jauh, embusan angin dingin tiba-tiba menerpa tubuhnya. Ia refleks mendongak. Langit yang sebelumnya cerah kini tertutup awan kelabu.
"Hah?"
Jedarrr!!!
Suara gemuruh pelan terdengar dari kejauhan.
Lea mengernyitkan dahi. "Jangan bilang..."
Tetesan air dingin jatuh tepat di ujung hidungnya.
Pluk.
Beberapa detik kemudian...
Byuuurrr!
Hujan turun dengan sangat deras.
"Apa?!" seru Lea terkejut sambil buru-buru menutupi kepalanya dengan tangan.
Air hujan menghantam dedaunan dengan suara riuh. Tanah yang tadinya kering perlahan berubah menjadi becek.
Angin bertiup semakin kencang. Rambutnya langsung basah kuyup dalam hitungan detik.
"Kenapa harus sekarang..." gerutunya kesal sambil berusaha melindungi sulur-sulur yang dibawanya.
Ia langsung memeluk gulungan sulur itu erat-erat ke dadanya. Kalau sulur-sulur ini rusak atau hanyut terbawa arus kecil yang mulai terbentuk di tanah, Luc benar-benar tidak akan bisa naik.
Lea menggertakkan giginya. "Luc..."
Bayangan Luc yang masih sendirian di ceruk batu langsung terlintas di benaknya. Dalam kondisi kelelahan dan hampir kehilangan kesadaran.
Wajah Lea langsung memucat. "Jangan-jangan..."
Ia segera berlari menerobos hujan deras.
...----------------...
Sementara itu, di ceruk batu pada dinding jurang...
Pluk.
Luc yang sedang duduk bersandar ke dinding tiba-tiba merasakan sesuatu menyentuh dahinya.
Ia mengangkat kepala perlahan. "Hm?"
Pluk.
Pluk.
Beberapa tetes air jatuh dari atas.
Luc mengedipkan mata beberapa kali. "Lho...?"
Ia mengulurkan telapak tangannya ke depan. Tetesan air dingin jatuh ke atasnya. Matanya langsung membelalak.
Byuuurrr!
Hujan deras mendadak mengguyur dari atas jurang.
"HAH?!" Luc langsung berdiri dengan panik.
"Jangan bercanda?!"
Air hujan menghantam ceruk batu tempatnya berdiri. Meski sebagian terlindungi oleh tonjolan tebing, embusan angin membuat pakaian Luc tetap basah. Ia buru-buru bergerak mendekati bagian terdalam ceruk.
"Kenapa tiba-tiba malah hujan?!" keluhnya sambil memeluk kedua lututnya.
"Tuan," panggil Chiron dengan nada tenang meskipun pakaiannya juga tampak basah karena proyeksi dirinya meniru keadaan sekitar. "Saya sarankan Anda tetap tenang."
"Tenang gimana?!" protes Luc sambil menunjuk ke arah hujan deras di luar ceruk. "Aku lagi nyangkut di tebing, hampir pingsan, kelaparan, terus sekarang kehujanan!"
Chiron terdiam sejenak.
"Kalau dipikir-pikir, situasi Anda memang cukup buruk."
"Cukup buruk apanya?! Ini sangat buruk!" balas Luc.
Luc mengacak rambutnya dengan frustrasi. "Lea belum balik lagi..."
Pandangan Luc tanpa sadar tertuju ke arah atas jurang. Hujan turun semakin deras. Kabut tipis mulai terbentuk akibat air yang menghantam dinding batu.
Ia menggigit bibir bawahnya pelan. Lea memang seorang petualang yang jauh lebih berpengalaman dibanding dirinya. Tetapi tetap saja...
"Jangan sampai kenapa-kenapa..." gumam Luc pelan sambil memandangi hujan yang tak kunjung reda.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak bertemu gadis elf itu, ia benar-benar merasa khawatir.
Sementara itu, di atas jurang, Lea terus berlari menerobos hujan deras sambil memeluk sulur-sulur yang dibawanya erat-erat.
Sepatunya beberapa kali tergelincir di atas tanah yang mulai berlumpur. Nafasnya memburu, sementara air hujan menghalangi pandangannya.
Namun ia tidak berhenti.
Karena jauh di bawah sana... Ada seseorang yang sedang menunggunya.