NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32: Lemari Pakaian yang Penuh Barang Mewah

Malam makin larut, tetapi kehangatan di dalam mansion mewah Distrik Utara justru makin membara.

Setelah lembar demi lembar dokumen kebenaran itu terbaca oleh Viona—menyingkap fakta medis bahwa dirinya sangat subur dan justru Adrian Lin yang mandul—air mata keadilan mengalir deras meruntuhkan sisa-sisa tembok keraguan di dalam jiwanya.

Kebohongan besar yang merantai mentalnya selama bertahun-tahun kini hancur lebur tanpa sisa.

Oliver melepas Sekretaris Ryan untuk menyelesaikan detail administrasi penahanan keluarga Lin malam itu juga.

 Dengan penuh kasih sayang, pria itu menuntun Viona yang masih setengah tidak percaya kembali ke lantai dua.

"Kau belum makan dengan benar sejak sore, Viona,"

bisik Oliver seraya merangkul pinggang ramping istrinya saat mereka meniti anak tangga.

"Aku akan meminta kepala pelayan menghangatkan kembali sup iga buatanmu. Kita akan makan malam berdua di kamar."

Viona mendongak, matanya yang jernih tampak berkilau indah meski masih sedikit basah.

"Aku tidak terlalu lapar, Oliver. Rasanya seluruh rongga dadaku mendadak penuh... penuh dengan kelegaan yang tidak bisa kujelaskan. Aku hanya ingin mandi dan mengganti pakaian tidurku."

Oliver tersenyum tipis, kecupan lembut mendarat di pelipis Viona.

"Mandilah. Aku akan menyiapkan pakaian ganti untukmu."

Viona melangkah masuk ke dalam kamar mandi utama yang luas, membiarkan tubuhnya berendam di bawah pancuran air hangat yang perlahan merilekskan otot-ototnya yang tegang setelah seharian didera kecemasan.

 Uap air hangat memenuhi ruangan, seolah ikut membasuh sisa-sisa kenangan buruk masa lalunya bersama keluarga Lin yang kini telah resmi mendekam di balik jeruji besi.

Sementara itu, di kamar tidur, Oliver tidak langsung turun ke dapur. Ia melangkah menuju ruang lemari pakaian (walk-in closet) yang terletak di bagian dalam kamar utama mereka.

Walk-in closet itu sangat luas, seukuran kamar apartemen kelas menengah, dengan pencahayaan hangat dari lampu-lampu LED tersembunyi yang menampilkan kemewahan yang elegan.

Di satu sisi, berbaris setelan jas rancangan desainer ternama milik Oliver, jam tangan mewah di dalam laci kaca anti-peluru, dan deretan sepatu kulit buatan tangan dari Italia.

Namun, perhatian Oliver beralih sepenuhnya pada sisi berlawanan—sisi milik Viona.

Selama pernikahan kontrak mereka, sisi tersebut hanya terisi sebagian kecil oleh pakaian-pakaian kasual sederhana yang dibawa Viona, beberapa gaun formal yang ia belikan untuk acara-acara penting, serta beberapa tas tangan pemberiannya yang jarang sekali Viona sentuh karena merasa tidak enak hati.

 Viona adalah wanita yang sangat sederhana; ia tidak pernah meminta apa-apa, seolah ia selalu merasa dirinya adalah "tamu" atau

"pekerja kontrak" di rumah ini yang suatu hari nanti harus mengemas kopernya dan pergi.

Mata elang Oliver meredup sejenak mengingat ketidakamanan yang dulu dirasakan Viona.

"Tapi mulai malam ini, semua itu harus berubah," batin Oliver.

Ia melangkah ke deretan lemari pakaian khusus yang pintunya terbuat dari kaca patri gelap.

Oliver membuka lemari-lemari tersebut satu demi satu.

Di dalamnya, tidak ada lagi ruang kosong. Selama seminggu terakhir, secara rahasia, Oliver telah memerintahkan perancang

busana pribadi terbaik di kota dan perwakilan dari berbagai rumah mode mewah Prancis dan Italia untuk mengisi lemari Viona.

Ratusan gaun sutra, mantel wol berkualitas tinggi dengan warna-warna lembut yang disukai Viona, jubah tidur satin sutra murni, hingga deretan tas tangan kulit eksotis yang langka kini berjejer rapi.

Di bagian tengah, sebuah lemari pajangan kaca menampilkan perhiasan berlian, kalung mutiara alami, dan gelang emas putih yang berkilau di bawah lampu sorot.

Semua barang mewah ini bukan dibeli untuk sekadar memamerkan kekayaannya, melainkan sebagai deklarasi fisik dari Oliver bahwa Viona adalah ratu di rumah ini.

Setiap helai benang dan kilau permata di dalam ruangan ini dipilih secara khusus untuk melambangkan penghargaan setinggi-tingginya atas kehadiran Viona dalam hidupnya dan Yoyo.

Oliver mengambil sebuah jubah tidur satin sutra berwarna putih gading yang tampak sangat lembut dan elegan, lalu meletakkannya di atas sofa kecil di tengah walk-in closet.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.

 Viona melangkah keluar dengan handuk yang melilit rambutnya yang setengah basah, mengenakan jubah mandi handuk putih biasa.

Kulitnya tampak merona segar karena uap air hangat, memancarkan kecantikan alami yang murni.

Ia terkejut saat tidak menemukan Oliver di tempat tidur.

Namun, ia melihat cahaya hangat yang terang benderang dari arah walk-in closet.

"Oliver?"

 panggil Viona lembut sambil melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.

Begitu kakinya melewati ambang pintu walk-in closet, Viona seketika terpaku di tempatnya berdiri.

Kedua matanya yang jernih membelalak lebar, dan tangannya secara refleks menutup mulutnya karena terkejut.

Pemandangan di hadapannya sungguh luar biasa.

Kamar pakaian yang dulunya terasa agak lengang di sisinya, kini telah menjelma menjadi butik mewah kelas atas yang dipenuhi oleh ribuan barang-barang paling indah dan mahal yang pernah ia lihat.

"O-Oliver... apa... apa semua ini?"

tanya Viona dengan suara yang bergetar halus, menatap deretan gaun, sepatu, tas, dan perhiasan yang tampak berkilau mewah.

Oliver, yang berdiri di sudut ruangan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana kainnya, melangkah perlahan mendekati Viona.

Tatapan matanya begitu hangat, dipenuhi oleh kebanggaan dan cinta yang tak terhingga.

"Semua ini adalah milikmu, Viona,"

 ucap Oliver, suaranya yang rendah bergema lembut di ruangan yang sunyi itu.

"Tapi... ini terlalu banyak, Oliver," bisik Viona, jemarinya menyentuh salah satu gaun sutra berwarna salem yang sangat indah dengan ragu-ragu.

"Aku tidak membutuhkan barang-barang mewah sebanyak ini. Aku sudah sangat bahagia hanya dengan berada di sisimu dan Yoyo..."

Oliver memotong jarak di antara mereka, menangkup kedua pipi Viona yang masih menyisakan kehangatan setelah mandi.

 Ia menatap lurus ke dalam manik mata jernih istrinya, mengunci pandangannya dengan intensitas yang mutlak.

"Dengar, Viona. Selama tiga tahun, keluarga Lin membuatmu merasa bahwa dirimu adalah wanita yang tidak berharga. Mereka merampas kepercayaan dirimu, membiarkanmu memakai pakaian usang, dan memperlakukanmu seperti pelayan. Mereka ingin kau merasa kecil agar mereka bisa mengendalikanmu."

Oliver mengusap pipi Viona dengan lembut menggunakan ibu jarinya.

"Mulai hari ini, aku ingin kau melihat dirimu melalui mataku. Kau adalah Nyonya Oliver. Wanita yang paling kuhormati, kucintai, dan kuhargai di dunia ini. Barang-barang ini bukan untuk membuatmu menjadi orang lain, melainkan untuk menegaskan kepada dunia—dan kepada dirimu sendiri—bahwa kau layak mendapatkan semua hal terbaik yang bisa ditawarkan oleh kehidupan ini."

Oliver membimbing tangan Viona untuk menyentuh jubah tidur satin sutra putih gading yang sudah ia siapkan di atas sofa.

"Aku ingin setiap kali kau membuka lemari ini, kau tidak lagi melihat bayangan wanita malang yang diusir dari rumah keluarga Lin dengan satu koper bekas. Aku ingin kau melihat seorang ratu yang dicintai tanpa syarat oleh suaminya. Pakailah ini, Nyonya Oliver. Biarkan aku memanjakanmu malam ini."

Air mata haru kembali menggenang di pelupuk mata Viona.

 Sentuhan lembut satin sutra di jemarinya terasa seperti belaian kasih sayang Oliver yang tulus.

Rasa haru yang membuncah di dadanya membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi. Tanpa ragu, ia memeluk leher kokoh Oliver, menyandarkan kepalanya di bahu tegap suaminya, menumpahkan sisa rasa syukurnya yang tak terhingga.

"Terima kasih, Oliver... terima kasih karena selalu menyembuhkan lukaku dengan caramu yang luar biasa," bisik Viona tulus.

"Ini baru permulaan dari kebahagiaanmu, Sayang," balas Oliver, membalas pelukan itu dengan erat dan protektif, sebelum mengecup lembut puncak kepala istrinya.

Malam itu, di dalam lemari pakaian yang penuh dengan barang mewah, Viona tidak hanya menemukan pakaian-pakaian baru yang indah.

Ia menemukan kembali harga dirinya yang sempat hilang, martabatnya yang sempat terinjak, dan keyakinan baru bahwa di dalam istana cinta yang dibangun oleh Oliver, ia telah seutuhnya merdeka dan dicintai sebagai wanita paling berharga untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!