Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian III)
...Gema dari Banua Toru...
..."Yang paling dalam tidak selalu paling gelap. Kadang-kadang, ia hanya menunggu seseorang yang cukup berani untuk mendengarkan."...
^^^—Hikmat Penjaga Batu^^^
Sentuhan itu hanya berlangsung sekejap. Namun seluruh Banua Ginjang merasakannya. Burung-burung Sijonggi yang sedang beterbangan di atas Hariara Bolon tiba-tiba berhenti mengepakkan sayap, seolah udara kehilangan iramanya. Air terjun cahaya yang mengalir dari akar-akar Hariara melambat. Daun-daun emas berputar perlahan sebelum menyentuh tanah. Bahkan angin yang selama ribuan putaran langit tidak pernah berhenti berkelana, mendadak terdiam.
Keheningan menyelimuti lembah batu. Keheningan yang bukan berasal dari ketakutan. Melainkan dari pengakuan. Seolah seluruh alam berkata, "Sesuatu telah dimulai."
...****************...
Deak Parujar masih meletakkan telapak tangannya di atas batu hitam itu. Ia tidak merasakan panas. Tidak pula dingin. Yang ia rasakan adalah denyut. Pelan dan teratur. Seperti jantung seekor makhluk yang sedang tertidur sangat lama.
Lalu... denyut itu berubah menjadi gema. Bukan gema yang biasa terdengar oleh telinga manusia biasa. Melainkan gema yang bergetar di dalam dadanya.
Deak memejamkan mata dan seketika dunia di sekelilingnya menghilang.
Ia berdiri di atas hamparan air yang tak bertepi. Langit berwarna kelabu. Tidak terlihat sinar sang matahari. Tidak ada juga pendar bintang yang tampak.
Kabut bergerak rendah, menyelimuti permukaan samudra seperti napas yang tak pernah usai.
Di kejauhan Deak bisa mendengar suara ombak. Lambat dan berat. Namun setiap gelombang membawa gema yang terasa seperti detak zaman.
Deak menoleh ke sekeliling dan memanggil: "Ayah?"
Tidak ada jawaban.
"Nai Aek?" ia kembali memanggil.
Yang menjawab hanya desir kabut.
Deak menyadari dirinya sendirian. Tetapi anehnya... ia tidak merasa takut. Seolah tempat asing itu telah lama mengenalnya dan ia pun telah mengenalnya dengan baik. Hanya saja ingatan itu belum kembali ke memorinya.
Permukaan air tiba-tiba membentuk lingkaran-lingkaran besar. Mula-mula satu. Kemudian tiga. Lalu tujuh. Gelombang itu bergerak ke segala arah. Semakin jauh. Semakin meluas.
Kabut perlahan terbelah. Dan dari kedalaman yang tak terukur... muncullah sesuatu.
Bukan seluruh tubuhnya. Hanya sebagian kecil. Sepasang tanduk hitam sebesar puncak bukit. Lalu sisik-sisik hijau tua yang berkilau seperti batu giok basah.
Kemudian... Sepasang mata. Mata yang sama seperti yang pernah dilihat Deak di Batu Ingatan. Berwarna hijau berkilau dan terlihat sangay dalam. Setua waktu.
Tatapan itu tidak dipenuhi kebencian. Tidak pula mengandung kemarahan. Melainkan rasa ingin tahu yang nyaris menyedihkan.
Makhluk itu menatap Deak sangat lama. Begitu lama hingga Deak merasa waktu berhenti mengalir.
Lalu terdengarlah sebuah suara. Bukan berasal dari mulutnya, melainkan langsung ke dalam pikirannya: "Anak... cahaya..."
Suara itu berat. Seperti gunung yang sedang berbicara.
Deak mengatupkan kedua tangannya dan dengan berani bertanya: "Siapakah engkau ini mahluk perkasa?"
Hening sesaat. Lalu suara itu kembali terdengar, seperti gumaman yang ditahan dan perlahan: "Aku... yang menjaga sebelum ada daratan... yang menahan sebelum ada kehidupan... yang menunggu sebelum ada waktu."
Deak mencoba melangkah. Permukaan air di bawah kakinya tidak membuatnya tenggelam, justru terasa kokoh di bawah kakinya.
"Mengapa engkau sendirian?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari pikiran Deak. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia mengucapkannya dalam hati.
Mata hijau itu perlahan berkedip. Lama. Seakan pertanyaan sederhana itu belum pernah diajukan siapa pun selama ribuan zaman.
"Karena... belum ada yang lain." Jawaban itu terdengar begitu sunyi. Begitu sunyi hingga hati Deak terasa sesak karena sedih.
Untuk sesaat... ia tidak lagi melihat seekor naga. Ia melihat seorang penjaga tua yang memikul kesunyian dunia.
...****************...
Di Banua Ginjang. Tubuh Deak masih berdiri mematung di depan batu hitam. Namun matanya terpejam dan cahaya lembut memancar dari kedua telapak tangannya.
Ompu Batu melangkah cepat.
"Jangan sentuh dia." Suara Mulajadi Nabolon terdengar dari belakang.
Beliau telah tiba bersama Parbaringin. Tatapan beliau tidak lepas dari putrinya.
"Mulajadi Nabolon..." bisik Parbaringin, "Apakah Putri sedang..." pertanyaannya terhenti.
Mulajadi Nabolon mengangguk pelan, "Jiwanya sedang berkunjung melalui gema dari Banua Toru."
Beliau tidak berkata "melihat". Tidak pula "mendengar". Karena yang terjadi jauh lebih dalam dari sekedar melihat atau mendengar.
Untuk pertama kalinya sejak tiga banua diciptakan... dua penjaga dari dua dunia saling mengenali.
...****************...
Di dasar samudra purba. Makhluk itu masih memandang Deak dan bertanya: "Mengapa engkau datang?"
"Aku tidak tahu." jawab Deak.
"Belum waktunya." ujar sang Naga pelan.
"Apa yang belum waktunya?" tanya Deak tidak mengerti.
Makhluk itu tidak menjawab. Sebaliknya, ia perlahan menundukkan kepalanya. Gerakannya begitu besar hingga gelombang menjulang ke langit.
Namun anehnya... tak setetes pun air menyentuh tubuh Deak. Seolah samudra sendiri melindunginya.
"Kembalilah... Putri Langit. Jika waktunya tiba... engkau akan datang bukan sebagai tamu... melainkan sebagai pembawa dunia."
Seketika cahaya putih memenuhi pandangan Deak. Suara ombak lenyap. Kabut menghilang.
...****************...
Ketika Deak membuka mata... ia telah kembali berada di Lembah Batu. Dan ketika memandang sekitar, ia melihat dan mendengar Jonggi berkicau cemas di bahunya. Nai Aek berlutut di samping tubuhnya. Ompu Batu memegang tongkatnya erat-erat di samping Nai Aek.
Dan Mulajadi Nabolon berdiri beberapa langkah di depan, memandang batu hitam dengan wajah yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya. Bukan marah. Bukan takut. Melainkan... khawatir.
Deak memandang ayahnya, "Ayah... Aku bertemu dengannya."
"Tahu." jawab sang Ayah.
"Ia tidak jahat." ucap Deak cepat.
Kalimat itu membuat seluruh lembah terdiam.
Parbaringin menutup matanya. Ompu Batu menghela napas panjang. Nai Aek menundukkan kepala. Hanya Mulajadi Nabolon yang tetap memandang putrinya.
"Apa lagi yang ia katakan?" tanya sang Ayah.
Deak mencoba mengingat setiap kata dan mencoba menjawab: "Ia berkata... 'Belum waktunya. Suatu hari aku akan datang bukan sebagai tamu...'"
Deak menjawab mencoba menirukan suara dalam sang Naga, lalu ia berhenti sejenak dan melanjutkan: "...melainkan sebagai pembawa dunia."
Angin bertiup kencang. Daun-daun Hariara kembali berguguran.
Mulajadi Nabolon memejamkan mata. Beliau teringat pada ramalan Burung Erung, penglihatan di Telaga Sipaet dan Batu Ingatan. Lalu kini... gema dari Banua Toru. Semua pertanda mulai mengarah pada satu takdir yang tak mungkin lagi dihindari.
Di kejauhan, Burung Erung kembali melintas di langit. Namun kali ini ia tidak bersuara. Ia hanya menjatuhkan sehelai bulu perak. Bulu itu melayang perlahan dan jatuh tepat di atas batu hitam dari Banua Toru.
Sesaat kemudian, batu itu retak membentuk sebuah garis tipis yang memancarkan cahaya kehijauan.
Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa retakan kecil itu adalah awal dari terbukanya jalan antara dua dunia.
Dan seperti semua jalan besar dalam sejarah semesta... ia bermula dari satu sentuhan yang tampak sederhana.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 6. Penenun Ulos Cahaya.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/