ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.
Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.
Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰
Salam
AAH❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KARANGAN BUNGA
Rumah mewah dua tingkat yang merupakan milik Andi Shadam telah disulap menjadi rumah pengantin. Mulai dari pekarangan rumah yang telah dipasangi tenda kerucut, hingga di dalam rumah tersebut telah berpadu antara kain filamin, satin, tulle, organza dan bunga-bunga didominasi warna putih dan hijau.
Segala perabot yang ada di ruang tamu seperti sofa, guci dan perabot kristal telah dipindahkan ke dalam gudang, kecuali lemari yang berukuran besar tidak bergeser dari tempatnya.
Karangan bunga bertuliskan ucapan selamat pun sudah berdatangan satu persatu memenuhi depan rumah Andi Shadam. Mulai dari keluarga, rekan sejawat, Ketua DPRD dan DPR, Gubernur, Bupati dan Walikota dari berbagai daerah yang kenal baik dengan orang tua Alda.
Tidak hanya itu, beberapa Bank yang ikut andil memberikan ucapan selamat melalui benda tersebut. Karangan bunga yang diperoleh tak terhitung jumlahnya sehingga sebagian dialihkan ke gedung acara. Hal ini membuktikan bahwa memang Andi Shadam dan Andi Erna merupakan orang yang diperhitungkan.
Didalam rumah pengantin pun telah dipasangkan lawasuji. Benda ini merupakan pagar yang dirajut berbentuk belah ketupat yang digunakan suku bugis ketika mengadakan pernikahan.
Di dalam tempat ini pula akan diadakan ritual adat mappacci yang berarti membersihkan atau membuat bersih. dilakukan pada saat malam hari menjelang akad nikah.
Malam nanti tepat pukul 20.00 Wita Andi Alda akan melakukan ritual adat tersebut.
“Syukur Alhamdulillah! Akhirnya, Puang Shadam sebentar lagi punya anak laki-laki ….”
“Semoga cepat dapat cucu, Puang.”
“Tidak lama lagi rumah Puang Shadam ramai ….”
“Pokoknya sibuk mi nanti tauwwa Puang Erna jaga cucu ….”
Kalimat demi kalimat mulai keluar dari mulut kerabat yang hadir. Kedua orang yang menjadi sasaran ledekan dari orang sekitar hanya tertawa mendengar. Keduanya bahagia bukan main.
“Jadi Andi Alda setelah menikah ikut suami atau tetap stay mengajar disini, Puang?” Tanya salah satu tamu yang duduk di dekat Andi Shadam.
“Harusnya ikut suami. Sudah menjadi tugas dan kewajibannya setelah menikah,” jawab Andi Shadam.
“Terus, pekerjaannya bagaimana, puang?” Balasnya lagi. Seolah belum puas dengan jawaban yang dilontarkan oleh pria paruh baya di samping.
“Ya … berhenti saja! Tidak ada masalah untuk itu.”
Bukan hanya Andi Pangerang yang mengharapkan Alda untuk ikut dan berhenti dari karirnya, bahkan orang tuanya juga memiliki pikiran yang sama.
*****
Andi Alda berbaring di kamarnya memandangi setiap sudut yang telah dihiasi bunga-bunga. Tinggal menghitung jam tempat tersebut bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun ia telah berbagi dengan Sang Suami.
“Mau dipanggilkan terapis lulur pijat?” Tanya Andi Erna yang datang menyambanginya.
Alda berbalik menatap sumber suara. Sepertinya memang ia butuh itu. Untuk merilekskan pikiran. Umumnya calon pengantin akan demikian, bahkan jauh-jauh hari akan rutin perawatan di salon hanya untuk tampil cantik di hari spesialnya.
Alda mengangguk. “Boleh,” jawabnya singkat.
Andi Erna tersenyum. Ia menatap jam dinding yang menggangtung di atas pintu, dimana jarum jam berada di angka sepuluh. “MUA-nya datang sekitaran jam dua siang,” timpal Andi Erna.
Sekitar sepuluh menit Alda menunggu, seorang wanita menggunakan pakaian berwarna biru muda dengan nama salon terkenal tertera jelas di dada sebelah kirinya.
“Pagi, kak,” sapa wanita itu dengan ramah setelah dibukakan pintu oleh Alda. Terlihat ia menenteng koper kecil tentunya berisi peralatan lengkap yang siap memanjakan Alda.
Alda tersenyum simpul. “Silahkan masuk!” Alda mempersilahkan tamunya memasuki kamar.
Wanita itu mengedarkan pandangan menatap dekor kamar sekeliling dengan rasa takjub. Mulai dari depan sampai dalam rumah ia tak henti-hentinya memuji.
“Dekorasinya, mewah sekali, yah, Kak.” Puji wanita itu. “Saya barusan, loh, datang ke acara pejabat begini. Terlebih ini rumah Andi Shadam Marolah. Orang tuaku salah satu pendukung beratnya dulu waktu beliau mencalonkan,” jelasnya. Setelah itu ia menyengir menatap Alda.
Alda tersenyum simpul. “Oh, yah?”Ternyata wanita di depannya sedikit cerewet juga. Pikir Alda.
Terapis itu dengan cepat menganggukkan kepala.
“Nama kamu siapa?” Alda bertanya seraya duduk di tepi ranjang.
“Oh, iya, Kak. Perkenalkan saya, Icha.” Ia menjabat tangan Alda dan menunduk sekali sebagai tanda hormat.
“Saya … Alda.”
Tangannya halus banget.
Wajar. Cantiknya minta ampun.
Icha pun sama mengagumi Alda. Dres pink dengan rambut terurai berwarna kemerah-merahan. Hidungnya mancung. Namun matanyanya begitu sayu, jelas tersirat kesedihan di dalam.
Sebenarnya dia sudah tahu nama calon pengantinnya dengan melihat karangan bunga panjang di depan rumah.
“Kakak, boleh ganti pakaian,” seraya menyerahkan handuk yang dibawanya dari salon.
Alda meraih benda tersebut dan mengganti pakaian di dalam kamar mandi. Ia keluar dengan menggunakan handuk sepaha.
Ia kemudian berbaring di tengah ranjang. Menikmati setiap proses lulur pijat yang dilakukan oleh Icha. Ia memejamkan mata. Lagi dan lagi ia membayangkan sosok kekasihnya yang menari jelas di dalam ingatan.
.
.
.
.
.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN SHARE YAH🥰😘
Salam
AAH❤️
smg ibnu jg bisa mncintai nana