Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
Begitu batasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Jamuan Makan Malam Penuh Intrik
Aroma makanan mewah dan denting gelas kristal memenuhi aula utama hotel berbintang lima paling megah di pusat kota. Lampu gantung kristal berukuran raksasa memantulkan cahaya keemasan, menaungi ratusan tamu undangan yang terdiri dari para pengusaha elit, pejabat daerah, dan investor papan atas.
Malam ini, Keluarga Surya menggelar jamuan makan malam darurat. Di balik kemewahan dekorasi yang dipamerkan, acara ini sebenarnya adalah bentuk keputusasaan klan tersebut untuk menstabilkan situasi, meredam isu kebangkrutan, serta meyakinkan para investor bahwa bisnis mereka masih berdiri kokoh.
Di sudut ruang utama, Alya melangkah masuk dengan anggun. Ia mengenakan gaun malam berwarna biru tua yang simpel namun memancarkan kesan elegan dan profesional. Kehadirannya di acara ini bukan untuk menghadiri pesta, melainkan sebagai perwakilan Perusahaan Zena untuk bernegosiasi secara langsung dengan para mitra investor yang hadir. Alya ingin memastikan bahwa proyek kawasan pesisir yang dipimpinnya tetap melaju tanpa terpengaruh isu negatif pasar.
Namun, baru beberapa langkah Alya menyusuri aula, keributan kecil muncul dari arah pintu masuk.
"Biarkan kami masuk! Kami ini orang tua dari Manajer Proyek Zena! Anak kami punya posisi penting di perusahaan itu!"
Suara lengkingan yang sangat familiar itu membuat langkah Alya terhenti seketika. Dadanya berdesir hebat. Ketika ia memutar tubuhnya, matanya menangkap sosok Maya dan Hendra yang sedang berdebat sengit dengan petugas keamanan di ambang pintu.
Maya mengenakan gaun bermerek lama yang tampak sedikit lusuh dengan perhiasan imitasi yang mencolok, sementara Hendra berdiri dengan riasan rambut yang diatur tergesa-gesa. Setelah drama kebangkrutan Keluarga Pratama dan diusirnya Reno, hidup mereka jatuh drastis. Mengetahui ada jamuan makan malam elit yang dihadiri para pengusaha kaya, pasangan suami istri yang serakah itu nekat menyusup demi mencari naungan baru.
"Ibu? Ayah?" bisik Alya dengan wajah pucat.
Maya yang kebetulan mengedarkan pandangan melintasi aula langsung menangkap keberadaan Alya. Matanya berbinar penuh ketamakan. Dengan gerakan cepat, Maya menerobos barisan satpam yang ragu-ragu, lalu berlari kecil menghampiri Alya diiringi Hendra.
"Alya! Akhirnya Ibu menemukanmu!" seru Maya tanpa malu, menyambar lengan Alya dengan kencang. "Lihat tempat ini, Alya! Banyak sekali pengusaha kaya di sini! Kamu harus mengenalkan Ayah dan Ibu pada orang-orang hebat di sini!"
Alya menarik lengannya secara halus namun tegas, menatap ibunya dengan pandangan penuh rasa sakit dan kekecewaan. "Ibu, apa yang Ibu lakukan di sini? Ini adalah acara bisnis formal. Bagaimana bisa Ibu menyusup masuk?"
"Persetan dengan acara bisnis!" bisik Maya dengan suara tertahan namun tajam. "Kamu tahu kan rumah kita mulai ditagih utang? Bisnis ayahmu hancur! Kamu sekarang sudah jadi Manajer Proyek di Perusahaan Zena, tapi kamu tidak memberikan uang sepeser pun pada orang tuamu! Kamu anak durhaka!"
"Ibu!" tegur Alya dengan nada menekan, menahan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya. "Saya bekerja keras di sini secara profesional! Saya bukan mesin pencetak uang untuk menutup gaya hidup dan keserakahan Ibu!"
Hendra mendekat, memegang pundak Alya dengan raut wajah memohon yang dibuat-buat. "Alya, dengarkan ibumu. Kita sedang terdesak. Kalau kamu tidak mau merayu Reno kembali, setidaknya manfaatkan posisimu sekarang untuk mengenalkan kita pada pria kaya lain di pesta ini."
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya sendiri, Alya merasa hatinya bagaikan disayat sembilu. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah atau kasih sayang tulus dari kedua orang tuanya. Yang ada hanyalah niat untuk terus memanfaatkan dan menjual namanya demi materi semata.
Sebelum Alya sempat membalas, sebuah suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat.
"Wah, wah... pemandangan yang sangat menarik di tengah malam yang megah ini."
Randy Surya berjalan menghampiri mereka. Pria itu mengenakan setelan jas hitam mewah, namun wajahnya tampak sedikit pucat dan lingkaran hitam membayang di bawah matanya—dampak dari krisis finansial yang menghantam klannya tadi siang. Meski posisinya sedang terdesak, kesombongan Randy belum sepenuhnya padam. Ia melihat kehadiran Maya dan Hendra sebagai celah sempurna untuk membalas dendam dan menghancurkan reputasi Alya di depan para elit kota.
"Tuan Muda Randy!" mata Maya berbinar seketika saat mengenali sosok putra mahkota Keluarga Surya. Ia langsung memasang wajah manis dan membungkuk penuh kesopanan yang menjijikkan. "Selamat malam, Tuan Muda! Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda!"
Randy tersenyum sinis, menatap Maya lalu beralih memandangi Alya yang berdiri dengan tegang.
"Nyonya Maya, Tuan Hendra," ujar Randy dengan suara yang sengaja dikeras-kencangkan hingga menarik perhatian puluhan tamu undangan di sekitar mereka. "Sungguh mengejutkan melihat orang tua dari 'Manajer Proyek Utama' Perusahaan Zena berkeliaran di sini dengan pakaian seperti ini. Apakah anak kalian yang hebat ini tidak memberikan sedikit pun gajinya untuk membeli pakaian yang layak bagi orang tuanya?"
Para tamu di sekitar mulai berbisik-bisik, mengarahkan pandangan sinis dan penuh tawa ejekan ke arah Alya dan keluarganya.
Wajah Maya memerah menahan malu, namun bukannya membela Alya, ia justru memanfaatkan momen itu untuk menyalahkan putrinya. "Tuan Muda Randy benar! Anak ini memang tidak tahu diri! Setelah mendapat posisi bagus di Perusahaan Zena, dia melupakan orang tuanya sendiri! Bahkan suaminya yang dulu hanya benalu saja diusir dari rumah!"
Randy tertawa terbahak-bahak, merasa berada di atas angin. Ia melangkah satu pukulan maju, memojokkan Alya di tengah lingkaran para tamu VIP yang mulai mengerumuni mereka.
"Dengar itu semuanya?" teriak Randy dengan nada provokatif. "Lihatlah wanita yang dipromosikan menjadi Manajer Proyek Utama kawasan pesisir ini! Seorang wanita yang tega membiarkan orang tuanya hidup terlunta-lunta, wanita pemanjat sosial yang mengandalkan paras cantiknya untuk menggoda jajaran direksi demi menduduki jabatan tinggi!"
Randy menatap Alya dengan pandangan penuh penghinaan dan dendam yang mendalam. "Alya, kamu pikir dengan menjadi manajer di Perusahaan Zena kamu bisa berdiri sejajar dengan kami? Di mata Keluarga Surya dan seluruh elit kota ini, kamu tidak lebih dari seorang wanita murah yang memanfaatkan keluarganya sendiri demi keuntungan pribadi!"
Alya berdiri mematung di tengah kerumunan. Bisikan ejekan dan tatapan merendahkan dari para tamu undangan menghantam dirinya bagaikan gelombang dingin. Dadanya sesak, napasnya memburu. Perlakuan kejam dari Randy dan pengkhianatan berulang dari orang tuanya sendiri seolah meremukkan seluruh pertahanan mental yang telah ia bangun dengan susah payah.
Maya dan Hendra justru berdiri di samping Randy, memamerkan senyum menjilat demi mendapatkan belas kasihan dari putra mahkota Keluarga Surya itu, tanpa memedulikan bagaimana harga diri putri kandung mereka sedang diinjak-injak di depan umum.
Alya mengepalkan tangannya rapat-rapat, mencoba menahan derai air mata yang hampir menetes. Di dalam aula yang begitu megah dan ramai ini, ia merasa benar-benar sendirian, terpojok dalam jebakan intrik yang begitu kejam.
Namun, tepat di saat Randy hendak membuka mulutnya lagi untuk melempar hinaan yang lebih menyakitkan, seluruh lampu hias di ceiling aula utama mendadak meredup secara serentak.
Suara musik klasik yang mengalun lembut terhenti seketika, digantikan oleh keheningan mencekam yang merayapi seluruh ruangan. Dari balik pintu utama aula yang megah, aroma ketegangan yang sangat pekat mendadak merebak, membuat setiap pasang mata di ruangan itu secara refleks berpaling menuju pintu masuk.