Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14: Rapat Besar Mengguncang Kantor
Hubungan Azka dan Visha masih berjalan dengan sangat baik. Mereka kerap melakukan berbagai hal romantis. Namun ternyata, Azka kini telah memiliki kemampuan membagi hatinya untuk dua perempuan. Bukan hanya Visha seorang, tapi juga kepada sosok bernama Sesilia Kaylani.
Malam itu, mereka sudah terbaring diatas ranjang. Suasana terasa hening. Mereka melakukan kebiasaan lama, berbincang sebelum tidur.
Tapi selanjutnya, Visha memiringkan badan lalu memberitahu Azka sesuatu.
“Aku sudah selesai haid,” ucapnya pelan sambil melihat wajah Azka yang sedang memandang langit-langit kamar.
Seketika saja Azka memalingkan wajahnya ke samping. Sekarang mereka saling berhadapan.
“Sudah boleh?” tanya Azka.
Visha menganggukan kepala. Sesaat kemudian, Azka mendekatkan tubuh ke Visha. Mereka pun melakukan kegiatan yang sudah lama mereka tidak lakukan.
***
“Aku berangkat dulu ya,” kata Azka setelah menyelesaikan sarapan omeletnya.
Pagi itu, Visha menyusul suaminya sambil membawa tas bekal makanan yang sudah disiapkan.
Di teras rumah, ia menyerahkan kotak bekal tersebut. Tak lupa, ia mencium tangan Azka lalu dilanjutkan dengan ciuman bibir yang menjadi kebiasaan mereka sebagai suami-istri.
“Hati-hati di jalan, pelan-pelan saja,” pesan Visha.
“Iya, aku berangkat ya,” jawab Azka, kembali ditutup dengan ciuman bibir.
Ketika berada di dalam mobil, tiba-tiba saja pikiran Azka sudah berganti. Bukan lagi tentang Visha, tapi Kayla. Kepala divisi quality control yang telah membuat hatinya terpikat.
Ia pun langsung menancap gas mobilnya lalu berangkat ke kantor.
Tiga puluh menit kemudian, ia sampai di parkiran gedung tempat kantornya berada. Usai memarkirkan mobil, Azka tidak langsung turun. Ia mengeluarkan sebuah parfum kecil yang memang sudah disiapkan diam-diam.
Ia menyemprot beberapa kali ke beberapa arah kemeja yang dikenakannya sekarang. Ia menghirup nafas panjang untuk mencium aroma parfum tersebut. Merasa cukup wangi, ia pun turun dari mobil, masuk ke dalam gedung.
Namun sayang sekali karena bukan bertemu Kayla, ia justru bertemu dengan Noval di lobi. Mereka kemudian jalan beriringan lewat koridor menuju lift.
“Wangi sekali pak?” refleks Noval karena mencium aroma parfum semerbak dari Azka.
Ia pun beralasan kalau istrinya baru saja membeli parfum. “Padahal aku sudah melarang, tapi dia memaksa. Begini deh jadinya,” dalih Azka sedikit terbata.
Mengalihkan topik pembicaraan, Ia bertanya tentang persiapan rapat besar yang akan dilakukan hari ini.
"Semua sudah siap untuk rapat hari ini? Jangan sampai ada yang miss lho, Noval,” ujarnya memperingatkan.
“Baik pak, setelah ini akan saya periksa ulang kembali persiapannya,” jawab Noval yang mulai terlihat sedikit panik.
Meskipun Noval merasa semua persiapan sudah selesai, tapi ia masih takut melakukan kesalahan yang tidak terpikirkan olehnya. Mengingat ia sudah melakukan sejumlah kesalahan besar belakangan ini.
***
Rapat besar dimulai.
Sejumlah orang telah memenuhi ruangan, bahkan dengan beberapa diantaranya duduk di lapis kedua karena kursi di depan meja utama sudah penuh.
Mereka berasal dari semua divisi yang mengerjakan proyek-proyek di perusahaan PT. Sandi Utama. Mulai dari divisi site engineer, structure engineer, quality control dan beberapa sub divisi di bawahnya.
Dalam batin Azka, ia sibuk menekankan dalam pikiran untuk menyebut nama Sesilia, bukan Kayla.
Baru saja dibuka, sudah terlihat sekali suasana sedang tidak baik-baik saja. Terutama dari divisi site engineer yang merasa kesal karena divisi pimpinan Sesilia sering memberikan evaluasi.
Kepala divisi site engineer, Dito berasumsi bahwa untuk pengerjaan di lapangan tidak semudah yang diucapkan oleh Sesilia.
“Beginilah kalau perusahaan memilih orang yang terlalu muda untuk jadi pemimpin, pengalaman masih minim,” sindir Dito.
Sesilia tentu tak terima dengan pernyataan itu.
“Saya rasa tidak elok jika kita bekerja bukan berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Saya minta pak Dito agar berbicara tentang fakta di atas meja saja, tidak perlu melebar kemana-mana,” tegasnya.
Menuruti hal tersebut, Dito kembali memaparkan kalau seharusnya Sesilia bisa memahami cara kerja nyata, bukan berdasarkan teori dalam buku.
“Jangan bisanya cuma mengoreksi saja tanpa tahu bagaimana kesulitan tim di lapangan,” ujarnya.
“Lho! Justru apa yang saya lakukan ini akan lebih memudahkan tim bapak bekerja di lapangan. Saya juga sudah beberapa kali turun langsung menjelaskan ke anggota Bapak. Mereka pun paham dengan tujuan saya, mereka setuju dan mendukung,” ungkapnya.
Kini wajah Dito terlihat sangat tegang. Sorotan matanya seakan ingin menerkam Sesilia.
“Hanya saja setiap kali saya turun ke lapangan, Bapak selalu menghindar kan? Apa karena terlalu gengsi? Pak Dito merasa saya masih muda, tapi sudah banyak memberikan arahan, jadi Bapak tidak terima dan justru bikin masalah sampai seperti ini,” jelas Sesilia lagi.
Dito membela diri dengan mengatakan bahwa tuduhan Sesilia tak sesuai kenyataan.
“Kamu yang tidak paham alur kerja,” ucapnya singkat karena kehabisan kata-kata.
“Tidak paham? Bisa beritahu bagian mana yang sekiranya saya miss?” tanya Sesilia balik menekan.
Tak bisa memberikan argumen, Dito hanya bisa mengeluh, “Susah deh, susah. Beginilah kalau anak kemarin sore diberi tanggung jawab terlalu besar.”
***
Mengetahui rekannya sudah kalah debat, kepala divisi structure engineer, Wawan, ikut memberikan dukungan ke Dito.
“Mungkin boleh saya ikut bicara di sini.”
“Pertama-tama, saya bisa memahami keinginan dari Bu Sesilia demi kelancaran proyek. Mungkin karena usianya masih muda, punya semangat menggebu,” kata Wawan.
Sesilia yang tadi sempat menegang mulai merilekskan tubuh. Ia merasa kalau Wawan mungkin bisa membantu untuk mencerahkan Dito.
Tapi ternyata tidak demikian.
“Begitu juga dengan Pak Dito yang telah berpengalaman selama lebih dari tujuh tahun di bidangnya, terutama di lapangan. Pak Dito tentu paham betul dengan apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan agar proyek ini bisa optimal,” jelas Wawan melanjutkan kalimat.
Menyadari gelagat Wawan rupanya tidak memberi dukungan untuknya, Sesilia minta ia segera mengatakan tujuan secara jelas.
“To the point saja pak,” kata Sesilia ketus.
“Nah, seperti ini, salah satu yang bisa saya katakan, Bu Sesilia terlalu bersemangat, sampai lupa terkait etika dan sopan santun,” respon Wawan mulai tajam.
Melihat Sesilia diserang dari berbagai penjuru, Azka mulai bertindak.
“Pak Wawan, tolong fokus pada topik. Pembahasan rapat kali ini sangat penting untuk kelangsungan proyek. Jangan seperti anak kecil,” ucapnya pelan tapi tegas.
Terkejut dengan pernyataan itu, Wawan langsung berusaha memperbaiki kalimatnya. “Baik Pak, maksud saya, agar mencegah kesalahpahaman, saya rasa komunikasi perlu diperbaiki lagi ke depan.”
Sesilia ingin menanggapi, tapi kemudian dipotong oleh Azka yang memanjangkan tangan, membuka telapaknya, isyarat meminta ia diam.
Mengingat penjelasan Sesilia sebelumnya, Azka kemudian bertanya kepada Dwiki, seorang anggota tim yang berada di bawah pimpinan Dito.
“Saya mau tanya ke Dwiki, apakah benar kamu sudah diberi penjelasan saat Kayla.. M-maksud saya, Bu Sesilia ketika inspeksi di lapangan?” tanyanya.
Tak membiarkan Dwiki yang menjawab, Dito langsung refleks merespons.
“Iya, memang tim saya pernah berdiskusi dengan dia, tapi..” kata Dito yang langsung disela oleh Azka.
“Saya tidak tanya anda, jadi sebaiknya diam dulu,” tegas Azka.
Semua sudah mengetahui kalau Azka sudah berbicara seperti itu, tandanya ia sedang marah. Suasana menjadi lebih tegang, namun hening. Pergerakan pun juga minim.
“Dwiki, tolong jawab pertanyaan saya tadi,” ulang Azka.
Dengan rasa takut setengah mati, Dwiki memberikan jawaban singkat, “Iya, pernah.”
“Berapa kali?” tanya Azka lagi.
“Empat kali pak,” jawabnya.
Azka melirik ke arah Dito. Ia kemudian bertanya, “Selama empat kali inspeksi itu, anda sedang berada di mana Pak Dito?”
“Saya sedang melakukan pengerjaan konstruksi di titik lain, Pak,” dalihnya mencoba tetap tenang.
“Baik, kalau begitu, tidak apa-apa,” jawab Azka.
Tapi kemudian, ia melanjutkan kalimatnya, “Noval, nanti tolong bantu saya, periksa apakah benar pada setiap jadwal inspeksi dari tim quality control, Bapak Dito sedang ada jadwal pengerjaan konstruksi di titik lain. Segera laporkan ke saya jika sudah dapat datanya”.
“Baik, Pak,” jawab Noval singkat.
Azka kembali ke Dwiki untuk mengetahui informasi lebih lanjut. “Lalu, Dwiki. Bagaimana menurut kamu dengan apa yang dijelaskan oleh Bu Sesilia?”
“Tidak perlu takut, katakan apa adanya saja. Daripada nanti kamu yang terkena masalah,” sambung Azka bernada seperti mengancam.
Tak punya pilihan, Dwiki akhirnya menceritakan tentang semua yang terjadi memang sesuai penjelasan Sesilia.
Anggota tim dari divisi terkait mayoritas memang setuju atas evaluasi yang diberikan oleh Sesilia. Mereka juga bisa memahaminya dengan mudah karena ia memberi pemaparan yang sangat jelas.
Setelah melihat ada angin segar dalam suasana rapat. Seorang drafter bernama Katlyn ikut bicara. Posisinya merupakan anggota di bawah divisi structure engineering.
Ia menilai konsep evaluasi dari Sesilia bisa sangat memudahkan dari awal pra-konstruksi, saat konstruksi dan post-konstruksi.
“Efisiensi budget juga bisa terjadi jika semua divisi bekerjasama sesuai perencanaan tersebut,” ujarnya.
Senyum Sesilia mulai terbuka lebar karena situasi kini sangat mendukung. Ia sempat melirik ke arah Azka, begitu juga dengan sebaliknya.
“Baiklah untuk sementara ini, rapat kita akhiri sampai disini dulu. Kita istirahat makan siang. Rapat dilanjutkan setelahnya,” ujar Azka menutup rapat.