NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Catatan Kecil di Buku

Gue diem kaku di tempat. Kayak baru aja ketimpa beban berat banget. Napas gue kerasa susah.

"Lo... lo nabrak?" suaranya gue gemetar, hampir gak kedengaran.

Farhan natap tanah, kedua tangannya saling megang kenceng di antara lutut. Bahunya naik turun, kayak orang yang nahan nangis sekuat tenaga.

"Iya, Mir. Gue yang nyetir waktu itu. Gue yang salah sepenuhnya." Dia berhenti sebentar, telan ludah susah banget. "Malam itu hujan deras, gue ngebut, gak fokus... terus kehilangan kendali. Mobil nabrak pembatas jalan."

Gue duduk pelan di ujung bangku, jauh dikit dari dia. "Terus... Rina luka parah?"

"Kakinya retak, kepalanya benjol gede. Harus dirawat di luar kota sama orang tuanya selama setahun. Operasi, terapi, semuanya." Dia tarik napas panjang, terus buang pelan banget. "Orang tuanya marah banget, Mir. Larang dia ketemu gue sama sekali. Bilang gue cuma bawa sial."

"Terus kenapa lo sembunyiin dari gue? Kita kan gak pernah ada rahasia!" Gue ngerasa sedih, kecewa, takut — campur jadi satu.

"Karena gue malu!" Dia ngangkat kepala, matanya basah, suaranya naik dikit. "Gue takut lo natap gue beda. Takut lo tau sahabat kecil lo ini sebenernya orang yang nyakiti orang lain. Apalagi... apalagi waktu itu gue udah mulai sadar kalau perasaan gue ke lo beda dari temen biasa."

Jantung gue berdebar kenceng. "Maksud lo?"

"Gue takut lo pergi, Mir. Gue takut lo benci gue pas tau kebenaran. Jadi gue bilang gue sendirian waktu itu, gue jatuh dari sepeda, gak ada orang lain. Gue pikir kalau gue simpen rapat-rapat, lama-lama bakal terlupain." Dia senyum kecut. "Ternyata gak gampang."

Malam itu kita diem lama banget di bawah pohon. Angin berhembus dingin, bikin gue merem. Banyak hal yang harus gue pikirin, dan semuanya berat.

"Terus Rina balik buat apa?" tanya gue akhirnya.

"Katanya dia mau beresin semuanya. Bilang gue harus tanggung jawab. Tapi gue gak tau maksudnya gimana." Dia natap gue dalem-dalem. "Mir... gue minta satu hal. Jangan ngejauh dari gue sekarang. Gue butuh lo."

Gue gak tau harus jawab apa. "Gue... gue pikirin dulu ya, Han. Kepala gue berantakan banget."

Gue pulang ke rumah tanpa nengok ke belakang. Malam itu gak tidur sama sekali.

Besok paginya, jalan ke sekolah kerasa beda. Semua orang tetep sama, tapi gue ngerasa kayak bawa beban sendiri. Pas masuk gerbang, Dimas udah di sana. Dia langsung nyamperin.

"Pagi, Mir. Lo oke? Muka lo pucat banget."

"Pagi, Dim. Gak apa-apa, cuma kurang tidur doang," jawab gue sambil senyum tipis.

Dia natap gue sebentar, terus ngasih selembar kertas kecil. "Ini tugas Matematika yang kemarin. Lo tadi gak sempet catet, jadi gue tulisin ulang."

Gue buka kertasnya. Tulisan rapi, jelas, semua rumus lengkap. Di bawahnya ada catatan kecil pakai pulpen warna lain:

"Kalau lo mau cerita, gue denger. Gak harus sekarang. Gak harus soal apa yang bikin lo sedih. Gue ada di sini."

Gue natap Dimas. Dia udah jalan beberapa langkah, terus nengok sebentar, senyum dikit, terus lanjut jalan. Gue lipat kertasnya rapi, masukin ke saku dalam tas.

Pas masuk kelas, Farhan udah di tempat. Mukanya masih jelek, tapi dia natap gue pas gue duduk. Di meja gue ada sebotol air putih dingin — yang gue suka.

"Buat lo," katanya pelan, gak natap mata gue. "Lo selalu lupa bawa, kan?"

"Makasih," jawab gue singkat, terus buka buku.

Sepanjang pelajaran kerasa lama banget. Farhan curi-curi pandang terus. Setiap kali gue nengok, dia langsung natap ke depan. Kayak takut ketahuan, tapi gak bisa nahan natap.

Pas istirahat, gue mau jalan ke kantin bareng Sari, tapi Farhan tahan lengan gue pelan di depan kelas.

"Mir... boleh ngobrol bentar?"

"Di sini aja, Han. Nanti orang pada lihat," jawab gue narik pelan lengannya.

Dia nurunin tangan, natap sepatunya sendiri. "Gue cuma mau bilang... apa pun yang terjadi, apa pun yang Rina bilang, lo denger penjelasan gue dulu ya. Gue gak seburuk yang lo pikir."

"Gue gak bilang lo buruk, Han. Cuma... gue butuh waktu. Ini berat banget buat gue tau tiba-tiba."

"Oke, gue ngerti. Gue tunggu. Berapa lama pun." Dia senyum sedih, terus masuk ke kelas duluan.

Di kantin, Dimas nyamperin meja gue lagi. Bawa dua bungkus roti.

"Lo belum makan kan? Ini gue beli. Gak enak kalau lo sakit lagi," katanya sambil naruh di meja.

"Eh, makasih Dim, tapi gak usah..."

"Udah, makan aja. Gue gak lapar kok." Dia duduk di kursi depan gue, gak di sebelah, tetap ngasih jarak. "Lo ada masalah sama Farhan?"

Gue berhenti kunyah. "Gimana lo tau?"

"Kalian beda banget dari biasanya. Dulu ketawa bareng, sekarang diem dieman. Kayak ada tembok di tengah."

Gue natap roti di tangan, bingung mau cerita apa. "Ada hal yang gue baru tau. Berat. Dan dia sembunyiin dari gue lama banget."

Dimas diem sebentar, terus bilang pelan: "Gue gak mau ikut campur urusan lo. Tapi satu hal: kalau lo harus milih, pilih yang bikin lo tenang, Mir. Bukan yang bikin lo takut, bingung, atau nunggu terus."

Kata-katanya ngena banget. Gue gak jawab, cuma ngangguk pelan.

Sore itu pulang sekolah, gue jalan sendirian. Farhan bilang ada urusan duluan, gak bareng. Dimas nawarin anter, tapi gue nolak — gue butuh waktu sendiri.

Pas sampe rumah, gue buka tas, mau ambil buku buat PR. Ternyata ada selembar kertas kecil nyelip di sela-sela halaman buku Bahasa Indonesia gue. Tulisan tangan Farhan, agak berantakan kayak nulis buru-buru:

"Gue tau gue salah sembunyiin. Gue tau gue pengecut. Tapi gue gak pernah bohong soal satu hal: perhatian gue ke lo, semua itu asli. Bukan karena gue bersalah. Bukan karena kewajiban. Tapi karena gue sayang lo. Jauh sebelum semua kekacauan ini terjadi."

Tangan gue gemetar pegang kertas itu. Jantung gue berdebar kenceng campur aduk — senang, takut, bingung.

Tiba-tiba HP gue di saku bunyi. Pesan masuk. Bukan dari Farhan, bukan dari Dimas.

Dari nomor asing lagi.

"Lo baca surat Farhan? Manis kan? Sayangnya dia gak kasih tau kelanjutan ceritanya. Rina hamil, Mir. Dan anak itu miliknya."

Gue hampir jatuh terduduk. Kertas dari Farhan terlepas dari tangan, jatuh ke lantai.

Dunia gue rasanya runtuh seketika. Kaki gue lemas, gue jatuh ke lantai. Napas gue berat, susah banget diatur.

"Gak mungkin... gak mungkin..." gumam gue sendiri, kepala geleng-geleng pelan.

HP di tangan gue getar lagi, pesan kedua nyusul cepat banget.

"Kalau lo gak percaya, tanya aja langsung ke dia. Tanya soal hasil tes bulan lalu. Dia tau."

Gue buka kontak, jari gemetar ketik nama Farhan. Tapi berhenti pas mau tekan tombol panggil. Kalau bener gimana? Kalau dia bohong lagi gimana? Semua yang gue tau selama ini bakal hancur sepenuhnya.

Malam itu gue gak berani keluar kamar, gak berani balas pesan siapa pun. Sampai pukul sembilan, ketukan pintu kedengaran — pelan tapi pasti.

"Mir? Lo udah tidur?" Suara Farhan dari luar, bergetar. "Gue harus ngasih tau lo sesuatu. Sekarang juga."

Gue ngeraih gagang pintu pelan. Tangan gue dingin.

Pas pintu kebuka dikit...

Gue lihat dia berdiri di sana, napasnya ngos-ngosan, matanya merah, dan di belakangnya... Rina berdiri diam, megang selembar kertas di tangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!