Disarankan untuk membaca "Cold Woman Itu Istriku" terlebih dahulu sebelum membaca ini.
Sebuah kisah dari Daniel Nandra Sharman pria dingin nan tampan pemegang dua perusahaan besar sekaligus dengan dua jabatan berbeda harus menikah dengan wanita yang mengaku telah mengandung anaknya padahal ia sama sekali tidak pernah melecehkan atau menyentuh wanita manapun. Termasuk wanita tersebut, ia mengenalnya saja tidak.
Khanza Adelia Dinata, perempuan cantik yang berasal dari keluarga kurang mampun. Ia merupakan tulang punggung bagi keluarganya. Orang tuanya yang sudah berumur memaksa dirinya untuk bekerja keras tapi dua kali ia harus dipecat gara-gara seseorang. Ia memiliki dua adik laki-laki, adik bungsunya menderita sakit ASMA membuatnya harus ekstra kerja keras untuk adiknya. Suatu ketika sakit adiknya kambuh dan dia sedang tidak memegang uang sama sekali begitu juga dengan kedua orang tuanya.
Ide gila nan kotor muncul di kepalanya begitu saja, dengan cara kotor ia menjebak seorang pria yang telah membuatnya kehilangan pekerjaan menikahinya maka kemungkinan dengan begitu perekonomian keluarganya terjamin dan adiknya tidak akan kesusahan menerima pengobatan.
Apakah harapannya itu akan sesuai dengan apa yang ia perkirakan sebelumnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ansifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Daniel sudah berdiri gagah di samping mobilnya yang terparkir di parkiran pemakaman tempat Mamanya di semayamkan. Dia tidak sendiri disitu juga ada Khanza yang terpaksa dia ajak karena Dena menyuruh dirinya untuk mengajak perempuan yang berstatus istrinya itu. Sungguh sebenarnya dia tidak membayangkan akan memiliki istri di usia dua puluh dua tahun ini. Semua itu memang gara-gara wanita yang dia sebut licik ini.
“Kenapa memperhatikanku terus, sudah suka denganku?” ucap Khanza karena melihat Daniel yang memperhatikannya dari bawah sampai atas.
“Jangan kepedean,” sangkal Daniel. Dia mengalihkan pandangannya mengenakan kacamata hitam yang terselip di bajunya.
“Dena lama sekali,” tukasnya kesal karena kembarannya itu belum juga datang padahal tadi Dea bilang akan datang lebih dulu tapi mana nyatanya.
“Sabar sedikit kenapa? Dia mungkin sibuk karena mengurus anaknya dulu. kamu maklumi lah kembaran mu itu” ucap Khanza.
Daniel tidak menanggapi ucapan itu dia malah terus melihat kearah jalan menunggu kedatangan Dena,.
“Maaf sebelumnya. Aku boleh tanya sesuatu tidak?” tanya Khanza hati-hati sambil melihat Daniel yang langsung menatapnya.
“Apa?” ucapnya.
“Emm, kalau boleh tahu Mama Monica meninggalnya kenapa ya? Waktu aku ikut dirimu menemui Om Jason kemarin dari pembicaraan kalian, dalam pikiranku Mama Monica di bunuh ya memang benar kakek mu yang..” ucap Khanza dengan hati-hati meskipun dia sudah bertanya dengan hati-hati Daniel tampak tidak suka bisa dilihat dari cara pria itu menatapnya.
“Bukan urusanmu, jangan ikut campur dengan keluargaku” ucap Daniel tidak senang dengan hal yang dibahas Khanza.
“Tapi aku kan sudah jadi istrimu, jadi aku ingin tahu. Mama Mo..”
“Istri? Siapa bilang kau istriku. Kau hanya istri di atas kertas mengerti. Jangan pikir aku sudah menerimamu karena aku tidur denganmu semalam” kesal Daniel dan langsung berjalan meninggalkan Khanza.
Khanza langsung terdiam, Daniel ternyata masih belum menganggap pernikahan ini. Ia pikir karena pria itu menjadi lembut dan ingin tidur dengannya arena sudah menerima pernikahan mereka. Harapannya ternyata tidak sesuai,
“Tidak apa Khanza kamu harus bersabar, buat dia jatuh cinta padamu dengan kelembutan yang kamu berikan” ucap Khanza meyakinkan dirinya sendiri. Dia menyemangati dirinya,
“Semangat Khanza” ucapnya lagi.
“Daniel tunggu aku,.” seru Khanza sambil berlari kecil menyusul Daniel.
..................
Dena dirumahnya sedang sibuk ke sana kemari karena kedua anaknya yang baru delapan bulan itu tengah demam. Bukan hanya satu anaknya saja melainkan dua-duanya demam. Gian dan juga Gibran.
Gian digendong oleh Dena sedangkan Gibran digendong oleh Dirga badan mereka panas dan juga terus menangis sedari tadi.
“Sayang, Gian sama Gibran nangis terus nggak berhenti-berhenti. Kita ke dokter aja yuk” ucap Dirga yang menggendong Gibran.
“Apa iya ya, aku bilang dulu deh sama Daniel kalau kita tidak jadi ke makam Mama” ucap Dena yang memang sedari tadi terus bingung dengan kondisi saat ini. Dia sudah ada janji dengan Daniel tapi disisi lain anaknya sedang sakit.
“Cup-cup sayang,” ucap Dena sambil menggendong Gian dia berdiri disebelah Dirga yang sedang menggendong Gibran saat ini. Tangannya juga sibuk memegang Hp mencari nomor Daniel untuk menghubungi adiknya tersebut.
“Aku telpon dokter pribadi saja ya sayang, kalau dipikir-pikir kita ke rumah sakit lama. Lebih baik aku panggil dr. Hanafi saja bagaimana” ucap Dena yang memiliki ide itu, karena memang rumah hanafi tidak jauh dari rumah mereka.
Mata Dirga langsung mendelik,
“Tidak usah, ke rumah sakit saja” ucapnya.
“Tap la..”
“tidak usah tapi-tapi, kamu ini kenapa malah kepikiran dokter itu. Katanya mau bilang pada Daniel”
“Maaf,” lirih dena dan langsung menghubungi Daniel.
Dena menghubungi Daniel tapi panggilannya tak kunjung dijawab, kemana kembarannya itu saat ini kenapa tidak dijawab juga.
“Tidak dijawab” ucap Dena menjauhkan Hpnya.
“Sudahlah kalau tidak dijawab, ayo kita bawa Gian sama Gibran ke rumah sakit” pungkas Dirga.
“Sini biar aku yang gendong Gian kamu siapin pakaian mereka takut-takut nanti mereka dirawat atau bagaimana” ucap Dirga akan mengambil alih Gian juga.
“Kamu bisa gendong bocah dua?” ucap dena menatap Dirga.
“Bisa, sudah sini. Gian ikut Papa ya, Papa gendong sama Gibran juga” ucap Dirga perlahan menggendong Gian juga. Dia saat ini menggendong dua anak sekaligus, dia memang sosok Papa idaman dan suami idaman untuk Dena. Dena benar-benar bersyukur memiliki suami seperti Dirga yang begitu mencintainya.
Dia segera berlari kearah lemari untuk mengambil pakai-pakain anaknya untuk berjaga-jaga kalau ada apa-apa nanti.
......................
Daniel sampai dirumahnya dengan marah-marah dia melepas dua kancing teratas kemeja hitamnya. Dan menendang meja kamarnya saat ini. Dia marah karena Dena tidak datang padahal kembarannya itu yang mengajaknya ke makam sang mama untuk merayakan ulang tahun Monica.
“Menyebalkan, kau sudah tidak perduli dengan Mama” amuknya menendangi meja sambil nafasnya naik turun.
Daniel membanting figura foto yang ada foto Dena dia menginjak-injak foto itu.
“Kau bilang kembaran? kembaran Mana yang tidak menepati janjinya hah. Kau memang sudah tidak memerlukan ku” ucap daniel dengan marah.
“Astaga,.” Ucap Khanza yang kaget karena melihat beberapa foto dengan bingkai pecah terhampar di lantai.
Daniel hanya melihat sekilas dan mengalihkan pandangannya.
“Kau kenapa? Kenapa marah begini?” heran Khanza.
“bukan urusanmu, keluar dari kamarku” ucap Daniel mengusir Khanza
“Tidak, ini kamarku juga. Kau lupa kita sudah tidur disini semalam. Dan kau bilang ini kamarku juga” ucap Khanza takut-takut.
“Aku tarik kata-kataku, sekarang keluar” ucap Daniel mengayunkan tangannya mengusir Khanza keluar.
“Tidak aku tidak akan keluar, kau mau aku beritahu Dena”
“Aku tidak peduli, Dena bukan siapa-siapaku lagi mengerti aku tidak perduli dengannya”
“Hei jangan begitu dia..”
“Keluar” Daniel menarik tangan Khanza keluar, tapi Khanza buru-buru melepas tangan Daniel.
“Kau marah dengan Dena? Jangan begini ayolah jangan seperti anak kecil.” Ucap Khanza memberanikan diri menatap wajah Daniel.
“Kau bilang aku anak kecil,” Daniel merasa marah dan menendang sofa yang ada didekatnya.
Khanza meneguk ludahnya, dia takut dengan Daniel tapi dia tidak bisa diam saja.
“Mungkin Dena sedang sibuk mengertilah dia. Seharusnya kamu memaklumi dia, dia sudah punya keluarga bahkan anak jadi mungkin dia sedang ada sesuatu dengan keluarga kecilnya.”
“Kau tidak tahu apa-apa, keluar” lagi Daniel akan mengusir Khanza keluar. Tap perempuan itu tiba-tiba saja memeluk Daniel kuat.
“Sudahlah jangan marah-marah perutku jadi bergerak-gerak terus karena anakmu ini tidak suka denganmu. Tenangkan dia agar tidak marah denganmu” ucap Khanza cukup berani ditengah kemarahan Daniel saat ini.
“Lepas,.” Daniel mencoba melepaskan pelukan Khanza.
Khanza melepaskannya tapi dia memegang tangan Daniel,
“Mana tanganmu? Sini pegang perutku” ucap Khanza menaruh tangan Daniel di perutnya.
“Rasakan anakmu sedang bergerak diperut ku, kau marah pada Dena kan karena dia tidak datang di makam Mama. Lalu bagaimana perasaan anakmu ini saat kamu menolaknya pasti dia sakit karena kamu mengabaikan dia. Begitu juga dengan dirimu sekarang kan” ucap Khanza mendongak melihat Daniel yang diam menatapnya.
Khanza melepaskan tangan Daniel dan kini tangannya beralih ke wajah Daniel. Dia menarik pelan wajah pria dingin itu.
Dan
Cupp..
Khanza mencium Daniel membuat Daniel melebarkan matanya tak percaya perempuan licik itu berhasil memperdaya dirinya dan sekarang mengambil kesempatan padanya. Tapi kenapa dia seolah enggan menolak ciuman dari Khanza, malah seakan dia ingin memperdalam ciuman perempuan itu.
Entah sadar atau tidak Daniel langsung menarik Khanza lebih dekat dan dia membalas ciuman Khanza yang hanya sepihak itu. Dia menghisap kuat bibir manis milik Khanza, ********** begitu dalam.
Mereka asik berciuman saat ini, Daniel seakan tidak ingin melepas ciuman perempuan itu, dia semakin erat merengkuh pinggang Khanza.
°°°
T.B.C
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa