Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peran Ibu dan Anak
Kesunyian yang pekat mencengkeram ruang tengah. Keempat gadis itu tenggelam dalam kebisuan, memutar otak mencari cara agar pemuda yang tergolek lemah itu bisa kembali tersadar tanpa harus memanggil tabib desa ke rumah.
Di sisi lain, Clyrie tak ikut berkumpul. Wanita paruh baya itu menyibukkan diri di area belakang rumah.
Namun, pikirannya melayang-layang, tak lepas dari kedatangan satu tamu asing yang tiba-tiba muncul bersisian dengan anak-anaknya.
'Siapa sebenarnya tamu itu?' batin Clyrie.
Jika diingat-ingat lagi, gadis bergaun ungu itu sama sekali belum memperkenalkan diri kepada sang pemilik rumah.
Ia hanya langsung duduk, menutupi sebagian wajahnya, dan sibuk mengurus kekacauan yang menimpa Vyora serta pemuda asing tersebut.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Chtholly memecah keheningan. "Kita tidak bisa jika hanya berdiam diri untuk menunggu pemuda ini bangun. Kita harus lakukan sesuatu."
'Lakukan sesuatu.' Frasa itu mengendap berat di kepala Cate. Alhasil, ia hanya menunduk dalam, berpura-pura berpikir keras mencari jawaban atas pernyataan itu agar tak terlihat tak berguna.
Di sudut lain, Uchi malah asyik mengunyah sisa hidangan ubi ungu buatan Clyrie yang tadi pagi tak sempat dimakan oleh Takahiro.
Vyora memilih mengurung diri di kamarnya. Jari-jarinya bergerak cepat menelusuri deretan buku usang yang berjejer di rak kayu.
Ia terus mencari, membongkar tumpukan hingga akhirnya menemukan sebuah buku panduan obat herbal tua. Dengan cepat ia mulai membolak-balik halamannya, mencari resep yang bisa menyadarkan Takahiro.
"Ketemu!" gumamnya.
Halaman demi halaman ia baca, tak satu pun tanaman yang tercatat di sana terasa familiar atau mudah didapat. Matanya terus memindai barisan teks medis tersebut.
Sesosok bayangan menutupi cahaya dari arah ambang pintu. Clyrie melangkah masuk tanpa bersuara, mengamati kesibukan putrinya.
"Vyora...," panggilnya lirih.
Bahu Vyora tersentak kecil. Ia buru-buru menutup buku tersebut dan meletakkannya di sisi kiri kasur, tepat di ujung ranjang.
"Ibu?" sapanya. "Ada apa?"
"Maaf jika kedatangan ibu mengganggumu."
Vyora menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak apa-apa kok, Bu. Aku tidak merasa terganggu dengan kedatangan Ibu ke sini."
Clyrie masih berdiri di ambang pintu. Pandangan wanita itu menyapu sekilas ke arah kasur, menangkap wujud sebuah buku bersampul karton kusam dengan ilustrasi bunga clover berdaun lima bertuliskan 'Buku Herbal'.
Setelah membiarkan kalimat Vyora menggantung sejenak di udara, Clyrie kembali berbicara dengan nada yang teramat lembut.
"Boleh Ibu masuk, Nak?"
Vyora mengangguk. Tangannya terulur menepuk ruang kosong di kasur.
Clyrie melangkah mendekat dan mendaratkan tubuhnya di sana.
"Sebenarnya ada yang ingin Ibu tanyakan padamu," tuturnya santai, wajahnya menatap Vyora dengan sorot mata keibuan yang teduh.
"Tentang apa?" tanya cepat Vyora. Entah kenapa, jantungnya mendadak berdebar tak nyaman.
"Ada dua hal yang ingin ibu tanyakan. Pertama, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa pemuda jenius itu bisa terluka separah itu?"
Vyora menelan ludah, membiarkan tatapan matanya terkunci dengan wajah sang ibu.
"Dan yang kedua—" lanjut Clyrie. Kalimatnya sempat terputus, ia menarik napas sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih menekan. "Siapa gadis bergaun ungu yang memakai cadar itu? Kenapa kalian tidak mengenalkannya padaku? Apa yang kamu sembunyikan?"
Rentetan pertanyaan itu meluncur bak belati. Vyora membuang muka ke arah kiri, menjadikan buku herbalnya sebagai pelarian dari tatapan sang ibu.
"I-itu...," jawabnya.
"Jangan bilang kamu menyembunyikan rahasia yang tak ingin ibu ketahui?"
Sebenarnya ia ingin menumpahkan kejujuran, namun ancaman hukuman dari Chtholly jika ia berani membocorkan identitas aslinya masih terngiang mengerikan di telinga.
"Ti-tidak kok, Bu!" Vyora refleks berdiri menghadap sang ibu, kedua telapak tangannya berayun-ayun canggung di depan dada. "Aku tidak menyembunyikan apa-apa dari ibu."
"Kalau memang tidak, kenapa tingkahmu aneh sekali?"
"Emmm..." Vyora kembali memalingkan wajahnya ke sisi kanan, menggaruk kepala belakangnya yang sama sekali tak gatal. Keringat dingin mulai merembes di tengkuknya.
Tepat saat itu, pandangan liarnya kembali tertumbuk pada buku usang di atas kasur. Ia menyambar buku itu dan menyodorkannya ke hadapan sang ibu.
"Bu, apa ibu tahu tanaman yang bisa membantu menyadarkan seseorang?"
Saat buku itu terpampang di depan matanya, pergerakan Clyrie terhenti. Ujug jarinya terulur, membelai sampul kusam itu dengan kelembutan yang menyiratkan rindu, seolah buku itu baru saja menariknya ke dalam lubang memori masa lalu.
Setelah membiarkan pertanyaan putrinya menggantung diiringi keheningan selama beberapa detik, barulah Clyrie menjawab.
"Tanaman yang bisa menyadarkan seseorang ada banyak, Nak," jelasnya. "Jika pun ibu beritahu kamu, kamu tidak akan menemukannya dengan mudah."
"Kalau begitu, beritahu aku yang mudah ditemukan saja, Bu!"
Clyrie tertegun. Di usianya yang masih muda dulu, Clyrie justru selalu merasa tertantang untuk mencari tanaman yang paling langka dan sulit. Ia tersenyum kecil.
"Eucalyptus biasanya tumbuh di daerah terbuka yang terkena banyak sinar matahari dan memiliki tanah yang tidak mudah tergenang air. Sedangkan mint lebih menyukai tanah yang lembap, dekat sumber air, dan tempat yang agak teduh. Dua tanaman itu termasuk yang paling mudah untuk ditemukan."
Vyora memutar tubuhnya, bersiap mengambil langkah seribu keluar kamar untuk memburu flora tersebut.
"Tunggu sebentar," kata Clyrie.
Mengerem langkahnya mendadak, Vyora yang tubuhnya masih tertahan dalam pose setengah berlari pun menoleh ke belakang. Ia perlahan menegakkan postur tubuhnya.
"Ada apa lagi, Bu? Kenapa ibu menghentikanku?"
"Apa kamu tahu bentuk tanaman itu seperti apa?"
Mulutnya sedikit terbuka, bahunya merosot. Dari sekian banyak spesies tanaman di dunia ini, yang benar-benar bisa ia kenali secara visual hanyalah lidah buaya dan kumis kucing. Selebihnya ia buta.
"Ibu akan membantumu mencari tanaman itu."
Clyrie bangkit berdiri. Tatapannya lurus mengunci mata sang anak. Vyora mengangguk pelan. Vyora dan Clyrie melangkah mantap bersisian keluar kamar, memulai misi kecil mereka mencari tanaman penyembuh.