Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Gelap di Ruang VIP
Hah! Uang! Datanglah! jerit batin Rina frustasi
Malam itu di depan cermin toilet klab malam yang retak, Rina Amelia, seorang mahasiswi tingkat akhir Fakultas Hukum Universitas Nusantara berusia 22 tahun sedang galau luar biasa karena sedang terhimpit masalah keuangan.
Malam ini, benteng harga dirinya runtuh tak berbekas. Dunia seolah bersekongkol untuk membuatnya terpuruk.
Ibu kosnya baru saja memberikan peringatan keras jika esok pagi tunggakan uang kostnya selama tiga bulan tidak lunas maka seluruh barangnya akan dibuang ke tempat sampah.
Di saat yang sama ibunya terbaring koma di ruang ICU tanpa kepastian biaya dan tadi sore sebuah surat berstempel merah dari rektorat tiba. Isinya tak main-main Rina diancam drop out dikarenakan tunggakan semester akhir yang belum dia bayarkan.
"Berat banget hidupku," gerutu RIna sambil menghela nafas berat.
Tentu Rina butuh uang dalam jumlah banyak dan cepat hari ini juga. Kalau tidak entah bagaimana hidupnya besok.
Dengan ujung jemarinya yang dingin, Rina dengan cepat menghapus sisa air mata di pipinya. Ia memoles wajahnya tipis-tipis untuk menyembunyikan rasa tak berdaya yang menggerogoti dadanya. Ia hanya bisa berdoa, berharap ada keajaiban kecil yang menghampirinya.
"Rina!" panggil managernya dengan ketus.
"I--iya,"
"Ngapain diem aja! Jangan melamun di situ!" tegur manajer klab dengan suara melengking memotong lamunannya.
Pria itu menyodorkan sebuah nampan perak yang cukup berat. "Anterin botol wiski Macallan ini ke Ruang VIP nomor 7. Sekarang!"
Rina tersentak, dia lalu cepat-cepat mengambil nampan tersebut dan berjalan menuju Ruang VIP nomer 7.
"Ingat," bisik manajer itu penuh penekanan. "Tamu di dalam itu konglomerat penting. Jangan banyak tingkah dan jangan berani-berani menatap matanya cukup tuangkan saja minumannya lalu langsung keluar! Paham?!"
Rina mengangguk gemetar.
Dengan langkah kaku ia membawa nampan perak itu menyusuri koridor eksklusif. Karpet beludru merah tebal di bawah pijakannya meredam setiap langkah kaki mempertegas suasana misterius tempat para penguasa uang menghabiskan malam.
Saat pintu kedap suara Ruang VIP nomor 7 bergeser perlahan, suasana berisik kelab malam mendadak lenyap.
Di atas sofa kulit berukuran besar di sudut ruangan sedang duduk seorang pria sendirian.
Pria itu bernama Adrian Wibawa. Pria berusia 48 tahun yang menjabat sebagai CEO PT. Matakaki sedang menyandarkan tubuhnya yang wajah lelah.
Kemeja abu-abu arang yang dikenakannya tampak pas melekat di tubuhnya yang tegap dengan bagian lengan digulung hingga ke siku mencoba memamerkan sebuah jam tangan kronograf mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
Rahangnya tegas berhiasi jenggot tipis yang dicukur sangat rapi memancarkan pesona pria matang yang penuh kuasa dan sangat tampan.
Kedua matanya terpejam, sementara jemarinya memijat pangkal hidungnya pelan sedang berusaha mengusir penat.
"T-tuan... ini minuman Anda," bisik Rina lirih, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan ruangan.
Rina berlutut di dekat meja marmer rendah. Jemarinya yang dingin bergetar hebat saat mencoba membuka segel botol wiski seharga belasan juta rupiah itu. Namun, di tengah usaha itu, pikirannya mendadak liar.
Bayangan wajah ibunya yang pucat di rumah sakit, ancaman ibu kos dan bayangan masa depannya yang hancur berkeping-keping mendadak menyerbu kepalanya.
Konsentrasinya pecah seketika dan...
PRANGG!
"Ah!" Rina memekik pelan saat tangannya yang gemetar menyenggol gelas kristal di atas meja.
Gelas itu hancur berkeping-keping. Cairan alkohol beraroma tajam itu langsung tumpah ruah dan membasahi celana kain mahal milik Adrian tepat di area pahanya.
"Apa yang kamu lakukan?!" Suara bariton Adrian menggelegar keras membuat nyali Rina menciut habis.
Pria itu membuka matanya lebar-lebar dan melayangkan tatapan tajam setajam elang yang mengunci seluruh pergerakan Rina.
"M-maaf, Tuan! Saya benar-benar mohon maaf, saya tidak sengaja!" Rina panik luar biasa.
Ketakutan membakar dadanya.
Tanpa berpikir panjang Rina menyambar beberapa helai tisu di meja. Ia berlutut makin dekat di depan paha Adrian dan mengusap sisa cairan wiski yang membasahi celana bahan pria itu dengan terburu-buru.
Namun justru kepanikan Rina membawa bencana baru.
Usapan jemarinya yang halus dan gemetar di atas kain celana basah itu mendadak memicu reaksi yang berbeda di tubuh Adrian.
Tubuh pria matang itu seketika menegang keras.
Dari posisi berlututnya itu Rina mendongak ragu.
Pandangan mereka beradu di udara. Dari jarak sedekat ini Adrian bisa melihat dengan jelas mata bulat Rina yang berkaca-kaca oleh air mata ketakutan.
Di dalam dada Adrian gairah purba yang tertidur seketika tersulut membara.
Dengan gerakan cepat dan bertenaga tangan besar Adrian mencengkeram pergelangan tangan Rina dengan kuat menghentikan gerakan jemari gadis itu. "Hentikan," geram Adrian rendah. "Kamu sengaja memancingku, hah?"
"Bukan, Tuan! Maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja..." tangis Rina akhirnya pecah.
Gadis itu berusaha meraba saku roknya untuk mengambil sapu tangan namun gerakannya yang panik justru membuat selembar kertas terlipat jatuh dan terbuka di atas lantai.
Kertas itu adalah surat peringatan drop out dari kampusnya lengkap dengan rincian tunggakan biaya rumah sakit ibunya.
Mata tajam Adrian melirik kertas tersebut lalu memungutnya kemudian membaca isinya secara sekilas.
Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.
"Mahasiswi tingkat akhir... Fakultas Hukum Universitas Nusantara," baca Adrian pelan, suaranya terdengar seperti bisikan yang berbahaya. Ia menatap Rina dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan lapar yang kini tidak lagi disembunyikan. "Jadi, kamu lagi butuh uang?"
Rina tidak mampu bersuara. Ia hanya bisa mengangguk pasrah dalam cengkeraman tangan Adrian yang kokoh.
"Kebetulan sekali," bisik Adrian. Suaranya berubah menjadi sangat rendah dan serak tepat di samping telinga Rina. "Aku sedang bosan dengan rutinitas pernikahanku. Dan aku butuh mainan baru yang penurut."
Sebelum Rina sempat mencerna kalimat itu, Adrian menarik lengan gadis itu dengan satu hentakan kuat, mendudukkannya tepat di atas pangkuannya yang keras. Rina terlonjak pelan. Ia bisa merasakan secara nyata kehangatan, kekokohan, dan kekuatan tubuh pria matang yang sedang mengungkungnya ini.
"Dua puluh juta setiap bulan di tambah satu unit apartemen mewah di pusat kota dan seluruh utang serta biaya kuliahmu tuntas besok pagi," bisik Adrian tepat di ceruk leher Rina. "Imbalannya jadilah istri simpananku. Bagaimana, Rina?"
Rina memejamkan matanya rapat-rapat. Dia tau betul ini adalah sebuah salah besar, namun apa boleh buat dia tidak punya pilihan.
"Aku... setuju, Tuan," bisik Rina pasrah.
“Jangan panggil tuan, dong! Panggil om, aja,” ucap Adrian lalu meraih pinggul gadis cantik itu.
"Iya," bisik Rina dan Adrian memulai malam panjangnya bersama Rina.
Malam itu dia melepas keperawanannya demi hidup yang dia impikan sedang Adrian yang bergelimang harta akhirnya mendapatkan mainan baru yang luar biasa legit baginya.
Setelah lelah Adrian membaringkan tubuhnya di sofa sedang Rina masih menahan perih di sela pahanya. Dia bingung antara harus senang atau sedih karena telah membuat keputusan yang besar dalam hidupnya.
“Baru kali ini ada gadis begitu polos mau aku tiduri di malam pertama kita ketemu,” kekeh Adrian sambil meraih bibir Rina yang masih terengah. “Kamu suka?” tanya Adrian lirih.
“He'eh!” jawab Rina polos.
“Ini pertama kali banget kamu hubungan?”
“Iya, Om,” jawab Rina sambil menatap mata pria yang malam itu dianggapnya sebagai penyelamat dalam hidupnya.
“Kamu manis sekali. Kasih aku nomor rekening kamu, Sayang. Aku transfer sekarang.”
Perkataan itu membuat Rina senang luar biasa, dia lalu memberikan nomor rekeningnya dan Adrian segera mengirimkan uang yang dia butuhkan.
Setelah mendapatkan notifikasi M-Banking mata Rina semakin berbinar saja. Dia tidak menyangka kalau malam itu dia kejatuhan Duren.
Uang 500 juta langsung ditransfer Adrian tanpa ragu dan pelukan hangat segera dia berikan pada om tampan di depannya.
“Terima kasih, om!” jawab Rina begitu riang.
“Iya, sayang. Nanti om transfer lagi, tapi janji, ya. Kamu cuma punya om!”
Rina tersenyum tipis sambil mengenakan kembali bajunya.
“Sekarang ayo ikut Om ke penthouse,” ajak Adrian sambil menggandeng tangan Rina yang masih bergetar setelah puas dia tindih.