Kisah perjuangan seorang atlet lelaki yang harus mengubur impiannya demi keluarga sepeninggalan Sang Ayah. Menjadi tulang punggung diusia muda menjadikannya harus mengubur impian untuk berkomitmen dengan pujaan hatinya.
Dilain sisi ada wanita manja dari keluarga kaya raya, karena kehilangan sosok Ibu dalam hidupnya membuat dia tumbuh tanpa ada kelembutan seorang ibu. Apalagi setelah ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Secara frontal menolak kehadiran sang Ibu tiri.
Apakah kedua insan ini bisa bersatu diatas perbedaan yang ada? bisakah saling menurunkan ego?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaDM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
* Senja 29, Again
Lexa dan Pak Sanjaya pulang terburu-buru pagi ini karena mendapat berita duka, Ibunya Pak Sanjaya meninggal. Sekali lagi Lexa menjadi pihak yang paling terpukul. Setelah kepergian Bunda, Mbah Uti lah yang membuatnya nyaman menjalani kehidupan selama ini. Ketika Lexa meninggalkan rumah, dia memilih tinggal bersama Mbah Utinya beberapa bulan terakhir ini. Lexa histeris dan pingsan berkali-kali. Sampe Akhirnya Mas Akmal ikut mendampingi Pak Sanjaya pulang ke Jati Asih.
Karena kakak adik Pak Sanjaya semua berdomisili di Jakarta, jadi ga ada yang perlu ditunggu lagi kedatangannya, sehingga Mbah Uti langsung dimakamkan sore harinya.
Mba Qisha memeluk erat Lexa yang sudah terlihat lemah. Saat jenazah diturunkan, Lexa pingsan lagi. Mas Akmal dan Mba Qisha yang mengangkat Lexa menuju mobil diparkiran depan tempat pemakaman umum.
Lexa dibawa pulang ke rumah Pak Sanjaya setelah sebelumnya dibawa ke klinik untuk memastikan kondisinya baik-baik aja. Pak Sanjaya ga mengijinkan Lexa untuk ikut pengajian di rumah Mbahnya karena kondisinya masih lemah.
Mba Qisha ikut pulang ke rumah diantar Mas Akmal. Pak Sanjaya dan Tante Dinda akan pulang setelah selesai tahlilan malam ini.
Lexa terdiam di kamarnya, memandang foto didalam galeri HP nya, hampir tiap hari dia pasti berwefie dengan Mbah Utinya.
"Mbah Uti ... Semoga engkau disana selalu bahagia, semoga engkau disana berada di tempat terbaik disisi Allah SWT. Titip salam rindu buat Bunda ya. Allah mengambil sosok bijak bukan untuk menjauhkan dari kami tapi agar kami semakin dekat dengan-Nya. Agar kami menghargai setiap kenangan indah yang terukir dalam sejarah kehidupan kami. Lexa ga akan pernah lepas dari pengaruh dan peran Mbah Uti selama ini" ucap Lexa yang terduduk di jendela kamarnya memandang langit malam.
Teringat nasihat dari setiap tutur kata Mbah Uti yang masih terngiang dengan jelas.
"Jangan lupakan dari mana kamu berasal, ingat bahwa diatas langit masih ada langit, selalu tundukkan pandangan dan jangan jumawa. Kalo cari jodoh.. Deloken ibadahe, ojo milih ganteng mung ra ngerti ibadah (Lihat ibadahnya, jangan pilih tampannya tapi ga paham ibadah)" yang selalu Mbah katakan ke cucunya yang tumbuh remaja dan dewasa.
"Semoga Allah memudahkan jalan Mbah disana. Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik disana. Kami akan selalu merindukan Mbah lewat setiap do'a. Semoga kelak kita akan bertemu di jannah-Nya" ucap Lexa sambil menghapus air matanya.
Mba Qisha masuk ke kamarnya Lexa buat melihat kondisi Lexa, Lexa sudah tidur mendekap bingkai foto keluarganya. Mba Qisha menutup kembali pintu kamar dengan pelan dan kembali ke meja makan, Mas Akmal sedang makan bareng Mba Pur. Mba Qisha pun ikut makan bareng karena belum makan sedari pagi.
"Udah tidur Lexanya?" tanya Mas Akmal.
"Ya...pasti berat bagi dia, setelah Bunda pergi kini menyusul Mbah Uti" ucap Mba Qisha.
"Ya...tadi pagi di kapal ferry juga beberapa kali dia pingsan" ingat Mas Akmal.
"Mbah udah kaya pengganti Bunda bagi dia. Ga tau nanti dia akan balik ke rumah ini lagi atau ga" sahut Mba Pur.
"Bingung juga nih Mba Pur, kelas XII ini, Alhamdulillah Qisha dapat student exchange selama setahun diluar, Ayah udah mengurus semuanya. Gimana Lexa ya kalo Mba Flo dan Mba Qisha ninggalin dia disini sendirian" ucap Mba Qisha.
"Jadi kamu udah fix dapat pertukaran pelajar itu?" tanya Mas Akmal meyakinkan.
"Ya Mas .. udah bulan kemarin pengumumannya, tapi setahun aja terus balik ke Indonesia tetap di kelas XII, ya kesannya kaya ga naik setahun sih ya, karena aturan dari pemerintah sini begitu mau gimana lagi" jelas Mba Qisha.
"Yang penting kan pengalamannya, ga semua punya kesempatan kaya gitu, toh dekat sama Mba Flo kan sekolahnya?" tanya Akmal.
"Ya .. makanya nanti tinggal sama Mba Flo aja karena berdekatan kok high school dan university nya Mba Flo" kata Mba Qisha lagi.
"Berarti Lexa harus benar-benar diawasi banget biar ga down" saran Mas Akmal.
"Mba Pur ... janji ya, akan selalu jagain Lexa, kemanapun dia pergi, Mba Pur harus ikut" pinta Mba Qisha.
"Gimana ya ... Mba Pur terserah sama Bapak aja, kan tau sendiri kalo Mba Pur punya banyak hutang budi sama Bapak dan almarhumah Bunda" ucap Mba Pur.
"Mas paling cuma bisa mantau dia lewat telepon aja, paling kalo lagi laporan ke kantor pusat baru bisa deh bisa lihat-lihat Lexa" ungkap Mas Akmal.
"Makanya nih dari tadi yang dipikirin ya Lexa aja. Tau sendiri deh sifat nekatnya tuh anak kaya gimana, kadang ga pake perhitungan" ujar Mba Qisha.
"Tanya sama Ayah coba, mungkin nanti punya solusi yang terbaik kaya gimana" saran Mas Akmal.
"Pasti kan Lexa akan tinggal disini, mau dimana lagi coba? kan Mbah Uti udah ga ada. Bisa perang terus deh nantinya sama Ayah dan Tante Dinda. Pusing ah ngebayanginnya" kata Mba Qisha.
Mba Qisha, Mas Akmal dan Mba Pur melanjutkan makan siang kesoreannya dalam diam. Semua memikirkan solusi buat Lexa.
🌺
Sore ini keluarga Pak Haji Burhan bermain di wahana air. Semua tampak bahagia. Candra ikut di kapal yang akan keliling Pulau dengan keluarga Pak Haji Burhan. Candra dan Ani hanya saling mencuri-curi pandang dari tempat duduknya masing-masing.
Candra duduk diujung belakang dekat nahkoda, sedangkan Ani duduk menyamping disisi kanan kapal. Rupanya Mak Anah menyadari kalo keduanya saling memandang. Dia langsung duduk disebelahnya Ani dan melihat kearah Candra, membuat Candra langsung memalingkan pandangannya ke laut lepas.
Candra memang masih sulit menghapus ketertarikannya sama Ani, secara fisik siapa yang ga langsung berdebar melihat keelokan wajahnya, Ani bisa dibilang kembangnya kampung sana serta cewe idola di sekolah. Ditambah anaknya pandai, baik sisi akademis maupun bergaul. Dia sudah berjilbab sejak dibangku SD. Seiring bertumbuh remaja, keelokan wajah dan perangainya makin menawan. Selalu satu sekolah sama Arie, usia antara Candra dan Ani hanya beda dua tahun. Dulu kesempatan buat berbincang sama Ani hanya saat ada kerja kelompok sama Arie, Candra suka diminta bantuan buat mengajari mereka. Demikian pula dengan Ani, bisa dikatakan hampir mendekati sempurna sosok Candra dimata masyarakat terlebih dimatanya. Laki-laki yang memikul tanggung jawab diusianya yang muda dengan sangat baik. Selalu ringan tangan membantu siapapun, ga pernah mematok harga servis jika tetangga yang minta tolong bahkan kadang mereka hanya diminta beli alat sendiri aja tanpa terkena biaya servis. Ibadahnya pun cukup lumayan, walaupun semakin dewasa dia udah ga bergabung dengan remaja Masjid dikarenakan kesibukannya mencari uang.
Sulit bagi Candra mendeskripsikan perasaannya terhadap Ani. Dia ga berani bilang ini cinta, karena baginya Ani adalah sosok yang akan sulit baginya dijangkau. Kondisi ekonomi keluarganya sudah pasti menjadi bual-bualan Mak Anah. Dari tujuh bersaudara, hanya Kakak Ani yang nomer enam aja yang tampak bersahabat dengan Candra karena satu sekolah. Ani pun ga mau terlibat pacaran seperti anak-anak sekarang yang rendang rendeng kesana kemari berduaan. Dia hanya berdo'a kelak akan Allah pantaskan dirinya mendapatkan lelaki sholeh, walaupun dalam hati kecilnya berharap nama Candra lah yang Allah jodohkan buat dia.
Kapal berhenti disebuah Pulau kecil yang ga berpenghuni, semua yang di kapal turun buat mengambil foto. Candra pun ikut turun. Dia duduk dipinggiran bibir pantai.
"Jangan berani-berani mandangin Ani lagi ya" kata Wak Anah yang tiba-tiba udah ada disebelahnya.
"Ya Mak" ucap Candra menunduk.
realita nya banyak orang tersesat dan mencari jalan lurus
eh.. ntar Lexa tantrum 🤭