Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langit Ketujuh
Mereka bertemu di tempat yang sama.
Kafe kecil di jalan tanpa nama, tiga meja kayu yang miring di satu kaki, pemilik yang tidak bertanya dan tidak mengingat. Rio datang lebih awal lagi, duduk di meja yang sama, memesan teh tawar yang lagi-lagi tidak ia minum.
Raymond masuk pukul empat kurang lima — lebih awal dari kemarin, yang memberitahu Rio bahwa pria itu juga menunggu pertemuan ini dengan cara yang berbeda dari biasanya.
Kemeja abu-abu lagi. Warna yang mulai Rio asosiasikan dengan percakapan yang tidak akan mudah.
Tidak ada basa-basi. Raymond duduk, memesan kopi, menatap Rio dengan cara seseorang yang sudah tahu bahwa orang di depannya datang dengan pertanyaan spesifik dan tidak perlu dipanaskan dulu.
"Langit Ketujuh," kata Rio langsung.
Raymond mengangguk. Sudah menduga ini. "Pertanyaanmu tentang siapa, atau tentang apa?"
"Siapa dulu."
Raymond memegang cangkir kopinya yang baru datang, tidak meminumnya. Menatap permukaan kopi itu beberapa detik sebelum menjawab — bukan ragu-ragu, tapi cara seseorang yang sedang memilih titik masuk yang tepat ke dalam cerita yang tidak punya titik masuk yang mudah.
"Sebelum saya menjawab," kata Raymond, "saya perlu kamu tahu satu hal dulu. Orang ini tidak tahu bahwa ia adalah Langit Ketujuh. Ayahmu memberi nama kode itu tanpa sepengetahuannya — karena kalau ia tahu, informasi itu akan menjadi beban yang bisa membahayakannya."
Rio mengerutkan dahi tipis. "Seseorang yang tidak tahu ia menyimpan informasi penting."
"Lebih dari sekadar informasi." Raymond akhirnya minum kopinya sekali. "Ia menyimpan lokasi ayahmu."
Keheningan selama lima detik.
Di luar kafe, suara motor yang melintas di jalan tanpa nama itu terdengar kemudian menghilang. Kembali sepi.
"Tanpa sadar?" tanya Rio.
"Tanpa sadar." Raymond meletakkan cangkirnya. "Tiga belas tahun lalu, sebelum Adrian disembunyikan, ia melakukan satu hal terakhir yang tidak ada yang tahu kecuali saya dan satu orang lagi yang sudah meninggal. Ia menanamkan sepotong data ke dalam memori seseorang — bukan dengan paksa, bukan dengan sihir atau teknik hunter apapun yang bisa terdeteksi. Dengan cara yang jauh lebih sederhana."
"Cara apa?"
Raymond menatapnya. "Ia menceritakan sesuatu. Kepada seseorang yang ia percaya. Sesuatu yang terdengar seperti cerita biasa, tapi di dalamnya mengandung koordinat yang dikodekan dengan cara yang hanya bisa didekripsi oleh sistem yang kamu bawa sekarang."
Rio memproses itu selama beberapa detik.
"Seseorang yang mendengar cerita dari ayah saya tiga belas tahun lalu," gumamnya. "Dan sampai sekarang masih hidup. Masih ada."
"Dan masih menyimpan cerita itu di dalam kepalanya tanpa tahu apa artinya," Raymond mengangguk. "Ya."
"Siapa?"
Raymond meletakkan cangkirnya, menatap Rio langsung.
"Kamu pernah bertanya-tanya kenapa seekor laba-laba yang sudah delapan puluh tahun tidak bergerak tiba-tiba mulai bangun sejak kamu temukan?"
Rio berdiri sangat diam.
"Kamu pernah bertanya-tanya kenapa dari sekian banyak tempat di kota ini, makhluk setingkat dewa itu tersimpan di dalam ruang musik satu sekolah menengah atas yang tidak ada hubungannya dengan dunia hunter secara resmi?"
Jantung Rio berdegup dengan cara yang ia kenali — bukan dari ketakutan, melainkan dari kalkulasi yang tiba-tiba menemukan potongan yang selama ini hilang dan mendadak semua gambar menjadi masuk akal.
"Ruang musik," kata Rio pelan. "Kotak biola."
"Siapa yang menyimpan kotak biola tua di ruang musik sekolah itu, Rio?" Raymond bertanya dengan nada yang bukan pertanyaan sungguhan karena ia sudah tahu jawaban yang akan datang. "Siapa yang sudah ada di sekolah itu jauh sebelum kamu masuk, dan masih ada di sana sekarang?"
Rio menarik napas.
Satu nama.
Satu nama yang tiba-tiba berdiri dengan sangat jelas di depan semua kalkulasi yang sudah ia susun dua minggu terakhir — seperti elemen yang selama ini ada di dalam persamaan tapi selalu ia lewati karena tampaknya tidak relevan, dan sekarang begitu ia melihatnya dengan benar, seluruh persamaan berubah.
Guru musik SMA Bakti Bangsa.
Pak Darmawan.
Laki-laki enam puluh tahunan yang sudah mengajar di sekolah itu sejak sebelum gedung seninya direnovasi, yang rambutnya sudah putih semua dan punggungnya sedikit membungkuk karena terlalu banyak membungkuk di atas partitur, yang setiap istirahat siang duduk di ruang musik sendirian memainkan biola tua dengan mata terpejam seperti orang yang sedang berbicara ke seseorang yang tidak bisa dijawab.
Yang tiga minggu lalu, dua hari sebelum sistem Rio aktif, pensiun dini secara mendadak tanpa penjelasan yang masuk akal kepada siapapun.
Dan meninggalkan seluruh isi ruang musik — termasuk kotak biola tua yang sudah tiga puluh tahun selalu ia bawa kemana-mana tapi tidak pernah dibuka di depan siapapun — di sekolah itu.
"Pak Darmawan," kata Rio.
Raymond mengangguk sekali. Pelan. Berat.
"Ia teman Adrian dari sebelum dunia hunting menjadi karir. Satu-satunya orang yang Adrian percayai sepenuhnya yang tidak terhubung sama sekali dengan Asosiasi Hunter — karena ia bukan hunter, tidak pernah jadi hunter, dan Hana Soekarno tidak pernah punya alasan untuk memperhatikannya."
"Sampai sekarang?"
"Sampai sekarang." Raymond menatap Rio. "Dua minggu lalu Hana mengirim orang untuk memantau pergerakan Darmawan. Kami tidak tahu apakah ia sudah mengetahui hubungannya dengan Adrian, atau apakah ini hanya bagian dari operasi pemantauan yang lebih luas." Ia berhenti. "Tapi Darmawan pensiun mendadak dua hari setelah pemantauan itu dimulai."
"Ia tahu sedang dipantau."
"Kemungkinan besar. Ia cukup cerdas untuk itu meskipun bukan hunter." Raymond meletakkan tangannya di atas meja, menatap Rio. "Dan ia meninggalkan kotak biola itu di sekolah — bukan karena lupa, bukan karena tidak peduli. Karena ia tahu kamu akan menemukannya."
Rio menatap meja di antara mereka.
Potongan-potongan yang selama dua minggu tersebar di berbagai sudut tiba-tiba bergerak ke posisi yang benar dengan cara yang tidak dramatik — bukan seperti puzzle yang tiba-tiba tersusun sempurna dengan musik latar yang menggelegar, melainkan lebih seperti meja yang berantakan yang seseorang rapikan pelan-pelan sampai kamu bisa melihat permukaan kayunya untuk pertama kali.
Pak Darmawan yang selalu duduk sendirian di ruang musik saat istirahat.
Yang tidak pernah membuka kotak biola itu di depan siapapun.
Yang selama bertahun-tahun membawa benda itu kemana-mana tanpa tahu bahwa di dalamnya tidur makhluk setingkat dewa yang tersegel, dan di dalam kepalanya tersimpan koordinat yang dikodekan dalam cerita yang terdengar seperti cerita biasa.
Yang pergi tepat sebelum sistem Rio aktif — bukan kebetulan, tidak ada yang kebetulan di papan catur ini.
"Di mana ia sekarang?" tanya Rio.
Raymond mengambil ponselnya. Membuka sesuatu, memutar layarnya ke arah Rio.
Sebuah alamat. Kota kecil di luar provinsi, delapan jam perjalanan darat dari sini.
"Kami sudah lacak pergerakannya sejak ia pensiun." Raymond menarik ponselnya kembali. "Ia tinggal di rumah adiknya. Sendirian, tidak keluar banyak, tidak menggunakan ponsel yang lama."
"Hana sudah tahu lokasinya?"
"Belum. Tim pemantauannya kehilangan jejak Darmawan dua hari setelah ia pensiun." Sudut bibir Raymond bergerak sedikit. "Ia cukup cerdas untuk itu."
Rio menyandarkan punggungnya ke kursi.
Menatap langit-langit kafe yang catnya mengelupas di satu sudut — berbeda dari langit-langit kontrakannya yang sudah ia hafal, tapi cukup mirip untuk terasa familiar.
Pak Darmawan.
Orang yang selama tiga tahun Rio bersekolah di SMA Bakti Bangsa tidak pernah menjadi lebih dari latar belakang — guru musik yang tidak mengajar kelas wajib, wajah yang familiar tapi tidak berarti, suara biola yang kadang terdengar dari koridor saat Rio lewat ke arah yang lain.
Yang rupanya menyimpan dua hal sekaligus tanpa sadar — sepotong kotak biola yang berisi makhluk dewa tersegel, dan sepotong cerita yang berisi lokasi ayah Rio — selama lebih dari satu dekade.
"Saya perlu bicara dengannya," kata Rio.
"Saya tahu." Raymond tidak menunjukkan ekspresi terkejut. "Saya sudah siapkan cara untuk kamu ke sana tanpa meninggalkan jejak yang bisa dilacak Hana. Tapi ada satu hal yang perlu kamu pertimbangkan dulu."
Rio menatapnya. "Apa?"
"Begitu kamu berbicara dengan Darmawan dan mendapatkan koordinat itu—" Raymond berhenti sebentar. Memilih kata-kata dengan hati-hati yang membuat Rio tahu bahwa apa yang akan diucapkan berikutnya adalah hal yang paling penting dari seluruh percakapan hari ini. "Tidak ada jalan kembali ke kehidupan yang kamu punya sekarang. Akun smurf, identitas F-rank, rutinitas sekolah — semua itu bisa dipertahankan hanya selama kamu tidak bergerak. Begitu kamu mulai mencari ayahmu secara aktif, Hana akan tahu. Dan ketika Hana tahu—"
"Ia akan bergerak lebih cepat dari saya," Rio menyelesaikan kalimatnya.
"Ya."
Keheningan yang panjang.
Di pergelangan kiri Rio, di balik jaket, tekanan delapan kaki yang sudah menjadi bagian dari ritme harinya terasa lebih jelas dari biasanya — seperti Abyssal Goddess Weaver mendengarkan percakapan ini dan memilih momen ini untuk mengingatkan kehadirannya.
Di pundak kanan, Wukong duduk dengan sangat diam.
Dua makhluk yang pernah mengenal Adrian Albert sebelum Rio mengenalnya.
Yang memilih Rio bukan karena sistem atau bakat atau kebetulan kosmik, melainkan karena ingatan. Dan ingatan — tidak seperti loyalitas yang dibangun di atas kontrak atau kekuatan atau kepentingan — adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli atau dimanipulasi oleh siapapun termasuk Ketua Asosiasi Hunter Nasional sekalipun.
Rio menatap Raymond.
"Kapan saya bisa berangkat?"
Raymond menatapnya selama tiga detik — bukan untuk mempertimbangkan ulang apapun, tapi dengan cara seseorang yang sedang menyimpan gambar momen ini di dalam kepalanya untuk alasan yang tidak ia jelaskan.
"Akhir minggu ini," jawabnya. "Saya butuh dua hari untuk menyiapkan rute yang bersih." Ia berdiri dari kursinya, merapikan kemejanya dengan gerakan yang sudah sangat terlatih. "Dan Rio."
Rio menatapnya.
"Bawa squad-mu." Raymond menatap Wukong di pundak Rio sebentar, kemudian kembali ke Rio. "Bukan karena perjalanan ini berbahaya — setidaknya belum sekarang. Tapi karena Darmawan perlu melihat sendiri bahwa sistemnya sudah berpindah ke tangan yang benar."
Ia berjalan ke pintu, berhenti di ambangnya.
"Ia sudah menunggu tiga belas tahun untuk itu."
Raymond keluar.
Rio duduk sendirian di kafe kecil yang tidak punya nama itu selama beberapa menit, menatap cangkir teh tawar yang masih tidak ia minum.
Akhir minggu ini.
Empat hari.
Dalam empat hari ia akan duduk di perjalanan delapan jam menuju kota kecil di luar provinsi untuk menemui mantan guru musik yang tidak tahu bahwa cerita yang diceritakan kepadanya tiga belas tahun lalu adalah peta yang mengarah ke lokasi orang yang menceritakannya.
Dan di ujung perjalanan itu — kalau koordinat itu nyata, kalau cerita itu bisa didekripsi, kalau tidak ada yang bergerak lebih cepat sebelum Rio sampai ke sana — mungkin ada jawaban dari pertanyaan yang bahkan tidak pernah ia izinkan dirinya untuk benar-benar tanyakan.
Di mana ayahnya.
Rio berdiri, meletakkan uang di meja, berjalan keluar.
Langit di luar sudah mulai gelap di ujung-ujungnya — oranye dan ungu yang memudar menjadi biru tua di bagian yang lebih tinggi, transisi yang berlangsung terlalu cepat untuk benar-benar ditangkap kapan tepatnya satu warna berakhir dan warna lain dimulai.
Seperti banyak hal lain yang sudah terjadi dua minggu ini.
Panel sistem menyala saat Rio berdiri di trotoar menunggu angkot.
**[Abyssal Goddess Weaver — 64.7%]**
**[Estimasi Ikatan Kontrak: 2-3 hari]**
Dua sampai tiga hari.
Hampir bersamaan dengan keberangkatan ke kota kecil tempat Pak Darmawan bersembunyi.
Rio menatap angka itu, kemudian menatap pergelangan kirinya yang tertutup jaket.
Empat hari menuju perjalanan yang akan mengubah segalanya.
Tiga slot squad yang masih kosong.
Satu laba-laba yang dalam dua sampai tiga hari lagi mungkin siap untuk terikat kontrak untuk pertama kalinya setelah delapan puluh empat tahun.
Dan satu Ketua Asosiasi Hunter Nasional yang entah sudah seberapa jauh ia bergerak di papan catur yang sama — papan yang Rio baru mulai lihat seluruh permukaannya malam kemarin, setelah tujuh pesan yang sudah menunggu tiga belas tahun akhirnya dibuka.
Angkot datang dengan suara mesinnya yang sudah perlu servis.
Rio naik. Duduk di pojok jendela. Menatap kota yang bergerak mundur di luar kaca dengan mata yang datar dan tenang dan pikiran yang sedang menyusun empat hari ke depan dengan sangat metodis.
Tapi di bawah semua kalkulasi itu — di tempat yang paling dalam, tempat yang tidak punya nama anatomis tapi setiap manusia tahu persis di mana letaknya — ada sesuatu yang sangat sederhana dan sangat tidak metodis.
Rasa ingin tahu yang murni dari seseorang yang akan pergi menemui orang yang pernah mendengar suara ayahnya untuk terakhir kali.
Dan mungkin masih ingat persis bagaimana cerita itu dimulai.
#Sistem #Action #Pet #Urban #Rebirth #Overpowered #Fantasy
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣